Jumat, 03 Februari 2012

Hemat Kertas, Hemat Lingkungan

KEHIDUPAN MODERN kita sehari-hari kini tidak bisa lepas dari kertas. Bahan bakunya sebagian besar kayu hasil tebangan pohon dari hutan. Makin boros masyarakat memakai kertas, makin banyak pohon yang harus ditebang untuk dijadikan pulp (bubur) calon kertas.


Suatu saat kita sadar, kalau kita bisa beramai-ramai menghemat pemakaian kertas, mestinya penebangan hutan itu juga tidak jadi memprihatinkan. Makin sedikit kita memakai kertas, permintaan akan kertas jelas makin menurun, dan penebangan hutan pun menurun pula. Pada akhirnya, hutan Indonesia kita masih bisa diharapkan bertugas lama sebagai paru-paru dunia.


Menghemat pemakaian kertas juga mengurangi risiko kerusakan lingkungan. Memang, makin putih bersih suatu kertas, makin bagus dan menarik, sehingga banyak anggota masyarakat yang menggemari dan memintanya. Tetapi Sialan! Untuk memutihkan kertas, terpaksa dipakai bahan kimia klorin yang sangat beracun. Limbahnya membahayakan manusia dan ternak karena merusak sistem hormon dan kekebalan tubuh. Kalau permintaannya meningkat, racun yang dibuang sebagai limbah pabrik kertas jelas makin membahayakan lingkungan dan kesehatan.


Mestinya kita bisa menghemat kertas, tanpa mengurangi keperluan membaca dan menulis. Beberapa tindakan praktis yang bisa kita lakukan beramai-ramai, bisa sekaligus mencegah jangan sampai hutan (paru-paru) dunia kita gundul habis pelan-pelan, dan kita pelan-pelan juga sesak napas karena udara makin kotor, dan air makin beracun oleh limbah klorin, pemutih kertas.


Pertama, sebisa mungkin kita menghemat pemakaian kertas, seperti misalnya tidak memakai kertas bersih hanya untuk membungkus barang atau membersihkan kotoran saja. Sebaiknya juga kertas koran, kertas samak bekas pembungkus kado, atau kertas bekas lainnya yang masih bisa disimpan, dipakai ulang.


Kedua, sehemat mungkin memakai kertas throw away society seperti misalnya kertas tisu, kertas WC, dan lain sejenisnya. Kalau bisa, malah sama sekali tidak usah memakai kertas sekali pakai macam ini.


Ketiga, semaksimal mungkin memanfaatkan kertas yang ada. Kertas bekas ketikan atau fotokopian, tidak langsung kita lecek-lecek dan kita buang, tetapi ditampung dalam recycle bin. Sisi balik kertas yang masih kosong dan bersih, karena tidak diketiki, masih bisa dipakai untuk menulis konsep surat, sketsa gambar, atau menyusun naskah kasar. Untuk anak-anak kita yang masih mengikuti kuliah di perguruan tinggi, kertas bekas yang masih kosong satu sisi itu bisa kita jilid untuk dipakai sebagai catatan kuliah.


Keempat, menghemat pemakaian kertas untuk fotokopi. Untuk memfotokopi sesuatu yang tidak resmi (tidak akan dipakai sebagai dokumen), sebaiknya memfotokopi secara bolak-balik pada kedua sisi kertas. Selain menghemat kertas, juga menghemat ongkos fotokopi.


Kelima, mendukung pemakaian kertas daur ulang untuk pembuatan kartu nama, kartu undangan, atau poster. Untuk sementara waktu, ini hanya dapat dilakukan di kalangan masyarakat menengah ke atas, karena harga kertas daur ulang di Indonesia kebetulan masih lebih mahal daripada kertas biasa. Pasalnya, kertas ini masih harus diimpor dari mancanegara. Tetapi memakai kertas daur ulang so pasti menghemat pemakaian kertas biasa yang terbuat dari kayu pohon hasil hutan.


Source: Majalah Intisari, no.441 - April 2000

Bekerja Secara Efektif

RAJIN SAJA ternyata bukan jaminan akan membawa hasil yang memuaskan. Bekerja efektif, itulah kuncinya: menyelesaikan tugas dengan mulus, tanpa membuang energi. Kemampuan ini sejenis manajemen juga, yang berarti mengelola diri sendiri, orang lain, waktu, pekerjaan, atau peralatan.


Untuk dapat menganalisis penyebab yang memperlambat efektivitas kerja, kita amati dulu organisasinya. Apakah sudah ada kesepakatan dalam deskripsi kerja, antara perusahaan dan si individu pekerja? Juga dalam nilai, standar perilaku, cara kerja, iklim, atau politik di tempat kerja? Bila yang menjadi tanggung jawab kita belum pernah dijelaskan, tentu kita akan bekerja menurut pengertian dan selera sendiri.


Lalu, bagaimana keterampilan berorganisasi orang-orang yang terkait? Si A mungkin perlu diatur untuk bisa berfungsi baik, namun si B justru lebih suka mengatur. Jadi sesuaikan pembagian tugas dengan keterampilan berorganisasi si penerima tugas.


Penentuan prioritas dan tujuan, mengidentifikasi dan mendelegasikan pekerjaan lalu menyusun jadwal kerja harus pula didasarkan pada volumer pekerjaan dan berapa lama waktu yang dibutuhkan.


Keputusan yang kita ambil amat tergantung pada kepribadian, sikap dan cara kita menghadapi persoalan. Menutup mata terhadap masalah, terlalu perfeksionis, tak berani mengemukakan pendapat, hanya beberapa batu sandungan yang bisa disebut. Selain itu kurangnya rasa percaya diri, sehingga kita terus-menerus harus "minta petunjuk" bos atau orang lain, terlalu "tipis kulit" alias tak dapat menerima kritik, kemarahan terpendam, juga penghalang terhadap efektivitas bekerja.


Umumnya kita condong menjadi produktif bila merasa dihargai. Tuntutan bos yang terlalu tinggi terhadap stafnya, atau keengganan seorang manajer untuk mendelegasikan tugas kepada asisten barunya, menunjukkan ketidakpercayaan. Si anak buah tentu dapat merasakan hal ini sehingga semangat mereka menurun. Buruknya hubungan antara rekan sekerja atau dengan penyelia juga gangguan serius terhadap efektivitas bekerja.


Umumnya kita condong menjadi produktif bila merasa dihargai. Tuntutan bos yang terlalu tinggi terhadap stafnya, atau keengganan seorang manajer untuk mendelegasikan tugas kepada asisten barunya, menunjukkan ketidakpercayaan. Si anak buah tentu dapat merasakan hal ini sehingga semangat mereka menurun. Buruknya hubungan antara rekan sekerja atau dengan penyelia juga gangguan serius terhadap efektivitas kerja.


Bila penyakit telah didiagnosis, bagaimana mengobatinya? Bisa dengan mendiskusikannya secara singkat dengan seorang rekan atau teman yang berkompeten. Tanpa jadi emosional, terangkan APA masalahnya, KAPAN terjadinya, SIAPA pelakunya. Diskusikan MENGAPA sampai timbul masalah tersebut. Kemudian dengan pandangan positif, bertanyalah, "Pilihan apa yang ada? Tindakan apa yang paling praktis?"


Selain itu, melatih diri sendiri dapat membantu. Cari dan selidiki cara-cara apa saja yang dapat digunakan untuk mencairkan masalah Anda. Perjelas isu-isunya, lalu selesaikan satu per satu, sambil tak lupa mengenali kelemahan diri.


Source: Majalah Intisari, no.397 - Agustus 1996

Rabu, 01 Februari 2012

Akupunktur Dapat Meningkatkan IQ

SEJAK PAGI puluhan pasien sudah antre di klinik akupunktur pada Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Pelayanan (P3) Akupunktur di Jln. Indrapura, Surabaya. Mereka hendak menjalani terapi tusuk jarum (akupunktur). Tiap harinya 12 akupunkturis melayani 50-an pasien, yang umumnya menderita kelainan fungsional.

"Paling banyak stroke, alergi, kegemukan, nyeri sendi, nyeri pinggang, rematik, tekanan darah tinggi, diabetes, asma, migren, dan gangguan lambung," ujar dr. Agustin Idayanti, M.S., di klinik Lab P3 Akupunktur, yang diresmikan sejak 7 April 1990.

Klinik akupunktur menekankan pada penyakit/gangguan fungsi organ. Bukan kelainan anatomi organ. "Patah tulang, jelas tidak bisa. Kelainan anatomi harus dibawa ke rumah sakit," tegas Dr. Koosnadi Saputra, D.S.R., ketua Lab Akupunktur Pusat Penelitian Pengembangan dan Pelayanan Kesehatan Depkes, Surabaya.

Akupunktur, lanjut Koosnadi, populer untuk nyeri. Namun bisa untuk mengobati kelainan daya tahan tubuh, termasuk asma dan alergi. Juga mampu mengatasi gangguan fungsi organ usus/lambung, serta penurunan fungsi hormon. Kelainan pada anak-anak, semisal keterlambatan bicara, bisa diterapi dengan laserpunktur. Bahkan, "IQ rendah pun bisa ditingkatkan," katanya.

Stroke dan asam urat sembuh

Terapi akupunktur, menurut Agustin Idayanti, melibatkan kombinasi titik-titik akupunktur badan, telinga dan kepala. Ada sekitar 360 titik akupunktur badan. Belum lagi titik akupunktur telinga, kepala, hidung, dan telapak.

Untuk pengobatan asma, misalnya, sejumlah titik akupunktur perlu dirangsang. Juga titik organ (titik target) paru, di daerah kepala. Secara global perangsangan dilakukan untuk meningkatkan endomorfin. Tentu juga merangsang titik organ supaya endomorfin tadi terkonsentrasi pada organ tertentu.

Lain lagi terhadap penderita stroke yang adakalanya tak bisa berbicara. "Itu bisa karena kelainan fungsi. Bisa karena ototnya lemah. Nah, titik otot itu digarap,"jelas Agustin Idayanti.

Kalau gejala stroke segera diterapi akupunktur, hasilnya bisa bagus. Suwarno (52), contohnya, mengalami stroke sejak Maret 1998. Namun sejak Agustus 1998, ia bisa berjalan dan makan pakai sendok. "Banyak perbaikan. Padahal dulu saya pakai krug (penopang), kaki dan tangan kanan lumpuh," tutur Suwarno, salah satu pasien di Klinik Lab P3 Akupunktur, Surabaya.

Sama halnya dengan Nasrullah (49), penderita kolesterol dan stroke sebelah kiri selama tiga bulan. Dulunya pakai tongkat, sekarang sudah bisa naik motor. "Tusukannya hebat, tidak terasa sakit," komentarnya.

Lama-tidaknya terapi tergantung pada berat dan lama penyakit itu diderita. Untuk kasus asam urat, menurut dr. Agustin, perlu terapi 1-2 bulan. Maryoto (50), penderita asam urat, sembuh setelah sepuluh kali terapi akupunktur. "Sekarang saya bisa jalan normal, tidak terbungkuk-bungkuk lagi. Dulu lutut kiri kaku dan tak bisa digerakkan," ujarnya.

Kesembuhan juga dialami Mariam (31), penderita asam urat, setelah delapan kali terapi tusuk jarum. Namun karena tidak kontrol, ia kambuh lagi. "Mestinya dua seri (24 kali terapi). Karena asam urat sudah kasip. Kalau masih baru, cukup satu seri (12 kali)," ujar Sudarso, salah seorang akupunkturis di klinik Lab P3 Akupunktur.

Nyeri dan asma termasuk paling mudah sembuh. "Nyeri dijamin langsung sembuh. "Nyeri dijamin langsung sembuh dengan 1-2 kali terapi. Asma diterapi empat kali, membaik. "Tapi biasanya perlu tiga seri (36 kali) supaya tuntas," kata Agustin Idayanti.

Begitu pula migren, lanjut Agustin, cukup dua kali terapi. Paling banyak empat kali, di jamin sembuh. Kalau alergi kulit, diakuinya, agak sukar. Paling tidak satu seri, perlu waktu empat minggu.

Terhadap penderita hipertensi atau tekanan darah tinggi, ada tiga titik target. Titik emosi, titik pembuluh darah, dan titik metabolisme. Semuanya ada ditangan. Ditambah titik hegu di sela (pangkal) ibu jari.

Untuk diabetes, menurut Agustin, mudah terutama yang belum bergantung pada suntikan insulin. Biasanya terapi satu seri sudah stabil, meski adakalanya masih minum obat. Juga perlu disertai diet. Namun, dengan terapi ulang, konsumsi obat pelan-pelan berkurang sampai akhirnya tidak tergantung obat lagi.

Lain lagi perlakuan untuk kasus kegemukan (obesitas). Selain menerima terapi akupunktur, yang bersangkutan juga menjalani diet dan olahraga. "Makanan diatur sesuai berat badan. Misal, rata-rata 1.500 kalori. Olahraga lari paling tidak 15 - 30 menit," jelas Agustin.

Yang juga penting diketahui adalah penyebab dari kegemukan itu. Apakah karena sistem hormonal, intake terlalu besar, atau faktor lain? "Kalau memang ada masalah intake, yang digarap titik metabolisme dan titik nafsu makan. Kalau gara-gara faktor hormonal, titik hormonal yang digarap," papar Agustin.

Dengan merangsang titik metabolisme, proses metabolisme bisa berlangsung cepat. Titik lemak di perut dirangsang, timbunan lemak cepat dihancurkan. Perangsangan titik lapar/haus di bagian telinga untuk menghilangkan keinginan makan/minum. Juga perlu melemahkan titik hormon endokron, empat jari di bawah lutut.

Seminggu tiga kali terapi, dengan target berat badan turun 1 kg atau maksimal 5 kg/bln. Kalau kelebihan, fisiologis tubuh tak tahan. Lamanya terapi tergantung kelebihan berat badannya. Kalau kelebihan 10 kg, menurut Agustin, paling-paling dua bulan. Minggu pertama tiga kali terapi, minggu berikutnya dua kali terapi. "Tapi kalau gemuk sekali, bisa sampai 6 bulan," ujarnya. Ia pernah memiliki pasien super gemuk (tinggi 150 cm, berat badan 87,5 kg)

Sekarang tinggal 50-an kg dan sudah stabil.

Cerebral palsy bisa membaik

Autis, menurut dr. Agustin Idayanti, biasanya baru ketahuan setelah anak berusia 3 - 4 tahun. Titik-titik mana yang digarap? "Dilihat dulu penyebabnya. Etimologinya apa. Apakah ada kelainan otak, kelainan emosi atau perilaku, atau ada kelainan anatomi?" tuturnya.

Kalau ada kelainan otak, misalnya di daerah parietal, lanjut Agustin, sel-sel daerah itu dirangsang supaya bisa bekerja normal kembali. Kalau anak tidak bisa bicara, titik bicara dirangsang. Titik emosi di telinga dan tangan juga dirangsang supaya pasien menjadi tenang, emosi teratur dan mau berkomunikasi. Sehingga pasien gampang diatur. Titik otak di telinga juga dirangsang.

Pada kasus anak yang tidak bisa berbicara gara-gara kelainan emosi, menurut Agustin, titik emosi yang digarap. Kalau emosinya sudah stabil, kepandaian akan meningkat dan kooperatif, titik kepandaian (otak) di bagian telinga dan kepala digarap. Begitu pula titik ginjal ikut dirangsang.

Bahkan ada beberapa kasus khusus. Antara lain, cerebral palsy (CP) sejak lahir. Kelainan motorik kualitatif menetap ini timbul sebelum usia tiga tahun gara-gara kerusakan nonprogresif pada otak. Bisa karena radang otak. Pasien demikian ini biasanya badannya melungker (bongkok), tak bisa tegak. Ada juga epilepsi. Untuk kasus khusus, perlu penanganan khusus dan lama.

Menurut Agustin, penderita epilepsi dengan diterapi satu seri sudah menunjukkan kemajuan. "Penderita CP dan epilepsi umur dua tahun, kini sudah bisa jalan, setelah menjalani 20 kali terapi laserpunktur," jelasnya. Untuk pasien anak-anak memang digunakan laser, bukan jarum! Laserpunktur dengan kekuatan rendah (5 - 30 mWatt). Lima detik - 1 menit untuk satu titik akupunktur.

"Ada pasien yang bisa berlari setelah menjalani 2 - 3 seri terapi laserpunktur. Padahal anak itu awalnya duduk saja tidak bisa. Tapi ia belum bisa ngomong," tutur dr. Agustin.

Yang lain, lanjut Agustin, anak (3 tahun) penderita CP tanpa epilepsi, sudah bisa jalan setelah menjalani terapi 20 kali. Pandangan matanya sudah normal, tidak serong ke samping. Padahal sebelumnya sempat berobat ke Singapura, tapi tak kunjung membaik.

Untuk kasus CP, menurutnya, makin dini diterapi, makin bagus hasilnya. Pasien dari Gresik, Jawa Timur, misalnya sekarang sudah bisa berlari dan berceloteh "ma - ma - ma - ma". Malahan ia sudah masuk TK. "Untuk itu, paling tidak butuh waktu setahun," ujarnya.

Sementara untuk penyakit infeksi, menurut dr. Eko Suyanto, spesialis anak di RS Adi Husada Kapasari, Surabaya, tetap harus menggunakan antibiotika untuk memerangi kumannya. Dalam hal ini akupunktur atau laserpunktur bisa membantu meningkatkan immune respons (respon kekebalan).

"Adakalanya infeksi paru-paru hebat yang diobati antibiotika kurang memberikan hasil yang baik. Tapi begitu disertai terapi laserpunktur hasilnya sangat menakjubkan," tutur dr. Eko, yang pernah meneliti pengaruh laserpunktur untuk peningkatan berat badan balita kurang gizi. Hasilnya, nafsu makan bertambah, jarang sakit, atau lebih tahan terhadap infeksi.

Di tempat praktiknya di RS. Adi Husada Kapasari, Surabaya, dr. Eko juga menangani anak-anak CP, asma, alergi, dan sinusitis. Arsan (4,5), nama samaran, pasien alergi pilek dan sesak napas membaik setelah 10 kali terapi.

Bisa meningkatkan IQ

Berdasarkan teori akupunktur, tutur dr. Eko, yang pernah meneliti pengaruh akupunktur terhadap peningkatan IQ anak, "proses berpikir" menjadi tanggung jawab organ limfa, jantung, dan ginjal. Limfa bertanggung jawab atas proses belajar, konsentrasi, mengingat, analisis dan sintesis.

Jantung bertanggung jawab atas pemecahan problem sehari-hari, termasuk stress.

Sedangkan proses penyimpanan memori jangka lama menjadi urusan ginjal. Eko Suyanto memberikan gambaran begini. Orang tua, yang umumnya ginjalnya lemah, mampu ingat peristiwa lampau, tetapi sering lupa pada kejadian baru. Kenapa begitu? Karena ketika muda organ ginjalnya masih kuat, sehingga kuat menyimpan memori. Tapi setelah tua, ginjal tidak kuat lagi menyimpan memori. Karena itu orang pikun masih bisa menceritakan masa mudanya, tetapi gampang lupa dengan peristiwa yang baru terjadi.

Untuk meningkatkan IQ, menurut dr. Eko, yang digarap titik limfa, titik jantung, dan titik ginjal. Juga merangsang titik otak, titik emosi dan endokrin.

Penelitiannya melibatkan 22 murid SMP ber IQ 70 - 90. Titik-titik IQ diterapi laserpunktur satu seri. Hasilnya? "Nilai IQ naik. Rata-rata naik 7 - 15 poin. Ada yang naik sampai 50 poin. Efek pertama, konsentrasi belajar tambah bagus. Angka prestasi pun naik," tuturnya.

Rizal (12), nama samaran, dari Jakarta, pertama kali datang IQ-nya 43. Setelah satu seri terapi, angka IQ menjadi 45. Setelah dua seri terapi IQnya 67. "Lumayan kemajuannya! Begitu pula perilakunya bagus. Sudah berubah. Emosinya lebih terkontrol. Lebih penurut" tambahnya.

Deni (SMU), bukan nama sebenarnya, dari Denpasar, memiliki IQ awal 84. Setelah satu seri terapi, IQ-nya menjadi 97. Lina (13), nama samaran, dari Jawa Timur, awalnya IQ-nya 97. Setelah satu seri terapi, menjadi 106. "Yang menonjol, prestasi di sekolahnya makin bagus."

Liza (13), sebut saja begitu, termasuk anak lamban belajar, dengan IQ awal 78. Setelah satu seri terapi, IQ-nya 88. "Ngomong-nya tidak lancar. Setelah diterapi, pemahamannya lebih membaik," ujar ibunya.

Terbuktilah, akupunktur atau laserpunktur memberi hasil positif dalam penanggulangan masalah kesehatan. Bahkan, kecerdasan pun bisa didongkrak bila dengan rutin melakukan terapi yang berasal dari daratan Cina ini.

Source: Majalah Intisari, no.441 - April 2000

MSG Dapat Mematikan Rasa

NAMA KERENNYA monosodium glutamate atau disingkat MSG, sedangkan nama jamaknya bisa bumbu masak, vetsin, atau moto. Tak jarang pembeli menyebut salah satu merek moto, namun tak menolak meski yang diterima moto merek lain. Dari pengalaman, benda halus serupa butir kristal itu bisa selalu ditemukan dalam masakan Cina atau India. Alhasil, lahir pemeo, ada masakan Cina ada MSG.


Tapi dari mana asal MSG? 
Konon glutamat telah digunakan pada masakan bangsa Timur sejak lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Menurut pengamatan para juru masak Jepang zaman dulu, kaldu sop terasa lebih enak bila dicampuri Laminaria japonica, sejenis rumput laut. Tentu saja enak, karena batang rumput laut itu mengandung sejumlah besar glutamat alamiah.


Hubungan antara rumput, MSG, dan rasa enak itu ditemukan oleh Profesor Kikunae Ikeda dari University of Tokyo. Tahun 1908 ia berhasil menguraikan dan memisahkan komponen khusus dalam Laminaria japonica yang meningkatkan kualitas rasa itu. Bila ilmuwan Barat percaya hanya ada 4 rasa dasar, yaitu manis, asam, asin dan pahit, maka menurut Ikeda, masyarakat Jepang memiliki satu unsur rasa lain yaitu umami atau sedap.


Melihat potensi glutamat tersebut, sebuah perusahaan Jepang segera menyambar kesempatan untuk mengembangkan MSG secara komersial. MSG yang sesungguhnya berbentuk konsentrat sodium itu, biasanya oleh bangsa timur di ekstrakkan dari rumput laut, sedangkan bangsa Barat mengambilnya selain dari rumput laut, juga bit, dan biji-bijian, seperti kacang dan kedelai.


Kini, tak kurang dari 200.000 ton MSG dikonsumsi orang di seluruh bagian belahan bumi per tahun. Karena masyarakat Jepang dan Cina tercatat paling doyan MSG di dunia, sindroma alergi serius karena zat kimia tersebut dijuluki sindroma Restoran Cina. Akibatnya, tak sedikit kelompok masyarakat, terutama masyarakat Amerika, menyebutnya berbahaya.


Sanggahan bahwa MSG aman dikonsumsi diajukan oleh Asosiasi Glutamat di sana. Menurut mereka, MSG tidak berbeda dengan glutamat yang dikeluarkan tubuh manusia saat memakan bahan yang mengandung protein. Biasanya pun, persentase MSG pada makanan sangat kecil dibandingkan dengan glutamat yang terkandung secara alamiah pada hampir semua bahan makanan. Misalnya, untuk 0,5 kg daging umumnya bisa ditaburkan setengah sendok teh MSG. Artinya, dalam satu porsi hidangan daging ayam MSG-nya hanya kurang dari 10% glutamat yang memang terkandung secara alamiah pada ayam itu.


Meski menurut FDA (Food and Drug Administration) dari AS, MSG dikategorikan" secara umum dipandang aman", masyarakat negara Paman Sam tetap saja ngeri pada MSG. Di balik pro-kontra tentang aman tidaknya MSG, mengapa MSG masih digunakan pada masakan, terutama di restoran?


Konon MSG mampu memadukan semua rasa dengan baik, terutama berbagai rasa rempah. Itulah mungkin sebabnya, koki India - yang senang menggunakan rempah - cenderung menggunakan cukup banyak MSG. MSG juga dinilai bisa melembutkan rasa yang sangat tajam pada beberapa bahan makanan, seperti mengurangi rasa asam tomat, rasa pedas bawang bombay, atau menghilangkan aroma tanah pada kentang.


Mungkin rasa percaya akan "kesaktian" MSG pula yang tertanam dalam pikiran masyarakat Indonesia. Di antaranya, untuk membuat masakan lebih "legit", para penjaja makanan dengan enteng menuangkan MSG tanpa sendok takaran. Sampai akhirnya, menurut penelitian salah saut produsen besar MSG di Indonesia, tingkat konsumsi MSG di Indonesia adalah kurang lebih 409 g/kapita per tahun. Tak heran, kalau perusahaan tersebut mengklaim tingkat penjualan mencapai 17.265 metrik ton pada tahun 1995.


Terhadap fungsi meningkatkan kualitas rasa, juru masak anti-MSG dengan lantang berteriak, MSG justru "mematikan" rasa masakan dan sering digunakan untuk menutupi produk yang kurang baik. Kritik lain menyebutkan, MSG menyeragamkan semua rasa masakan, untuk itu istilah kemampuan MSG perlu diluruskan, bukannya menyelaraskan melainkan "mencampur adukkan" rasa.


Source: Majalah Intisari, no.397 - Agustus 1996

ANEMIA, Penyebab dan Penanggulangannya

TANPA disadari, banyak diantara kita, entah anak-anak, dewasa, maupun lansia (lanjut usia) terserang anemia. Mungkin penyakit ini dianggap penyakit sepele, padahal jika dibiarkan dalam jangka waktu lama dampaknya akan buruk sekali. Anemia merupakan keadaan dimana kadar hemoglobin dalam darah amat rendah, yakni kurang dari 12 g/dl.


Penyebabnya antara lain:


1. Kekurangan zat besi, dengan tanda-tanda kelelahan, pada waktu bekerja sering sesak napas, sakit kepala, gelisah, kurang konsentrasi, berdebar-debar, bengkak pada siku-siku. Jika pada suatu saat kadar hemoglobin turun drastis, dapat terjadi kerapuhan kuku dan luka-luka pada sudut mulut.


Cara penanggulangannya: dapat diberikan tambahan zat besi yang banyak tersedia di pasaran dalam bentuk tablet minum. Beberapa di kombinasi dengan  vitamin C agar mempermudah penyerapannya. Yang tidak kalah penting adalah peningkatan diet dengan makanan yang mengandung zat besi, seperti daging, hati, telur, bayam, dll.


2. Kekurangan vitamin B12 dan asam folat. Paling sering diderita para lansia, disebabkan gangguan penyerapan vitamin B12 atau kekurangan asam folat. Gejala timbul perlahan-lahan dan baru terlihat jika anemia menjadi berat misalnya warna kulit seperti jeruk, lidah nyeri, kekakuan pada tangan dan kaki. Penanggulangan kekurangan vitamin B12 dapat diatur dengan suntikan setiap hari, kemudian seminggu sekali, bulanan, akhirnya tiga bulan. Asam folat dapat diberikan dalam bentuk tablet, juga dari bahan alamiah seperti hati serta sayuran hijau.


Source: Majalah Intisari, no.397 - Agustus 1996

Kurma Mencegah Serangan Stroke

Kandungan kalorinya yang tinggi dan mudah dicerna oleh tubuh memang cocok kalau dikonsumsi saat berbuka puasa. Namun, ada khasiat yang lebih istimewa: kurma bisa menurunkan risiko serangan stroke berkat tingginya kalium yang dikandungnya.


BUAH-BUAHAN dikenal sebagai sumber utama vitamin, terutama vitamin C dan mineral. Sudah begitu, kandungan energi atau kalorinya pun rendah, sebab lemak yang dikandungnya juga rendah. Namun, ada pengecualian, misalnya kurma.


Kandungan lemak pada kurma juga bisa diabaikan. Namun, karbohidratnya yang tinggi membuat buah ini bisa menyediakan energi yang tinggi pula. Malah paling tinggi di antara keluarga besar buah-buahan. Keunggulan lainnya, kurma mengandung zat gizi penting bagi fungsi tubuh, terutama jantung dan pembuluh darah, yaitu kalium. Fungsi mineral ini membuat denyut jantung makin teratur, mengaktifkan kontraksi otot, serta membantu mengatur tekanan darah.


Itulah sebabnya kurma menjadi istimewa. Apalagi beberapa penelitian membuktikan, makanan tinggi kalium bisa menurunkan risiko serangan stroke.


Cukup lima butir sehari


Dari penelitian terhadap pola makan yang dilakukan terhadap 859 orang pria dan wanita berusia di atas 50 tahun di California Utara, AS, diketahui, perbedaan kecil konsentrasi kalium pada pola makan bisa memprediksi mereka yang diperkirakan berpeluang meninggal akibat stroke 12 tahun kemudian. Tak ada seorang pun yang asupan kaliumnya paling tinggi (lebih dari 3.500 mg setiap hari) meninggal akibat stroke.


Sebaliknya, orang yang secara teratur mengonsumsi kalium paling rendah (kurang dari 1.950 mg setiap hari) mempunyai risiko stroke fatal jauh lebih tinggo dibandingkan dengan yang lain. Di antara mereka yang konsumsi kaliumnya paling rendah, harapan meninggal akibat stroke 2,6 kali pria dan 4,8 kali pada wanita.


Makin banyak makanan kaya kalium yang dikonsumsi, biasanya makin kecil kemungkinan orang menderita stroke. Para peneliti menyimpulkan, dengan hanya makan satu porsi ekstra makanan kaya kalium (minimal 400 mg setiap hari) risiko fatal, bisa diturunkan sampai 40 persen. Batas krisis 400 mg kalium itu mudah sekali Anda penuhi dengan makan kurma kering sekitar 65 g saja, atau setara dengan lima butir kurma.


Makanan tinggi kalium, menurut Dr. Louis Tobian, Jr., pakar penyakit darah tinggi dari Minnesota University AS, juga bisa membantu menurunkan tekanan darah, serta bisa memberi kekuatan tambahan dalam mencegah stroke secara langsung, bagaimanapun kondisi tekanan darah seseorang.


Untuk membuktikan hal itu, Dr. Tobian melakukan eksperimen pada dua kelompok tikus yang terserang hipertensi. Satu kelompok tikus diberi diet tinggi kalium dan kelompok lain diet kalium normal. Hasilnya luar biasa. Di antara kelompok tikus yang mendapat asupan kalium tinggi, tak satu pun mengalami perdarahan otak. Sementara 40 persen pada kelompok tikus yang mendapat kalium normal menderita stroke ringan yang dibuktikan dengan adanya perdarahan pada otak.


Dari hasil penelitian itu Dr. Tobian lalu menarik kesimpulan, konsumsi ekstra kalsium bisa menjaga dinding arteri tetap elastis dan berfungsi normal. Keadaan ini membuat pembuluh darah tidak mudah rusak akibat tekanan darah.


Jadi jelas, kurma yang secara tradisional disuguhkan sebagai salah satu hidangan untuk berbuka puasa di Bulan Ramadhan, bukan makanan pembuka puasa yang biasa. Diam-diam ia menyimpan senjata potensial anti stroke dan anti serangan jantung. Meski demikian, untuk memastikan dampak positif kurma, agaknya masih perlu dibuktikan lebih lanjut melalui penelitian.


Memiliki aktivitas seperti aspirin 


Selain kalium, yang berguna bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah, kurma juga mengandung salisilat. Zat ini dikenal sebagai bahan baku aspirin, obat pengurang atau penghilang rasa sakit dan demam.


Salisilat bersifat mencegah pembekuan darah, antiinflamasi, dan berdampak melenyapkan rasa nyeri. Kecuali itu, menurut Nurfi Afriansyah, staff peneliti KIE Gizi Puslitbang Gizi Bogor, seperti dikutip Ayahbunda, salisilat juga bisa mempengaruhi prostaglandin (kelompok asam lemak hidroksida yang merangsang kontraksi otot polos, menurunkan tekanan darah).


Sementara itu Jean Carper lewat bukunya Food, Your Miracle Medicine menyatakan, kurma mempunyai aktivitas seperti aspirin. Kurma kering, katanya, sangat tinggi kandungan salisilat alias aspirin alaminya. Buah ceri, prune, dan kismis kering yang juga kaya akan kalium ikut beruntung karena mereka juga mengandung salisilat.


Orang yang peka dengan aspirin, kalau menyantap makanan mengandung salisilat, akan bereaksi mirip dengan orang minum aspirin. Karena itu, pakar kesehatan yang mendalami alergi biasanya akan mewanti-wanti mereka yang peka terhadap aspirin supaya menjauhi makanan mengandung salisilat, termasuk kurma.


Di lain pihak, para pakar tergugah rasa ingin tahunya terhadap perkembangan bahwa salisilat pada makanan bisa memberikan prestasi yang sama dengan minum aspirin. Memang, ada studi yang membuktikan, aspirin reguler dosis rendah (kurang atau separuh dosis yang biasa diminum per hari) sanggup membantu mencegah serangan jantung dan stroke.


Berdasarkan hal itu, para pakar mengharapkan, dosis rendah salisilat dalam makanan yang dikonsumsi secara kontinyu bisa juga meredakan sakit kepala.


Komposisi gizi


Buah kurma bisa disantap langsung dalam keadaan kering atau segar. Di samping itu, juga bisa dimanfaatkan untuk berbagai hidangan seperti aneka produk roti, permen, es krim, selada dan sirup.


Di negeri Arab kurma bahkan mendapat tempat yang cukup baik di masyarakat. Buah berbentuk silinder dengan biji beralur tunggal ini biasanya dikonsumsi bersama hasil olahan susu.


Nilai gizi utama yang diandalkan memang kandungan karbohidrat sederhananya, alias gulanya, yang tinggi. Kandungan karbohidratnya berkisar dari sekitar 60% pada kurma lembek (yang dipanen sewaktu masih lembek dan mentah) hingga sekitar 70% pada kurma kering (yang mengering di pohon, terjemur matahari).


Kebanyakan varietas kurma mengandung gula glukosa (jenis gula yang ada dalam darah) atau fruktosa (jenis gula yang terdapat dalam sebagian besar buah-buahan). Namun, satu varietasnya yang bernama Deglet Noor yang tumbuh di Kalifornia hanya mengandung gula sukrosa (dikenal juga sebagai gula pasir).

Menurut dr. Anwar El Mufti dari Mesir, seperti dikutip Harian Buana Minggu, kurma mengandung zat gula 70%.


Sebagian besar zat gula yang terdapat di dalamnya sudah diolah secara alami dan tidak berbahaya bagi kesehatan. Seperti halnya gula pada buah-buahan yang dinamai fruktosa, zat ini mudah dicerna dan mudah dibakar oleh tubuh. Dengan demikian akan menghasilkan tenaga yang tinggi, tanpa mempersulit tubuh untuk mengolah, mencerna, dan menjadikannya sebagai gizi yang baik. Itu sebabnya mengapa kurma dianggap sebagai buah yang ideal untuk hidangan berbuka puasa ataupun sahur.


Segelas air yang mengandung glukosa, menurut Dr. David Conning, direktur jenderal British Nutrition Foundation, seperti dikutip Panasea, akan diserap tubuh dalam 20 - 30 menit. Tetapi gula yang terkandung dalam kurma baru habis terserap dalam tempo 45 - 60 menit. Makanya, orang yang makan cukup banyak kurma pada waktu sahur akan menjadi segar dan tahan lapar, sebab bahan pangan ini juga kaya akan serat.


Keunggulan kurma lainnya, mengandung berbagai vitamin penting, seperti vitamin A, tiamin, dan riboflavin dalam jumlah yang bisa diandalkan, serta niasin dan kalium dalam jumlah yang sangat andal. Selain itu, buah ini ternyata juga memuat berbagai zat gizi lain seperti zat besi, vitamin B1, asam nikotinat, serta serat (bukan zat gizi) dalam jumlah memadai.


Dalam setiap 100 g kurma kering terkandung vitamin A 50 IU, tiamin 0,09 mg, riboflavin 0,10 mg, niasin 2,20 mg, serta kalium 666 mg. Zat-zat gizi itu berfungsi membantu melepaskan energi, menjaga kulit dan saraf agar tetap sehat, serta penting untuk fungsi jantung.


Riboflavin dan niasin, misalnya, akan membantu melepaskan energi dari makanan, sementara tiamin membantu melepaskan energi dari karbohidrat. Vitamin A dan niasin memainkan peranan dalam bentuk dan memelihara kulit yang sehat. Tiamin penting bagi sel-sel saraf, sementara niasin menjaga fungsi normal saraf.


Kurma juga mengandung banyak mineral penting, seperti magnesium, potasium, dan kalsium. Mineral-mineral itu sangat diperlukan oleh tubuh. Serat yang terdapat dalam kurma berfungsi melunakkan usus dan mengaktifkannya, yang secara alami bisa mempermudah buang air besar. Dalam kurma juga terkandung semacam hormon (potuchsin) yang bisa menciutkan pembuluh darah dalam rahim, sehingga dengan demikian bisa mencegah terjadinya perdarahan rahim.


Source: Majalah Intisari, no.436 - November 1999

GET UPDATE VIA EMAIL
Jika Anda Menyukai Artikel di Blog Ini, Silahkan Berlangganan via RSS. Isi Alamat Email Anda di Bawah Ini:

MAJALAH BOBO 1980-an

Tambahkan Kami di Facebook

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes