Tampilkan postingan dengan label Petualangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Petualangan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Agustus 2011

Tenggelamnya Kapal Prinsendam (True Story)

Kapal Prinsendam pernah turut berjasa memperkenalkan dunia pariwisata Indonesia di manca negara. Pada tanggal 4 Oktober 1980, kapal pesiar mewah itu tenggelam di perairan Alaska, setelah mengalami musibah kebakaran. S. Sudarto menjadi ABK di situ sejak kapal diluncurkan dari pabriknya di Negeri Belanda, sampai riwayatnya tamat. Ia menuturkan pengalamannya saat-saat kapal itu tenggelam.

Kapal Prinsendam Buatan Tahun 1988
SELAMA tujuh tahun (1974-1980), kapal milik perusahaan pelayaran Belanda, Holland America Line, itu memancing wisatawan Amerika, Kanada, dan Eropa, untuk datang ke Singapura, lalu dibawa keliling Indonesia selama 14 hari. Paket pelayanan wisata ini berlangsung secara rutin setiap musim dingin di belahan bumi utara.

Seperti kapal-kapalan 

Pada bulan April 1980, saya mengikuti kapal lepas dari Indonesia, dalam pelayaran dari Yokohama menuju Pelabuhan Sitka di Alaska Tenggara. Pelayaran menyeberangi Pasifik Utara yang luas itu memakan waktu 10 hari siang-malam tanpa berhenti. Laut boleh dikata lebih sering berombak besar daripada tenang. Kalau laut sedang bergolak begitu, aduh .... Kapal seberat 10 ribu ton itu terombang-ambing, dibanting ke sana-kemari seperti mainan anak-anak. Guncangan yang bertubi-tubi menyebabkan semua orang mabuk laut: tidak doyan makan, kepala pusing, perut seperti dikocok, lalu muntah habis-habisan. Rasanya benar-benar setengah mati.


Lima bulan kemudian, Prisendam selesai bertugas di Alaska, lalu bersiap-siap untuk kembali ke Indonesia. Selama musim dingin, alam Alaska serba dingin dan membeku. Segala objek wisata tertutup es. Tidak ada wisatawan yang mau pergi ke Alaska.

Di Vancouver, Kanada, gudang kapal dipasok dengan berbagai bahan makanan dan minuman, bahan-bahan rumah tangga, seperti kertas kloset, kertas tissue dan sebagainya. Minuman keras untuk kebutuhan bar, terutama merek-merek yang langka, dilengkapi untuk waktu setengah tahun pelayaran di Indonesia. Tangki diisi penuh dengan solar untuk penyeberangan Jepang. Komputer kapal yang sering rewel dibuang, diganti komputer baru yang lebih canggih.

Kapal mulai embarkasi dengan 320 penumpang wisatawan. Hampir semua golongan manula. Bersama 190 ABK, kapal meninggalkan Vancouver menuju Sitka, pelabuhan terakhir di Alaska, dalam penyeberangan Pasifik yang diberi nama sandi Trans Pacific Cruise.



Kebakaran dini hari

Malam sebelumnya datangnya musibah, kami masih riang gembira. Ketiga bar kapal padat dengan pengunjung. Band di lounge mengalunkan melodi sedang. Para penumpang asyik melantai dan menikmati musik. Teman baik saya, Aeberli - chief cook atau koki kepala berkebangsaan Belanda, membawa istrinya dalam pelayaran ini. Kesempatan itu merupakan hadiah dari Holland America Line, atas pengabdiannya bekerja 28 tahun dalam perusahaan tersebut.

Malam itu, Ny. Aeberli ikut bertugas sebagai penerima tamu pada showbuffet atau pameran makanan di Lido. Pameran demikian selalu diadakan satu kali dalam pelayaran. Hidangan lezat ditata rapi. Semua tamu dipersilahkan makan dan mengambil sesuka hati. Pendek kata, kalau soal makanan untuk penumpang, kapal pesiar mewah boleh disamakan dengan istana raja.

Beberapa jam kemudian pada tanggal 4 Oktober 1980 dini hari, 300 km setelah kapal meninggalkan Sitka, selagi para penumpang dan ABK enak-enak tidur, kami dikejutkan bunyi tanda bahaya dari pengeras suara. Suaranya mengaung lewat lorong-lorong dan tempat-tempat umum. Waktu itu pukul satu dinihari. Tak berapa lama, tanda bahaya itu meraung-raung lagi, disusul suara pengumuman dari nakhoda yang terdengar lewat pengeras suara di setiap kabin. "This is your Captain speaking. We have a small fire in the engine room. it is under control, but for your own safety, please report to the promenade deck."(Ini Kapten Anda berbicara. Ada kebakaran kecil di kamar mesin, tetapi sudah dapat dikuasai. Demi keselamatan Anda, harap berkumpul di promenade deck.)

Perintah nakhoda itu membuat semua orang panik. Setiap orang bergegas ke luar dari kamar menuju ke promenade deck, yaitu lounge atau bangsal besar yang biasa dipakai untuk acara-acara hiburan. Para penumpang berdesakan di lorong-lorong. Ada yang hanya memakai gaun tidur, piyama, dan ada yang hanya bersarung selimut. Banyak yang tanpa alas kaki. Melihat beberapa orang menenteng rompi pelampung, sejumlah lain lari kembali ke kamar untuk mengambil pelampungnya. Disetiap kamar memang disediakan rompi pelampung. Beberapa orang tua terengah-engah karena harus naik-turun tangga. Memang ada lift, tetapi dalam keadaan bahaya itu tidak diperbolehkan naik lift. Bisa macet dan terjebak di dalam.

Toko kapal didobrak 

Ny. Aeberli,yang semalam masih bertugas di Lido, tampak gemetaran. Saya mendekatinya dan meminta kepadanya untuk tabah menghadapi bahaya seperti ini. Para ABK yang juga ikut berkumpul di lounge, berlarian ke sana-kemari, mencarikan baju-baju hangat buat para penumpang. Melihat beberapa orang tidak berpakaian, seorang perwira kapal memerintahkan agar gift-shop kapal di dobrak, dan semua yang berujud pakaian didalam toko dibagi-bagikan. Ada yang bisa pas, ada yang mendapat pakaian anak-anak. Semua bar juga diperintahkan untuk dibuka, dan setiap orang boleh minum gratis untuk menghangatkan tubuh. Para ABK juga boleh ikut minum.

Petugas pemadam kebakaran dengan wajah bertopeng, dan perwira-perwira sibuk naik-turun, membawa tabung-tabung penyemprot api. Semua orang yang menyaksikan kesibukan itu bertambah cemas dan takut. Kemudian ada pengumuman lagi dari nakhoda, memperingatkan agar tidak perlu panik, karena api akan dapat dikuasai. Wajah-wajah kita menampakkan perasaan lega, meskipun tetap was-was dalam hati. Para pemain orkes dari Filipina di perintahkan memainkan musik untuk hiburan.

Sebagian besar ABK tetap menyadari tugas masing-masing dalam keadaan bahaya seperti itu. Mereka keluar di udara terbuka yang dingin, dan menyiapkan sekoci-sekoci yang bergelantungan di lambung kapal. Sampai pukul 02.00 belum ada pengumuman lagi dari nakhoda. Musik di lounge masih memainkan lagu Oklahoma dan South Pacific. Namun, tak seorang pun dari ratusan tamu yang berjubel itu tampak menggubris lagu tersebut. Semua cemas dan berdebar-debar menantikan berita lebih lanjut dari pengeras suara.

Mendadak tampak lidah api menjilat ke luar dari lubang di bawah jendela luar. Beberapa orang yang melihatnya berteriak, "Fire, fire ..." Keadaan makin kalut. Semua orang lari pontang-panting ke atas pintu keluar. Para pemain musik berlarian dan meninggalkan peralatan mereka begitu saja. Penjaga bar juga lari menyelamatkan diri. Para perwira kapal berteriak-teriak agar setiap orang menuju ke nomor sekoci masing-masing. Petugas dan ABK sibuk melayani pelbagai pertanyaan dari para penumpang tentang nomor sekoci dan tata cara peragaan boatdrill yang telah diajarkan.

Istri nakhoda aktif membantu

Udara sangat dingin. Perasaan takut dan cemas bercampur-aduk. Hati berdebaran, ingin lekas terhindar dari malapetaka ini. Para petugas kebakaran dibawah sudah muncul pula ke atas. Mereka kewalahan dikejar asap yang gelap dan tebal. Tampaknya tak ada harapan untuk bisa mengatasi lebih lanjut. "Pintu bahaya dan lorong-lorong sudah ditutup semua," tutur mereka.

Sebanyak delapan buah sekoci dan tenderboat sudah diturunkan semua sampai batas promenade deck luar. Semua orang berlarian ke tempat itu, dan berebut naik. Sebuah sekoci mestinya hanya untuk 60 orang, tetapi ada yang sampai dijejali 80 orang. Sampai agak lama, masih belum juga ada perintah untuk menurunkan sekoci ke air. Raut wajah setiap orang pucat dan tegang. Di antaranya ada yang menangis. Saya berdoa, dan pasrah. Mungkin ini akhir hidup saya, pikir saya.

Nakhoda kapal, Captain Wabeke, bertindak sangat hati-hati. Perintah dan instruksinya sangat tenang. Dia betul-betul menjaga untuk tidak sampai menimbulkan kepanikan semua orang. Dalam pelayaran ini dia juga disertai istrinya, Ebrina. Dia bahkan ikut aktif membantu suaminya di tengah kesibukan maut ini.
 
Sebelum sekoci-sekoci turun ke bawah, para perwira petugas berteriak-teriak memperingatkan para ABK tidak boleh nimbrung dalam sekoci penumpang. Mereka harus turun belakangan pakai literaft, yaitu perahu karet yang bisa menggelembung sendiri. Tak urung, banyak ABK yang sudah terlanjur masuk membaur dengan penumpang, dan rupanya segan untuk keluar lagi.

Pukul 04.00, semua sekoci mulai diturunkan. Para perwira memberi aba-aba keras kepada semua orang agar waspada dan berpegang erat-erat dalam sekoci, karena ada kemungkinan terjadi benturan dengan dinding kapal sewaktu diturunkan. Dalam kegelapan itu, benturan sekoci ke permukaan air laut sangat mengagetkan, sehingga orang-orang yang berdiri jatuh tersungkur.

Dalam keremangan fajar itu, terlihat seperti ada raksasa tak jauh dari tempat itu. Ternyata kapal tanker Williamsburg yang berbobot  225.000 ton. Tanker itu memuat minyak mentah dari Valdez, dalam pelayaran ke Texas. Ia menerima berita SOS di tengah malam, lalu menuju posisi 57,38 derajat LU dan 140,25 derajat BB, tempat Prinsendam berada. Sebenarnya ia sudah lewat satu jam di Selatan, dan terpaksa balik lagi ke Utara untuk usaha memberi pertolongan.

Diciduk dengan keranjang

Sementara itu, pagi mulai terang. Beberapa helikopter meraung-raung dan menurunkan keranjang-keranjang berisi orang ke geladak tanker. Pagi itu dingin bukan main. Teman saya (ABK juga), Remy, saking gugupnya tercebur ke laut ketika mau pindah dari literaft ke sekoci saya. Untung ia berhasil kami tarik beramai-ramai, dan selamat. Rizal, juga seorang ABK tukang masak menggelepar dan kejang-kejang di dalam sekoci. Ia lalu kami gotong dan kami masukkan ke dalam keranjang ketika heli datang.

Saya bersama puluhan orang lain yang masih berada di dalam sekoci mendayung sekuat tenaga, menjauhi Prinsendam. Kami khawatir, kalau kapal itu tenggelam dalam waktu singkat maka sekoci kami bisa ikut tersedot ke dasar laut.

Akhirnya sekoci saya berhasil mendekati Williamsburg, dan merapat pada dinding kapal. Ombak sudah agak besar, sehingga sekoci membentur-bentur dinding kapal. Dua orang penumpang wisatawan berusaha meraih tangga tali berpalang kayu yang terjuntai dari kapal. Dua orang penumpang wisatawan berusaha meraih tangga tali berpalang kayu yang terjuntai dari kapal. Mereka berusaha memanjat, tetapi baru naik dua palang sudah menyerah. Para orang lanjut usia tidak mungkin memanjat jarak setinggi itu. Sebuah heli yang menyaksikan usaha itu segera terbang mendekat, dan menurunkan keranjang. Orang-orang yang masih bergelantungan di tangga tali segera meluncur turun, dan masuk ke dalam keranjang. Keranjang heli itu masih naik-turun sampai enam kali. Dalam waktu lima belas menit, semua penumpang sekoci saya tertolong naik ke kapal tanker.

Aneka cerita duka

Semua orang yang berhasil diselamatkan menggerombol di lorong-lorong tanker Williamsburg dengan perasaan lega. Masing-masing asyik menceritakan pengalaman dan kelucuan dalam saat-saat maut yang menegangkan itu.

Seorang wisatawan wanita tua menggeletak dalam sekoci dengan gaun basah kuyup. Semua orang menyangka dia sudah meninggal. Tahu-tahu tangannya merogoh-rogoh ke dalam saku, dan mengeluarkan sebotol kecil wiski. Minuman itu diteguknya sendiri tanpa mempedulikan orang-orang disekitarnya.

Di dalam sekoci saya terdapat Anne Correy dari Maryland, AS. Dia terpisah dari ibunya. Pasangan suami-istri Davidson dari Highland, AS, berpesiar dengan Prinsendam untuk merayakan ulang tahun kawin perak mereka. Selama sepuluh jam mereka mengalami siksaan mental, terapung-apung dalam sekoci di tengah laut, di hantam ombak dan hujan, diterpa angin dingin. Mereka sangat menyesal tidak pernah belajar mendayung, karena didalam sekoci mereka hanya dua orang yang sanggup mendayung. Penumpang lainnya kebanyakan orang-orang lanjut usia yang tak kuat memegang dayung.

Seorang penumpang tua bercerita dengan air mata bercucuran, "Tadi saya setengah mati untuk bisa masuk ke dalam sekoci dan berdiri terus. Kami diturunkan dari ketinggian 10 m diatas air, lalu tali dilepas sampai kami hampir terpelanting. Sekoci kami terombang-ambing seperti yo-yo. Dalam sekoci kami tidak ada pimpinan. Baru 25 menit kemudian, setelah di otak-atik, kami berhasil menghidupkan mesin sekoci." 

Setiap orang memang mendapat pengalaman pahit. Kerugian masing-masing tidak kecil. Barang-barang penting, perhiasan, uang, kartu kredit, obat-obatan tak sempat terbawa. Semua hilang dan musnah ke dasar laut.



Benar-benar mengherankan

Para korban Prinsendam kemudian diantar masuk ke kamar-kamar oleh ABK Williamsburg. Setiap kamar diisi 15-20 orang. Semua diberi selimut dan kopi panas. Lebih dari enam helikopter meraung-raung sekeliling perairan, mencari korban yang masih tercecer. Sekoci-sekoci dan literaft yang berpencaran, diamati dan diburu. Penumpangnya diselamatkan. Armada helikopter itu ternyata berasal dari pantai, milik penjaga pantai Alaska.



Siang hari, api di kapal Prinsendam makin membesar. Asap hitam membumbung ke angkasa. Namun, ia belum juga tenggelam ketika kami diberangkatkan ke Valdez.

Sekarang ini, kalau saya sedang melamun mengingat tenggelamnya Prinsendam, saya tak habis pikir. Rasanya seperti ada tangan gaib. Bayangkan bencana kebakaran kapal besar di tengah samudera luas. Sebanyak 320 penumpang lanjut usia, dan 190 ABK semua berhasil selamat, tak ada seorang pun yang meninggal, atau bahkan cacat. Padahal kejadian pada malam yang gelap, di tengah ombak besar dan hawa dingin seperti es itu tak dapat dikatakan musibah kecil.



Saya bersyukur bahwa saya masih hidup, meskipun segala barang milik pribadi hilang. Uang, pakaian, surat-surat, dan barang oleh-oleh dari Kanada untuk anak-istri semua ludes. Bahkan dokumen-dokumen kapal, paspor milik seluruh ABK dan para penumpang, uang ribuan dolar dalam lemari besi, perhiasan dan barang-barang berharga di dalam kotak pengaman, lenyap semua ke dasar laut.

Selama tiga hari, kapal yang sudah hangus, terombang-ambing sebatang kara, terus-menerus kemasukan air dan dihantam ombak itu, akhirnya tenggelam, 3.000 m ke dasar samudera. Sungguh sayang. Kapal mewah seharga 26 juta dolar (sekitar Rp. 40 Milyar) itu hanya berumur tujuh tahun.


Source: Majalah Intisari, No.317 Desember 1989

Negara Udik di Pasifik (BAGIAN 2)

Naik sepeda keliling kota

Dari manager hotel pula saya meminjam sepeda setelah mempelajari peta Kota Funafuti yang terpancang di lobi. Funafuti ternyata demikian kecilnya, sehingga tidak memerlukan sistem penamaan jalan. Setiap gedung-gedung utama tercantum di peta. Daerah pemukiman berpusat di sekitar bandara Landasan berawal dari pinggir laut menuju ke darat di Utara, dibagian pulau yang "ramping" sepanjang 1,5 km. Disisi barat landasan terletak kompleks Divisi Pekerjaan Umum yang dibangun dengan biaya 1 juta dolar Australia sebagai bantuan dari pemerintah Selandia Baru. Disebelah timur ada dua jalan sejajar landasan. Di bagian utara di sisi landasan terletak kompleks kediaman pejabat pemerintah Tuvalu: gubernur jenderal, perdagangan menteri, dan lima orang menteri.


Dengan santai saya mengayuh sepeda yang cukup ringan. Sebuah sepeda lumayan baru, dengan rem torpedo, dan ban besar. Sebenarnya saya sudah tidak pernah naik sepeda selama 30 tahun terakhir, kecuali beberapa jam ketika keliling Male, ibu kota Republik Maladewa yang kecil juga, tiga tahun yang lalu. Lalu-lintas menganut sistem sebelah kiri, sesuai aturan Inggris. Jalan-jalan semua beralaskan tanah yang cukup licin, tidak satu pun yang beraspal. 

Saya tidak melihat rambu lalu-lintas maupun polisi di jalanan. Jumlah kendaraan bermotor sangat sedikit. Konon hanya sekitar 50 buah saja, sebagian besar berupa pikup atau bus mikro, jip yang agak tua.



Mobil sedan tidak ada. Ada juga sepeda kumbang dan sepeda motor, yang semuanya tua. Ada kendaraan yang berfungsi sebagai bus yang mondar-mandir ke segala penjuru sesuai permintaan penumpang, dengan biaya 30 sen (Rp.400,00). Selebihnya semua orang, pria maupun wanita dari segala umur, banyak yang naik sepeda.

Tidak ada salon rambut

Pusat kota terletak dalam radius 200 m dari Hotel Vaiaku Lagi. Kecuali bandara dan dua buah gereja, disitu kita jumpai semua kantor pemerintah, pertokoan, sekolahan, dan rumah sakit. Semua bangunan berbentuk rumah biasa dari kayu dan batu bata yang sederhana dan agak tua. Satu-satunya gedung berlantai dua ialah The National Bank of Tuvalu. Lantai atas dipakai sebagai kediaman general manager-nya. Selanjutnya di sekitar situ terdapat kantor polisi, kantor pos, kantor filateli, Perpustakaan Nasional, Pusat Kerajinan Tangan. Di tempat yang terakhir ini dipamerkan kerajinan anyaman: tikar dan topi, kalung dari kerang, kotak ukiran kayu. Semua sangat sederhana mutunya. Sebuah pendopo yang cukup luas, bertuliskan Toaso Lima, berfungsi sebagai gedung pertemuan umum dan sekolah dasar. Ada pula University of the South Pacific, Extension Centre yang menyelenggarakan kursus di bidang keguruan dan administrasi perusahaan. Nampak pula sebuah gereja aliran Bahai.

Di kompleks pertokoan hanya ada sepuluh toko kecil dan sederhana, masing-masing menjual keperluan penduduk, seperti bahan makanan, pakaian, alat rumah tangga, peralatan mengail, dan potong rambut. Saya tidak melihat ada salon kecantikan, atau toko cuci-cetak foto. 

Tidak ada malaria

Siang itu saya menyempatkan diri mampir ke satu-satunya rumah sakit: Princess Margareth Hospital. Saya memperkenalkan diri sebagai dokter, dan dilayani seorang perawat senior yang sedang bertugas. Rumah sakit itu dilayani dua orang dokter, seorang dokter gigi, dan seorang apoteker, dengan kapasitas 31 tempat tidur. Jumlah tenaga paramedis 15 orang, 5 orang bidan. Pada saat itu ada 11 penderita yang sedang dirawat, dua orang di antaranya menderita TBC. Di Tuvalu tak ada malaria. Pelayanan kesehatan diberikan secara cuma-cuma, termasuk rawat nginap.

Kegiatan pemerintah terpusat di gedung perkantoran yang cukup luas, tetapi juga sederhana. Para pejabat pemerintah tinggal di kompleks khusus di ujung landasan. Meskipun tampak biasa, tapi lebih mewah dibandingkan rumah-rumah penduduk lainnya. Untuk ukuran Indonesia, tidak melebihi rumah golongan menengah yang sederhana.

Rumah-rumah penduduk agak terpisah, diktari halaman luas. Semua serba sederhana. Rumah selalu terbuka, dengan banyak jendela, dan ruang tamu yang luas beralaskan tikar. Perabotan rumah seperti kursi, meja, bupet, dirapatkan ke dinding. Terkadang tampak penghuni tiduran di tengah ruangan.

Halaman rumah pada umumnya ditanami pohon kelapa, pisang, sukun, pepaya, sejenis pandan yang tinggi besar, mangga, talas. Tanaman hias berupa kamboja, flamboyan, bugenvil, kembang sepatu.

Kecuali jalan yang langsung di sisi landasan, semuanya rindang sehingga nyaman juga untuk bersepeda. Suhu sebenarnya cukup panas, 31 derajat celcius, namun tidak terlalu terasa karena angin laut sangat kencang.

Setiap orang boleh dikata memperhatikan saya bersepeda keluar-masuk perkampungan. Mereka selalu membalas salam saya. Mereka tampak ramah, dan saya sempat mengobrol dengan sekelompok pemuda. Setelah dua jam saya merasa cukup melihat Funafuti dan kembali ke hotel.



Disko semalam suntuk

Hotel Vaiaku Lagi merupakan satu-satunya sarana penginapan di Tuvalu milik pemerintah. Bangunannya cukup luas, berbentuk kotak, berlantai satu. Batu pertama pembangunan hotel itu diletakkan sendiri oleh Ratu Elizabeth II dari Inggris pada tanggal 27 Oktober 1972. Sebuah prasasti di bagian depan hotel prasasti di bagian depan hotel menyatakan bahwa Ratu Elizabeth II pada kesempatan itu juga telah menanam sebuah tunas kelapa. Pohon kelapa itu sekarang sudah setinggi 4 m dan sarat berbuah. Hotel ini memiliki 7 kamar, 2 di antaranya pakai AC yang ketika saya datang sudah terisi. Negara ini rupanya memang belum memikirkan soal pariwisata.



Dalam kamar saya ada dua buah tempat tidur, kipas angin gantung besar, kamar mandi dan WC dengan pancuran air dingin/panas melalui alat listrik berupa tangki silinder besar. Semua jendela nako ditutup kawat nyamuk. Dikamar disediakan teko listrik untuk membuat air panas, susu bubuk, teh, kopi, gula dan air minum satu karaf.

Para tamu hotel hampir semua kulit putih. Selain saya hanya ada seorang tamu lain yang makan di restoran hotel. Kami merupakan tamu baru. Menu yang tersedia hanya satu macam: steak dan kentang goreng, selada telur, buah pir dari kaleng, kopi, dengan tarif Aus. $9,50 (Rp. 1300,-)

Jum'at malam itu, di bar hotel ada acara disko. Acara ini merupakan satu-satunya rekreasi penduduk Funafuti, diadakan sekali seminggu, pada akhir pekan. Pengunjungnya banyak sekali. Pria dan wanita berdatangan dengan membayar karcis  Aus $1,00. Sebagian besar memakai hiasan untaian bunga segar di kepala. Mereka yang tidak ikut berdisko duduk bergerombol di halaman sambil minum bir. Kegaduhan acara itu tak memungkinkan saya tidur.

Pada pukul 23.30 terdengar pengumuman yang saya tafsirkan sebagai penutup, karena kemudian musik tak terdengar lagi. Para tamu juga mulai beranjak pergi. Sejam kemudian keadaan dr hotel sunyi senyap, dan saya bisa tidur nyenyak akibat keletihan bersepeda dan kurang tidur dibandara pada malam sebelumnya.



Sepak bola di bandara

Sabtu, 8 Juli 1989, saya terbangun agak siang. Menurut jadwal, hari ini pukul 11.00 saya harus meninggalkan Tuvalu menuju Kiribati, lalu ke Majuro dalam rangka perjalanan pulang. Saya membuat teh susu manis sendiri dengan teko listrik. Pukul 09.00 saya menyelesaikan urusan administrasi hotel. Kepada manajer hotel saya minta dicarikan uang logam Tuvalu untuk melengkapi koleksi saya. Dia menyanggupi untuk mencarikannya, dan menyusulkannya ke bandara.

Meskipun sebenarnya masih agak terlalu dini, saya dengan santai menentang tas perjalanan ke bandara. Bandara masih sepi, belum ada petugas yang datang. Saya duduk di bangku beton sambil menonton pertandingan sepak bola yang tengah berlangsung di landasan bandara. Penonton ternyata cukup banyak. Saya heran juga, dan menanyakan kepada beberapa orang di situ, bagaimana nanti kalau ada pesawat yang akan mendarat? Mereka menjelaskan dengan tenang, bahwa nanti akan ada sirine dua kali. Sementara itu, manajer Hotel Vaiaku Lagi datang naik sepeda, menyerahkan uang logam yang saya minta!



Ketika para petugas bandara datang, saya langsung check-in untuk balik ke Majuro dengan pesawat yang saya tumpangi kemarin. Segala urusan berjalan lancar, karena mereka semua mengenali saya.


Pada pukul 10.30 terdengar sirine yang nyaring. Para pemain sepak bola dengan santai berhenti menendang. Kedua gawang diangkat, dan semua orang minggir meninggalkan landasan. Seperempat jam kemudian terdengar sirine berbunyi lagi, dan sebuah pesawat tampak bersiap mendarat.


Selama pesawat berhenti dan mengisi bahan bakar, pertandingan sepak bola dilangsungkan lagi, tidak sampai 100 m dari hidung pesawat. Hanya ada seorang penumpang yang turun di Funafuti. Yang lain di perbolehkan turun untuk melemaskan kaki, daripada terkurung dalam pesawat yang sangat panas.


Ketika semua penumpang dipanggil untuk boarding, landasan dikosongkan dari segala kegiatan. Selain para pemain sepak bola dan penonton, juga kendaraan yang ingin menyeberangi lapangan menuju kampung di seberang bandara. Pukul 11.15 pesawat AMI yang hampir penuh dengan penumpang meninggalkan Funafuti, Tuvalu, menuju Majuro, lewat Tarawa. Berakhirlah perjalanan saya ke pulau-pulau di kawasan Pasifik.


Source: Majalah Intisari, no.317 Desember 1989

Negara Udik di Pasifik (BAGIAN 1)

KETIKA berada di New York saya berusaha minta visa untuk Belize, Tuvalu dan Kiribati melalui perwakilan Inggris, agar rencana ke negara-negara itu tidak mengalami hambatan. Melalui kawan saya, Stan Maringka dari Patria International Travel di New York, saya membeli dan memesan tiket penerbangan Majuro --- Tarawa --- Funafuti untuk hari Jum'at, 7 Juli 1989, pukul 05.10; dan Funafuti --- Tarawa ---  Funafuti untuk hari Jum'at, 7 Juli 1989, pukul 05.10; dan Funafuti --- Tarawa --- Majuro untuk keesokan harinya, Sabtu, 8 Juli 1989, pukul 11.00. Tiket penerbangan pergi-pulang seharga AS $ 720. Tiket ke Majuro sudah saya beli di Jakarta. Istri saya tidak ikut dalam perjalanan ke pasifik itu. Ia langsung pulang setelah bersama-sama keliling AS.




Nginap di bandara

Peta Funafuti
Hari Kamis, 6 Juli 1989, pukul 18.30, saya tiba di Majuro, Republik Kepulauan Marshall. Visa untuk masuk Kepulauan Marshall saya peroleh secara cuma-cuma, setiba di Majuro. Saya hanya perlu menunjukkan tiket penerbangan terusan (dari Majuro). Petugas bea cukai dan karantina memeriksa satu-satunya tas perjalanan saya sepintas lalu.

Di luar ruang kedatangan, saya langsung mendaftar ulang untuk penerbangan dengan AMI (Airlines of the Marshall Islands) ke Funafuti esok hari, pukul 05.10. Petugas bandara menjelaskan bahwa check-in penumpang akan dimulai pukul 03.00! 


Saya jadi bengong. Saat itu hampir pukul 20.00. Tak sampai 6 jam kemudian saya harus berada di bandara lagi. Rasanya tiada gunanya saya mencari hotel ke kota sejauh 16 km dari bandara. Beraksi pada malam hari yang sunyi, di suatu tempat yang belum saya kenal, mestinya juga tidak mudah. Akhirnya saya memutuskan untuk menunggu di bandara saja. Petugas memberi tahu bahwa bandara akan segera tutup. Restoran bandara juga sudah tutup. Tapi saya boleh menunggu di ruang check-in yang luas dan terbuka, serta terang-benderang.
 
Di ruang check-in terdapat lima buah bangku kayu yang kokoh. Ternyata ada dua orang penumpang ke Tarawa yang mengambil keputusan sama seperti saya. Padahal mereka sebenarnya sudah memesan hotel di kota. Seorang mahasiswi Jepang berumur 21 tahun, yang akan menggabungkan diri dengan rombongan guru besarnya yang melakukan riset di bidang arkeologi di Tarawa. Yang seorang lagi, pelaut asal Kiribati berumur 30-an, yang bermaksud pulang kampung setelah enam tahun bekerja di sebuah kapal niaga Jerman.

Sejak pukul 21.00, selain kami bertiga tak tampak ada orang lain dibandara yang cukup besar itu. Sambil mengobrol, kami masing-masing menempati sebuah bangku. Saya sempat tertidur, dan terjaga sekitar pukul 02.30, ketika para calon penumpang mulai berdatangan. Rata-rata semua membawa banyak bungkusan!

Tempat duduk bebas

Pukul 04.00 para penumpang dipanggil untuk boarding. Semua orang bergegas saling mendahului, karena ternyata berlaku sistem free seat, boleh memilih tempat duduk sesuka hati. Ketika pesawat British Aerospace 748 turboprop itu mengudara, semua tempat duduk (48) terisi. Dalam keadaan cuaca yang kebetulan buruk, pesawat yang tidak besar itu berguncang-guncang hebat.

Setelah terbang dua jam, pesawat mendarat di Tarawa, ibu kota Republik Kiribati. Kebetulan negara itu sedang merayakan HUT ke-X, sekaligus menjadi tuan rumah 15 Negara Pasifik. Tanpa sengaja, kami sepesawat dengan rombongon presiden FSM (The Federated States of Micronesia) dan istri. Di Bandara Tarawa mereka disambut resmi dengan tarian nasional Kiribati yang menarik. Saya sempat membuat foto atas izin kepala polisi, seorang Inggris dengan seragam gala.

Cuaca setempat cukup panas, 30 derajat celcius. Setelah berhenti sejam, pesawat mengangkasa dengan penumpang kurang dari separuhnya. Penerbangan Tarawa --- Funafuti berlangsung 3 jam 45 menit. Dari udara Atol Funafuti tampak paling besar di antara rentetan pulau karang lain. Bentuknya seperti bumerang ramping, dengan "tungkai" utara lebih pendek. Seluruh "tungkai" selatan tampak sebagai landasan yang seluruhnya beralaskan rumput hijau!

Tepat pukul 13.00 pesawat mendarat dan berhenti disebuah "los" kecil dan sederhana berukuran 5 x 8 m. Tak ada papan nama bandara maupun kota. Didalam los tanpa dinding itu ada sebuah meja tinggi berbentuk L dari beton. Sebuah bangku sepanjang 3 m menghadap ke lapangan. Hanya dua penumpang turun di Tuvalu, saya dan seorang Australia.

Di belakang counter beton berdiri empat petugas. Yang pertama petugas imigrasi yang berpakaian biasa. Ia membaca formulir imigrasi yang saya terima di pesawat. Dia minta bukti tiket penerbangan lanjutan dari Funafuti. Langsung saya diberi visa untuk sebulan secara cuma-cuma. Kemudian saya menunjukkan visa Tuvalu yang saya peroleh dari perwakilan Inggris di New York. Dia keheranan melihatnya, dan tersenyum sinis setelah mendengar bah wa saya membayar AS $ 34 untuk itu. Kali ini saya terkecoh karena terlalu hati-hati!

Di sampingnya berdiri petugas bea cukai berseragam. Ia memeriksa tas perjalanan yang saya bawa secara sepintas. Petugas karantina di sebelahnya menerima daftar isian saya. Akhirnya petugas AMI mencatat nama saya sebagai penumpang yang akan berangkat kembali ke Majuro keesokan harinya. Maka selesailah semua urusan.
 
Jalan kaki ke hotel

Di sekitar bandara hanya tampak dua buah mobil. Sebuah jip pemadam kebakaran dan sebuah pikup. Saya menanyakan soal kendaraan untuk pergi ke hotel. Petugas imigrasi menyatakan bersedia menolong saya untuk menunjukkan tempatnya. Tak lama kemudian segala kegiatan bandara selesai. Saya dan seorang penumpang dari Australia diajak mengikutinya ke jalan di sebelah kantor tadi. Baru 30 m kami sudah di sebuah perempatan. Dari situ dia menunjukkan sebuah hotel di sebelah kiri jalan. Hotel Vaiaku Lagi, tidak sampai 100m dari landasan!

Saya mendapat salah satu di antara ke-7 buah kamar yang semua menghadap ke halaman belakang dan laguna. Saya minta berbagai keterangan tentang Tuvalu kepada manajer hotel yang simpatik. Dia menunjukkan sebuah papan di depan hotel: Tuvalu Broadcasting & Information. Gedung kantor pemerintah ini hanya rumah biasa yang tidak besar. Sebagai penulis wisata saya dilayani dengan ramah oleh petugas setempat. Saya mendapat brosur, koran, dan berbagai keterangan.

Radio Tuvalu melakukan siaran empat jam sehari dalam bahasa lokal. Setiap jam siaran merelai warta berita dari BBC. Satu-satunya koran dalam bahasa Inggris, Tuvalu Echoes, terbit setiap dua pekan. Koran ini berbentuk stensilan setebal 10 halaman, di jual dengan harga 20 sen Tuvalu/Austalia (Rp.270,00). Isinya terutama kegiatan pemerintah dalam pembangunan, berita organisasi masyarakat, keberatan kapal dari Funafuti ke pelbagai pulau sekitar (biasanya sekali sepekan), pengumuman pasang-surut permukaan laut, iklan(eksportir Selandia Baru menawarkan bahan bangunan), ruang sahabat pena. Yang cukup menarik: pengumuman hasil perlombaan kerajinan tangan. Pemenang I mendapat hadiah Aus. $25, Kedua $15, Ketiga $10.

Bersambung

Rabu, 27 Juli 2011

Di Afrika, Asal Tembak Rugi Sendiri (BAGIAN 2)

CARA merebus air panas ini unik, karena hanya menggunakan sebuah drum berisi air yang diletakkan diatas pendiangan. Airnya disalurkan ke kamar mandi dan dapur.

Awas, menembak dobel!

Sesudah menentukan farm mana yang akan dikunjungi, sebaiknya Anda pergi ke pasar swalayan Johannesburg untuk berbelanja. Bila pemilik farm yang mengajak Anda berbelanja, pengeluaran pasti akan ditanggungnya, karena biaya tinggal termasuk makan tiga kali. Jadi jangan sungkan untuk mengambil barang yang diperlukan, karena farm jauhnya kurang lebih 600 - 700 km dari Johannesburg, sedangkan toko-toko di sepanjang perjalanan biasanya tidak lengkap.


Selain beras, barangkali Anda memerlukan cabai rawit, minyak goreng, telur mentah, susu segar, gula pasir, teh celup, atau kopi. Untuk daging pilihlah yang sudah di potong ukuran steak; tak perlu terlalu banyak, karena Anda akan mencicipi daging binatang buruan Anda sendiri, dan bubuk coklat untuk menangkal cuaca dingin. Perlengkapan kebersihan pribadi: macam kertas tisu, shampoo, sabun mandi, odol, dan handuk mandi harus Anda bayar sendiri.


Begitu Anda sampai di farm, mintalah izin kepada pemiliknya untuk mencoba senapan, baik itu milik Anda sendiri maupun pinjaman. Buatlah jarak paling sedikit 120 m. Cobalah beberapa kali sampai Anda yakin dan merasa dekat dengan senapan Anda, kalau itu pinjaman.


Soalnya, kalau tembakan Anda kena tapi binatangnya kabur, Anda harus membayar meski bangkainya tak ketemu. Menunggu mencarinya hingga esok hari bisa terlambat, karena bisa jadi kondisinya sudah tak lengkap lagi.


Kalau di tanah air kita dianjurkan pemerintah untuk menembak sebanyak-banyaknya, terutama hama babi hutan yang kebanyakan selalu berombongan, di Afrika, kita tidak boleh asal tembak. Teropong dulu mana jantan mana betina. Jangan sampai binatang yang akan kita tembak itu dibayangi oleh seekor lagi dibelakangnya. Peluru kita bisa menembusnya dan melukai juga binatang yang dibelakang. Tembaklah setelah Anda tenang dan yakin. Lihat ke mana larinya. Jangan segera melepaskan tembakan lagi, meskipun menurut Anda binatang yang kabur itu belum tentu mati. Kalau Anda sampai menembak lagi, ada kemungkinan Anda menembak dua binatang dari jenis yang sama, dengan jenis kelamin yang barangkali juga sama. Bukankah itu pemborosan?


Apabila binatang yang Anda tembak itu sudah mati terkapar, jepret sebanyak-banyaknya dengan kamera. Setelah itu pemilik farm akan menangani hasil buruan Anda. Dia akan bertanya opset bagaimana yang Anda inginkan, sebatas leher, sebatas dada, atau seluruh badan. Mintalah dagingnya sedikit dan bakarlah sesudah dibumbui di pendiangan. Asyik banget!


Tak ada ampun

Perusahaan taxidermy atau opset di sana adalah perusahaan besar yang memperkerjakan banyak tenaga ahli. Mereka bekerja sama dengan pemerintah, khususnya yang berhubungan dengan hewan yang dilindungi. Sebagai contoh, untuk membuat opset zebra saja mereka akan melihat dan mencocokkan jenis kulit, berat binatang dan bentuk mata, kuping, serta corak kulitnya. Ada 5 macam zebra di sana, tapi yang boleh di tembak hanya jenis Burchill.

Kalau hal ini terjadi, dan Anda terbukti bersalah, tanpa kompromi Anda akan langsung dideportasi dan dimasukkan daftar hitam. Pemilik farm yang memberi surat pengantar bagi Anda untuk opset dan PH (professional hunter)-nya pun pasti akan mendapat masalah. Di samping itu Anda akan mendapat kesulitan juga apabila tetap ngotot membawanya ke luar Afrika dan memasukkan ke negara asal Anda, karena tidak dibekali surat-surat resmi dari Afrika atau CITES (Conventions of International Trades on Endangerous Species).


Beberapa negara sangat keras mengawasi bagian-bagian binatang ini, seperti Singapura misalnya. Tanpa surat resmi dari perusahaan opset yang diketahui oleh perwakilan CITES atau Directorate of Nature Conservation in Respect of Cites, jangan harap bisa memasukkan hasil buruan Anda. Indonesia pun sudah mengikuti segala peraturan yang ada di CITES.


Perusahaan-perusahaan opset ini sama sekali tidak menggunakan bahan-bahan yang merusak lingkungan, seperti halnya formalin yang masih dipergunakan di Indonesia. Di dalam opsetnya selalu disebutkan bahan-bahan apa saja yang dipergunakan. Selain badannya dibuat dari serat kaca, juga disebutkan seluruh tulang tengkorak di rebus dengan campuran 5% sodacuci dan seluruh opsetan direndam dengan 5% sodium fluosikilat dan 56% carbaspray. Dengan sendirinya hasil opsetan milik kita atau dikenal sebagai trofi tersebut akan disertai selembar surat sehingga bertambah autentiklah barang itu.


JANGAN SEMBARANGAN BUANG PUNTUNG ROKOK 


JIKA suatu waktu Anda sempat berburu di Afrika, sebaiknya perhatikan beberapa perlengkapan yang harus di bawa dan berbagai hal yang harus dilakukan untuk menghindari kesulitan.

1. Makan obat malaria seminggu sebelum keberangkatan, selama disana hingga 2 lamanya setelah pulang.


2. Pilih pakaian berwarna coklat muda. Usahakan yang bahannya katun dan berlengan panjang. Jaket perlu, karena suhu di siang hari kurang lebih 9 derajat celcius, malam hari kurang lebih 4 derajat celcius.

3. Bawa pisau tajam, jangan terlalu panjang, pakaian training, sepatu olah raga, teropong tahan banting,obat-obatan pribadi, obat sakit gigi, demam, sakit perut, diare, batuk.


4. Pilihlah farm yang tidak terlalu luas, supaya berburunya tidak susah.


5. Bila jaket tersangkut di duri pohon, berhenti dan lepaskan dulu. Kalau Anda paksakan juga, jaket bisa robak, kulit terluka, bisa-bisa seluruh cabang dan dahan berduri akan ikut terbawa.


6. Apabila PH minta kita menunduk, taati, karena PH yakin bahwa binatang buruan telah melihat kita.


7. Jangan segera memasukkan sebutir peluru lagi ke dalam kamarnya sesudah menembak. Pilih senapan jenis Bolt Actions, jangan otomatis atau semiotomatis. Perhatikan kalau PH menendang-nendang tanah, berarti dia melihat arah angin. Berdiri selalu di belakangnya, kecuali kalau dia suruh kita di depan. Kalau ada tawaran dari PH untuk membuntuti dan membunuh hewan hasil tembakan Anda yang belum mati, lakukanlah sendiri. Tapi kalau tidak yakin, biar dia yang lakukan untuk Anda.

8. Kalau Anda perokok, gunakan geretan gas. Kalau bisa jangan merokok dulu; kawasan dalam kondisi kering dan mudah terbakar.

9. Matikan rokok dengan menginjaknya lumat di tanah, jangan di rumput, hingga benar-benar padam.

10. Jangan tidur terlalu malam, makan yang kenyang. Sarapan dulu sebelum pergi berburu.


11. Ketika pulang, masukkan semua pakaian kotor ke dalam plastik, ikat kencang-kencang dan jangan dibuka hingga sampai ditanah air. Di rumah, pakaian itu harus langsung diseduh air panas agar semua kutu binatang yang menempel mati.

12. Lebih murah cetak foto di Indonesia, tetapi cucilah film disana. Jangan percaya pada "film save" di bandara.



13. Tukar uang rand Anda sebelum meninggalkan Afrika Selatan, karena Anda akan mengalami kesulitan untuk menukarkannya kembali.


14. Tinggalkan peluru yang tersisa, sebab akan membuat Anda kesulitan di bandara mana saja, kecuali kalau mempunyai izin mempunyai izin membawa peluru.


Source : Majalah Intisari, No.402 - Januari 1997

Di Afrika, Asal Tembak Rugi Sendiri (BAGIAN 1)

BERBURU ke Afrika adalah idaman para pemburu. Agustus 1995, saya berangkat ke sana bersama anak saya. Di Afrika Selatan saja, kita dapat berburu di beberapa kawasan, misalnya Transvaal, daerah Nelspruit di barat laut, atau di sepanjang S. Limpopo perbatasan Botswana. Juga di Botswana, Zimbabwe, dan Mozambik.


Langkah awal yang paling mudah membina hubungan dengan penduduk lokal di sana, barangkali lewat kenalan di sini. Dengan cara ini Anda akan jauh lebih hemat daripada lewat biro safari berburu.


Untuk memilih lokasi perburuan, mintalah informasi dari sana, biasanya dari farm (lokasi perburuan). Kalau bisa belilah buku saku berjudul Mammals Africa, sebab disitu tersedia informasi jelas tentang bentuk dan gambar binatang yang Anda minati.

Sembunyi di rumah semut

Berburu Binatang di Afsel
Kalau Anda hanya akan menembak plain game sebaiknya cukup di daerah Afrika Selatan. Sasaran plain game adalah binatang sebangsa antilope. Jenis kebanyakan diberi nama boks atau buck. Eland, jenis antilope terbesar di dunia, dengan berat 900 kg dan tinggi 190 cm hanya sampai pundak.

Kalau mau berburu the big five (singa, gajah, leopard, badak, kerbau liar) maka Anda perlu ke Zimbabwe atau Botswana. Jangan ke Mozambik, meskipun sangat murah, karena masih banyak ranjau darat yang bertebaran di sana.

Kemudian uruslah visa di Kedutaan Afrika Selatan. Bila tujuannya Zimbabwe atau Botswana, maka Anda harus memohon visa lewat negara lain, atau minta bantuan KBRI setempat untuk membantu menguruskan visa on arrival. 

Setelah ini pun beres, mulailah kumpulkan perbekalan. Kalau gampang minta izin dari Polda, bawalah senjata sendiri sebab proses memasukkan senjata di sana sangat mudah. Tapi andaikan Anda terbentur peraturan Perbakin maupun Polda tentang izin angkut, ya sewa saja di sana. Selain murah, ada bermacam-macam jenis dan kalibernya. Pilih yang Bolt Actions, jangan yang otomatis.

Kaliber .30.06 Sprf. cukup untuk berburu plain game. Untuk berburu the big five, kaliber Win cukup ideal, meskipun kebanyakan menggunakan kaliber .459 Magnum.

Untuk kaliber .30.06 Sprf., cukup pakai peluru 168 grain sotpoint. Yang .375 Win pakai 286 grain solied (brass), sedangkan .485 Magnum dengan 475 grain solied (brass). Yang terbaik belilah peluru di sana. Selain murah juga lengkap, termasuk yang buatan lokal. Merek peluru yang umum di sana adalah PMP, singkatan dari Pretoria Metaalperswerke.

Musim berburu di Afrika antara 1 April - akhir Agustus, bertepatan dengan musim dingin. Maka alamnya kelihatan gersang dan berdebu. Bush (perdu rendah) pun jarang, sehingga tingkat kejelasan pandang antara kita dan kumpulan binatang atau sebaliknya sangat baik. Itulah perlunya pakaian berwarna coklat agar sesuai dengan warna alam sekeliling. Warna jins biru atau hijau muda justru akan menarik perhatian mereka.

Demikian jarangnya bush sampai satu-satunya tempat untuk bersembunyi hanyalah di gundukan tanah rumah semut, antel namanya. kadang-kadang sedemikian tinggi dan besarnya antel tersebut sampai kita bisa duduk ongkang-ongkang di atasnya tanpa takut amblas, berkat konstruksinya yang sekokoh semen corcoran.


Selain itu, angin dingin menggigit yang kadang-kadang bertiup kencang bisa membuat kita putus asa. Betapa tidak, sesudah satu jam mendekati sekumpulan binatang, lalu menunggu jarak tembak yang baik, sambil diam tak bergerak, tiba-tiba angin berubah arah, sehingga mereka serentak kabur. Maklumlah bau kita mendadak tercium.


Lihat pagarnya

Luas farm biasanya 600 - 6.500 ha. Kita mengetahui binatang apa saja yang dipunyai farm tersebut dari pagarnya. Dengan ketinggian rata-rata 2,20 m, apabila dilengkapi 2 jajaran kawat sebelah dalamnya, maka itu kawat berlistrik. Artinya, didalam ada binatang the big five. Karena itu, bila ingin buang air kecil, lihat-lihat dulu! Salah-salah bisa kesetrum.

Pagar keliling ini penting agar binatang tidak loncat ke luar pagar. Bila ini terjadi, sipemilik farm (swasta) yang beraneka ragam nama perusahaannya, seperti Old Shatterhand Hunting Farm, Buanette Farm, Big Game Hunting Farm, Eliras Farm, dll. sampai ratusan berderet-deret, tentu akan rugi.


Binatang di farm suatu saat akan berkurang kalau pemiliknya mengabaikan sensus berkala, pagarnya berlubang, binatang terserang penyakit, atau tidak bisa berkembang biak karena anak-anaknya dimangsa anjing ajak atau hyena. Bila demikian halnya, jalan satu-satunya bagi pemilik farm adalah membeli binatang terserang penyakit, atau tidak bisa berkembang biak karena anak-anaknya di mangsa anjing ajak atau hyena. Bila demikian halnya, jalan satu-satunya bagi pemilik farm adalah membeli binatang secara lelang di Taman Nasional kruger, Thaba Manzi, milik pemerintah di daerah selatan atau di Natal Game Marketing Association. Biasanya berita tentang ini dimuat dulu di beberapa majalah seperti A Wild Jag A Game Hunt. Risikonya sangat tinggi. Hewan-hewan ini mudah stress dan mati dalam proses pengangkutannya. Harganya pun sangat mahal. Seekor gemsboks tanpa ongkos angkut AS $850. Belum dihitung yang mati karena stress. Padahal harga seekor gemsboks yang ditembak oleh pemburu sendiri rata-rata AS $ 900.

Nah, untung baru bisa mereka raih bila binatang yang ditangkap tersebut hamil, sehingga pada tahun berikutnya jumlah mereka akan menjadi kira-kira 1,6 kalinya. Tentunya dengan syarat musim tahun ini dan tahun depan tidak dibuka perburuan untuk jenis binatang ini. Disamping itu mereka meraih laba dari biaya harian para klien.

Pada musim dingin tanah disekeliling pagar di bajak dengan traktor untuk menghindari kebakaran, baik akibat api tetangga maupun perbuatan iseng baik akibat api tetangga maupun perbuatan iseng. Di farm telah tersedia segala perlengkapan untuk tinggal selama berburu, kamar tidur bersih, pendiangan, dan juga air panas. Cara merebus air panas unik.

(Bersambung)                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           

GET UPDATE VIA EMAIL
Jika Anda Menyukai Artikel di Blog Ini, Silahkan Berlangganan via RSS. Isi Alamat Email Anda di Bawah Ini:

MAJALAH BOBO 1980-an

Tambahkan Kami di Facebook

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes