Tampilkan postingan dengan label Diabetes Mellitus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diabetes Mellitus. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Maret 2012

Mengukur Kadar Gula Darah Sendiri

DIABETES merupakan momok untuk banyak orang yang menderitanya. Sayang sekali, sebagian besar tidak menyadarinya. Bahkan mungkin lebih dari 80% penderita diabetes, kadar gulanya dalam darah tidak terkontrol dengan baik. Padahal, mereka terancam hari tua yang tidak menyenangkan, karena berbagai komplikasi akan terjadi bila kontrol jelek. Sebut saja gangguan penglihatan, fungsi ginjal buruk dengan kemungkinan cuci darah, luka yang tidak bisa sembuh dan berakhir dengan amputasi anggota tubuh, kemunduran kesehatan pada umumnya, dsb.


Bagaimana mengontrol sendiri kadar gula dalam darah sambil tetap memperoleh regimen pengobatan dokter? Pertama (dan terpenting) harus di sadari bahwa tidak ada cara lain daripada mengendalikan diri terhadap makanan manis. Pengobatan apa dan berapa pun tidak akan berhasil jika kita tidak bisa mengontrol masukan makanan. Kedua, gerak badan dan menjaga berat tubuh tidak berlebih, mengurangi lemak di perut dan bagian lain. Ketiga, untuk verifikasi ukur kadar gula setidaknya seminggu sekali untuk menilai apakah upaya kita sudah berhasil.


Target pengobatan diabetes ialah untuk mencapai kadar gula darah yang normal (atau mendekati), tanpa terjadi hipoglikemia. American Diabetic Association (ADA) tahun 2000 telah menetapkan patokan nilai gula darah untuk menjamin minimalnya risiko komplikasi diabetes. Ini agar kita bisa menikmati hidup seperti orang normal tanpa dihantui oleh komplikasi. Kriteria itu menyebutkan, kadar gula sebelum makan harus di antara 80 - 120 mg, dua jam sesudah makan dan sebelum tidur (malam) harus di antara 100 - 140 mg%, sedangkan glikoHb harus di antara 6 - 7%.


Yang disebut terakhir ini paling menentukan dan berhubungan erat dengan adanya komplikasi. GlikoHb yang disebut juga HbA1c mencerminkan kadar gula selama 2 - 3 bulan terakhir dan merupakan persentase kadar gula dalam sel darah merah (yang masa hidupnya memang tiga bulan). Maka parameter ini mencerminkan kontrol gula selama 2 - 3 bulan terakhir. Dengan alat kecil untuk mengukur kadar gula sendiri di rumah, pengontrolan ini dapat dilakukan meski tetap di bawah pengawasan dokter Anda.


Pengaturan dosis obat di rumah sakit sering dalam suasana artifisial, padahal di rumah cara hidup sangat berlainan.


Benchmark ini merupakan standar yang berat sekali, karena memaksa kita untuk mengubah pola hidup dan makan. Di sisi lain kita akan "terjamin" (dengan batasan 'arti jaminan' dalam ilmu pengobatan) bisa hidup lebih lama dan sehat. Dengan kemauan keras, hal ini tidak mustahil, terutama untuk mereka yang mau menikmati kebahagiaannya selama hidup.


Misi ini tentu harus di usahakan bersama dokter keluarga/spesialis kita yang juga menggunakan target ini sebagai sasaran regimen pengobatannya. Tentu dokter mau tak mau harus menyediakan waktu untuk itu, serta terus memantau ketat perkembangan gula darah pasiennya dalam suasana hidup sehari-hari (tidak perlu di rumah sakit yang artifisial). Sudah tentu kita sendiri dapat memantau kemajuan atau kemundurannya berdasarkan benchmark di atas.


Target yang ditentukan oleh ADA sebenarnya sangat riil dan bisa tercapai karena dewasa ini tersedia obat antidiabetik dengan empat macam cara kerja. Beda dengan beberapa tahun lalu, ketika hal ini sulit dilakukan karena insulin maupun obat oral yang dosisnya ditambah karena fenomena ini.


Kadar gula sebaiknya tak boleh naik-turun seperti yoyo, karena bisa berakibat fatal. Andai ini terjadi, kita juga tidak akan menyadarinya bila kadar gula hanya diperiksa pagi sebelum sarapan. Soalnya, nilai ini hanya berlaku untuk menentukan dosis pengobatan, terutama insulin, bukan untuk meraih long-term benefit.


Source: Majalah Intisari, no.452 - Maret 2001

Senin, 20 Februari 2012

Diet Sehat Untuk Penderita Diabetes

Susahnya jadi penderita kencing manis adalah harus membatasi konsumsi makanan berkarbohidrat, seperti nasi atau roti. Padahal, nasi merupakan makanan utama. Bagaimana caranya agar merasa kenyang sekalipun konsumsi nasi terbatas, dipaparkan dr. Elvina Karyadi berkut ini.


MAU TIDAK MAU, penderita kencing manis (diabetes mellitus) mesti berdiet. Baik golongan penderita yang bergantung pada insulin) maupun tidak (NIDMM atau PTBI: penderita tidak bergantung insulin).


Para PTBI dapat disembuhkan cukup dengan mengatur pola makannya, yakni dengan diet rendah karbohidrat. Namun pola diet macam ini bisa mendatangkan masalah jika diberikan tidak secara hati-hati kepada PBI. Soalnya, pengidap PBI kebanyakan anak-anak dan remaja yang sedang sangat membutuhkan kalori, terutama dari karbohidrat. Hingga harus diatur betul agar porsi kalori terbatas dan dosis insulin tetap menjamin pertumbuhan fisiknya secara optimal.


Diet ini terutama bermanfaat mencegah meningginya kadar gula darah penderita. Di samping itu juga menjaga kecukupan asupan (intake) asam amino dan lemak sesuai pedoman diet, sehingga bisa mengurangi risiko komplikasi dan menumpuknya badan keton hasil metabolisme lemak. Dengan berdiet berat badan normal akan terjaga, sedangkan tubuh tetap mendapatkan cukup asupan energi.


Diet rendah karbohidrat


Tenaga yang dihasilkan bahan makanan diukur dalam satuan kalori. Satu gram lemak menghasilkan 9 kalori, sedangkan 1 g karbohidrat atau protein bernilai 4 kalori. Jadi, lemak merupakan zat gizi padat kalori dan kalau berlebihan bisa mempertinggi risiko penyakit jantung koroner.


Bagi penderita diabetes, karbohidrat merupakan zat gizi terpenting yang perlu diperhatikan takarannya. Sebab lebih dari separuh kebutuhan energi bagi tubuh diperoleh dari karbohidrat. Ada dua golongan karbohidrat, yakni karbohidrat kompleks dan karbohidrat sederhana. Disebut demikian karena yang pertama ikatan kimiawinya memiliki lebih dari satu rantai glukosa, sedangkan yang kedua hanya satu.


Bila kita mengkonsumsi makanan berkarbohidrat kompleks, seperti roti, maka zat ini akan diuraikan menjadi rantai tunggal glukosa, baru kemudian terserap ke dalam aliran darah. Sesudahnya, kadar gula darah memang akan naik, tapi tidak kelewat cepat dan naiknya tidak banyak. Sebaliknya, jika kita mengkonsumsi makanan berkarbohidrat sederhana, seperti selai, jelly, minuman ringan, maka kadar gula darah segera melejit, karena gula bisa langsung memasuki sistem aliran darah.


Makanya, penderita diabetes dianjurkan menghindari makanan mengandung karbohidrat sederhana yang cepat terserap. Seperti gula pasir, gula jawa, manisan, permen, coklat, biskuit, sirup, minuman ringan, susu kental manis, es krim. Mereka dianjurkan mengkonsumsi sumber karbohidrat berserat alami, seperti roti yang mengandung biji gandum, biskuit berserat, sayuran, kacang-kacangan, dan buah segar.


Penderita sangat disarankan untuk berkonsultasi dulu dengan dokter atau ahli gizi sebelum berdiet, agar dietnya benar sehingga berhasil sembuh. Lebih-lebih lagi lantaran pola diabetes untuk orang Indonesia agak berbeda dengan versi diet serupa di negara Barat, yang biasanya mengandung 40 - 50% karbohidrat, 30 - 35% lemak, dan 20 -25% protein (Diet A). Menurut penelitian Askandar Tjokroprawiro, Diet B yang berkomposisi 68% karbohidrat, 20% lemak, dan 12% protein - lebih pas buat kita.


Diet B selain mengandung karbohidrat agak tinggi (68%) juga kaya serat dan rendah kolesterol. Ini sesuai dengan hasil penelitian di luar negeri bahwa diet tinggi karbohidrat kompleks dalam dosis terbagi dapat memperbaiki kepekaan sel beta pankreas.


Tingginya serat dalam sayuran A dan B dapat menekan kenaikan kadar glukosa darah dan kolesterol darah sesudah makan.


Setiap 100 g sayuran A mengandung 50 kalori, yang terdiri atas 3 g protein dan 10 g karbohidrat. Contohnya bayam, buncis, daun melinjo, daun pepaya, labu siam, daun beluntas, daun ubi jalar, daun singkong, jagung muda, kacang panjang, nangka muda, pare, wortel.


Kembang Kol
Sayuran B mengandung sedikit kalori, protein, dan karbohidrat. Sayuran ini dapat dimakan agak bebas, asalkan jumlahnya wajar. Seperti kembang kol, taoge, ketimun, rebung, jamur segar, seledri, kangkung, pepaya muda, daun labu siam, selada, gambas, lobak, cabai hijau besar, kecipir, labu air, terung, tomat, sawi.


Bawang merah, bawang putih (berkhasiat 10 kali bawang merah), dan buncis baik sekali jika ditambahkan dalam diet diabetes, karena dapat menurunkan kadar lemak darah dan glukosa darah. Hanya saja, konsumsi buncis cukup 3 kali 50 - 200 g per hari. Konsumsi buah-buahan lebih dianjurkan yang kurang manis. Misalnya, pepaya, kedonding, salak, pisang, apel, tomat, semangka. Buah manis seperti sawo, jeruk, nanas, rambutan, durian, nangka, anggur, harus dibatasi.


Susunan diet B ini pada prinsipnya dapat diberikan kepada semua penderita diabetes. Namun, penderita dengan komplikasi pada ginjal (nefropati diabetik) perlu diberi pola diet lain.


Dalam melaksanakan diet diabetes hendaknya penderita mengikuti pedoman 3 J, yakni Jumlah, Jadwal, dan Jenis. Silakan buka kembali artikel Mengendalikan diabetes dengan diet 3 CARA (3J)


Diet PBI lebih kompleks


Bagi para PBI, pengaturan dietnya lebih kompleks, karena penderita juga harus mendapatkan insulin setiap hari. Prinsipnya, harus ada keseimbangan antara diet, kegiatan fisik, dan jumlah insulin yang disuntikkan. Untuk itu diperlukan beberapa syarat. Asupan energi mesti sesuai umur, jenis kelamin, tinggi badan dan berat badan, kegiatan fisik, dan proses tumbuh kembang. Sebagai pedoman, bila berat badan dan kegiatan normal untuk anak-anak sampai usia 12 tahun, maka rumus kecukupan kalorinya adalah 1.000 kkal + umur (tahun) x   100 kkal. Contohnya, anak penderita diabetes usia 10 tahun membutuhkan kalori: 1.000 + (10) x 100 = 2.000 kkal.


Proporsi karbohidrat terhadap energi tidak banyak berbeda dengan makanan anak sehat, yakni 60 - 70%. Selain itu, gula dan makanan bergula sangat dibatasi.


Proporsi protein terhadap energi adalah 15 - 20%. Sementara proporsi lemak terhadap energi adalah 20 - 25%, diutamakan lemak tidak jenuh ganda. Asupan lemak jenuh dan kolesterol dibatasi. Makanan mesti cukup mineral dan vitamin serta mengandung banyak serat untuk memberi rasa kenyang.


Pemberian makanan disesuaikan dengan macam obat yang diberikan. Jika penderita diberi suntikan insulin regular "kerja singkat" 3 kali sehari, maka baik makanan utama maupun selingan di berikan 3 kali sehari. Porsi makanan pagi sebesar 15 - 20% dari jumlah makanan sehari, sedangkan makanan siang dan malam masing-masing 30%. Seluruh makanan selingan merupakan 20 - 25% dari jumlah makanan sehari. Makanan selingan di berikan pada pkl. 10.00, 16.00, dan 21.00.


Bila penderita diberi insulin "kerja lama", seperti PZI (protamin zinc insuline), makanan utama diberikan 4 kali sehari dalam jumlah kurang lebih sama dan makanan selingan 2 kali sehari.


Kecukupan diet bagi anak penderita diabetes dapat dinilai dengan mengamati apakah pertumbuhannya normal dan apakah ia merasa kenyang.




Komposisi Diet Diabetes Versi Diet A dan Diet B

Komposisi                                  DIET A                              DIET B

Karbohidrat                                   50%                                  68%
Protein                                          20%                                 12%
Lemak                                           30%                                 20%
Rasio lemak tak jenuh:jenuh            0,6                                  1,0
Kolesterol per hari                         500 mg                          100 - 150 mg
Serat*                                         Sayuran A                         Sayuran A dan B
Frekuensi per hari                          3 kali                                6 kali
Distribusi per hari**                    30%, 40%, 30%                    20%-10%-25%
                                                                                        10%-25%-10%

Catatan:
* Sayuran A mengandung 6% karbohidrat
  Sayuran B mengandung 3 % karbohidrat

** Jarak makan: 3 jam
Source: Majalah Intisari, no.381 - April 1995

Hidup Sehat Bersama Diabetes (BAGIAN 2)

IBARAT BUSI MACET

DULU orang percaya bahwa biang keladi diabetes mellitus itu kurangnya produksi hormon insulin dari sel kelenjar pulau Langerhans di pankreas. Macetnya produksi  ini bisa karena atrofi (penyusutan) sel-sel penghasil hormon itu sejak orang dilahirkan, karena sifat yang diturunkan. Bisa juga karena serangan virus di pulau itu, atau sebab lain yang tidak jelas.

Ternyata kemudian, ada penderita diabetes yang meskipun insulinnya cukup, tapi tetap saja menderita. Sakit betul tidak, sehat betul juga tidak. Badan lekas capek, kekurangan tenaga. Dalam hal ini, tubuhnyalah yang kurang bereaksi secara efisien terhadap kehadiran insulin. Tubuh tidak mampu mengoksidkan glukosa menjadi energi, walalupun sudah (masih) ada insulin cukup.

Baik kekurangan insulin maupun ketidakmampuan mengoksid glukosa, semuanya membuat pasien tidak sembuh dari "penyakit" gula, tapi hidup bersama secara rukun dengan "penyakit" itu, sampai akhir hayat dikandung badan.

Bagaimana duduknya perkara, kekurangan insulin membuat badan lekas capek kekurangan tenaga?

Glukosa bagi tubuh boleh diibaratkan bensin dalam mobil. Mereka baru menghasilkan tenaga kalau dibakar. Dalam mesin mobil, bensin dibakar oleh loncatan api listrik dalam busi. Dalam tubuh kita, glukosa dibakar oleh insulin sebagai katalis, tukang sulut proses. Persis seperti loncatan api dalam busi yang membakar bensin, ia menyulut proses, tapi ia sendiri tidak terlibat didalamnya. Proses pembakaran dilakukan dengan oksigen dari udara yang masuk melalui paru-paru dan diedarkan oleh butir-butir darah merak ke seluruh tubuh.

Walaupun bahan bakar bensin ada, tapi kalau loncatan api dalam busi macet (karena kondensornya memble misalnya), maka mobil tidak mempunyai tenaga.

Begitu juga dalam tubuh. Walaupun bahan bakar glukosa ada, tapi insulin tukang sulutnya kurang (atau oksigennya kurang), maka tubuh tidak mempunyai tenaga. Oksidasi glukosa yang seharusnya menghasilkan energi tidak jalan.

Pembakaran bensin dalam mobil baru menghasilkan tenaga besar kalau supply udara (berisi zat pembakar oksigen) seimbang dengan bensin. Kalau bensinnya membludak, sedang udaranya tidak, maka mesin tidak nyamber. Begitu juga pembakaran glukosa dalam tubuh. Kalau glukosanya membludak, sedangkan suplai oksigen dalam darah tidak seimbang, tubuh tidak "menyala" tenaganya.

Glukosa yang berhasil dioksidkan akan menjadi air (keringat) dan CO2 (asam arang) yang larut dalam keringat itu. Proses ini menghasilkan tenaga yang nampak pada sejumlah kalor yang lepas. Itulah sebabnya orang yang sedang mengerahkan tenaga jadi berkeringat.

INSULIN, ANTIDIABETIK, DAN GANGREN

HORMON INSULIN diproduksi oleh sel beta dari pulau Langerhans pada pankreas. Pada awalnya insulin adalah prekursor polipeptida yang dinamakan preproinsulin. Selanjutnya oleh pankreas hormon ini segera diubah menjadi proinsulin. Di dalam sel beta secara spontan terbentuk heksamer yang terikat oleh dua ion seng dan satu ion kalsium. Glukosa merangsang pelepasan insulin.

Di Indonesia, insulin dipasarkan oleh beberapa industri dalam bentuk injeksi. Insulin tidak dapat diberikan secara oral karena akan dirusak oleh enzim protease dalam saluran cerna.

Ada beberapa jenis sediaan insulin baik yang dari pankreas manusia, sapi, dan mikroteknologi (kebanyakan dari insulin manusia). Sediaan insulin ini ada yang awal kerjanya cepat atau lambat, ada yang pendek, panjang dan sangat panjang. Di luar negeri sedang dikembangkan insulin intranasal (lewat hidung) dan oral (di dalam matriks yang dapat melindungi insulin dari kerusakan enzim protease).

Insulin termasuk obat keras dan hanya dapat diperoleh dengan resep dokter. Sebaiknya insulin disuntikkan oleh dokter atau perawat dengan alat suntik khusus lewat intramuskular (di dalam otot) atau subkutan (bawah kulit). Insulin harus disimpan di tempat dingin (2 - 5 derajat Celcius), bukan dalam freezer, dan jangan di tempat yang terkena cahaya matahari atau panas.

Obat oral antidiabetik (OAD) diperlukan terutama bagi PTBI. Umumnya OAD termasuk golongan sulfonilurea dan binguanida.

Kepatuhan penderita dalam menggunakan insulin maupun OAD menentukan keberhasilan pengobatan. Sebaiknya penderita tidak mudah mengobati dirinya sendiri, sering memeriksakan kadar glukosa atau keton dalam darah atau urine. Namun, perlu diingat, ada beberapa obat atau vitamin yang dapat mengganggu pemeriksaan glukosa urine sehingga bisa mendapatkan hasil semu positif. Misalnya, vitamin C, beberapa macam antibiotik serta golongan gula galaktosa, fruktosa, dan laktosa.

Hendaknya penderita tidak sembarangan menggunakan obat lain yang mudah mempengaruhi kenaikan kadar glukosa darah tanpa sepengetahuan dokter, misalnya kortikosteroid, siproheptadin, diuretika, beta dokter, dan kontrasepsi oral. Obat lain sebaiknya tidak berupa sirup. Sayangnya, industri farmasi di Indonesia tidak banyak membuat atau menyediakan sediaan sirup obat khusus untuk diabetes mellitus.

Salah satu hal yang paling dikhawatirkan penderita kencing manis ialah terjadinya gangren (kematian dan pembusukan jaringan). Dilaporkan, gangren 50 kali sering terjadi pada penderita DM daripada yang bukan. Walaupun antibiotik sudah berbagai macam jenisnya, hampir 50% penderita gangren pada kaki penderita DM di AS diamputasi.

Untuk menghindari gangren, pasien hendaknya setiap hari memeriksa kakinya menggunakan cermin. Gosoklah kaki dengan minyak nabati, lanolin, atau minyak perawatan kaki lainnya untuk menjaga kulit tetap lunak dan tidak kering. Bila kulit kering, mudah pecah, dan terbuka akan mudah terinfeksi.

Untuk menghilangkan minyak nabati atau lanolin tadi dapat digunakan alkohol sekali seminggu. Jangan digunakan adstringensia yang bersifat asam/basa ataupun obat keratolitika. Hindari menyikat, mengiris kulit kaki, memotong kuku terlalu pendek, sebab itu akan memudahkan terjadinya infeksi. Hindari panas yang berlebihan atau menggunakan alat pemanas pada kaki. Perawatan gigi dan mata tidak kalah penting bila timbul kelainan.

Source: Majalah Intisari, no.381 - April 1995

Sabtu, 18 Februari 2012

Hidup Sehat Bersama Diabetes (BAGIAN 1)

Sepertinya hal itu tidak mungkin terjadi. Namun dengan kepatuhan, kedisiplinan, dan kemauan mengontrol diri dalam berdiet, berolahraga, dan memeriksakan diri ke dokter, hidup sehat dengan kencing manis (diabetes mellitus) bukan sesuatu yang mustahil.


PAK DODI MINO (sebut saja begitu) sering mengeluh susah tidur. Kalau malam hari sebentar-sebentar ingin buang air kecil. Nafsu makan pria berusia 50 itu menurun, tetapi rasa haus sering tidak tertahankan. Sampai-sampai ia bolak-balik membuka lemari es. Macam-macam minuman yang ada didalamnya habis diminumnya dalam beberapa hari. Namun, badannya semakin lesu dan lemas. Dalam satu bulan berat badannya turun sampai 10 kg.


Pada awalnya dokter menduga ia menderita lesu darah atau hipertiroid. Penyakitnya mulai ketahuan ketika pada suatu pagi pandangan matanya kabur dan ia sempoyongan, tapi tidak sampai pingsan. Setelah diperiksakan, ternyata kadar gula dalam darahnya tinggi, 500 mg/dl (normalnya 80 - 120 mg/dl.). Kesimpulannya, ia mengidap penyakit diabetes mellitus (DM), atau lebih populer dikenal sebagai sakit gula atau kencing manis. Untuk itu beristirahat dan berdiet makanan ketat harus dilakukannya.


Dengan kepatuhan dan kedisiplinannya yang tinggi, bersama penyakit diabetesnya Pak Dodi tetap menjalankan aktivitas sehari-harinya dengan baik layaknya manusia sehat lainnya.


Bagaimana seluk-beluk dan perawatan penyakit kencing manis ini?


Dikerumuni semut


Tingginya kadar gula dalam darah pada penderita sakit gula terjadi akibat hormon insulin, dikeluarkan oleh sel-sel beta dari pulau Langerhans pada pankreas, yang bertugas mengatur kadar gula (glukosa) dalam darah menjadi sarat dengan glukosa (lihat boks "Ibarat Busi Macet"). Kemudian oleh ginjal - yang tugasnya menyaring dan mengeluarkan "sampah" dari darah dan air - kelebihan itu sebagian dikeluarkan melalui air seni. Itu sebabnya air seni penderita sakit gula bisa mendatangkan kerumunan semut.


Apakah penderita kencing manis seperti Pak Dodi lalu membutuhkan suntikan insulin?


Jawabannya, tidak selalu. Perlu tidaknya suntikan insulin tergantung pada jenis DM yang diidap.


Jika diketahui seseorang menderita insuline dependant diabetes mellitus (DM-tergantung-insulin), suntikan insulin selalu dibutuhkan. Jenis ini umumnya justru menyerang anak-anak atau remaja karena faktor keturunan. Namun tingkat kejadiannya (prevalensi) hanya kurang lebih 10 persen dari seluruh penderita DM.


Munculnya penyakit pada PBI begitu tiba-tiba. Ia mendadak merasa sangat haus dan lapar, lalu sering buang air kecil. Tapi berat badan turun drastis, badan lemas dan capek, merasa mual, pandangan mata kabur, dan terus mengantuk. Itu semua karena tubuhnya tidak mampu memproduksi cukup insulin. Makanya, sepanjang hayat ia terus membutuhkan suntikan insulin.


Beda dengan penderita PTBI (penderita tidak bergantung insulin atau non-insuline dependant diabetes mellitus). Kebanyakan tidak membutuhkan insulin. Tubuhnya tetap memproduksi insulin, hanya saja jumlahnya tidak mencukupi, atau tubuh tidak lagi bisa menggunakannya dengan baik. Justru PTBI inilah yang paling sering ditemui pada penderita diabetes (90% penderita diabetes adalah PTBI).


PTBI bisa karena faktor keturunan. Namun kemunculannya kebanyakan di atas usia 40, terutama pada orang yang berbadan gemuk. Serangannya sering kali tanpa terasa, karena gejalanya bisa bertahun-tahun. Namun, sering merasa kaku atau kebal pada kaki dan tangan atau gatal-gatal, bisa merupakan tanda-tanda awal serangan. Tanda lain, kalau luka pada kaki, lama sembuhnya. Penderita sering terkena infeksi kulit, timbul rasa gatal di kemaluan pada bekas kencing.


Perawatan bagi PTBI umumnya cukup dengan mengatur pola makannya, yakni dengan diet rendah karbohidrat (lihat "Diet Sehat Penderita Diabetes") dan berolahraga, walaupun pada pasien tertentu di perlukan obat atau suntikan insulin.


Selain itu, ada juga penyakit kencing manis karena gangguan toleransi glukosa (IGT), yang juga disebut borderline diabetes atau pradiabetes. Ini terjadi bila kadar gula dalam darah cukup tinggi, namun masih dalam ambang batas normal. Tentu saja penderita harus mulai waspada.


Ada lagi, DM karena kehamilan. Umumnya gejala akan hilang dengan sendirinya setelah melahirkan. Namun menurut Federasi Diabetes Sedunia, setengah dari wanita yang saat hamil kadar gula darahnya tinggi, di kemudian hari diketahui sebagai PTBI atau PBI.


Seperti sudah disebut, penderita kencing manis (baik PBI maupun PTBI) bisa karena faktor keturunan, di samping faktor kegemukan, pola makan yang tak sehat, dan lingkungan. Bila saudara kembar Anda berpenyakit DM, Anda pasti terkena. Bila kedua orang tua Anda berpenyakit DM, dapat dipastikan Anda 100% menderita DM. Jika salah satu orang tua Anda menderita DM, tapi nenek atau kakek tidak, kemungkinan terkena 60%. Kalau ayah atau ibu terkena DM, dan salah satu saudara kandung Anda terkena, kemungkinannya 50%. Salah satu orang tua dan salah satu bibi atau paman terkena DM, kemungkinannya 35%. Seorang saudara kandung terkena DM, kemungkinan Anda terkena 25%.


Produk Kemajuan


Dari hasil berbagai penelitian epidemiologis di Indonesia, menurut Perkeni (Persatuan Endokrinologi Indonesia) kita mendapat gambaran bahwa penyakit DM tidak pandang tempat dan usia. Angka prevalensi penderita DM, 1,5 - 2,3% pada penduduk usia lebih dari 15 tahun. Diperkirakan tahun 2020 nanti, dengan asumsi prevalensinya 2% terdapat 3,56 juta pasien DM dari 178 juta penduduk usia 20 tahun ke atas.


Menurut catatan WHO sejak pertengahan tahun 80-an penderita DM meningkat 3 kali lipat. Tahun 1993 lebih dari 100 juta penduduk dunia terserang DM. Semakin meningkatnya jumlah penderita DM antara lain disebabkan oleh usia harapan hidup yang semakin tinggi dan gaya hidup serta kebiasaan makan yang tidak mengikuti pola makan yang sehat, terutama di kota-kota besar dan negara maju.


Apakah angka tersebut dapat diturunkan atau paling tidak dipertahankan? Menurut Perkeni, yang terpenting pelayanan dan pengetahuan rinci tentang penyakit ini perlu terus disampaikan kepada masyarakat. Ini mengingat kesadaran akan bahaya penyakit ini masih rendah.


Pengetahuan itu antara lain tentang kapan seseorang perlu mengecek kadar gula darah, bagaimana perawatannya setelah terkena DM, bagaimana mengendalikan kadar gula dalam darah agar tidak meninggi, lalu bagaimana mencegah komplikasinya.


Tes Glukosa


Ada cara mudah untuk mengetahui apakah urine Anda mengandung kadar gula yang tinggi atau tidak. Dekatkan saja air seni pada semut. Bila semut datang mengerumuninya, berarti air seni Anda positif mengandung gula.


Cara yang lebih "canggih" ialah dengan glukotest berupa tongkat kecil berlapis kertas khusus yang bisa dibeli di apotek. Celupkan alat itu ke dalam air seni. Selang beberapa menit akan muncul warna pada kertas yang membedakan tingkat ketinggian gula darah. Warna kuning menandakan kadar gula normal. Selanjutnya, semakin hijau semakin tinggi kadar gulanya.


Bisa juga mencampur air seni dengan cairan Fehling atau Benedict lalu dipanaskan sampai mendidih sehingga terjadi perubahan warna pada larutan tersebut. Jika warnanya hijau, berarti ada kecenderungan mengidap DM. Kuning artinya kadar gula cukup tinggi, sedangkan warna merah sangat tinggi.


Namun, hasil yang lebih pasti tentu lewat pemeriksaan darah dan urine di laboratorium. Pengambilan darah di lakukan dua kali, yakni dalam keadaan puasa dan 2 jam setelah makan. Bila kadar gula darah pada waktu puasa lebih dari 120 mg/dl (baik: 80 - 120 mg/dl) dan 2 jam setelah makan kadar gula lebih dari 200 mg/dl (baik: 80 - 160 mg/dl), menandakan adanya gejala DM. Hasilnya semakin pasti apabila pemeriksaan urine pun positif.


Pemeriksaan yang lebih rinci dengan tes toleransi glukosa oral (TTGO) di lab. Selama pemeriksaan, pasien beristirahat dan dilarang merokok. Dengan cara ini hasilnya mendekati kenyataan.


Awas komplikasi!


Bila Anda ketahuan mengidap DM, sebaiknya jangan menganggap sepele. Perawatan serta pengontrolan penyakit DM amat penting dilakukan agar terhindar dari komplikasi. Untuk itu disarankan seminggu sekali Anda mengecek kadar gula dalam darah dan urine.


Komplikasi memang merupakan momok bagi para penderita DM, karena DM merupakan salah satu kemungkinan penyebab kebutaan pada kaum usia setengah baya, Retinopati, katarak, dan glaukoma adakah komplikasi pada mata yang bisa terjadi. Retinopati, kelainan pada pembuluh darah retina, bisa mengakibatkan kebutaan kalau tidak segera ditanggulangi.


Komplikasi lain ialah neuropati. Yang ini bisa mengakibatkan impotensi atau kehilangan rasa pada beberapa bagian tubuh karena fungsi saraf menurun atau hilang sama sekali. DM bisa juga menyebabkan perubahan pada pembuluh darah ginjal sehingga ginjal mudah terganggu bahkan rusak (nefropati).


Pada penderita DM berat, pembuluh darah cepat menua, menyempit dan kaku sehingga daerah tertentu kurang mendapat pasokan darah (eskemia). Akibatnya, daerah itu kurang mendapat makanan, oksigen, dan kebutuhan zat-zat lain. Kalau tidak cepat ditanggulangi, bisa menimbulkan gangren, yakni rusak dan membusuknya jaringan. Yang terkena biasanya bagian ujung-ujung kaki atau tangan. Untuk mencegah menjalarnya pembusukan biasanya bagian itu diamputasi.


Komplikasi lain ialah timbulnya penyakit jantung koroner (PJK) akibat terjadinya penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah koroner. Risiko terkena PJK pada pria 2 - 3 kali lebih besar daripada wanita. Radang paru-paru, mulut dan gigi, gangguan reproduksi, dan kemampuan seksual menurun, termasuk komplikasi DM.


Pasien akan menghadapi kondisi sangat fatal kalau sampai mengalami diabetic ketocidosis, akibat kadar gula dalam darah begitu tinggi. Situasi ini bisa menyebabkan penderita koma atau jiwanya tidak tertolong lagi.


Yang tidak kalah fatalnya kalau sampai terjadi sebaliknya, hipoglikemia atau insuline shock. Penderita merasa lemas, berkeringat, mual dan bisa pingsan. Bila tidak cepat diatasi, bisa menyebabkan kematian. Kondisi ini terjadi akibat penggunaan insulin atau obat diabetes yang tidak terkontrol (berlebihan) sehingga kadar gula turun drastis. Cara mengatasinya pasien segera diberi minuman berkadar gula atau setidaknya permen.


Perlu "kumpul-kumpul"


Sebenarnya komplikasi ataupun kondisi seperti itu tidak perlu terjadi. Asalkan penderita mau mengontrol diri secara ajek, melakukan diet menurut anjuran dokter atau ahli gizi, menjaga kondisi tubuh dengan olahraga yang seimbang, menjaga berat badan selalu seimbang, dan makan obat sesuai petunjuk dokter.


Umumnya pengelolaan penderita DM dimulai dengan pengaturan makan untuk berapa waktu (4 - 8 minggu), disertai kegiatan fisik yang cukup. Kalau ini dilakukan dengan baik namun kadar glukosa darah belum memenuhi kadar sasaran metabolik, pasien diberi obat penurun glukosa darah secukupnya, berupa oral atau suntikan.


Jangan lupa, peranan penderita sangat penting dalam upaya merawat dirinya sendiri. Meskipun pelayanan dari pihak medis juga diperlukan terutama dalam memberikan edukasi, dorongan semangat, serta kepercayaan diri. Dukungan keluarga penderita juga dibutuhkan dalam membantu proses edukasi.


Selain membaca buku panduan tentang penyakit DM, mengadakan suatu forum ceramah, "kumpul-kumpul", atau semacamnya bagi penderita DM, merupakan satu langkah yang baik. Tujuannya terutama agar penderita sakit gula tidak merasa sendirian. Penyakit ini memang tidak bisa disembuhkan, namun tidak perlu sampai harus mengurangi aktivitas sehari-hari. Menerima hidup bersama diabetes mellitus, hidup rukun dengan pasangan, patuh dan disiplin pada nasihat ahlinya, merupakan kunci perawatan penyakit menahun ini.


Bersambung - HIDUP SEHAT BERSAMA DIABETES (BAGIAN 2)

Rabu, 01 Februari 2012

Akupunktur Dapat Meningkatkan IQ

SEJAK PAGI puluhan pasien sudah antre di klinik akupunktur pada Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Pelayanan (P3) Akupunktur di Jln. Indrapura, Surabaya. Mereka hendak menjalani terapi tusuk jarum (akupunktur). Tiap harinya 12 akupunkturis melayani 50-an pasien, yang umumnya menderita kelainan fungsional.

"Paling banyak stroke, alergi, kegemukan, nyeri sendi, nyeri pinggang, rematik, tekanan darah tinggi, diabetes, asma, migren, dan gangguan lambung," ujar dr. Agustin Idayanti, M.S., di klinik Lab P3 Akupunktur, yang diresmikan sejak 7 April 1990.

Klinik akupunktur menekankan pada penyakit/gangguan fungsi organ. Bukan kelainan anatomi organ. "Patah tulang, jelas tidak bisa. Kelainan anatomi harus dibawa ke rumah sakit," tegas Dr. Koosnadi Saputra, D.S.R., ketua Lab Akupunktur Pusat Penelitian Pengembangan dan Pelayanan Kesehatan Depkes, Surabaya.

Akupunktur, lanjut Koosnadi, populer untuk nyeri. Namun bisa untuk mengobati kelainan daya tahan tubuh, termasuk asma dan alergi. Juga mampu mengatasi gangguan fungsi organ usus/lambung, serta penurunan fungsi hormon. Kelainan pada anak-anak, semisal keterlambatan bicara, bisa diterapi dengan laserpunktur. Bahkan, "IQ rendah pun bisa ditingkatkan," katanya.

Stroke dan asam urat sembuh

Terapi akupunktur, menurut Agustin Idayanti, melibatkan kombinasi titik-titik akupunktur badan, telinga dan kepala. Ada sekitar 360 titik akupunktur badan. Belum lagi titik akupunktur telinga, kepala, hidung, dan telapak.

Untuk pengobatan asma, misalnya, sejumlah titik akupunktur perlu dirangsang. Juga titik organ (titik target) paru, di daerah kepala. Secara global perangsangan dilakukan untuk meningkatkan endomorfin. Tentu juga merangsang titik organ supaya endomorfin tadi terkonsentrasi pada organ tertentu.

Lain lagi terhadap penderita stroke yang adakalanya tak bisa berbicara. "Itu bisa karena kelainan fungsi. Bisa karena ototnya lemah. Nah, titik otot itu digarap,"jelas Agustin Idayanti.

Kalau gejala stroke segera diterapi akupunktur, hasilnya bisa bagus. Suwarno (52), contohnya, mengalami stroke sejak Maret 1998. Namun sejak Agustus 1998, ia bisa berjalan dan makan pakai sendok. "Banyak perbaikan. Padahal dulu saya pakai krug (penopang), kaki dan tangan kanan lumpuh," tutur Suwarno, salah satu pasien di Klinik Lab P3 Akupunktur, Surabaya.

Sama halnya dengan Nasrullah (49), penderita kolesterol dan stroke sebelah kiri selama tiga bulan. Dulunya pakai tongkat, sekarang sudah bisa naik motor. "Tusukannya hebat, tidak terasa sakit," komentarnya.

Lama-tidaknya terapi tergantung pada berat dan lama penyakit itu diderita. Untuk kasus asam urat, menurut dr. Agustin, perlu terapi 1-2 bulan. Maryoto (50), penderita asam urat, sembuh setelah sepuluh kali terapi akupunktur. "Sekarang saya bisa jalan normal, tidak terbungkuk-bungkuk lagi. Dulu lutut kiri kaku dan tak bisa digerakkan," ujarnya.

Kesembuhan juga dialami Mariam (31), penderita asam urat, setelah delapan kali terapi tusuk jarum. Namun karena tidak kontrol, ia kambuh lagi. "Mestinya dua seri (24 kali terapi). Karena asam urat sudah kasip. Kalau masih baru, cukup satu seri (12 kali)," ujar Sudarso, salah seorang akupunkturis di klinik Lab P3 Akupunktur.

Nyeri dan asma termasuk paling mudah sembuh. "Nyeri dijamin langsung sembuh. "Nyeri dijamin langsung sembuh dengan 1-2 kali terapi. Asma diterapi empat kali, membaik. "Tapi biasanya perlu tiga seri (36 kali) supaya tuntas," kata Agustin Idayanti.

Begitu pula migren, lanjut Agustin, cukup dua kali terapi. Paling banyak empat kali, di jamin sembuh. Kalau alergi kulit, diakuinya, agak sukar. Paling tidak satu seri, perlu waktu empat minggu.

Terhadap penderita hipertensi atau tekanan darah tinggi, ada tiga titik target. Titik emosi, titik pembuluh darah, dan titik metabolisme. Semuanya ada ditangan. Ditambah titik hegu di sela (pangkal) ibu jari.

Untuk diabetes, menurut Agustin, mudah terutama yang belum bergantung pada suntikan insulin. Biasanya terapi satu seri sudah stabil, meski adakalanya masih minum obat. Juga perlu disertai diet. Namun, dengan terapi ulang, konsumsi obat pelan-pelan berkurang sampai akhirnya tidak tergantung obat lagi.

Lain lagi perlakuan untuk kasus kegemukan (obesitas). Selain menerima terapi akupunktur, yang bersangkutan juga menjalani diet dan olahraga. "Makanan diatur sesuai berat badan. Misal, rata-rata 1.500 kalori. Olahraga lari paling tidak 15 - 30 menit," jelas Agustin.

Yang juga penting diketahui adalah penyebab dari kegemukan itu. Apakah karena sistem hormonal, intake terlalu besar, atau faktor lain? "Kalau memang ada masalah intake, yang digarap titik metabolisme dan titik nafsu makan. Kalau gara-gara faktor hormonal, titik hormonal yang digarap," papar Agustin.

Dengan merangsang titik metabolisme, proses metabolisme bisa berlangsung cepat. Titik lemak di perut dirangsang, timbunan lemak cepat dihancurkan. Perangsangan titik lapar/haus di bagian telinga untuk menghilangkan keinginan makan/minum. Juga perlu melemahkan titik hormon endokron, empat jari di bawah lutut.

Seminggu tiga kali terapi, dengan target berat badan turun 1 kg atau maksimal 5 kg/bln. Kalau kelebihan, fisiologis tubuh tak tahan. Lamanya terapi tergantung kelebihan berat badannya. Kalau kelebihan 10 kg, menurut Agustin, paling-paling dua bulan. Minggu pertama tiga kali terapi, minggu berikutnya dua kali terapi. "Tapi kalau gemuk sekali, bisa sampai 6 bulan," ujarnya. Ia pernah memiliki pasien super gemuk (tinggi 150 cm, berat badan 87,5 kg)

Sekarang tinggal 50-an kg dan sudah stabil.

Cerebral palsy bisa membaik

Autis, menurut dr. Agustin Idayanti, biasanya baru ketahuan setelah anak berusia 3 - 4 tahun. Titik-titik mana yang digarap? "Dilihat dulu penyebabnya. Etimologinya apa. Apakah ada kelainan otak, kelainan emosi atau perilaku, atau ada kelainan anatomi?" tuturnya.

Kalau ada kelainan otak, misalnya di daerah parietal, lanjut Agustin, sel-sel daerah itu dirangsang supaya bisa bekerja normal kembali. Kalau anak tidak bisa bicara, titik bicara dirangsang. Titik emosi di telinga dan tangan juga dirangsang supaya pasien menjadi tenang, emosi teratur dan mau berkomunikasi. Sehingga pasien gampang diatur. Titik otak di telinga juga dirangsang.

Pada kasus anak yang tidak bisa berbicara gara-gara kelainan emosi, menurut Agustin, titik emosi yang digarap. Kalau emosinya sudah stabil, kepandaian akan meningkat dan kooperatif, titik kepandaian (otak) di bagian telinga dan kepala digarap. Begitu pula titik ginjal ikut dirangsang.

Bahkan ada beberapa kasus khusus. Antara lain, cerebral palsy (CP) sejak lahir. Kelainan motorik kualitatif menetap ini timbul sebelum usia tiga tahun gara-gara kerusakan nonprogresif pada otak. Bisa karena radang otak. Pasien demikian ini biasanya badannya melungker (bongkok), tak bisa tegak. Ada juga epilepsi. Untuk kasus khusus, perlu penanganan khusus dan lama.

Menurut Agustin, penderita epilepsi dengan diterapi satu seri sudah menunjukkan kemajuan. "Penderita CP dan epilepsi umur dua tahun, kini sudah bisa jalan, setelah menjalani 20 kali terapi laserpunktur," jelasnya. Untuk pasien anak-anak memang digunakan laser, bukan jarum! Laserpunktur dengan kekuatan rendah (5 - 30 mWatt). Lima detik - 1 menit untuk satu titik akupunktur.

"Ada pasien yang bisa berlari setelah menjalani 2 - 3 seri terapi laserpunktur. Padahal anak itu awalnya duduk saja tidak bisa. Tapi ia belum bisa ngomong," tutur dr. Agustin.

Yang lain, lanjut Agustin, anak (3 tahun) penderita CP tanpa epilepsi, sudah bisa jalan setelah menjalani terapi 20 kali. Pandangan matanya sudah normal, tidak serong ke samping. Padahal sebelumnya sempat berobat ke Singapura, tapi tak kunjung membaik.

Untuk kasus CP, menurutnya, makin dini diterapi, makin bagus hasilnya. Pasien dari Gresik, Jawa Timur, misalnya sekarang sudah bisa berlari dan berceloteh "ma - ma - ma - ma". Malahan ia sudah masuk TK. "Untuk itu, paling tidak butuh waktu setahun," ujarnya.

Sementara untuk penyakit infeksi, menurut dr. Eko Suyanto, spesialis anak di RS Adi Husada Kapasari, Surabaya, tetap harus menggunakan antibiotika untuk memerangi kumannya. Dalam hal ini akupunktur atau laserpunktur bisa membantu meningkatkan immune respons (respon kekebalan).

"Adakalanya infeksi paru-paru hebat yang diobati antibiotika kurang memberikan hasil yang baik. Tapi begitu disertai terapi laserpunktur hasilnya sangat menakjubkan," tutur dr. Eko, yang pernah meneliti pengaruh laserpunktur untuk peningkatan berat badan balita kurang gizi. Hasilnya, nafsu makan bertambah, jarang sakit, atau lebih tahan terhadap infeksi.

Di tempat praktiknya di RS. Adi Husada Kapasari, Surabaya, dr. Eko juga menangani anak-anak CP, asma, alergi, dan sinusitis. Arsan (4,5), nama samaran, pasien alergi pilek dan sesak napas membaik setelah 10 kali terapi.

Bisa meningkatkan IQ

Berdasarkan teori akupunktur, tutur dr. Eko, yang pernah meneliti pengaruh akupunktur terhadap peningkatan IQ anak, "proses berpikir" menjadi tanggung jawab organ limfa, jantung, dan ginjal. Limfa bertanggung jawab atas proses belajar, konsentrasi, mengingat, analisis dan sintesis.

Jantung bertanggung jawab atas pemecahan problem sehari-hari, termasuk stress.

Sedangkan proses penyimpanan memori jangka lama menjadi urusan ginjal. Eko Suyanto memberikan gambaran begini. Orang tua, yang umumnya ginjalnya lemah, mampu ingat peristiwa lampau, tetapi sering lupa pada kejadian baru. Kenapa begitu? Karena ketika muda organ ginjalnya masih kuat, sehingga kuat menyimpan memori. Tapi setelah tua, ginjal tidak kuat lagi menyimpan memori. Karena itu orang pikun masih bisa menceritakan masa mudanya, tetapi gampang lupa dengan peristiwa yang baru terjadi.

Untuk meningkatkan IQ, menurut dr. Eko, yang digarap titik limfa, titik jantung, dan titik ginjal. Juga merangsang titik otak, titik emosi dan endokrin.

Penelitiannya melibatkan 22 murid SMP ber IQ 70 - 90. Titik-titik IQ diterapi laserpunktur satu seri. Hasilnya? "Nilai IQ naik. Rata-rata naik 7 - 15 poin. Ada yang naik sampai 50 poin. Efek pertama, konsentrasi belajar tambah bagus. Angka prestasi pun naik," tuturnya.

Rizal (12), nama samaran, dari Jakarta, pertama kali datang IQ-nya 43. Setelah satu seri terapi, angka IQ menjadi 45. Setelah dua seri terapi IQnya 67. "Lumayan kemajuannya! Begitu pula perilakunya bagus. Sudah berubah. Emosinya lebih terkontrol. Lebih penurut" tambahnya.

Deni (SMU), bukan nama sebenarnya, dari Denpasar, memiliki IQ awal 84. Setelah satu seri terapi, IQ-nya menjadi 97. Lina (13), nama samaran, dari Jawa Timur, awalnya IQ-nya 97. Setelah satu seri terapi, menjadi 106. "Yang menonjol, prestasi di sekolahnya makin bagus."

Liza (13), sebut saja begitu, termasuk anak lamban belajar, dengan IQ awal 78. Setelah satu seri terapi, IQ-nya 88. "Ngomong-nya tidak lancar. Setelah diterapi, pemahamannya lebih membaik," ujar ibunya.

Terbuktilah, akupunktur atau laserpunktur memberi hasil positif dalam penanggulangan masalah kesehatan. Bahkan, kecerdasan pun bisa didongkrak bila dengan rutin melakukan terapi yang berasal dari daratan Cina ini.

Source: Majalah Intisari, no.441 - April 2000

Jumat, 30 Desember 2011

Kenali Ragam Komplikasi Diabetes (BAGIAN 2)

PENDERITA DM mempunyai kecenderungan 25 kali lebih mudah terserang kebutaan. Akibat kadar gula dalam darah mendadak tinggi, lensa mata berubah cembung dengan keluhan pandangan mata kabur. Kalau didiamkan, penderita akan sering mengeluh kacamatanya tak lagi jelas. Tapi dengan perawatan yang baik penglihatan akan pulih dalam waktu 2 - 4 minggu. Bila terjadi katarak, sebaiknya segera dikonsultasikan ke dokter mata untuk kemungkinan operasi.


Dalam soal mata, yang perlu diwaspadai ialah rasa sakit yang hebat di sekitar mata akibat meningkatnya tekanan bola mata. Sebab itu merupakan salah satu pertanda glaukoma - penglihatan secara berangsur-angsur menghilang dan menjadi buta jika tidak diobati.


Umumnya retinopati diabetik ini mengancam penderita DM yang sudah lama (10-15 tahun). Masalahnya, terjadi penyempitan dan kebocoran pembuluh darah kapiler retina. Kebocoran ini mengakibatkan perdarahan yang akan menutup sinar yang menuju retina. Penderita DM dengan komplikasi retinopati memerlukan perawatan dan pengobatan secara cermat, baik terhadap penyakit DM-nya maupun kondisi matanya yang perlu pengawasan dokter mata. Pada stadium tertentu kelainan ini dapat diobati lewat tembak laser.


Yang juga bisa terjadi pada penderita DM menahun ialah gangguan pembengkakan organ telinga. Ini menyebabkan pendengaran sering terasa mendenging. Kalau tidak dirawat dengan baik, mudah rusak.


Kesehatan mulut juga menuntut perhatian. Pada penderita DM menahun acap kali lidah menjadi lebih besar atau terasa tebal. Ada kalanya timbul gangguan indera pengecapan. Keadaan ludah pun sering lebih kental sehingga mulut terasa kering (xerostomia diabetik). Atau sebaliknya, produksi ludah berlebihan (hipersalivasi diabetik). Keadaan yang demikian bisa mengganggu kesehatan rongga mulut serta menimbulkan bau mulut kurang sedap.


Gigi penderita DM menahun gampang goyah atau lepas. Sedangkan gusinya mudah bengkak dan gampang terkena infeksi. Karena itu kebersihan gigi dengan menggosoknya setiap kali selesai makan dan mengontrolnya secara berkala ke dokter gigi sangat dianjurkan.


Lebih mudah kena PJK


Kontrol terhadap ksehatan organ lain macam paru-paru, jantung, hati, ginjal, dan lambung pun hendaknya jangan sampai dilupakan. Dibandingkan dengan orang sehat, penderita DM dua kali lebih mudah terkena PJK sebab lebih mudah terjadi penyumbatan pada pembuluh darah koroner. Karena nutrisi dan oksigen yang diterima otot jantung berkurang, kapiler jantung pun bisa gampang rusak.


Selain itu, penderita DM punya kecenderungan 17 kali lebih mudah mengalami gangguan fungsi ginjal atau mengidap batu ginjal (nefropati diabetik), bila kurang merawat diri. Ini karena infeksi berulang serta penyempitan pembuluh darah kapiler dalam ginjal.


Saluran kencing pun perlu perhatian karena kandung kemih melemah akibat otot polos serta saraf yang memeliharanya mengalami gangguan. Sifat kontrol sarafnya sering ikut terganggu sehingga air seni tanpa terasa keluar dengan sendirinya.


Pada pengidap DM menahun, otot serta saraf lambungnya juga mudah terganggu akibat gangguan proses pengosongan lambung dan makanan lebih lama tinggal didalamnya. Bisa terjadi komplikasi pada otot serta sistem saraf usus, khususnya usus besar. Kadar glukosa tinggi dalam darah pun bisa menjadi bahan toksis sehingga mudah merusak saraf penderita DM menahun.


Yang paling dicemaskan penderita pria kalau sampai terjadi gangguan seksual dalam jangka waktu lama. Bila sampai terjadi impotensi, menurut dr. David, tidak perlu diobati dengan suntikan hormon seks pria (testosteron) karena biasanya hormon testosteron pada penderita DM masih normal. Yang rusak hanya sarafnya.


Gangren (kematian dan pembusukan jaringan) pada kaki juga merupakan komplikasi yang ditakuti. Untuk menghindarinya, penderita sebaiknya setiap hari tidak lupa memeriksa kakinya. Gosok kaki dengan minyak perawatan kaki untuk menjaga kulit tetap lunak, tidak kering. Hindari menyikat, mengiris kulit kaki, memotong kuku terlalu pendek sebab akan lebih memudahkan terjadinya infeksi.



DIET DAN OLAHRAGA

OLAHRAGA secara teratur bagi penderita DM sangat dianjurkan. Dr. Sadoso Sumosardjuno, pakar kesehatan olahraga, menyarankan agar berolahraga 6 hari seminggu dalam proses sedang. Jenisnya aerobik seperti jalan kaki atau senam, paling tidak 20 - 45 menit/hari.

Denyut nadi dikontrol kira-kira 60% melebihi denyut nadi maksimal normal (tidak melebihi 85% denyut nadi maksimal). Antara 60% - 80% denyut nadi maksimal ini disebut zone latihan. Denyut nadi maksimal adalah 220 dikurangi usia (dalam tahun).

Namun jangan lupa melakukan pemanasan dan cooling down (menurunkan intensitas latihan secara bertahap). Satu sampai tiga jam sebelum berolahraga berat yang berlangsung lama, dianjurkan menyantap snack setiap 30 menit. Juga banyak minum air putih (dingin atau tidak).

"Sebelum mulai berolahraga perlu diketahui keadaan fisik dan status penyakitnya secara pasti," tambah dr. David. Jangan memilih olahraga yang berhenti mendadak seperti tenis atau badminton. Sebaiknya tidak berolahraga di ruang ber-AC atau terlalu panas. Jika menggunakan suntikan insulin, kadar gula darah harus dipantau sendiri sebelum, selama, dan sehabis olahraga. Jika kadar gula 250 mg% ke atas, olahraga ditunda dulu.

Dalam hal diet, perhatikan konsumsi takaran karbohidrat. Menurut dr. Elvina Karyadi, M.Sc., ahli gizi, ada 2 golongan karbohidrat, yakni kompleks dan sederhana. Bila mengkonsumsi karbohidrat kompleks seperti pada roti, nasi, atau kentang, zat ini akan diuraikan menjadi rantai tunggal glukosa kemudian baru diserap ke dalam aliran darah. Kadar gula memang akan naik, tapi tidak cepat. Bila mengkonsumsi makanan berkarbohidrat sederhana, seperti selai, jeli, sirup, limun, es krim, kadar gula darah segera naik memasuki sistem darah.


Sebab itu penderita DM dianjurkan tidak mengkonsumsi makanan berkarbohidrat sederhana. Sebaliknya, mengkonsumsi sumber karbohidrat berserat alami seperti roti biji gandum, biskuit berserat, sayuran, kacang-kacangan, dan buah segar (kadar gula rendah).


Dr. David menganjurkan kepada penderita DM di Indonesia, gunakan komposisi 68% kalori karbohidrat, 20% kalori lemak, dan 12% kalori protein.


Pada dasarnya, diet diabetes terdiri atas 3 kali makan utama dan 3 kali makan antara (snack) dengan jarak 3 jam. Contohnya:


1. Pukul 06.30 -- makan pagi.
2. Pukul 09.30 -- makanan kecil atau buah.
3. Pukul 12.30 -- makan siang
4. Pukul 15.30 -- makanan kecil atau buah.
5. Pukul 18.30 -- makan malam
6. Pukul 21.30 -- makanan kecil atau buah.


Setiap kali makan dalam jumlah porsi kecil sampai sedang agar tidak membebani pankreas. Buah-buahan yang dianjurkan, pepaya, kedondong, pisang, apel, tomat, semangka yang kurang manis. Yang dilarang, sawo, mangga, jeruk, rambutan, durian, anggur.


Dalam melaksanakan diet diabetes sehari-hari hendaknya mematuhi pedoman diet 3), yakni jumlah kalori, jadwal diet, dan jenis makanan yakni jumlah kalori, jadwal diet, dan jenis makanan yang boleh dan yang tidak.


Penentuan gizi penderita DM dilaksanakan berdasarkan BBR (Berat Badan Relatif) dengan rumus:


BBR = BB = Berat Badan (kg)
                                            --------------------------- x 100%
                                            TB - 100 TB = Tinggi Badan (cm)

Tentu saja untuk mengukur sendiri batasan diet yang dilakukan agak sulit tanpa bantuan ahli gizi atau dokter yang merawat penderita. Sebab masih ada lagi kriteria lain yang harus dipertimbangkan yakni kurang tidaknya berat badan, ringan tidaknya penyakit, kurus tidaknya penderita, komplikasi yang ada dll.

Apabila penderita mengerti tentang penyakitnya dan berusaha melakukan tindakan preventif, pasti dapat menekan biaya pengobatan ataupun bahaya yang mengancam dirinya.

Source: Majalah Intisari, no.403 - Februari 1997


ASI MENCEGAH DIABETES

Diabetes Mellitus juga bisa timbul karena autoimun dimana tubuh sendiri membentuk autoantibodi melawan autoantigen (self-antigen). Dalam keadaan normal seharusnya tubuh tidak memproduksi antibodi anti terhadap antigen jaringan tubuh sendiri. Namun dalam keadaan tertentu bisa terjadi penyimpangan tersebut. Menurut sebuah penelitian, ini bisa terjadi pada bayi yang sejak dini diberi susu formula (berasal dari susu sapi). Mereka akan lebih mudah menderita DM daripada bayi yang mendapat ASI.

ASI sebagai makanan cair bayi yang baru lahir memang lebih sesuai dibandingkan dengan susu sapi. Masalahnya, dalam susu sapi terdapat paling sedikit 20 macam protein asing, Lima protein di antaranya bersifat alergenik (dapat menimbulkan reaksi alergi). Namun belum jelas antigen protein yang mana pada susu sapi yang sangat mirip dengan antigen protein sel Langerhans  pada pankreas manusia.

Yang jelas dengan pemberian susu formula yang mengandung antigen susu sapi, tubuh bayi berespons menghasilkan antibodi susu sapi. Karena antigen tersebut sangat mirip dengan antigen protein sel Langerhans, antibodi anti-antigen susu sapi ini juga akan menyerang antigen protein sel Langerhans. Maka dikhawatirkan bisa timbul kerusakan pada sel Langerhans karena penyakit autoimun ini.

Sedangkan kerusakan sel Langerhans pada usia lanjut karena faktor degeneratif sering dihubungkan dengan terbentuknya radikal bebas. Radikal bebas adalah molekul yang tidak stabil yang telah kehilangan pasangan elektronnya dan sangat reaktif serta terkenal sebagai penyebab utama mutasi genetik melalui mekanisme yang diinduksi oleh perubahan lingkungan hidup. Molekul radikal bebas ini bagaikan ikan hiu yang kelaparan dan baru staabil bila memangsa sel-sel di sekitarnya. Radikal bebas bukan makhluk hidup seperti virus atau bakteri yang terdiri atas sejumlah molekul, tetapi merupakan satu molekul yang besarnya jauh lebih kecil daripada virus atau bakteri.

Molekul radikal bebas yang menempel pada membran sel menyebabkan membran sel menjadi kaku sehingga fungsinya sebagai filter yang menyeleksi bahan-bahan yang masuk ke dalam sel atau yang dikeluarkan dari dalam sel menjadi terganggu. Akibatnya, sel mudah mati karena hasil metabolisme terus tertimbun dalam sel (sulit dikeluarkan) dari bahan yang dibutuhkan sel kulit masuk ke dalam sel.

Penyebab terbentuknya radikal bebas bisa karena stress, radiasi, merokok atau menghirup asam rokok, udara berpolusi serta makanan berlemak yang digoreng atau dipanggang dan minuman yang terkontaminasi pestisida atau klor.

Faktor stress bisa menyebabkan kadar gula darah tiba-tiba meningkat, karena bisa terbentuk radikal bebas yang merusak sel Langerhans atau karena stress memacu pengeluaran hormon adrenalin. Hormon adrenalin ini mengubah cadangan glikogen dalam hati menjadi glukosa sehingga kadar gula segera meningkat.

Namun berdasarkan hasil pemeriksaan darah saja sebetulnya belum dapat disimpulkan seseorang menderita DM, karena masih ada lagi gejala "4 banyak" yang menyertainya , yakni banyak minum, banyak makan, banyak kencing, dan banyak keringat.


Source: Majalah Intisari, no.403 - Februari 1997

Kenali Ragam Komplikasi Diabetes (BAGIAN 1)

Cangkok insulin dari sel hewan membawa harapan baru bagi penyembuhan penderita penyakit diabetes. Namun, kalau belum sampai ke sana, aturlah agar kadar gula darah tidak terlalu tinggi atau rendah sehingga bisa terhindar dari berbagai komplikasi yang acap lebih berat dari pada penyakit sendiri.


DUNIA KEDOKTERAN Selandia Baru pada awal tahun 1997 telah memperkenalkan pengobatan diabetes dengan pencangkokan insulin dari sel hewan. Bisa jadi Prof. Bob Elliot dari Fakultas Kedokteran Universitas Auckland merupakan orang pertama yang melakukan cara itu.


Sel berasal dari hewan babi ini ditandai dengan titik-titik di sekitar kelenjar pencerna utamanya yakni pankreas. Dengan bahan seperti gel untuk mencegah kerusakan, sel ini disuntikkan ke dalam rongga perut manusia yang hanya berlangsung 5 menit.


Satwa tersebut terpilih sebagai donor karena setelah penelitiannya sejak 10 tahun lalu Elliot berpendapat, donor ini dinilai paling bersahabat bagi tubuh manusia. Namun diharapkan nantinya tidak hanya babi, tapi juga sapi yang bisa di ambil selnya untuk pengobatan kencing manis.


Sel-sel ini akan memproduksi sekitar seperempat insulin dari yang dibutuhkan pasien, paling tidak 7 bulan setelah menerima pencangkokan sel.


Sampai sekarang untuk menanggulangi kekurangan insulin, cara yang masih dilakukan yakni dengan menambah insulin dari luar. Padahal berbagai insulin sintetis yang selama ini digunakan dinilai para ahli di Inggris tidak selalu menjamin keamanan. Apalagi di tahun 1994 di negeri itu di temukan seorang gadis kecil berusia 8 tahun meninggal dalam tidurnya karena mengalami penurunan kadar gula (hipoglikemik) secara drastis sehabis mendapatkan terapi insulin sintetis keluaran baru. Rupanya, insulin buatan ini terlalu cepat menguras habis gula dalam darah sehingga penderita mengalami koma akibat kehabisan zat gula.


Diakui, sejak ditemukan insulin (obat yang dibuat dari hormon insulin alami) pada 1921 oleh Frederick Banting dkk. dari Kanada, angka kematian, keguguran pada ibu penderita diabetes serta komplikasi akibat diabetes, memang menurun.


Menyusul kemudian tahun 1954 Franke dan Fuchs menemukan tablet OHO (obat hipoglikemik oral) untuk menanggulangi diabetes.


Meski demikian, menurut laporan WHO pada awal 1997 silam terdapat sekitar 120 juta penderita diabetes dan diperkirakan akan naik menjadi 250 juta pada tahun 2025. Kenaikan ini antara lain karena usia harapan hidup semakin meningkat, diet kurang sehat, kegemukan, serta gaya hidup modern.


Di Indonesia, menurut survei pada tahun 1993, prevalensi penyakit diabetes dikota-kota besar: 6 - 20 tahun 0,26%, usia di atas 20 tahun 1,43% dan usia di atas 40 tahun 4,16%. Sedangkan di pedesaan, usia di atas 20 tahun 1,47%.  Diperkirakan jumlah seluruh penderita diabetes di Indonesia sekitar 2,5 juta orang.


Sepintas, penyakit ini tidak terlalu mencolok gejala maupun penderitaannya. Tapi, menurut dr. David Handoyo Mulyoni, DSPD dari Klinik Medis Raden Saleh, Jakarta, kalau tidak hati-hati (sehingga kadar gula jadi terlalu tinggi, hiperglikemia; atau terlalu rendah, hipoglikemia) akan menimbulkan komplikasi yang berat.


Biang Keladi dan gejalanya


Orang Mesir pada tahun 1552 SM sudah mengenal penyakit yang ditandai dengan seringnya kencing dalam jumlah banyak, penurunan berat badan cepat, dan rasa sakit. Pada tahun 400 SM seorang penulis India, Sushrutha, menamai gejala penyakit ini honey urine disease (kencing madu). Tahun 200 SM penyakit ini pertama kali disebut Diabetes Mellitus (diabetes = mengalir terus; mellitus = manis), DM.


Biang keladi DM yang juga populer dengan sebutan kencing manis ini ialah kurang aktifnya produksi hormon insulin dari sel kelenjar Langerhans pada organ pankreas. Macetnya produksi ini bisa karena menyusutnya jumlah sel penghasil hormon insulin sejak seseorang dilahirkan (bawaan; keturunan), serangan virus, atau penyakit degeneratif. "Bahkan juga akibat penyakit autoimun," tambah Paul Zakaria daGomez, dokter imunologi dari RSAB Harapan Kita, Jakarta (baca "ASI Mencegah Diabetes").


Namun ada juga orang yang mengidap DM meski insulinnya cukup. Ini karena reaksi tubuh terhadap kehadiran insulin kurang efisien; tubuh tidak mampu mengoksidasi glukosa menjadi energi. Keadaan ini biasanya menyerang orang setengah baya ke atas, karena faktor degenerasi, kurang olahraga, kegemukan, dsb.


"Gejala akut DM pada satu penderita dengan penderita lain memang tidak selalu sama," tegas David. Namun, ada gejala khas yang sering kurang dirasakan seperti terus-menerus lapar (polifagia), haus (polidipsia), serta banyak kencing (poliuria). Dalam fase ini umumnya berat badan penderita terus naik, karena jumlah insulin dalam tubuhnya masih mencukupi.


Bila dalam keadaan demikian penyakit belum juga terdeteksi, akan timbul gejala yang disebabkan kurangnya insulin. Pada tahap ini nafsu makan penderita mulai berkurang, kadang kala disertai mual. Tapi penderita tetap doyan minum, banyak kencing, tapi cepat merasa capek dan lemas. Berat badan pun menurun drastis (5-10 kg dalam waktu 2 - 4 minggu).


"Bila tidak diobati sesuai petunjuk dokter, penderita akan semakin sering merasa mual diikuti muntah, bahkan pingsan atau koma karena kadar gula terlalu tinggi (umumnya melebihi 600 mg%)," David mengingatkan.


Sedangkan pada diabetes kronis biasanya gejala timbul secara perlahan, antara lain berupa sering kesemutan, kulit terasa panas atau seperti tertusuk jarum, rasa tebal di kulit, mudah kram, mengantuk, mata kabur, gatal sekitar kemaluan (terutama wanita), gigi mudah goyah dan lepas, kemampuan seksual menurun, bahkan impoten. Pada ibu hamil sering terjadi keguguran yang mengakibatkan kematian janin dalam kandungan. Kalau bayi dilahirkan selamat pun berat lahir bayi lebih dari 4 kg.


Hiploglikemia lebih berbahaya


Tidak mudah mengerem angka penderita diabetes yang terus melaju, apalagi pada kasus bawaan. Namun yang lebih penting bagaimana mengupayakan agar penderita bisa hidup seperti orang sehat: tetap produktif dan tidak menderita. Caranya, dengan selalu menjaga agar terhindar dari komplikasi yang mungkin terjadi, dengan mengikuti dan mempertahankan gaya hidup sehat.


Dr. David dalam makalahnya pada suatu ceramah tentang diabetes beberapa waktu lalu, memberikan angka komplikasi menahun (kronis) pada berbagai rumah sakit umum di kota-kota besar di Jawa. Angka komplikasi tertinggi adalah penurunan kemampuan seksual (50.9%). Selanjutnya, neuropati simtomatik atau komplikasi saraf (30,6%), retinopati diabetik (penyempitan sampai kerusakan pembuluh darah mata (29,3%), katarak (16,3%), TBC paru-paru (15,3%), hipertensi (12,8%), penyakit jantung koroner, PJK, (10%), disusul gangren diabetik - ujung jari menghitam dan menjadi borok - (3,5%).


Sedangkan dua macam komplikasi akut yang sering terjadi, menurut David, adalah reaksi hipoglikemik dan koma diabetik. Reaksi serentak oleh tubuh yang kekurangan gula ini adalah rasa lapar, gemetar, keringat dingin, dan pusing. Dalam keadaan seperti ini, penderita harus cepat diberi makanan berupa roti atau pisang. Jika masih belum tertolong, berikan minuman teh manis satu atau dua gelas.


Sedangkan reaksi hipoglikemik mendadak dengan tanda-tanda pingsan, biasanya akibat minum obat anti-diabetes yang dosisnya terlalu tinggi, terlambat makan, atau latihan fisik yang berlebihan. Kalau demikian, si penderita harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan suntikan serta infus glukosa.


Yang tidak kalah bahayanya bila sampai terjadi hiperglikemik akibat kadar glukosa dalam darah terlalu tinggi. Gejalanya antara lain nafsu makan menurun drastis, haus luar biasa, dan kencing banyak. Selanjutnya mual, muntah, napas cepat dan dalam. Ada pula yang dibarengi panas badan. Jika mendapati pasien demikian, mesti langsung dimintakan pertolongan darurat di rumah sakit terdekat. Namun keadaan di mana kadar gula darah terlalu rendah (koma hipoglikemia), menurut dr. daGomez, jauh lebih berbahaya daripada jika kadar gula darah terlalu tinggi (koma hiperglikemia). Sebab, pada keadaan hipoglikemia jaringan otak mudah rusak dan kerusakan jaringan saraf bersifat irreversible, tak terpulihkan.


Cegah kebutaan


Kalau komplikasi akut datangnya mendadak, tidak demikian dengan komplikasi kronis yang sebenarnya dapat dicegah. Komplikasi itu antara lain bisa berupa rambut yang mudah rontok. Ini dapat diatasi dengan perawatan teratur menggunakan vitamin dan mineral serta hair tonic.


Bersambung - Kenali Ragam Komplikasi Diabetes (BAGIAN 2)

GET UPDATE VIA EMAIL
Jika Anda Menyukai Artikel di Blog Ini, Silahkan Berlangganan via RSS. Isi Alamat Email Anda di Bawah Ini:

MAJALAH BOBO 1980-an

Tambahkan Kami di Facebook

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes