Tampilkan postingan dengan label Kanker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kanker. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 April 2012

Memperbaiki Pola Makan Mencegah Kanker

Upaya pencegahan penyakit kanker semakin diperhatikan. Perilaku hidup merupakan salah satu penyebab utama timbulnya kanker, di luar faktor keturunan, lingkungan, dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Faktor perilaku hidup itu terutama menyangkut pola makan sehari-hari. Dr. Elvina Karyadi, M.Sc., seorang ahli gizi, mengajak kita memahami pola makan yang baik yang dapat mencegah kanker tertentu.


PARA AHLI belakangan mengidentifikasikan bahwa 80 - 90% dari berbagai bentuk kanker berkaitan erat dengan makanan yang sehari-hari kita konsumsi.


Kanker payudara dan prostat diduga karena mengkonsumsi lemak yang terlalu banyak alkohol juga disebut-sebut sebagai biang keladi mencuatnya kanker payudara.


Sejumlah studi epidemiologi membuktikan, munculnya penyakit kanker pada saluran pencernaan erat hubungannya dengan berbagai paparan dari jenis makanan tertentu. Sedangkan kanker tenggorokan (esofagus) berkaitan dengan tingginya konsumsi alkohol dan bisa juga karena kebiasaan merokok. Kanker lambung dihubungkan juga dengan tingginya konsumsi makanan pengawet yang berkadar garam tinggi. Sedangkan kanker kolon (usus besar) dan rektum disebabkan oleh tingginya konsumsi lemak dan minuman beralkohol (terutama bir).


Kanker hati diduga akibat pencemaran makanan oleh aflatoksin dan juga konsumsi alkohol yang tinggi. Beberapa ahli berpendapat, infeksi virus hepatitis B juga merupakan penyebab timbulnya kanker hati. Sementara itu kanker paru-paru dan kandung kencing terutama disebabkan oleh paparan tembakau (rokok) serta beberapa zat kimia dari berbagai cemaran industri.


Di samping zat-zat yang merugikan dalam kandungan gizi makanan tertentu, terdapat pula zat-zat gizi yang terkenal sebagai zat antikarsinogen, yaitu zat yang bersifat protektif (melindungi seseorang yang mengkonsumsinya dari timbulnya kanker). Termasuk golongan ini terutama sayur-saryuran dan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin A, betakaroten, vitamin C, dan vitamin E. Juga zat gizi lain yang saat ini terkenal berpotensi mencegah penyakit kanker seperti selenium (Se), asam folat, niasin (vitamin B3), vitamin D, seng (zinc), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg).


Serat yang merupakan bagian dari pangan nabati yang tidak dapat dicerna oleh tubuh juga berperan penting dalam pemeliharaan kesehatan tubuh dan dapat mencegah timbulnya kanker kolon. Fungsi serat itu penting karena dapat menarik air dari sekitar pembuluh darah sehingga melunakkan faeses dan mendorong pengeluaran yang efisien melalui usus. Sumber makanan yang mengandung serat adalah biji-bijian, kulit dan daging, buah-buahan serta sayuran seperti seledri, kol, kembang kol, bayam dll.


Antioksidan merangsang kekebalan


Betakaroten, vitamin C, vitamin E, dan selenium dikenal sebagai zat antioksidan yang dapat merangsang sistem imun tubuh untuk melawan radikal bebas yang membentuk karsinogen (substansi yang dapat menimbulkan kanker). Mekanisme antioksidan dalam menghambat terjadinya kanker ini termasuk mencegah pembentukan karsinogen dan menghalangi rusaknya sel normal lainnya.


Pada Percobaan terhadap binatang terbukti, antioksidan menghambat kerusakan kromosom, tahap promosi tumor, transformasi sel, dan rangsangan terbentuknya kanker secara kimia atau radiasi.


Betakaroten banyak terdapat pada sayuran berwarna kuning seperti wortel, sedangkan vitamin C banyak dijumpai pada buah-buahan macam jeruk, jambu biji, dll. Vitamin E banyak terdapat pada sereal, minyak nabati, jagung, sayuran berdaun hijau, dan buah-buahan. Selenium terdapat pada daging, kerang, sereal, dan produk ternak.


Menurut beberapa penelitian, wanita penderita kanker serviks (mulut rahim) kadar asam folat dalam darahnya menurun. Hal ini tidak selalu berarti bahwa kadar asam folat yang rendah mencetuskan atau menyebabkan penyakit kanker. Dengan suplementasi asam folat, perubahan abnormal sel-sel di mulut rahim (cervical dysplasia) yang bisa berkembang menjadi kanker mulut rahim, dapat dicegah. Asam folat ini banyak terdapat pada sayuran hijau (brokoli, bayam, asparagus), biji-bijian, hati, kacang polong, buncis.


Suplementasi vitamin B3 atau niasin dilaporkan juga dapat mencegah kanker. Vitamin ini biasanya diberikan pula pada penderita kanker yang sedang menjalani kemoterapi itu sendiri. Penelitian Popov bahkan menyatakan, pemberian kombinasi niasin dan aspirin pada penderita kanker kandung kemih ternyata menurungkan angka kekambuhan dan meningkatkan perpanjangan waktu hidup penderita kanker. Niasin banyak terkandung daging sapi, ayam, kacang-kacangan, ikan, daging tak berlemak, telur, dan alpukat.


Sedangkan penelitian ahli lain, Garland dkk. dan Colsion dkk. menunjukkan, suplementasi vitamin D dalam bentuk aktifnya (1,25-dihidroksi) dapat menghambat multiplikasi (pelipatgandaan) sel kanker. Semakin tinggi vitamin D dalam darah (dalam bentuk 25-hidroksi vitamin D), semakin rendah risiko terjadinya kanker kolon. Vitamin ini banyak dijumpai pada mentega, susu, kuning telur, hati, beras, dan ikan.


Seng mencegah kanker


Kalsium berperan dalam proses proliferasi (perkembangbiakan) sel pada lapisan mukosa kolong manusia. Karena itu masukan kalsium yang cukup tinggi dapat mengurangi risiko terjadinya kanker kolon. Studi yang pernah dilakukan oleh seorang peneliti Rusia menunjukkan, suplementasi kalsium yang diberikan kepada penderita tumor tulang dapat meningkatkan efektivitas pengobatan kanker kolon. Studi yang pernah dilakukan oleh seorang peneliti Rusia menunjukkan, suplementasi kalsium yang diberikan kepada penderita tumor tulang dapat meningkatkan efektivitas pengobatan kanker dengan terapi radiasi. Kalsium banyak terdapat pada susu, yoghurt, keju, bayam, dan brokoli.


Penelitian yang pernah dilakukan pada hewan percobaan menunjukkan, kekurangan magnesium pada diet hewan ini dapat meningkatkan perkembangan terjadinya kanker tenggorokan dan kanker kulit luar. Ditemukan bahwa seseorang yang menderita kanker tenggorokan memiliki kadar seng yang rendah dalam darahnya. Namun hal ini masih belum diketahui apakah kekurangan seng merupakan sebab atau akibat dari kanker ini.


Menurut Garafalo, seorang ahli lain, dalam tindakan pembedahan terhadap kanker dianjurkan agar berhati-hati sebab bisa memperparah defisiensi seng, bahkan sampai pada tingkat yang permanen. Apalagi bisa pasien sudah sangat rendah kadar seng dalam serumnya sebelum operasi.


Dalam kasus kanker prostat pada pria juga ditemukan kadar seng yang rendah dalam kelenjar prostat dan terjadi sekresi kelenjar prostat itu sendiri. Sehingga para ahli juga beranggapan seng ini merupakan proteksi dalam melawan penyakit kanker prostat. Makanan sehari-hari yang banyak mengandung seng dapat ditemukan misalnya pada makanan berasal dari hewan seperti daging ayam, sapi, telur dan juga pada biji-bijian, roti, susu dan produk olahannya.


Belakangan dikenal pula beberapa substansi tertentu yang bermanfaat mencegah kanker seperti alkilgliserol yang banyak terdapat pada minyak hati ikan hiu, koenzim Q10, asam butirat, tulang rawan faktor antiangiogenesis (dari ikan hiu) yang berfungsi mencegah pembentukan darah baru dalam penyebaran sel kanker. Juga omega-3 dari minyak ikan, omega-6 serta beberapa ekstrak tumbuh-tumbuhan seperti bromelain berasal dari batang pohon nanas, bawang putih (Allium sativum), bawang bombay (Allium cepa) dan substansi lentinan berasal dari jamur shiitake asal Jepang.


Bakteri Lactobacillus acidophilus juga dikenal sebagai bakteri yang normal dalam usus besar manusia dan berfungsi menormalisasikan aktivitas enzim-enzim yang dihasilkan dari bakteri lain.


Kadar lemak yang tinggi dan rendah serat yang banyak ditemui pada diet makanan Barat menyebabkan terganggunya aktivitas enzim dalam bentuk kotoran di usus besar yang bisa meningkatkan risiko terjadinya kanker usus besar.


Karsinogen dalam makanan


Zat-zat yang terkandung dalam makanan (faktor diet) dapat menyebabkan promotor untuk menimbulkan keganasan yang tidak secara langsung menimbulkan tumor. Zat-zat ini digolongkan sebagai karsinogen. Selain karsinogen ada pula prokarsinogen yang bersifat mengubah zat kimiawi sehingga merupakan pencetus kanker.


Karsinogen dalam makanan dapat ditemukan misalnya pada hasil pengolahan yang menimbulkan zat karsinogen plosiklik hidrokarbon akibat proses pengasapan makanan, zat kimia nitrosamin, zat fisik karena radiasi nuklir, ataupun zat biologi yang ada di alam seperti racun dalam tembakau.


Zat-zat racun tersebut akan merusak keutuhan struktur sel dan intinya menjadi ganas sehingga bersifat mutagenik (sel-sel normal setelah dicemari racun atau pencemaran lingkungan menjadi sel ganas yang berkembang biak tanpa kendali). Selain itu zat karsinogen dapat timbul akibat pengolahan makanan yang tidak tepat. Misalnya, pemanasan yang terlampau lama dan terlalu tinggi suhunya (menimbulkan zat trans-fatty-acid), cara menggoreng yang berlebihan serta pengawetan dengan pengasinan.


Makanan yang tercemar oleh jamur Aspergillus flatus yang menghasilkan racun aflatoksin seperti kacang tanah busuk dan keju kadaluwarsa juga bersifat karsinogen. Penggunaan minyak (jelantah) yang sudah berulang kali mengandung zat radikal bebas seperti peroksida, epioksida, dan lain-lain yang bersifat karsinogenik dan mutagenik yang mengubah sel normal menjadi ganas. Pada percobaan terhadap binatang, konsumsi makanan yang kaya akan gugus peroksida ini dapat menimbulkan kanker usus.


Pemanis buatan seperti siklamat dan sakarin, yang banyak dipakai dalam makanan jajanan menurut penelitian epidemiologi dapat pula menimbulkan tumor kandung kemih. Zat pengawet makanan seperti formaldehida sebagai pengawet bakso atau tahu, penggunaan zat pewarna tekstil (bukan untuk makanan) seperti methanyl yellow pada kerupuk, tahu, dll. serta rhodamin, warna merah pada sirup menurut penelitian juga dapat merangsang timbulnya kanker hati.


Mengingat banyak zat makanan di sekitar kita yang dapat merangsang timbulnya penyakit kanker, hendaknya kita sedapat mungkin menghindari makanan yang kurang bersih, lewat masa kadaluwarsa atau diolah dengan tidak semestinya. Walaupun dalam kehidupan sehari-hari cukup sulit untuk menghindarinya, paling tidak kita berusaha menjauhinya.


Source: Majalah Intisari, no.402 - Januari 1997

Selasa, 27 Maret 2012

ROKOK : Risiko Janin dan Impotensi

Di satu sisi rokok dibenci. Pada lain sisi ia dicintai sampai mati. Penyakit akibat rokok bertebaran, korban juga berjatuhan. Namun, para nikotinis alias perokok tetap mengabaikan. Serangan jantung? Stroke? Kanker?
Anggaplah itu risiko. Namun kalau risiko itu juga harus ditanggung janin di dalam kandungan, juga mengancam potensi seksual kaum laki-laki, para perokok harus memikirkan kembali kesetiaannya.


BELUM ada angka pasti jumlah mutakhir perokok di Tanah Air. Namun, di lihat dari gencarnya iklan rokok di media massa, boleh jadi itu sejalan dengan (makin) banyaknya jumlah perokok. Kalau mau dilihat lagi, di masa krisis, ketika tak banyak produk beriklan, rokok adalah komoditas yang terus tumbuh bagai tak terpengaruh. Menjadi penaja banyak acara, bahkan menyokong pendanaan program sosial pemerintah.


Di kancah bisnis pun usaha rokok terbilang raksasa, sehingga selalu punya dana amat besar untuk mencari peluang beriklan ketika dicegat di banyak tempat. Mereka sanggup membayar tenaga kreatif dan pelaksana periklanan untuk membuat iklan secara tersamar dan simbolis, menyebabkan orang tak tahu itu iklan rokok seandainya tidak disertai label "Peringatan Pemerintah". Namun, kreasi itu kini berkembang lagi. Label yang wajib dicantumkan dalam kemasan maupun iklan rokok itu justru dipasang besar-besaran, sementara merek rokoknya sendiri hanya diterakan kecil di sudut bidang iklan. Label "Peringatan Pemerintah", ironisnya, justru menjadi bahan dominan buat beriklan.


Sepertiga kanker akibat rokok


Tap kita tidak ingin bicara mengenai nilai ekonomis rokok. Sebab bagaimanapun, nilai cukai yang dihasilkan oleh bisnis tembakau beraroma itu sangat besar dan masih amat diperlukan bagi keuangan negara.


Yang kita bahas, dengan tak jemu-jemunya, adalah dampak rokok bagi kesehatan. Kalau selama ini yang biasa dicuatkan adalah seruan "biasa-biasa saja" semacam "Merokok dapat membahayakan kesehatan", belakangan lebih lengkap seperti di terakan pada label "Peringatan Pemerintah" tadi: merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, gangguan kesehatan janin, dan impotensi.


Bagi para nikotinis, dua akibat terdahulu praktis di abaikan, dianggap risiko yang inheren dengan kebiasaan. Rata-rata perokok siap dengan akibat itu. Namun, dua risiko terakhir benar-benar membuat para perokok harus berpikir lagi. Bagi perempuan hamil, atau suami yang istrinya hamil, ancaman kelangsungan nasib si jabang bayi sungguh membuat mereka gentar.


Nah, soal ancaman rokok bagi kesuburan dan potensi seksual kaum pria, agaknya cukup efektif karena terbukti meresahkan laki-laki perokok. Kampanye yang diawali di Thailand sekitar 1995 itu dianggap berhasil menurunkan jumlah perokok walau tidak signifikan. Namun, sekurang-kurangnya bidikan yang langsung tertuju pada harkat dan martabat kelaki-lakian itu telah menciptakan kegundahan tersendiri.


Di dalam asap rokok terdapat tak kurang dari 4.000 molekul, sebagian besar berdampak buruk. Komponen yang paling jelek adalah CO (karbon monoksida) dan nikotin. Nikotin kalau diisap menyebabkan hilang atau berkurangnya rasa kantuk. Bahkan banyak perokok merasakan nikotin mampu meredam nafsu makan.


Berkurangnya rasa kantuk akibat nikotin yang merangsang sekresi hormon-hormon di dalam tubuh, antara lain adrenalin. Hormon ini mengganggu metabolisme lemak sehingga darah menjadi lebih kental. Pengentalan darah bisa mengakibatkan terjadinya arteriosklerosis (penyempitan pembuluh darah).


Menurut ahli kedokteran olahraga dr. Sadoso Sumosardjuno, Sp.KO., risiko rokok terhadap penyakit sedikit banyak ditentukan oleh jumlah rokok yang diisap dalam sehari. Semakin banyak tentu semakin tinggi risikonya. Walaupun hal-hal lain seperti kadar lemak darah yang tinggi (kolesterol) dan kurang aktivitas fisik, berat badan, tekanan darah tinggi, serta stress dan ketegangan ikut menunjang terjadinya arteriosklerosis penyebab utama terjadinya penyakit jantung koroner (PJK).


Hasil penelitian yang pernah dilakukan dr. Joseph Brennan dan koleganya dari Johns Hopkins University, Maryland, terhadap pasien penderita kanker menunjukkan, para perokok cenderung mengalami kerusakan gen p53 yang melindungi tubuh dari kanker. Mereka menduga bahan penyebab kanker dari asap tembakau melekat pada material sel genetik dan kemudian menonaktifkan gen p53.


Dari pengamatan terhadap 129 orang penderita kanker kepala dan leher, diketahui bahwa perokok cenderung mengalami mutasi gen p53 dua kali lebih besar ketimbang bukan perokok. Mutasi tiga kali lebih lazim pada orang yang sehari-hari merokok dan menenggak minuman beralkohol. Mutasi gen p53 terjadi pada 17% dari para penderita kanker yang tidak merokok ataupun tidak minum alkohol, 33% pada mereka yang merokok, dan 58% pada mereka yang mengonsumsi gabungan rokok dan minuman beralkohol. Para ahli yakin, sepertiga dari seluruh kanker ada hubungannya dengan asap rokok.


Menurunkan kualitas sperma


Nikotin serta asap rokok mengeluarkan racun karsinogenik yang dapat menyebabkan beraneka macam gangguan kesehatan. Saat seseorang merokok, nikotin dalam asap akan terisap masuk ke paru-paru, kemudian ikut terserap oleh darah, dan selanjutnya akan menyebar ke seluruh tubuh.


Rokok bagaikan pabrik kimia. Tar merupakan kumpulan dari ribuan macam bahan kimia, di antaranya CO, nitrogen oksida, sianida, hidrogen, amonia, asetilen, benzaldehida, benzena, metanol, dll. yang bisa mengganggu kesehatan. Sebatang rokok mengandung 3 - 6% CO yang kalau masuk ke dalam peredaran darah akan mengurangi kemampuan hemoglobin darah untuk mengikat oksigen. Kadar CO dalam darah perokok berat bisa mencapai 5%. Tentu saja ini bisa menganggu kesehatan.


Penyakit yang dapat dipicu oleh rokok antara lain penyakit kanker (paru-paru, tenggorokan, pita suara, lambung), penyakit jantung koroner, bronkitis, emfisema (melebarnya gelembung paru-paru), tekanan darah tinggi yang bisa menyebabkan stroke, katarak, sinusitis. Bahkan belakangan ditekankan pula bahwa rokok bisa mengganggu pertumbuhan janin dan gangguan kesuburan pria maupun wanita.


"Bagaimana tidak," komentar Prof. dr. H. Arjatmo Tjokronegoro, Ph.D., Sp.And., spesialis andrologi dari FKUI. "Seseorang yang terus-menerus merokok selama bertahun-tahun, tentu saja darahnya akan tercemar oleh nikotin yang melalui pembuluh darah akan dibawa kemana-mana, termasuk ke organ reproduksi. Racun nikotin akan berpengaruh terhadap spermatogenesis atau terjadinya pembelahan sperma para pria. Padahal pembelahan itu sangatlah kompleks, yang kemudian bisa menjadi gen dari si pemilik sperma."


Padahal syarat untuk dapat membuahi sel telur, sperma harus berkualitas baik. Artinya, jumlahnya cukup, kualitas yang meliputi bentuk, gerakan, dan kecepatannya harus baik. "Sperma yang teler mustahil mampu membuahi sel telur yang sarangnya cukup jauh dari vagina. Ejakulasi yang kuat saja tidak cukup, sebab kemampuan membuahi tergantung pada kuantitas dan kualitas sperma," tambah Arjatmo.


Menurut pengamatan para ahli, begitu seorang perokok berat yang spermanya kurang bagus berhenti merokok, kualitas bisa meningkat sejauh yang bersangkutan tidak mempunyai gangguan organik lain. "Namun, kecuali berhenti merokok, ia harus juga mengubah pola hidupnya. Kalau tetap kurang tidur, makan tidak teratur, atau badan terlalu capek, kualitas spermanya tidak akan membaik."


Menjadi faktor risiko DE


Kerugian secara seksual para perokok secara khusus disoroti oleh spesialis bedah urologi dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, dr. Akmal Taher, Sp.BU. "Perokok kronik umumnya memiliki sperma berkualitas jelek. Bahkan DNA para perokok pun kena pengaruhnya," kata Akmal Taher.


Menurut Akmal Taher, efek rokok tidak hanya pada kualitas dan kuantitas sperma, tetapi juga menjadi faktor risiko disfungsi seksual. Gangguan seksual pada pria terdiri atas gangguan libido, ereksi, ejakulasi, dan gangguan orgasme. Khusus pada perokok, gangguan disfungis ereksi (DE) sering terjadi. Penelitian bertahap sejak 1997 yang dilakukan Akmal Taher dkk. di RS. Cipto Mangunkusumo menunjukkan, rokok merupakan 16,8% faktor risiko pada DE. Artinya, dari sejumlah pria penderita DE yang diteliti, hampir seperlimanya disebabkan oleh kebiasaan merokok.


Bahwa zat-zat yang terkandung di dalam rokok berdampak negatif terhadap alat reproduksi pria pernah dibuktikan dalam sebuah percobaan dengan sampel manusia sekitar 10 tahun lalu di AS. Malahan, apabila si perokok juga mengidap gangguan penyakit lain seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kadar kolesterol tinggi, dan PJK, gangguan DE makin parah hingga 3 - 4 kalinya.


Percobaan juga pernah dilakukan pada binatang. Ketika terkena asap rokok yan g pekat dalam waktu singkat terjadi penyempitan pembuluh darah binatang itu. Namun, begitu asap rokok disingkirkan, pembuluh darah melebar kembali.


Kembali ke soal DE, kata Akmal, semakin berat gangguan DE, semakin sulit pula pemulihannya. Cara pengobatan yang kini lazim dipakai adalah, pertama-tama menghentikan kebiasaan merokok. Kemudian dicoba dengan arterialisasi atau semacam bedah by-pass dengan menambah pembuluh darah baru pada penis, diambilkan dari pembuluh darah pada bagian lain tubuh. "Namun, hasilnya tidak bisa seratus persen," tambah Akmal.


Cara lain, dengan obat atau suntikan yang dilakukan secara rutin. Ini pun menyaratkan dihentikannya rokok terlebih dahulu, dan kalau terdapat gangguan sampingan harus terus dipantau. Misalnya, tekanan darah, kadar gula darah, dan kadar kolesterol terus dijaga agar tetap stabil.


Sepengetahuan Arjatmo, rokok lebih besar dampaknya pada kualitas sperma ketimbang pada DE. Guru besar andrologi ini berkesimpulan, impotensi kebanyakan terjadi akibat gangguan psikis seperti stress, fisik terlalu capek, hubungan yang kurang harmonis dengan pasangan, atau punya pasangan lain di luar istri, juga penyakit degeneratif tertentu yang menyebabkan gangguan sirkulasi darah. Kalau penyebabnya faktor psikis, dengan berhenti merokok saja tidak akan terobati, harus dilakukan pendekatan secara psikologis. Namun, banyak pasien yang tidak mau mengakui kalau penyebabnya faktor psikis. "Mereka langsung mencoba segala macam obat yang ternyata hanya menolong sementara.


Meracuni janin


Dampak negatif rokok terhadap janin juga tidak diragukan lagi. Secara logis bisa dipahami, bila pembelahan sel-sel mengalami gangguan karena nikotin yang masuk ke dalam darah, dengan sendirinya terhambat pula pertumbuhan janin. Akibatnya, bisa terjadi keguguran atau bayi lahir cacat seperti bibir sumbing, hidung pipih, atau berat badan kurang.


"Jangan lupa bahwa racun bisa masuk ke dalam tubuh perokok pasif," tegas Arjatmo. Karena, meski tidak merokok, mereka ikut menghisap asap sampingannya sehingga tidak lepas dari dampak buruknya. "Karena itulah, bila istri sedang hamil, jangan sekali-kali suami merokok di dalam kamar, mobil, atau ruangan tertutup lain. Salah satu asap rokok meracuni janin." Begitu pula setelah lahir, sebaiknya bayi dihindarkan dari asap rokok.


Hasil sebuah penelitian di Jepang menunjukkan, para istri dari pria perokok punya peluang terkena kanker 20 - 55% lebih tinggi daripada istri bukan perokok. Untuk mengurangi dampak buruk, para perokok pasif dianjurkan menyantap berbagai sayuran segar dan buah-buahan setiap hari, memasang penyaring udara di tempat kerja atau di rumah, juga menghiasi rumah dengan berbagai tanaman pot untuk mengeliminasi gas polutan.


Niat, faktor utama


Rokok memiliki kekuatan adiksi yang terbilang besar. Orang yang terlanjur memiliki kebiasaan merokok, sulit untuk menghentikannya. Semakin lama seseorang kebiasaan merokok, sel-sel otak semakin terbiasa dengan paparan kadar nikotin tertentu. Sebab itu, bila suatu saat seorang perokok menghentikan kebiasaannya, pasti akan terasa tersiksa, baik fisik maupun mentalnya. Pada tahap ini, tentu keputusan tergantung pada si perokok sendiri, apakah beberapa waktu dapat menahan rasa tersiksa ataukah kembali merokok.


Banyak anjuran untuk menghentikan rokok. Banyak pula ajaran dari bekas pengidap ketergantungan pada rokok. Tak sedikit pula teori yang dipublikasikan. Ada yang menyarankan untuk berhenti secara bertahap, ada yang menyarankan untuk berhenti secara bertahap, ada yang melakukan substitusi alias mengganti keinginan mengisap rokok dengan dengan hal lain. Ada pula rangkuman aneka kiat yang dibukukan oleh organisasi kesehatan dunia WHO berjudul Leave the Pack Behind.


Tjandra Yoga Aditama, dokter spesialis paru-paru dari RS Persahabatan Jakarta pernah mengatakan, untuk menghentikan ketagihan secara psikologis, si perokok perlu mengubah kebiasaan. Misalnya, kalau biasa merokok setelah minum teh atau kopi, untuk mengurangi kebiasaan itu perlu mengganti teh atau kopi dengan air putih segar. Atau jam minumnya diganti. Kalau jam merokoknya tak menentu perlu diganti jadwal tetap, misalnya pukul 08.00, 12.00, 16.00. Sedapat mungkin diusahakan merokok hanya pada jam-jam tertentu. Atau bisa dengan cara menunda atau menahan keinginan merokok. Sebagai pengganti, bisa minum air putih atau berjalan-jalan ke luar. Mengurangi jumlah rokok secara bertahap pun menurut dr. Yoga cukup efektif. Misalnya, kalau sebelumnya 20 batang sehari, dibatasi menjadi 10 batang, dan seterusnya. Namun, ini sungguh membutuhkan kedisiplinan.


Repotnya, kebanyakan perokok bisa disiplin dalam banyak hal, tetapi tidak untuk berdisiplin dalam banyak hal, tetapi tidak untuk berdisiplin menahan keinginan merokok. Barangkali niat kuat adalah anjuran klise, namun para mantan nikotinis mendapat bukti, ya niat itulah kunci utama. Mereka menganalogikan proses penghentian kebiasaan merokok seperti mengemudikan mobil: mengerem habis tanpa melalui proses setahap demi setahap. Tapi sekali lagi, kuncinya adalah kata klise itu tadi: niat. Pertanyaannya sekarang, di manakah niat itu? Wahai para perokok, marilah kita bersama-sama mencari sang "niat". Sampai dapat.


Source: Majalah Intisari, no.458 - September 2001

Jumat, 16 Desember 2011

Gizi Bagi Penderita Kanker

Penderita kanker sering mengalami kemerosotan status gizi, sehingga menjadi kurus dan lemah. Penyebabnya bisa macam-macam.


KANKER adalah pertumbuhan jaringan abnormal yang dapat tumbuh terus dengan ganas, invasif dan menyebar luas ke organ-organ tubuh lainnya bila tidak ditangani secara tepat. Sel-sel kanker ganas ini akan menggerogoti jaringan tubuh sehat dan merampok semua unsur makanan tanpa mempedulikan kebutuhan sel-sel normal.


Sementara itu, adanya tindakan invasif, seperti pemakaian obat-obat sitostika yang toksik, pembedahan dan radiasi, akan menimbulkan pelbagai komplikasi yang bisa menambah kerusakan atau kematian jaringan.


Untuk itulah, disamping memerlukan tindakan medis yang tepat, para penderita kanker juga membutuhkan makanan dengan unsur-unsur gizi yang lebih banyak dan lebih lengkap untuk memperbaiki jaringan tubuh yang rusak serta meningkatkan daya tahan tubuhnya.


Namun, menurunnya selera makan menyebabkan seringkali jumlah masukan unsur-unsur gizi yang diperlukan itu jauh dari cukup. Itulah sebabnya mengapa penderita kanker ganas sering mengalami status gizi jelek dan mengalami penurunan berat badan yang drastis (cachexia).


Terapi gizi untuk menanggulangi keadaan itu bisa dibagi menjadi dua kelompok: diet tinggi kalori tinggi protein (TKTP) dan diet komplikasi/simtomatik.


Diet TKTP


Penderita kanker umumnya tidak mampu makan dalam jumlah banyak, karena menurunnya selera makan, mual dan berbagai sebab lainnya. Karena itu diperlukan makanan yang walaupun dimakan dalam jumlah sedikit, tetap mengandung banyak kalori dan protein. Untuk perbaikan kerusakan jaringan dan anabolisme, seorang penderita kanker kemungkinan membutuhkan sampai 45 kalori/kg berat badan/hari dan 2 - 2,5 g protein/kg berat badan/hari. Penderita kanker yang berat badannya sekitar 50 kg memerlukan kurang-lebih 2.250 kalori/hari dan 100 - 125 g protein/hari.


Kalori atau tenaga biasanya diperoleh dari makanan sumber hidrat arang dan lemak. Bentuk hidrat arang yang paling mudah diserap oleh usus kita adalah glukosa (Glukolin, Glucose-D). Glukosa yang biasanya berbentuk serbuk atau cairan dapat ditambahkan kedalam sari buah, susu, air kacang hijau dll. Sedangkan gula pasir (sukrosa) yang lazim kita pakai sehari-hari harus dicernakan dahulu dalam usus sebelum menghasilkan glukosa.


Makanan lain yang menjadi sumber kalori adalah lemak atau minyak. Namun, karena pasien kanker merasa mual, lemak sering tidak dapat diberikan dalam jumlah banyak. Minyak tak jenuh ganda dengan rantai karbon pendek atau sedang, yang banyak terdapat dalam minyak nabati (minyak jagung, minyak kedelai), lebih mudah dicerna dan diserap karena penyerapannya tidak memerlukan getah empedu.


Protein yang diperlukan penderita kanker adalah protein lengkap yang nilai biologisnya tinggi. Jenis protein ini terdapat dalam makanan produk hewani seperti telur, susu dan daging yang mengandung semua asam amino esensial dengan jumlah yang memadai untuk membangun jaringan tubuh dan membentuk sistem enzimatik seluler serta zat-zat kekebalan.


Meningkatnya kebutuhan penderita kanker akan vitamin mineral sering membuat dokter memberikan pula suplemen vitamin-mineral. Penderita kanker juga harus memperoleh cairan lebih banyak (2,5 l/hari) untuk mencegah bahaya dehidrasi. Dianjurkan agar pasien minum sekitar 1,5 gelas (150 cc) atau lebih setiap jam pada saat tidak tidur (sekitar 16 jam) dan 1-2 gelas pada waktu terjaga di malam hari.


Mengingat kebutuhan kalori dan protein bagi penderita kanker acap kali tidak dapat terpenuhi dari makanan saja, kadang-kadang dokter atau ahli gizi juga juga melengkapi diet penderita dengan suplemen yang tinggi kalori tinggi protein tanpa menimbulkan rasa mual (kandungan lemaknya rendah). Supplemen ini biasanya berupa susu formula khusus (lihat tabel).


Meskipun mempunyai kandungan kalori yang tinggi, susu bubuk full-cream juga mengandung lemak dalam jumlah besar, sehingga dapat menambah rasa mual.


Komplikasi dan diet


Diet yang diterapkan disini adalah untuk mengatasi sejumlah gejala atau komplikasi yang berhubungan dengan selera makan dan kemampuan mengunyah.


Pada disgeusia, berubahnya daya pengecap, setiap makanan terasa hambar. Keadaan ini disebabkan oleh kerusakan sel-sel pengecap akibat radiasi. Untuk mengatasinya, makanan harus memiliki aroma dan cita rasa yang menutupi rasa hambar tsb. (asalkan tidak menggunakan bahan-bahan yang bisa mencederai mulut). Misalnya minyak permen, ekstrak vanili, rempah-rempah seperti kunyit, salam dll. Bentuk dan warna makanan juga sebaiknya yang bisa menimbulkan selera, demikian pula penyajiannya. Sebelum makan, pasien dapat berkumur dengan larutan campuran soda kue (1 sendok makan) dan air masak (sekitar 1 liter).


Karena adanya rasanya mual dan muntah, makan makanan yang baunya dapat menimbulkan perasaan mual harus dihindari. Makanan panas akan menimbulkan bau lebih merangsang daripada makanan dingin. Sebaiknya pasien makan sedikit demi sedikit, tetapi sering. Konsumsi cairan harus cukup untuk mencegah dehidrasi. Kalau perlu, dokter akan memberi obat antimuntah satu jam sebelum makan. Muntah-muntah berat yang mengakibatkan dehidrasi yang mengakibatkan dehidrasi memerlukan penggantian cairan dan elektrolit melalui infus.


Radiasi yang mengenai kelenjar liur dapat menurunkan produksi air liur. Akibatnya mulut kering (xerostmoia). Keadaan ini dapat diatasi dengan banyak minum cairan, seperti air kacang hijau, sari buah dll. Radiasi juga mengubah komposisi flora mulut, sehingga memperbesar risiko gigi keropos. Sebaiknya pasien meminta saran dari dokter gigi.


Lendir berlebihan di mulut dapat terjadi akibat perubahan komposisi air liur. Untuk mengatasinya, pasien dapat berkumur dengan campuran air dan soda kue. Makanan yang lengket seperti ketan, pindakas, keju, dodol, karamel, coklat dan permen lunak harus dihindari. Sebaiknya pasien di beri sari buah seperti air jeruk, air wortel, lemon tea dll. Susu skim dan susu kedelai dapat menggantikan susu biasa.


Peningkatan kepekaan dan inflamasi selaput lendir mulut dan kerongkongan dapat menimbulkan nyeri pada saat menelan, disarankan agar diberi makanan sedikit demi sedikit, tetapi sering dan tiap kali makan disediakan waktu yang cukup lama. Makanan lunak seperti havermout, bubur nasi, supermi dll. dapat pula diberikan. Sari buah jangan yang asam, agar tidak menambah rasa nyeri.


Kalau selera makan menurun, boleh saja mencoba minuman perangsang selera makan seperti sari temulawak.


Source: Majalah Intisari, no.325 - Agustus 1990

Selasa, 06 Desember 2011

Barisan Tanaman Penggempur Kanker (BAGIAN 2)

YANG sudah ada hanya hasil olahannya sebagai makanan kesehatan atau pelengkap berupa kaplet. Harganya sekitar Rp.200.000,- per botol berisi 60 kaplet.


Si tangguh dari Venezuela


Seperti halnya jamur maitake, daun tangguh juga tidak bisa efektif untuk semua jenis kanker. Yang pasti sejak digunakan pada tahun 1982 lebih dari 60% penderita kanker yang mencoba herb therapy dengan daun tanaman ini berhasil ditolong. Kebanyakan adalah penderita kanker prostat, dubur, dan alat pernafasan bagian atas. "Memang, tanaman obat ini tidak bisa digunakan untuk menolong penderita semua jenis kanker. Secara empiris, daun tangguh hanya efektif untuk ketiga jenis kanker itu," jelas dr. H. Sukarto, M.D. yang menggunakan ekstrak daun tangguh sebagai obat alternatif bila berbagai jenis pengobatan kedokteran Barat sudah tak menolong lagi.


Dokter penggemar aeromodelling dan pesawat swayasa ini memberi contoh penderita kanker dubur yang berhasil sembuh total berkat daun ini. Sebelum akhirnya mencoba ekstrak daun tangguh, pasien ini oleh dokter disarankan untuk menjalani salah satu di antara operasi, kemoterapi, atau radioterapi. Tapi, dia menolak semuanya. Sang dokter pun angkat tangan. Karena cara-cara medis sudah tak diterimanya, dr. Sukarto menyarankan untuk mencoba ekstrak daun tangguh. Setelah beberapa lama, secara medis kondisi pasien ini mengalami perbaikan berarti.


Teh Hijau
Sayangnya, sampai sekarang mekanisme penyembuhannya belum diketahui secara pasti. Bahan aktifnya pun, yang mampu melawan sel kanker, belum diketahui secara pasti. Diperkirakan, di dalam daun tangguh terdapat susunan interferon. Substansi ini mampu menyerang semua virus dan menghalangi pembiakkannya. Dengan adanya interferon, sel-sel lain juga terlindungi dari infeksi virus. Atas dasar inilah dr. Sukarto berkeyakinan, kanker tertentu bisa dibasmi dari tubuh penderitanya. Sebab, menurut dokter spesialis kedokteran penerbangan ini, ada teori yang menyatakan kanker bisa juga bisa disebabkan oleh virus.


Meskipun penggunaannya sudah berlangsung, penelitian mendalam terhadap daun tangguh memang belum dilakukan di Indonesia. "Untuk meneliti zat aktifnya diperlukan waktu sekitar 10 tahun dengan biaya tak kurang Rp. 2 miliar. Dari mana uang sebanyak itu?" tutur dr. Sukarto. Namun, di negeri asalnya Venezuela, penggunaan daun tangguh untuk tujuan pengobatan kanker  sudah lama dilakukan, dan secara empiris menunjukkan hasil yang baik. "Disini saya tinggal memanfaatkannya saja dengan sedikit motivasi," tambah purnawirawan TNI AU ini. Tentu saja setelah daun tersebut menjalani uji toksisitas untuk mengetahui beracun tidaknya.


Menurutnya, cara memanfaatkan daun tangguh bisa dengan berbagai jalan. Misalnya dengan meminum air rebusan atau seduhannya. Atau, dikeringkan, ditumbuk lalu diseduh seperti jamu. Namun, kalau mau praktis kini sudah dijual hasil ekstraknya di berbagai toko obat, apotek, atau pasar swalayan. Ekstrak daun tangguh 2,5% ini dikemas dalam botol dengan isi 30 ml. Harganya Rp. 7.500,- per botol. Dosisnya disesuaikan dengan kebutuhan. "Dosis ini didapatkan secara empiris, dicoba," tambah Sokarto. Namun, untuk keperluan pemeliharaan kesehatan atau pencegahan penyakit, pemakaiannya 1 sendok makan dalam segelas air, sirup, atau jus. Sehari cukup sekali.


Yang menunggu giliran


Tak jauh beda dengan jamur maitake dan daun tangguh, teh hijau secara empiris terbukti dapat mencegah kanker. Meski yang mampu di hadang itu terbatas pada kanker lambung dan kerongkongan. Ini berkat senyawa epigallotechin-galat dalam tanin daunnya.


Hasil penelitian terhadap penduduk Shizuoka yang gemar minum teh hijau menunjukkan, mereka ternyata lebih jarang terserang kanker lambung dibandingkan dengan yang tak biasa minum teh hijau. Sementara itu, dari penelitian dengan menggunakan tikus diketahui, tanin mampu melumpuhkan tumor tenggorokan.


Kalau jamur maitake, daun tangguh, dan teh hijau sudah dijual dalam bentuk kaplet, ekstrak, atau bahan seduhan, maka tapak doro masih menunggu giliran. Tanaman ini sampai sekarang belum banyak dilirik untuk dibudidayakan sebagai bahan makanan (minuman) kesehatan atau obat.


Padahal, selain indah dengan bunga merah dan putihnya, banyak orang menyatakan, secara empiris tanaman ini memiliki kemampuan sebagai obat, termasuk untuk kanker. Meskipun ada juga yang bilang, hanya tapak doro putih yang berkhasiat anti-kanker.


Data hasil penelitian klinis sampai sekarang memang belum ditemukan. Yang ada terbatas penelitian terhadap kandungannya. Dari penelitian itu diketahui, tapak doro mengandung senyawa alkaloid vinblastin/leukoblastin dan vincristine/leurocristine. Keduanya diduga bersifat antineoplastic atau dapat melawan sel kanker. Penelitian lain menunjukkan, daun, bunga, buah, dan batangnya juga mengandung alkaloid cabtharanthine. Zat ini sama dengan yang dikandung plasma sel kanker, sehingga bila masuk dalam tubuh, ia akan diserap plasma kanker dan akan mendesak atau menghilangkan inti kanker.


Memang, masih banyak lagi tanaman lain yang dari mulut ke mulut sering dipercaya sebagai "obat" kanker. Tapi untuk diterima sebagai obat, bukan "obat", perlu penelitian panjang. Sementara ini boleh-boleh saja orang memanfaatkannya dalam penyembuhan suatu penyakit. Pengobatan ini tentu saja masih bersifat alternatif atau pelengkap. "Yang penting lagi, pengobatannya berdasarkan motto MAREM," tutur dr. Sukarto. "MAREM" itu kependekan dari mudah, aman, rasional, efektif dan murah. Semuanya mesti dipenuhi. Biarpun mudah, aman, rasional, dan murah, kalau tidak efektif ya tidak ada gunanya," tambahnya. 


JAMUR MENARI DAN SI TANGGUH

JAMUR maitake tumbuh liar dalam hutan di timur Jepang, Eropa dan Amerika. Di Amerika Serikat, jamur ini disebut Hens on The Wood, karena orang sana melihatnya seperti induk ayam yang bertengger di kayu. Di Jepang jamur ini dinamai maitake, yang artinya "jamur menari". Nama ini muncul karena orang akan menari kegirangan bisa menemukannya. Jamur yang nikmat rasanya dan baik untuk kesehatan ini memang langka dan mahal harganya. Bahkan, di zaman feodal, harganya setara dengan perak. Wajar kalau kemudian orang tak mau menceritakan tempat menemukannya.

Jamur ini tumbuh pada pokok batang pohon kayu yang masih hidup atau sudah mati. Bentuknya bertingkat-tingkat membentuk bulatan sebesar bola basket dengan berat mencapai 10 kg.

Sayang, si raja jamur ini sangat sensitif terhadap kondisi lingkungan, sehingga sulit di budidayakan. Banyak ilmuwan dan petani mencoba menanamnya, tapi selalu gagal. Untunglah seorang petani. Yoshinibo Ordaira, tak pernah putus asa mencobanya sampai pada tahun 1979 ia berhasil. Dengan biaya AS $ 40 juta, ia pun membangun lahan budidaya. Kini produksi tak kurang dari 6.000 ton per tahun. Orang Jepang pun bisa menikmatinya sebagai makanan eksotik sehari-hari.

Sejak tahun 1980 berbagai penelitian ilmiah tentang manfaat maitake efektif untuk menolong penderita kanker, di samping juga membantu penderita diabetes dan darah tinggi.

Sementara itu, tanaman tangguh berupa perdu dengan tinggi mencapai 1 m. Baunya khas seperti bawang putih. Daunnya berbentuk elips dengan panjang 6 - 15 cm dan lebar 3 -5 cm. Bunganya tumbuh pada ketiak antara daun dan ranting, atau pada ujung ranting.

Tanaman tangguh berasal dari Venezuela. Meski begitu, dia juga bisa tumbuh di Argentina, Kuba, dan AS. Bahkan, tangguh juga berhasil dibudidayakan di Indonesia. Pembiakannya dengan biji.

Pada tahun 1982, daun tangguh mulai digunakan sebagai obat pelengkap. Tentu saja setelah menjalani uji toksisitas. "Karena tahu tidak bersifat racun, saya tidak takut mencobanya," tutur dr. Sukarto. Ternyata, secara empiris daun ini efektif mengatasi kanker prostat, dubur, dan alat pernapasan atas.

Source: Majalah Intisari, no.396 - Juli 1996

Barisan Tanaman Penggempur Kanker (BAGIAN 1)

Penyakit kanker sampai sekarang masih merupakan pembunuh peringkat atas bagi manusia. Celakanya, penyakit ini tak gampang didepak. Untunglah alam menyediakan beberapa tanaman yang dari hasil penelitian dan pengalaman, berpotensi menggempurnya.


MASAKO TATSUDA (46), sebut saja begitu, terbelalak kaget begitu dokter yang memeriksanya menyatakan dia menderita kanker payudara (intraductal carcinoma). Inti tumor ganasnya berdiameter 1,8 cm. Atas saran dokter, pada bulan April 1992 wanita ini menjalani operasi pengangkatan. Kemudian sejak itu sampai Februari 1994 dia menjalani kemoterapi ringan 5-FU dan ADM.


Ternyata, dua bulan kemudian kankernya muncul lagi dengan diameter inti 0,9 cm. Kali ini dia menolak tindakan operasi kedua. Namun Tatsuda melaksanakan saran untuk mencoba melawan penyakitnya dengan 100 mg fraksi-D (ekstrak jamur maitake) dan tablet yang berisi 5 g maitake setiap hari; enam bulan kemudian dosis fraksi-D-nya diturunkan menjadi 50 mg. Hasilnya, pada bulan Mei 1995 inti tumornya hilang.


Tatsuda mungkin hanyalah satu dari sekian banyak orang yang akhirnya mencoba herb therapy (pengobatan dengan tanaman) untuk memerangi penyakitnya. Pengobatan alternatif ini umumnya dipilih penderita bila sudah tak bersedia menerima cara-cara medis macam operasi pengangkatan tumor, kemoterapi, atau radio terapi dengan berbagai alasan. Atau, karena dokternya sendiri sudah angkat tangan.


Jamur Maitake
Kebetulan, pilihan Tatsuda jatuh pada ekstrak dan tablet jamur maitake (Grifola frondosa). Ternyata berhasil. Namun, tanaman "sakti" pengusir kanker bukan cuma jamur maitake yang sampai sekarang masih terbatas dibudidayakan di Jepang. Di Indonesia pun sudah ada tanaman musuh sel kanker yang telah berhasil dibudidayakan. Nama latinnya Pettiveria allicea. Karena nama Indonesianya belum ada, maka pada tanggal 10 April 1993 Presiden Soeharto memberi nama tanaman itu "tangguh".


Selain itu, berdasarkan pengalaman, tanaman tapak doro (Catharanthus roseus) dan teh hijau (Camelia sinensis) juga diakui mampu mengusir kanker. Bahkan, setelah diteliti di India, kulit pohon mangga pun ternyata mempunyai NII-78, zat aktif yang berpotensi melawan kanker. Pada percobaan dengan binatang menunjukkan khasiat luar biasa dalam mengurangi pertumbuhan tumor, meskipun dengan dosis ringan.


Dikombinasi dengan kemoterapi


Menurut ilmu pengobatan tradisional Cina, terdapat juga tiga cara pengobatan kanker dengan tanaman. Pertama penggunaan tanaman obat secara tunggal. Dalam hal ini tanaman bermanfaat untuk memperkuat daya tahan tubuh, mengganti darah, dan membersihkan racun tubuh.


Kedua, pemanfaatan tanaman obat sebagai tambahan atau pelengkap tindakan operasi. Penanganan kanker dengan pembedahan memang efektif asal reseksinya (pemotongannya) tepat. Tapi persentase pasien yang beruntung dengan tindakan operasi sangat kecil. Dalam banyak kasus, penyebaran tumor dengan metasfasis mengharuskan dokter melakukan reseksi radikal. Kalaupun tumornya telah diangkat pada tahap awal, kemungkinan kambuh masih tetap ada. Dari sudut pandang pengobatan tradisional Cina, Kanker memang dianggap bukan cuma penyakit lokal, dan penurunan daya tahan tubuh dianggap sebagai penyebab utamanya.


Ketiga, penggunaan tanaman bersamaan dengan kemoterapi dan atau radioterapi. Dalam hal ini pengobatan dengan tanaman dapat menurunkan keracunan dan efek sampingan kemoterapi dan radioterapi.


Sebagai tanaman yang berkhasiat, jamur maitake juga bisa dimanfaatkan dengan tiga cara tadi. Tentu saja hasilnya berbeda. Dari penelitian yang dilakukan di Jepang diketahui, penggunaannya bersama kemoterapi memberikan hasil terbaik.


Dr. Angela Bur-Madsen dari klinik di Shingle Springs, Kalifornia, seperti dikutip Dr. Iwan T. Budiarso, peneliti Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular, Balitbang Kesehatan, Depkes RI, dalam makalah seminar "Jamur Maitake, Dalam Penanggulangan Kanker dan HIV/AIDS" menyatakan, maitake sangat efektif untuk kanker payudara, paru-paru dan hati. Tetapi tak terlalu ampuh buat leukemia, kanker lambung, dan tulang. 


Hasil tersebut diketahui setelah dilakukan uji klinis terhadap 165 penderita kanker yang diberi ekstrak maitake (Fraksi-D) plus tablet maitake, dan ekstrak maitake (Fraksi-D) plus tablet maitake ditambah kemoterapi. Pada penelitian tersebut, 11 dari 15 penderita kanker payudara, 12 dari 18 pasien kanker paru-paru, dan 7 dari 15 pasien kanker hati mengalami perbaikan. Keluhan dan gejala kesakitan juga sangat berkurang. Apabila dikombinasikan dengan kemoterapi Mitomycin C, efektivitasnya pun meningkat 12 - 28%. "Efek sampingan kemoterapi juga dapat ditekan seringan mungkin apabila terapi tersebut dikombinasikan dengan ekstrak maitake," jelas Dr. Iwan.


Maitake membunuh sel kanker tidak secara langsung melainkan melalui mekanisme imunologis. Di dalam tubuh, Fraksi-D membantu imunitas seluler, dapat menghambat pertumbuhan tumor, mencegah penyebaran tumor, mencegah sel normal berkarsinogenesis, dan meningkatkan sensitivitas terhadap kemoterapi atau radioterapi. Di sini, senyawa polisakarida B 1-6 glukans yang terkandung dalam maitake sangat berperan. Jenis polisakarida ini lebih unggul dan lebih mudah di serap ketimbang B 1-3 glukans yang terdapat pada beberapa jamur pengusir kanker lainnya.


Menurut Prof. Hiroaki Nanba, Ph.D. dari Kobe Pharmaceutical University, Kobe, Jepang, senyawa B 1-6 glukans memacu dan meningkatkan efektifitas fungsi semua sel dalam sistem pertahanan tubuh, seperti makrofag, natural killer cells, CD4 Cells, interleukine-1, dan interleukine-2, lymphokines. Dengan sistem ini jaringan kanker dibunuh, dimusnahkan, dan disingkirkan, seperti halnya pada proses fisiologis pergantian sel tua oleh sel baru. Dengan begitu efek sampingan seperti yang terjadi pada kemoterapi tidak terjadi, di antaranya demam, pembengkakan kelenjar getah bening, malas makan, mual, sakit kepala, pusing, sering muntah, rambut rontok, dan kekurangan sel darah putih.


Di Jepang, jamur ini biasa dijadikan makanan sehari-hari dan merupakan bahan makanan populer di kalangan penggemar makrobiotik. Bahkan, beberapa rumah  makan disana menyajikan menu maitake. Sedangkan yang dalam bentuk segar dan kering bisa dibeli di beberapa pasar swalayan dan rumah obat Cina. Sayangnya, di Indonesia jamur ini belum bisa diperoleh.


Bersambung - Barisan TANAMAN Penggempur KANKER (BAGIAN 2)

Sabtu, 22 Oktober 2011

Cara Menghadapi Kanker Payudara

Sebaiknya, jangan dianggap sebagai momok. Jagalah pola hidup sehat untuk mencegahnya. Bagi yang sudah terkena, perlu dukungan moril.

LAPORAN WHO menyebutkan tahun 1989 saja angka penyakit ganas ini sudah bertambah 7 juta dalam setahun. Di Indonesia penderitanya pun tidak sedikit. Menurut perkiraan, setiap 100.000 penduduk terdapat 100 penderita kanker baru. Prevalensi jumlah penderitanya semakin bertambah seiring meningkatnya harapan hidup, kondisi sosial ekonomi yang semakin baik dan terjadinya perubahan penyakit menular atau infeksi ke arah penyakit degeneratif, dan neoplasma.

Di antara sekian puluh jenis kanker, kanker payudara menduduki urutan kedua (15,83%) di Indonesia setelah setelah kanker leher rahim (25,57%). Sebab itu, deteksi dan diagnosis kanker payudara secara dini sangat diharapkan agar pengobatan bisa dilakukan secara optimal dan 87% - 89% dapat disembuhkan.

Faktor penyebab

Beberapa penelitian menyebutkan, faktor lingkungan dan gaya hidup sehari-hari memungkinkan seseorang terkena penyakit ganas ini. Sebagai contoh, Ny. Ari, warga Jakarta berusia 40-an mengeluh payudaranya terasa sakit. Ketika diperiksa tampak bercak-bercak kebiruan dibeberapa bagian payudaranya. Ia mengaku lebam pada payudaranya akibat ulah seksual suaminya. Kejadian seperti itu sudah berulang kali terjadi pada dirinya, tapi yang terakhir ini disertai rasa sakit yang berkelanjutan. Setelah diperiksa ternyata tampak adanya gejala penyakit kanker pada payudara Ny. Ari.

Tentu saja contoh tadi bukan satu-satunya penyebab kanker payudara. Penelitan Doll R. dan Peto R. pada tahun 1981 mencatat, kanker payudara yang disebabkan oleh perilaku seksual pasangan yang kasar atau sadis hanya sekitar 7%. Kedua dokter ahli dari AS ini malah menyebutkan faktor makanan dan gizi merupakan penyebab utama (35%) disusul selanjutnya, rokok (30%) dan infeksi (10%). Ada lagi karena pekerjaan (4%), alkohol (3%), geofisik (3%), populasi (2%), penyalahgunaan obat, hasil industri, dan bajan tambahan makanan sekitar 1%.

Pakar kesehatan lainnya, Levine David dalam publikasinya tahun 1978, menambahkan bahwa faktor ekstrem yang berhubungan dengan status sosial ekonomi, jumlah kehamilan dan menopause buatan juga banyak mempengaruhi    risiko terkena kanker payudara.

Keluarga dengan tingkat sosio tinggi memang lebih banyak yang menderita kanker payudara. Sebab, dibandingkan dengan masyarakat kelas menengah ke bawah, konsumsi lemak mereka jauh lebih tinggi. Makanan yang serba enak biasanya mengandung lemak sampai 40% atau lebih dari total kalori. Padahal batas tertinggi lemak dalam makanan seharusnya 30%, bahkan sebaiknya tidak lebih dari 25% dari total kalori. Sebagai contoh, di Belanda, Denmark, Inggris, dan Amerika angka kematian karena kanker payudara lebih tinggi daripada di Thailand, Filipina, Indonesia, dan Meksiko.

Oleh karena itu sedapat mungkin hindari kegemukan, sebab timbulnya kanker payudara berhubungan erat dengan faktor kegemukan. Wanita dengan kondisi kegemukan 40% di atas berat badan ideal mempunyai risiko 55% terkena kanker payudara.

Kanker jenis ini sering kali juga dihubungkan dengan pemakaian kontrasepsi oral. Beberapa penelitian mengatakan kontrasepsi oral yang biasanya terdiri atas gabungan estrogen dan progesteron ini tidak menimbulkan risiko tinggi kanker payudara kalau diberikan pada wanita usia 20 - 30 tahun. Namun, bagi mereka yang sudah mengidap tumor jinak payudara, memang dapat menaikkan risiko sampai 10 kalinya. Apalagi kalau si wanita sudah berusia 35 tahun ke atas.

Dalam usaha melakukan deteksi dini serta pencegahan kanker payudara hendaknya kita melakukan kontrol berkala dengan bantuan alat pemeriksa seperti mamografi, USG, termografi, khususnya bagi wanita di atas usia 25 tahun yang mempunyai saudara sekandung menderita kanker payudara. Selain itu rajinlah memeriksa payudara sendiri.

Kita patut curiga terhadap setiap benjolan di payudara, apalagi kalau pada pemeriksaan mamografi terdapat bentuk bayangan di balik gambar tumor (accoustic shadow) dengan mikrokalsifikasi (bentuk tak teratur sebagai gambaran bintang). Tanda lain apabila terdapat kista yang mengeluarkan cairan berupa darah, puting susu mengeluarkan darah atau serosa dan secara klinis tidak jelas bahwa benjolan yang muncul berupa tumor jinak saja.

Pembedahan yang terbaik

Pengobatan kanker payudara penerapannya banyak bergantung pada stadium klinik penyakit. Caranya, mulai dari pembedahan, baik yang bersifat menyembuhkan maupun menghilangkan gejala penyakit. Pembedahan dapat berupa pengangkatan payudara (mastektomi) atau dengan bedah konservatif. Yakni hanya mengangkat tumor dan kelenjar getah bening regional saja. 


Setelah pembedahan, dilakukan penyinaran yang fungsinya menyembuhkan sekaligus menghilangkan gejala penyakit. Kemoterapi atau pengobatan antitumor yang biasanya dilakukan dengan infus atau suntik merupakan pengobatan penunjang bila sudah ada kelenjar getah bening regional yang terkena tumor (metastasis), disamping pengobatan hormonal yang berfungsi melenyapkan penyakit atau penambahan hormon. Ada kalanya penderita diberi pengobatan imunoterapi untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Pada penderita kanker payudara yang sudah lanjut, biasanya diberikan perawatan simptomatik untuk menanggulangi keluhan yang diderita.


REHABILITASI MASTEKTOMI

KALAU pada akhirnya mastektomi merupakan satu-satunya cara yang harus ditempuh. Sebaiknya harus bagaimana?? Mengingat operasi akan berdampak psikologis sepanjang sisa hidup si penderita, persiapan mental amat diperlukan. Apalagi masalah mental ini sangat bervariasi tergantung dari kepribadian pasien, usia, status perkawinan, kehidupan perkawinan serta nilai payudara itu bagi yang bersangkutan.

Pada umumnya bagi wanita di atas usia 60 tahun, konsekuensi psikologis ini tidak begitu menjadi masalah dibandingkan dengan penderita yang lebih muda. 

Rehabilitasi penderita terbagi atas 3 tahap yakni sebelum operasi, semasa operasi, dan setelah operasi.

Sebelum menjalani mastektomi penderita sebaiknya harus sudah yakin benar bahwa operasi ini adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan jiwanya. Memang, pada tahap kesadaran ini biasanya timbul rasa takut dan khawatir menjadi wanita tidak sempurna. Disini peranan dokter tidak hanya sebagai pelaku pengobatan medis, melainkan juga dituntut untuk membesarkan jiwa si pasien.

Sementara menunggu saat operasi pasien perlu mendapatkan latihan-latihan sbb:

1. Pernapasan; yakni latihan napas dalam (inspirasi dan ekspirasi dalam). Ini berguna untuk menghadapi ekspansi torak. Latihan berikutnya, sambil kedua tangan memegang perut, pasien menarik napas dalam, dan mengembuskan sekuat-kuatnya. Kemudian mengeluarkan napas sambil kedua tangan menekan diafragma (sekat rongga badan ke atas).

2. Batuk; latihan ini untuk berjaga-jaga kalau sehabis operasi sampai batuk. Tangan yang sehat memegang daerah luka operasi.

3. Gerak otot isometrik (tanpa gerakan sendi). Latihan otot lengan bawah dengan mengepalkan tangan kuat-kuat. Latihan otot lengan bawah, dengan melakukan fleksi lengan bawah sisi mastektomi dengan diberi tahanan.

4. Pencegahan edema (penimbunan cairan yang berlebihan dalam jaringan) lengan; sebelum operasi lengan sisi mastektomi mulai dipijat.

5. Latihan otot sendi bahu.

6. Mengukur lingkar lengan atas, bawah dan volume lengan.

7. Penawaran perlu tidaknya pemakaian protese payudara setelah mastektomi.

Peran dokter saat dilakukan pembedahan mastektomi tentu saja sangat besar, Pemasangan saluran untuk mencegah pengumpulan darah dan serum yang berlebihan serta penggunaan antibiotik sangat berguna untuk mencegah terjadinya komplikasi.

Setelah operasi selesai, pasien sangat membutuhkan penyesuaian psikologis. Disini peran suami atau orang yang paling dekat dengan sang pasien sangat penting. Alangkah baiknya kalau pasien didampingi seorang psikolog atau seseorang yang sudah melakukan mastektomi untuk ikut menguatkan jiwanya.

Pada hari-hari pertama segera dapat dilakukan latihan pernapasan. Untuk latihan sendi bahu sebaiknya ditunda sampai kira-kira satu minggu. Kekakuan sendi bahu biasanya dibantu dengan fisioterapi secara intensif atau adakalanya diberikan suntikan hydrocortison intraartikuler. Setelah luka sembuh, dapat dilakukan hydroterapi dengan memasukkan seluruh lengan sisi yang di mastektomi ke dalam pusaran air. Kemudian bisa disusul dengan aerobik ringan.

Latihan secara berkelompok khususnya dengan penderita yang hampir seumur disarankan agar dapat membangkitkan rasa saling menolong antarpenderita.

Pemasangan protese baik yang bersifat sementara atau permanen oleh dokter bedah plastik untuk mengembalikan rasa percaya diri. Di Indonesia pun bisa dibeli BH dengan protese sementara yang cukup baik kualitasnya. Sedangkan, protese permanen masih jarang dilakukan di Indonesia.


YANG PERLU DI WASPADAI

1. Usia di atas 30 tahun.

Anda mempunyai kemungkinan lebih besar terkena kanker payudara. Apalagi pada umur 50 tahun dan telah menopause, tingkat risikonya semakin tinggi.

2. Punya riwayat kanker payudara.

Kondisi ini menyebabkan Anda punya risiko untuk mendapatkan kanker pada payudara yang lain lebih besar (7%).

3. Usia 25 tahun dan mempunyai anggota keluarga semisal ibu, saudara perempuan sekandung pernah menderita kanker payudara.

4. Tidak menikah atau menikah tapi tidak pernah melahirkan.

5. Melahirkan anak pertama setelah usia 35 tahun.

6. Tidak pernah menyusui.

7. Mengalami trauma berulang kali pada payudara.

8. Menderita kerusakan atau kehilangan jaringan tubuh akibat trauma.

9. Mulai haid pada usia yang sangat muda.

10. Pernah mendapat radiasi pada payudara (pengobatan keloid).

11. Menderita kegemukan.

12. Pernah dioperasi pada payudara atau alat reproduksi.

13. Pernah mendapat terapi hormonal untuk mendapat anak, dalam waktu yang lama.

14. Mengalami berbagai macam beban mental (stress) hebat.

KENDALI DIRI

1. Kalau Anda berisiko tinggi, sebaiknya jangan hamil diatas usia 35 tahun.

2. Mereka yang pernah dioperasi tumor payudara yang jinak, sedapat mungkin menghindari pemakaian kontrasepsi oral.

3. Tidak dianjurkan memakai bahan atau obat yang mengandung hormon estrogen untuk kepentingan kosmetik atau pelangsing tubuh.

4. Hindari makanan berlemak dan rokok. Sebaliknya, konsumsi sayuran dan buah-buahan diperbanyak.

5. Kurangi makanan yang diasinkan atau diasap.

6. Hindari minuman beralkohol.

7. Berolahraga dengan teratur.

Source: Majalah Intisari, no.369 - April 1994

Minggu, 28 Agustus 2011

Meredam Kanker Dengan Kunyit Putih

KENDATI masih perlu penelitian lebih mendalam, kunyit putih atau temu putih (Curcuma zeodaria) diyakini banyak orang mampu meredam pertumbuhan sel kanker. Beberapa kasus dan sejumlah literatur memang membenarkannya. Kalau Anda berminat mengkonsumsi, jangan terkecoh pada kunyit lain yang bentuknya mirip namun khasiatnya melawan sel kanker tak sehebat kunyit putih.

HARIAN Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, pada edisi 28 November 1998 memberitakan, seorang dokter yang menderita kanker, pernah menjalani operasi namun kambuh dan bahkan menyebar, sembuh setelah mengkonsumsi kunir/kunyit putih.



Seperti apakah bentuk dan ciri kunyit putih? Banyak kesalahkaprahan soal ini. Banyak pula orang yang terkecoh karena bentuknya mirip kunyit putih, namun ternyata sekedar turunannya dalam kerabat temu-temuan (Zingiberaceae). Belum lagi kesulitan yang disebabkan oleh penyebutannya dalam istilah lokal.

Kunyit Putih
Wied Harry Apriadji dalam majalah Nirmala edisi Juli 2000 mengingatkan, orang bisa terkecoh menyangka temu lawak (Curcuma xanthorrhiza) sebagai kunyit putih. 

Soalnya dibeberapa daerah temu lawak memang dinamakan kunyit putih. Dalam bahasa Sunda disebut koneng gede, dan oleh orang Madura disebut temu lobak. Bentuk rimpangnya mirip kunyit (Curcuma domestica atau Curcuma longa), tapi lebih besar. Kalau kunyit warnanya jingga-jingga, temu lawak, kuning muda, bahkan pucat keputihan jika masih muda. Setelah dirajang dan dikeringkan, warna kuningnya pun makin pudar.


Jenis rimpang lain yang sering rancu disebut kunyit putih adalah temu mangga (Curcuma Mangga). Secara kebetulan dibeberapa daerah di Indonesia sebutannya pun kunyit putih atau temu putih. Sering dijadikan obat turun panas, gatal-gatal, sesak napas, dan susut perut, temu mangga banyak dipakai sebagai ramuan "peringkas" vagina setelah masa persalinan.

Masih ada kerabat dekat kencur (Kaempferia galanga) yang sering dianggap sebagai kunyit putih, yakni kunci pepet (Kaempferia angustifolia) yang biasa dijadikan ramuan antidiare serta antidisentri, dan kunci pepet tulen (Kaempferia rotunda) yang sering dipakai untuk mengobati radang, meredam demam dan meningkatkan nafsu makan, juga sebagai ramuan jamu perempuan yang disebut "temu putri".


Namanya mirip, padahal minyak kayu putih

Sekarang mari kita luruskan istilah yang terlanjur salah kaprah. Jamu yang kita bicarakan ini, menurut literatur dan buku tentang tanaman obat adalah temu mangga (Curcuma mangga) dan variannya temu putih (Curcuma zeodaria). Karena warna kulitnya keputih-putihan, maka disebut kunir putih atau kunyit putih.


Di kalangan perjamuan atau para penjual jamu, yang biasa disebut kunir putih adalah kunir gombyok (nama bukunya: "kunci pepet"). Jamu ini sudah lama dikenal dan dipakai untuk menyembuhkan gangguan perut. Kunir gombyok ini kulitnya juga berwarna keputih-putihan, tetapi pada akarnya terdapat bintil-bintil seperti kentang kecil. Bintil-bintil itu berkerumun, sehingga dinamai kunir gombyok.

Di pasaran kini beredar "kunir putih" yang memakai nama Latin Curcuma alba. Sebenarnya alba (=putih) hanya dipakai untuk penamaan minyak kayu putih, yaitu Eucalyptus alba.

Ciri-ciri temu mangga atau temu putih yang bermanfaat dalam memerangi sel kanker ialah: Warna kulitnya keputih-putihan, warna "daging" atau isinya krem. Ia memiliki aroma seperti mangga kweni, harum, dan rasanya tidak pahit. Di masyarakat telah diproduksi temu mangga atau temu putih dalam bentu bubuk atau tepung. Warnanya krem, dan aromanya mangga.

Menurut Dr. Retno S. Sudibyo, peneliti pada PAU Bioteknologi UGM, khasiat kunyit sebenarnya bisa diperoleh dengan memakan umbinya yang masih segar. Tetapi jangan terlalu banyak, karena bagi yang tidak tahan bisa terlanda diare.

Anti-oksidan dan anti-inflamasi

Kunyit mangga atau temu mangga, alias kunir putih (Curcuma mangga), sebagai anggota keluarga besar Curcuma, mengandung zat kurkumin mempunyai khasiat: anti-oksidan dan anti-inflamasi. Bahkan khasiat anti-oksidannya lebih kuat daripada hidrocortison kimia/sintetis.

Menurut laporan American Institute of Cancer Report yang dimuat The New York Times akhir juli 1999, kanker dapat dicegah dengan kunyit. Zat antioksidan pada kunyit berfungsi mencegah kerusakan asam deoksiribonukleat (senyawa yang menyusun gen), karena kerusakan gen adalah salah satu penyebab terjadinya kanker.

Sedangkan kurkumin bersama ferulyl dan 4-hydroxy-cinnamoyl adalah senyawa anti-inflamasi yang terdapat rimpang kunyit.

Kesimpulannya, kedua kandungan kurkumin tersebut sangat berperan dalam memerangi kanker yaitu mencegah kerusakan gen sekaligus mencegah peradangan (inflamasi), karena pada penyakit kanker selalu terjadi inflamasi.



Penetrasi ke dalam sel kanker

Hasil penelitian Dr. Retno S. Sudibyo yang dimuat dalam Tempo 30 Mei 1999 menyebutkan bahwa Curcuma mangga mengandung "protein toksis", sejenis Ribosom in Activating Protein (R.I.P.). Inilah protein yang mampu menonaktifkan ribosom, sehingga sintesa protein di dalam sel terganggu. Protein tersebut lebih mudah melakukan penetrasi kedalam sel kanker daripada sel sehat.



Akibatnya, sel kanker tidak berkembang biak. Karena sel kanker memiliki batas umur, maka lama-kelamaan akan habis dengan sendirinya.


Dari uraian tersebut terlihat tiga manfaat dari Curcuma mangga dalam memerangi kanker, yaitu:

1. R.I.P. - memblokade pengembangbiakan sel kanker, sehingga lama-lama akan habis.



2. Antioksidan pada kurkumin mencegah kerusakan gen, di mana kerusakan gen adalah salah satu penyebab timbulnya kanker.


3. Zat anti-inflamasi pada kurkumin bermanfaat menghilangkan peradangan, padahal kanker selalu disertai peradangan.

Karena Curcuma mangga termasuk bahan alami, maka pemakaian jangka panjang sekalipun tetap aman bagi manusia.


Pencegahan tetap lebih baik

Tidak semua penyakit kanker mudah dideteksi sejak dini. Malah ada beberapa kasus yang baru diketahui setelah menginjak stadium lanjut.

Dokter Sjahrul Sjamsuddin Sp. O.G. dari FKUI/RSCM pernah menguraikan, kanker ovarium merupakan pembunuh tersembunyi (silent killer), dengan angka survival hanya 30%. Dari data RSCM bahwa terdapat 10 kasus kanker ovarium setiap bulan. Dikatakan juga, sekitar 70% dari kasus kanker itu diketahui ketika telah menyebar (Kompas, 2 Agustus 2000).

Seorang ahli lain, dr. Samsuridjal, menerangkan bahwa di kalangan pria, umumnya pada usia 45 tahun, terjadi pembesaran prostat secara perlahan-lahan.


Dalam literatur tentang gangguan pembesaran prostat disebutkan adanya dua kemungkinan, yaitu pembesaran sel (hipertropi) dan peningkatan jumlah sel (hiperplasia). Salah satu dari keduanya dapat berkembang menjadi kanker prostat (Kompas 26 Desember 1999 dan Senior 07/19 Agustus 1999).


Kita semua mengetahui bahwa obat kanker adalah untuk mengobati penderita kanker. Bukan untuk orang sehat. Curcuma mangga bukanlah obat, tetapi bahan alami yang berkhasiat untuk menghambat laju pengembangbiakan sel kanker, sekaligus bermanfaat untuk mencegah kerusakan gen - salah satu penyebab timbulnya kanker.


Sifat dari kandungan Curcuma mangga, yaitu R.I.P. adalah menghambat laju pengembangbiakan sel kanker. Sehingga efek terapinya bersifat tidak langsung, yaitu menunggu matinya sel kanker itu sendiri.


Kesimpulannya, efek terapi dengan bahan alamiah ini memerlukan waktu yang relatif panjang. Hasil kemajuan penderita juga relatif pelan, yang berarti memerlukan kesabaran. Namun, kenyataan yang mendukung, yaitu bahwa Curcuma mangga adalah bahan alami, sehingga aman bagi penderita.


Source: Majalah Intisari, No.448 - November 2000

GET UPDATE VIA EMAIL
Jika Anda Menyukai Artikel di Blog Ini, Silahkan Berlangganan via RSS. Isi Alamat Email Anda di Bawah Ini:

MAJALAH BOBO 1980-an

Tambahkan Kami di Facebook

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes