Tampilkan postingan dengan label Kedokteran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kedokteran. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Mei 2012

Atasi Anemia Dengan Kacang Hijau

COBA berhentilah sejenak dari aktivitas saat ini. Ingat-ingat, apakah Anda belakangan merasakan cepat capek dan lemah. Kalau tidak, silahkan lanjutkan bekerja. Sebaliknya, kalau ya, mungkin Anda menderita anemia. Anda boleh beristirahat sejenak untuk memikirkan penanganannya. Jangan anggap enteng kondisi ini, karena keadaan tersebut dapat menjadi penyebab masalah serius.

Di negara berkembang seperti negara kita ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan gangguan anemia, di antaranya malaria, infeksi cacing tambang, dan kekurangan gizi. Anemia dapat juga terjadi akibat kehilangan darah saat menjalani operasi, mengidap penyakit seperti kanker, gagal ginjal, HIV/AIDS, atau akibat kemoterapi.

Anemia muncul sebagai akibat turunnya jumlah sel darah merah di bawah normal. Secara spesifik dapat disebabkan oleh defisiensi zat besi (Fe), asam folat, dan/atau vitamin B12. Zat besi sendiri merupakan komponen penting hemoglobin, yang sangat berperan sebagai pembawa utama oksigen ke seluruh tubuh. Maka penurunan hemoglobin darah akan menyebabkan tubuh harus bekerja lebih keras dalam mendapatkan oksigen.


Hal itulah yang menyebabkan tubuh terasa lemah dan lelah. Gejala lain anemia berupa berkurangnya nafsu makan, mata berkunang-kunang, dan tangan sering kesemutan bila berdiri sehabis jongkok.


Data global menunjukkan, sekitar 20% penduduk dunia atau sekitar 1,5 miliar orang menderita anemia karena defisiensi besi. Dari hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995, 50,9% dari kelompok wanita hamil menderita anemia. Pada berbagai kelompok usia pengidap anemia, angka tersebut berkisar 40 - 60%.


MENCARI PENYEBABNYA


Untuk menangani anemia perlu terlebih dahulu ditentukan penyebab spesifiknya. Meningkatkan asupan gizi merupakan cara utama karena tubuh hanya mempunyai sedikit besi, vitamin B12, atau asam folat pada sistem tubuh kita. Penggunaan vitamin yang mengandung besi disarankan di bawah pengawasan dokter, karena konsumsi zat besi dalam jumlah besar dapat menimbulkan efek sampingan yang justru akan merusak tubuh.


Bila anemia disebabkan oleh hilangnya darah, misalnya perdarahan, maka penanganannya dengan pemberian hemoglobin. Sedangkan untuk menangani anemia yang berhubungan dengan penyakit kanker, ginjal, hepatitis ataupun HIV/AIDS, maka dilakukan pemberian erythropoietin, yaitu senyawa sintetik dari hormon alam yang dapat menstimulasi produksi sel darah. Transfusi darah dilakukan jika jumlah sel darah merah berada di bawah batas toleransi.


DALAM MAKANAN SEHARI-HARI


Kandungan Fe sebenarnya dapat cukup banyak ditemukan dalam makanan sehari-hari. Sejumlah makanan yang mengandung Fe dalam kadar tinggi - lebih dari 5 mg/100g - di antaranya adalah hati, jantung, kuning telur, ragi, kerang, kacang-kacangan, dan beberapa jenis buah. Contoh buah tersebut adalah jambu biji, karena mengandung vitamin B1, vitamin C, dan zat besi.


Selain makanan sehari-hari tersebut, ada beberapa tanaman obat yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi anemia. Tanaman tersebut terutama yang mengandung vitamin B12, misalnya jagung,bunga matahari, kedelai, dan kacang tanah.


Dari warisan nenek moyang kita punya beberapa tanaman yang digunakan secara empiris untuk menangani anemia. Tanaman itu adalah bayam duri, tapak liman, lempuyang wangi, daun kacang panjang, dan kacang hijau. Selain mudah didapat, pengolahan bahan-bahan tersebut cukup sederhana.


MENAIKKAN HB DAN ERITROSIT


Bayam duri (Amaranthus spinosus L.) merupakan tanaman terna berumur setahun. Sering ditemukan tumbuh liar. Tumbuhan ini berbatang berduri. Daunnya bulat telur memanjang dengan ujung dan pangkal runcing dan tersusun menyebar di sekeliling batang.


Dalam bayam duri banyak terkandung zat besi, garam fosfat, vitamin A, C, dan K. Kandungan lainnya, amarantin, kalium nitrat dan piridoksin.


Untuk memanfaatkannya dalam mengatasi anemia diperlukan sebanyak setengah genggam daun bayam duri. Cuci bersih, lalu giling halus. Selanjutnya, tambahkan satu kuning telur ayam dan satu sendok makan madu. Aduk campuran itu hingga rata. Ramuan tersebut untuk sekali minum dilakukan dua kali sehari.


Pada penelitian yang dilakukan menggunakan kelinci jantan yang dibuat anemia, pemberian infus herba bayam duri selama 16 hari berturut-turut, menaikkan jumlah eritrosit (sel darah merah) dan kadar Hb setiap empat hari selama masa percobaan.


Tapak liman (Elephantopus scaber) juga bisa dipilih untuk mengatasi anemia. Ia termasuk tanaman semak semusim. Daunnya tunggal berbentuk jorong dengan ujung bulat dan tepinya bergerigi. Permukaannya kasap dan berbulu. Daun tersebut memiliki panjang 15 - 25 cm dan lebar 5 -7 cm. Tumbuhan ini antara lain mengandung saponin, flavonoid, dan polifenol.


Sebagai tanaman obat, tapak liman dapat dipergunakan seutuhnya. Caranya, ambil tiga batang, dicuci, lalu direbus dengan air bersih sebanyak tiga gelas minum sampai airnya kira-kira tinggal tiga perempatnya. Sesudah dingin disaring, lalu ditambahkan madu secukupnya. Ramuan ini pun untuk sekali minum. Dalam sehari dianjurkan minum dua kali.


Apabila hendak menggunakan akarnya, maka jumlah yang dipakai sebanyak seperempat genggam. Cuci bersih, lalu giling halus, remas, campur dengan satu sendok makan madu murni dan dua sendok teh air jeruk nipis. Akhirnya peras dan saring. Ramuan ini untuk sekali minum dan dalam sehari sebaiknya minum dua kali.


Hasil penelitian penetapan kandungan zat besi pada akar dan daun tanaman tapak liman Edi Junirianto menunjukkan, kadar zat besi dalam akar sebesar 45,4 mg% dan pada daun 30,2%.


Pilihan lainnya, lempuyang wangi (Zingiber aromaticum). Meski sering ditanam di pekarangan sebagai tumbuhan obat, lempuyang wangi sering pula ditemukan tumbuh liar di hutan-hutan jati. Tanaman ini berbatang basah tidak berkayu. Tingginya bisa sampai 1,80 m. Daunnya panjang. Bunganya bulir, duduk pada ketiak daun pelindung. Bagian tanaman yang berkhasiat adalah rimpangnya.


Untuk mengobati anemia diperlukan sebanyak tiga perempat jari rimpang lempuyang wangi. Setelah dicuci dan dipotong seperlunya, rebus dengan air bersih sebanyak 4,5 gelas minum hingga tinggal kira-kira setengahnya. Sesudah dingin dapat disaring dan ditambahkan madu seperlunya. Ramuan ini juga untuk sekali minum, dilakukan sebanyak dua kali sehari.


Hasil penelitian Pudjiastuti pada kelinci yang dibuat anemia menunjukkan, ada peningkatan kadar Hb dan jumlah eritrosit setelah kelinci diberi infus rimpang lempuyang wangi selama 16 hari.


DILALAP DAN DIREBUS


Bahan lain yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi anemia adalah daun kacang panjang (Vigna sinensis). Batangnya memanjat dengan cara melilit pada penopangnya dan bisa mencapai ketinggian hingga 4 m. Daunnya termasuk jenis majemuk.


Untuk mengusir derita anemia, diperlukan setengah genggam daun kacang panjang, dicuci bersih lalu diasapkan sebentar. Tak perlu diolah yang macam-macam, cukup dimakan sebagai urap pada waktu makan. Sebaiknya, dikonsumsi dua kali sehari.


Yang termasuk mudah didapat tentu saja kacang hijau (Phaseolus radiatus L.). Tumbuhan kekacangan ini termasuk perdu berbatang basah dengan cabang tegak. Daunnya berbentuk segitiga menyirip. Sedangkan bungannya berbentuk kupu-kupu dan berwarna kuning kehijauan atau kuning pucat. Dari bunga itulah terbentuk polongan yang berisi 10-15 biji kacang hijau.


Untuk menyembuhkan anemia dibutuhkan sebanyak satu cangkir kacang hijau. Setelah dicuci, campur dengan dua gelas minum air bersih, rebus hingga tersisa sekitar tiga per empatnya. Rebusan yang sudah menjadi suam-suam kuku pun siap diminum. Rebusan untuk sekali minum, dilakukan dua kali sehari. Kacang hijau mengandung vitamin B1,B2, dan niacin.


Nah, sekarang silahkan beraktivitas. Setelah beres, segeralah berburu bahan obat di atas. Bereskan segala derita akibat anemia. Toh, bahan-bahannya relatif mudah didapat.


Source: Majalah Intisari, no.480 - Juli 2003

Kamis, 10 Mei 2012

Cara Tepat Minum Oralit

DIARE aspesifik merupakan penyakit yang sangat sering terjadi di Indonesia, terutama bila dibandingkan dengan negara maju. Penyebabnya antara lain sambal atau makanan lain yang merangsang, virus, toksin kuman stafilokokus dalam makanan basi, intoleransi terhadap susu, dsb. Artikel ini tidak mempersoalkan diare spesifik yang disebabkan oleh amuba, kuman disentri, atau radang usus yang memerlukan pengobatan khusus.

Boleh dikata hampir semua orang di Indonesia pernah mengalami diare aspesifik, yang biasanya berhenti sendiri tanpa pengobatan. Namun, diare jenis ini juga dapat menjadi kronis, malah kadang-kadang menimbulkan komplikasi berat bila tidak ditangani dengan benar.

Diare yang terjadi hanya beberapa kali sehari dan berhenti dalam 1-2 hari tidak memerlukan penanganan khusus. Tetapi bila defekasi (buang air besar) sering, sampai 8 - 15 kali sehari, disertai perut mules, feses cair dan banyak, maka kita perlu waspada. Bahaya terbesar ialah kehilangan cairan tubuh dan garam, terutama natrium dan kalium, apalagi bila terjadi berhari-hari. Pada orang tua dan bayi, kehilangan cairan tubuh mudah berakhir dengan dehidrasi, bahkan tidak jarang, kematian. Tapi, peristiwa seekstrem itu sebenarnya mudah dicegah. Bukankah diare sebenarnya mudah diobati?

Menurut WHO, pengobatan dengan oralit merupakan penemuan terbesar zaman ini. Sayangnya, banyak dokter dan pasien tidak sadar untuk memakai obat sederhana ini sejak awal. Agaknya, karena oralit dipercaya tidak langsung dapat dirasakan manfaatnya untuk menghentikan diare, malah dapat menginduksi muntah. Padahal semua ini terjadi karena baik WHO, UNICEF, maupun Departemen Kesehatan belum cukup mempublikasikan cara pemakaian oralit dengan benar.

Umumnya, yang dilakukan orang adalah mencampur satu sachet oralit dalam segelas (200 cc) air lalu diteguk sekaligus. Sering terjadi, penderita kemudian muntah dan merasa akan buang air besar lagi. Mengapa terjadi demikian? Karena cara minum oralit seperti itu keliru.

Yang benar, larutan oralit diteguk sedikit demi sedikit, 2 - 3 teguk lalu berhenti tiga menit. Dengan demikian kita memberi kesempatan oralit diserap oleh usus untuk menggantikan garam dan cairan yang hilang dalam feses. Prosedur ini harus di ulang terus-menerus sampai satu gelas habis. Bila diare hebat masih berlanjut, minum oralit harus diteruskan sampai beberapa bungkus atau gelas (3 - 8 ) sehari. Dengan cara minum yang benar, oralit biasanya akan menghentikan diare dengan cepat dan efisien.

Pengobatan lain biasanya tidak diperlukan. Menghentikan diare secara artifisial dengan obat yang mengandung loperamid tidak dianjurkan karena ia bekerja seperti morfin atau kodein, yaitu menghentikan periltasis usus, sambil membiarkan isi usus yang kotor mengamuk di dalamnya. Hal ini dapat menimbulkan mules yang luar biasa; pada bayi atau orang tua bisa amat berbahaya. Oleh karena itu pula, obat ini bukan termasuk obat bebas. Pemakaiannya harus atas pengawasan dokter (kenyataannya, konsumen sering dapat membelinya secara bebas). Lebih lanjut perlu diingat, pada dasarnya diare merupakan mekanisme tubuh yang alamiah untuk mengeluarkan isi usus yang "busuk". Bila usus sudah bersih, diare akan berhenti sendiri.


Menambahkan obat yang mengandung garam bismuth (misalnya bismuth salisilat atau karbonat), attapulgit, atau kaolin boleh juga, asalkan jangan berlebihan. Garam bismuth juga berguna untuk menghilangkan kembung yang sering menyertai diare. Antibiotik umumnya tidak perlu diberikan karena mubazir dan dapat sering memperpanjang masa diare.


Selain pemakaian obat, diet perlu diatur. Hentikanlah sementara minum susu dan santan, makan sayur atau buah terlalu banyak, dan terutama sambal tidak boleh sedikit pun.


Dengan penanganan diare seperti di atas, percayakah Anda bahwa lebih dari separuh kasus diare aspesifik di Indonesia akan dapat ditangani sendiri oleh masyarakat dengan cara murah dan efektif.


Source: Majalah Intisari, no.440 - Maret 2000

Sabtu, 07 April 2012

Memperbaiki Pola Makan Mencegah Kanker

Upaya pencegahan penyakit kanker semakin diperhatikan. Perilaku hidup merupakan salah satu penyebab utama timbulnya kanker, di luar faktor keturunan, lingkungan, dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Faktor perilaku hidup itu terutama menyangkut pola makan sehari-hari. Dr. Elvina Karyadi, M.Sc., seorang ahli gizi, mengajak kita memahami pola makan yang baik yang dapat mencegah kanker tertentu.


PARA AHLI belakangan mengidentifikasikan bahwa 80 - 90% dari berbagai bentuk kanker berkaitan erat dengan makanan yang sehari-hari kita konsumsi.


Kanker payudara dan prostat diduga karena mengkonsumsi lemak yang terlalu banyak alkohol juga disebut-sebut sebagai biang keladi mencuatnya kanker payudara.


Sejumlah studi epidemiologi membuktikan, munculnya penyakit kanker pada saluran pencernaan erat hubungannya dengan berbagai paparan dari jenis makanan tertentu. Sedangkan kanker tenggorokan (esofagus) berkaitan dengan tingginya konsumsi alkohol dan bisa juga karena kebiasaan merokok. Kanker lambung dihubungkan juga dengan tingginya konsumsi makanan pengawet yang berkadar garam tinggi. Sedangkan kanker kolon (usus besar) dan rektum disebabkan oleh tingginya konsumsi lemak dan minuman beralkohol (terutama bir).


Kanker hati diduga akibat pencemaran makanan oleh aflatoksin dan juga konsumsi alkohol yang tinggi. Beberapa ahli berpendapat, infeksi virus hepatitis B juga merupakan penyebab timbulnya kanker hati. Sementara itu kanker paru-paru dan kandung kencing terutama disebabkan oleh paparan tembakau (rokok) serta beberapa zat kimia dari berbagai cemaran industri.


Di samping zat-zat yang merugikan dalam kandungan gizi makanan tertentu, terdapat pula zat-zat gizi yang terkenal sebagai zat antikarsinogen, yaitu zat yang bersifat protektif (melindungi seseorang yang mengkonsumsinya dari timbulnya kanker). Termasuk golongan ini terutama sayur-saryuran dan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin A, betakaroten, vitamin C, dan vitamin E. Juga zat gizi lain yang saat ini terkenal berpotensi mencegah penyakit kanker seperti selenium (Se), asam folat, niasin (vitamin B3), vitamin D, seng (zinc), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg).


Serat yang merupakan bagian dari pangan nabati yang tidak dapat dicerna oleh tubuh juga berperan penting dalam pemeliharaan kesehatan tubuh dan dapat mencegah timbulnya kanker kolon. Fungsi serat itu penting karena dapat menarik air dari sekitar pembuluh darah sehingga melunakkan faeses dan mendorong pengeluaran yang efisien melalui usus. Sumber makanan yang mengandung serat adalah biji-bijian, kulit dan daging, buah-buahan serta sayuran seperti seledri, kol, kembang kol, bayam dll.


Antioksidan merangsang kekebalan


Betakaroten, vitamin C, vitamin E, dan selenium dikenal sebagai zat antioksidan yang dapat merangsang sistem imun tubuh untuk melawan radikal bebas yang membentuk karsinogen (substansi yang dapat menimbulkan kanker). Mekanisme antioksidan dalam menghambat terjadinya kanker ini termasuk mencegah pembentukan karsinogen dan menghalangi rusaknya sel normal lainnya.


Pada Percobaan terhadap binatang terbukti, antioksidan menghambat kerusakan kromosom, tahap promosi tumor, transformasi sel, dan rangsangan terbentuknya kanker secara kimia atau radiasi.


Betakaroten banyak terdapat pada sayuran berwarna kuning seperti wortel, sedangkan vitamin C banyak dijumpai pada buah-buahan macam jeruk, jambu biji, dll. Vitamin E banyak terdapat pada sereal, minyak nabati, jagung, sayuran berdaun hijau, dan buah-buahan. Selenium terdapat pada daging, kerang, sereal, dan produk ternak.


Menurut beberapa penelitian, wanita penderita kanker serviks (mulut rahim) kadar asam folat dalam darahnya menurun. Hal ini tidak selalu berarti bahwa kadar asam folat yang rendah mencetuskan atau menyebabkan penyakit kanker. Dengan suplementasi asam folat, perubahan abnormal sel-sel di mulut rahim (cervical dysplasia) yang bisa berkembang menjadi kanker mulut rahim, dapat dicegah. Asam folat ini banyak terdapat pada sayuran hijau (brokoli, bayam, asparagus), biji-bijian, hati, kacang polong, buncis.


Suplementasi vitamin B3 atau niasin dilaporkan juga dapat mencegah kanker. Vitamin ini biasanya diberikan pula pada penderita kanker yang sedang menjalani kemoterapi itu sendiri. Penelitian Popov bahkan menyatakan, pemberian kombinasi niasin dan aspirin pada penderita kanker kandung kemih ternyata menurungkan angka kekambuhan dan meningkatkan perpanjangan waktu hidup penderita kanker. Niasin banyak terkandung daging sapi, ayam, kacang-kacangan, ikan, daging tak berlemak, telur, dan alpukat.


Sedangkan penelitian ahli lain, Garland dkk. dan Colsion dkk. menunjukkan, suplementasi vitamin D dalam bentuk aktifnya (1,25-dihidroksi) dapat menghambat multiplikasi (pelipatgandaan) sel kanker. Semakin tinggi vitamin D dalam darah (dalam bentuk 25-hidroksi vitamin D), semakin rendah risiko terjadinya kanker kolon. Vitamin ini banyak dijumpai pada mentega, susu, kuning telur, hati, beras, dan ikan.


Seng mencegah kanker


Kalsium berperan dalam proses proliferasi (perkembangbiakan) sel pada lapisan mukosa kolong manusia. Karena itu masukan kalsium yang cukup tinggi dapat mengurangi risiko terjadinya kanker kolon. Studi yang pernah dilakukan oleh seorang peneliti Rusia menunjukkan, suplementasi kalsium yang diberikan kepada penderita tumor tulang dapat meningkatkan efektivitas pengobatan kanker kolon. Studi yang pernah dilakukan oleh seorang peneliti Rusia menunjukkan, suplementasi kalsium yang diberikan kepada penderita tumor tulang dapat meningkatkan efektivitas pengobatan kanker dengan terapi radiasi. Kalsium banyak terdapat pada susu, yoghurt, keju, bayam, dan brokoli.


Penelitian yang pernah dilakukan pada hewan percobaan menunjukkan, kekurangan magnesium pada diet hewan ini dapat meningkatkan perkembangan terjadinya kanker tenggorokan dan kanker kulit luar. Ditemukan bahwa seseorang yang menderita kanker tenggorokan memiliki kadar seng yang rendah dalam darahnya. Namun hal ini masih belum diketahui apakah kekurangan seng merupakan sebab atau akibat dari kanker ini.


Menurut Garafalo, seorang ahli lain, dalam tindakan pembedahan terhadap kanker dianjurkan agar berhati-hati sebab bisa memperparah defisiensi seng, bahkan sampai pada tingkat yang permanen. Apalagi bisa pasien sudah sangat rendah kadar seng dalam serumnya sebelum operasi.


Dalam kasus kanker prostat pada pria juga ditemukan kadar seng yang rendah dalam kelenjar prostat dan terjadi sekresi kelenjar prostat itu sendiri. Sehingga para ahli juga beranggapan seng ini merupakan proteksi dalam melawan penyakit kanker prostat. Makanan sehari-hari yang banyak mengandung seng dapat ditemukan misalnya pada makanan berasal dari hewan seperti daging ayam, sapi, telur dan juga pada biji-bijian, roti, susu dan produk olahannya.


Belakangan dikenal pula beberapa substansi tertentu yang bermanfaat mencegah kanker seperti alkilgliserol yang banyak terdapat pada minyak hati ikan hiu, koenzim Q10, asam butirat, tulang rawan faktor antiangiogenesis (dari ikan hiu) yang berfungsi mencegah pembentukan darah baru dalam penyebaran sel kanker. Juga omega-3 dari minyak ikan, omega-6 serta beberapa ekstrak tumbuh-tumbuhan seperti bromelain berasal dari batang pohon nanas, bawang putih (Allium sativum), bawang bombay (Allium cepa) dan substansi lentinan berasal dari jamur shiitake asal Jepang.


Bakteri Lactobacillus acidophilus juga dikenal sebagai bakteri yang normal dalam usus besar manusia dan berfungsi menormalisasikan aktivitas enzim-enzim yang dihasilkan dari bakteri lain.


Kadar lemak yang tinggi dan rendah serat yang banyak ditemui pada diet makanan Barat menyebabkan terganggunya aktivitas enzim dalam bentuk kotoran di usus besar yang bisa meningkatkan risiko terjadinya kanker usus besar.


Karsinogen dalam makanan


Zat-zat yang terkandung dalam makanan (faktor diet) dapat menyebabkan promotor untuk menimbulkan keganasan yang tidak secara langsung menimbulkan tumor. Zat-zat ini digolongkan sebagai karsinogen. Selain karsinogen ada pula prokarsinogen yang bersifat mengubah zat kimiawi sehingga merupakan pencetus kanker.


Karsinogen dalam makanan dapat ditemukan misalnya pada hasil pengolahan yang menimbulkan zat karsinogen plosiklik hidrokarbon akibat proses pengasapan makanan, zat kimia nitrosamin, zat fisik karena radiasi nuklir, ataupun zat biologi yang ada di alam seperti racun dalam tembakau.


Zat-zat racun tersebut akan merusak keutuhan struktur sel dan intinya menjadi ganas sehingga bersifat mutagenik (sel-sel normal setelah dicemari racun atau pencemaran lingkungan menjadi sel ganas yang berkembang biak tanpa kendali). Selain itu zat karsinogen dapat timbul akibat pengolahan makanan yang tidak tepat. Misalnya, pemanasan yang terlampau lama dan terlalu tinggi suhunya (menimbulkan zat trans-fatty-acid), cara menggoreng yang berlebihan serta pengawetan dengan pengasinan.


Makanan yang tercemar oleh jamur Aspergillus flatus yang menghasilkan racun aflatoksin seperti kacang tanah busuk dan keju kadaluwarsa juga bersifat karsinogen. Penggunaan minyak (jelantah) yang sudah berulang kali mengandung zat radikal bebas seperti peroksida, epioksida, dan lain-lain yang bersifat karsinogenik dan mutagenik yang mengubah sel normal menjadi ganas. Pada percobaan terhadap binatang, konsumsi makanan yang kaya akan gugus peroksida ini dapat menimbulkan kanker usus.


Pemanis buatan seperti siklamat dan sakarin, yang banyak dipakai dalam makanan jajanan menurut penelitian epidemiologi dapat pula menimbulkan tumor kandung kemih. Zat pengawet makanan seperti formaldehida sebagai pengawet bakso atau tahu, penggunaan zat pewarna tekstil (bukan untuk makanan) seperti methanyl yellow pada kerupuk, tahu, dll. serta rhodamin, warna merah pada sirup menurut penelitian juga dapat merangsang timbulnya kanker hati.


Mengingat banyak zat makanan di sekitar kita yang dapat merangsang timbulnya penyakit kanker, hendaknya kita sedapat mungkin menghindari makanan yang kurang bersih, lewat masa kadaluwarsa atau diolah dengan tidak semestinya. Walaupun dalam kehidupan sehari-hari cukup sulit untuk menghindarinya, paling tidak kita berusaha menjauhinya.


Source: Majalah Intisari, no.402 - Januari 1997

PINGSAN, Tak Selalu Lemah Jantung

Mereka yang mudah pingsan kerap dianggap lemah jantung. Apalagi jantungnya sering berdebar-debar. Padahal memakai baju dan kerah ketat pun bisa berdampak buruk.


PERNAKAH saat Anda berdiri mengikuti upacara di lapangan atau sedang menghadiri resepsi resmi, mendadak merasa jantung berdebar-debar, degupnya kencang, disusul kepala serasa ringan serta badan lemas, keringat dingin, pandangan berkunang-kunang dan akhirnya gelap lalu jatuh pingsan?


Penyebab kejadian seperti itu bisa saja karena jantung kita kurang beres, tapi bisa juga karena faktor luar. Apalagi kalau kita tidak mempunyai riwayat kelainan jantung ataupun faktor risiko penyakit jantung dan usia relatif masih muda.


Sebagian besar kasus pingsan yang bukan karena kelainan jantung (sinkop nonkardik) menurut para ahli, lebih disebabkan oleh hipersensitivitas vagus. Vagus adalah saraf otak kesepuluh yang mensarafi organ bagian dalam tubuh dan sangat berpengaruh terhadap frekuensi detak jantung.


Salah satu pencerminan hipersensitivitas vagus dikenal sebagai sinkop vasovagal (berkaitan dengan pembuluh darah dan nervus vagus) dan vasodepresif. Ini terjadi karena timbulnya ketidakseimbangan refleks saraf otonom dalam bereaksi terhadap posisi berdiri yang berkepanjangan. Berawal dari kecenderungan terkumpulnya sebagian darah dalam pembuluh darah dan nervus vagus) dan vasodepresif. Ini terjadi karena timbulnya ketidakseimbangan refleks saraf otonom dalam bereaksi terhadap posisi berdiri yang berkepanjangan. Berawal dari kecenderungan terkumpulnya sebagian darah dalam pembuluh vena bawah akibat gravitasi bumi, hal ini menyebabkan jumlah darah yang kembali ke jantung berkurang sehingga curah ke jantung serta tekanan darah sistoliknya menurun. Guna mengatasi penurunan tersebut, otomatis timbul refleks kompensasi normal, berupa bertambahnya frekuensi dan kekuatan kontraksi jantung, dengan tujuan mengembalikan curah jantung ke tingkat semula.


Pada seseorang yang hipersensitif, bertambahnya kekuatan konstraksi ini justru mengaktifkan reseptor mekanik yang ada pada dinding bilik jantung kiri sehingga timbul refleks yang dinamakan refleks Bezold-Jarisch (sesuai nama penemunya). Efeknya, frekuensi detak jantung berbalik menjadi lambat, pembuluh darah tepi melebar, dan kemudian terjadi tekanan darah rendah (hipotensi) sehingga aliran darah ke susunan saraf terganggu. Di sinilah sinkop terjadi.


Namun untuk menentukan diagnosis, pada umumnya dokter menganjurkan pemeriksaan tilt test, di mana hasil tes dapat digunakan sebagai acuan pemeriksaan lebih lanjut bila diperlukan.


Mencegah pingsan


Untuk mencegah agar jangan sampai pingsan, sewaktu gejalanya terasa masih ringan misalnya baru terasa berdebar-debar, coba sedikit gerak-gerakkan tungkai atau kaki, sambil sekali-kali batuk kecil. Adakalanya cara tersebut dapat dibantu lagi dengan mengalihkan perhatian kita sesaat. Misalnya kalau sedang berada dalam suatu upacara, perhatikan peserta lain di depan kita satu per satu, mengingat-ingat kejadian menyenangkan yang pernah kita alami, menggumamkan lagu kesayangan atau lagu mars pembangkit semangat Anda.


Kalau dengan cara tersebut gejala tidak juga berkurang, tetapi malah mulai mengeluarkan keringat dingin ditambah kepala terasa melayang, apa boleh buat!


Lebih baik Anda langsung jongkok, duduk, atau mundur mencari tempat berbaring agar tungkai dapat dinaikkan lebih tinggi daripada kepala. Biasanya dalam waktu singkat akan terasa lebih nyaman dan pulih kembali. Apalagi kalau ditambah dengan minuman segar.


Sebaliknya, kalau kita harus menolong orang yang pingsan, menurut Panduan Kesehatan Keluarga, 1996 (Yayasan Essentia Medica) sebaiknya lakukan tip praktis berikut ini. Baringkan penderita di tempat tidur dengan kepala dimiringkan. Hati-hatilah agar posisi kepala jangan ditinggikan. Bila penderita berada di kursi, dorong kepala ke bawah serendah mungkin di antara kedua lutut. Longgarkan pakaian yang ketat agar aliran darahnya tak terganggu. Bila perlu, teteskan air dingin di kening atau leher untuk mempercepat pulihnya kesadaran. Jangan memberikan apa pun lewat mulut apabila penderita belum sadar. Panggil dokter terdekat atau ambulans bila tidak kunjung sadar.


Kenapa kerah baju ketat


Hipersensitivitas vagus dapat juga berupa sinkop sinus karotis, yakni jatuh pingsan bukan dicetuskan oleh sikap berdiri yang lama tetapi saat menoleh mendadak. Ini bisa terjadi bila penderita mengenakan baju berkerah tinggi terlalu ketat, sehingga gerakan kepala menyebabkan penekanan pada sinus karotis yang terletak pada leher samping agak ke depan. Hal ini bisa mengakibatkan detak jantung melambat dan menimbulkan sinkop.


Jika dilakukan pemeriksaan elektro-fisiologi (pemeriksaan aktivitas listrik jantung) pada penderita, umumnya terlihat fungsi listrik jantung bekerja dalam batas normal. Hanya saja adanya manipulasi ringan berupa penekanan leher di daerah sinus karotis tadi tampak berupa garis datar pada layar monitor. Artinya, terjadi gangguan aktivitas atau hantaran listrik saat dilakukan manipulasi tadi.


Untuk mencegah jangan sampai mengalami hal tersebut, hindari penggunaan kerah baju yang terlalu ketat dan jangan memijat daerah leher atau hal lain lagi yang menyebabkan tekanan pada sinus karotis.


Penampilan lain lagi yang langka dari hipersensitivitas vagus adalah paroxysmal sinus arrest. Di sini sumber listrik utama jantung adakalanya mengalami penghentian (pause) selama 6 - 23 detik tanpa adanya faktor pencetus yang jelas. Kejadian ini bisa saat tidur maupun saat aktif, siang atau malam, dengan akibat hampir pingsan atau pingsan (presinkop atau sinkop). Di sini hasil pemeriksaan dengan elektrofisiologi terhadap sumber listrik jantung pun normal, tapi pada umumnya pengobatan di arahkan pada penggunaan alat pacu jantung permanen yang ditanamkan di bawah kulit dada penderita.


Untuk mencegah terjadinya sinkop yang bukan karena kelainan jantung tadi, antara lain berolahraga seperti jogging, bersepeda, berenang, atau melakukan olahraga dinamis yang menguatkan otot tungkai.


Kalau sinkop jelas disebabkan oleh kelainan jantung tentu Anda dianjurkan berkonsultasi dengan dokter jantung agar dilakukan pemeriksaan lebih seksama dan pengobatan lebih tepat.


Source: Majalah Intisari, no.401 - Desember 1996

Jumat, 06 April 2012

Sakit Otot, Tulang, Dan Sendi

SEMUA orang pernah merasakan pegal atau sakit otot, tulang, dan sendi. Sebagian kecil hal ini karena penyakit spesifik, namun sebagian besar sering disebabkan oleh kesalahan sikap (posture): sikap kerja, sikap duduk, sikap tidur, dsb. 

Seorang pria setengah baya kenalan saya datang dengan tangan kiri seperti menggenggam buku. Ia merasakan sakit dan kaku, sehingga tangan itu sulit dikembalikan ke sikap yang normal. Setelah saya tanyakan apakah ia memegang buku sewaktu ia masuk-keluar bandara dalam perjalanannya ke Eropa, ia mengangguk. Sikap membawa buku seperti itu memang dapat menimbulkan sakit otot dan sendi bila dilakukan untuk waktu lama.

Seorang bapak lain mengeluh bahu dan pinggang kanannya sakit sekali. Ketika saya tanyakan apa yang dilakukannya kemarin, ia tidak ingat kejadian aneh apa pun yang dapat menyebabkan sakitnya itu. Namun, begitu saya tanyakan apakah terjadi salah posture, ia teringat malam sebelumnya menonton bola. Istrinya duduk disebelahnya, ia merangkulnya sambil makan popcorn berdua. Mereka duduk di sofa dengan sikap gaya bebas, dan ini berlangsung selama menonton piala dunia sepak bola itu.

Saya sendiri pernah mengalami sakit sendi bahu kanan dan kiri selama dua tahun. Sakitnya begitu hebat sehingga menimbulkan keterbatasan gerak pada kedua bahu saya. Saya sulit mengenakan jas, sulit menyisir rambut, dan lengan tidak dapat diangkat ke atas. Berbagai obat penghilang rasa sakit tidak dapat membantu, malahan saya dianjurkan, dokter spesialis untuk disinar dengan sinar sesium, yang lalu saya lakukan tanpa hasil.

Akhirnya, saya pergi ke ahli urut terkenal yang melakukan pijatan yang sangat menyakitkan. Pada pijat keenam kali, sakit di bahu kiri mendadak hilang begitu tempat tertentu dipijat, dan tidak pernah kambuh lagi. Namun, bahu kanan tidak kunjung sembuh. Begitu saya mengetahui titik yang dipijat, maka saya lakukan hal itu sendiri sewaktu senggang. Setelah berhari-hari saya memijat dengan sekuat tenaga di tempat yang ditunjukkan, maka seperti mukjizat, mendadak sakit itu hilang. Itu terjadi setelah pijatan saya mengenai lokasi tertentu. Saya lalu dapat menggerakkan bahu ke mana saja.

Kasus terakhir ini rupanya gara-gara sewaktu bepergian ke luar negeri, saya selalu mengangkat sendiri bagasi saya yang kadang-kadang cukup berat. Hal ini juga dialami banyak orang yang menenteng belanjaan setiap hari dari pasar, membawa tas kantor yang berat berisi buku, atau seorang nenek muda yang menggendong cucunya. Biasanya, hal ini memang tidak dirisaukan, karena beban yang dibawa tidak terlalu berat. Tetapi bila ini dilakukan terus-menerus, dapat saja terjadi sakit bahu, lengan, atau pinggang dan tungkai. Sakit dapat menetap untuk waktu yang lama, atau menghilang bila cepat disadari dan tidak dilakukan lagi.

Berbagai pengobatan dengan menelan obat analgesik mungkin dapat membantu, tetapi bila tidak ada perubahan dalam beberapa hari, janganlah diteruskan. Lebih penting kita menyadari kesalahan sikap apa yang telah kita lakukan. Menggerakkan bagian-bagian yang sakit dengan senam sederhana dapat memperbaiki keadaan. Pijat dengan refleksiologi oleh seorang ahli dapat memperbaiki seketika bila tempat yang itu terkena, namun keahliannya perlu dipastikan dulu. Sebelum itu yakinilah apakah tidak ada bagian sendi dan otot yang merah meradang atau bengkak, yang memerlukan bantuan dokter.

Penggunaan AC yang dingin, baik di kamar tidur maupun mobil, juga dapat menimbulkan sakit sendi dan otot, bila udara dingin langsung mengenai bagian tubuh kita untuk waktu lama. Ibu rumah tangga yang melakukan semua pekerjaan sendiri, termasuk mencuci, setrika, mengepel lantai, dapat juga terjangkiti berbagai jenis sakit otot, sendi, dan tulang. Duduklah di kursi dengan tegak lurus, pantat didorong ke belakang supaya tidak sakit pinggang. Naik-turun tangga berkali-kali sambil membawa beban dapat merusak dengkul.

Yang perlu diingat, pekerjaan rumah tangga tidak dapat dianggap sebagai olahraga. Olahraga seperti tenis, golf, badminton, yang berlebihan dengan menggerakkan bagian tubuh sebelah saja dapat menimbulkan kelainan seperti diatas. Kenalilah tubuh kita dengan lebih baik dan carilah dahulu kesalahan hidup yang sederhana sebelum memikirkan penyakit yang mengerikan.

Sebagaimana dituturkan oleh prof.dr.Iwan Darmansyah Sp.FK

Source: Majalah Intisari, no.443 - Juni 2000


Rabu, 04 April 2012

Setelah Berolahraga Jangan Minum Es

SECARA sadar ataupun tidak, banyak diantara kita sering segera minum air atau minuman dingin, dengan memberi es batu ke dalamnya atau yang telah disimpan dalam lemari pendingin. Saat minum, memang terasa segar. Namun, melepaskan dahaga setelah berolah raga dengan cara ini sejatinya tidak benar. Hal itu justru dapat menganggu metabolisme.


Suhu minuman sebaiknya agak dingin, sekitar 5 - 10 derajat Celcius. Mengapa? Pada suhu tersebut cairan mudah terserap, sehingga keringat cepat digantikan. Jumlah air minum atau minuman yang dikonsumsi harus dalam jumlah yang cukup, tergantung pada intensitas latihan, cuaca, dan kelembapan. Minumlah sebelum, selama dan setelah berolahraga.


Bila berolahraga pada pagi hari, minumlah air sebelum mulai berolahraga sebanyak 300 cc. Bila menderita sakit maag, perlu ditambah dengan makan makanan ringan, misalnya crackers.


Tetap pula minum selama berolahraga, di antara waktu break atau istirahat. Misalnya bila bermain tenis, minumlah pada waktu pergantian set. Bila bersenam aerobik, manfaatkan waktu istirahat yang sebentar untuk minum. Demikian pula bila bersepeda. Bukankah biasanya ada tempat khusus untuk menempatkan botol minuman di sepeda?


Yang tidak boleh dilupakan, minum seusai berolahraga. Minumlah secukupnya sampai kira-kira suhu tubuh agak normal.


Bila berolahraga cukup lama, antara 1 - 2 jam, minumlah hanya air putih. Namun, bila lama berolahraga berlangsung lebih dari 2 jam dianjurkan untuk minum sport drink yang mengandung gula dan mineral, seperti kalsium, natrium, magnesium, klorida, dll. Itu karena berolahraga dalam waktu lama membuang mineral dan gula cukup banyak sehingga perlu diganti kembali.


Pada waktu berolahraga di udara panas dan lembap, dan berlangsung lama (endurance sport) seperti balap sepeda jarak jauh, lari marathon triatlon, dll. mutlak perlu minum lebih banyak dan harus minum sport drink agar mineral dan gula selalu cukup sehingga rasa lelah tidak cepat terjadi.


Satu hal yang perlu diperhatikan, pada saat melakukan olahraga endurance seseorang tidak perlu menunggu sampai haus baru minum, karena biasanya sudah terlambat. Jadi, meskipun belum terasa haus dan lapar, tetaplah makan dan minum. Minuman yang dianjurkan: air putih, sport drink dengan gula, misalnya 5% yang mengandung mineral-mineral yang cukup.


Ada beberapa jenis minuman yang tidak dianjurkan dikonsumsi setelah berolahraga. Diantaranya, minuman beralkohol karena menyebabkan diuresis yakni merangsang pengeluaran urine. Demikian pula minuman yang mengandung kafein, karena juga merupakan diurektikum sebagaimana alkohol. Kedua minuman tersebut menjadi berbahaya bila diminum pada cuaca panas dan lembap, serta saat melakukan olahraga endurance.


Pada saat tidak berolahraga, seseorang pun perlu cukup minum, sebaiknya pada kondisi ini yang diminum air putih saja. Minuman itu tidak panas juga tidak dingin. Konsumsi minuman pun dilakukan secara merata baik pada pagi, siang, maupun malam.


Dalam sehari kebutuhan air minum pada orang sehat sekitar 3 - 4 liter, tergantung lingkungan - suhu dan kelembapan. Bila suhu panas, lebih-lebih bila panas dan lembap, maka asupan cairan tubuh perlu pula ditambah.


Demikian pula pada saat seseorang melakukan olahraga. Saat berolahraga, tubuh beradaptasi dengan beban latihan dan lingkungan dengan cara mengeluarkan keringat. Keringat tersebut perlu segera digantikan, caranya ya dengan minum.


Source: Majalah Intisari, no.477 - April 2003

Selasa, 03 April 2012

Menepis Stress, Menyembuhkan Sakit Perut

Gangguan perut bukan cuma karena infeksi kuman, Perut berulah justru ketika orang sedang sibuk-sibuknya beraktivitas, atau ketika menghadapi masalah. Sebaliknya, selagi santai, perut pun ikutan tenang. Itulah irritable bowel syndrome (IBS).


SAYA sendiri merasa nyeri perut dan kembung, tapi begitu buang air besar, gangguan hilang. Frekuensi ke belakang juga meningkat dan berbentuk cair.Tetapi ketika buang air besar, rasanya tidak lampias. Kenapa Dok?" begitu keluh seorang pasien wanita muda, sebut saja Dewi, kepada dokter yang memeriksa. Lalu ia pun diberi obat penghilang kembung dan anti-diare karena diduga, gangguan pada organ pencernaannya akibat salah makan saja.


Selang beberapa minggu, saat Dewi sedang sibuk-sibuknya menghadapi ujian semester, ia kembali ke dokter dengan keluhan yang sama. Bahkan ditambah dengan gejala lain, yakni buang air besarnya diikuti lendir. Mahasiswi semester empat ini pun disarankan dokter untuk melakukan pemeriksaan endoskopi (pemeriksaan organ tubuh dengan "teropong" endoskop) plus pemeriksaan laboratorium. Hasilnya, semuanya baik, tidak ada infeksi pada organ pencernaan, tumor, maupun bakteri yang mengkhawatirkan. Ia cuma disarankan lebih banyak istirahat dan untuk sementara mengurangi makanan merangsang: pedas dan asam.


Gangguan seperti dialami Dewi di kalangan kedokteran dinamai irritable bowel syndrome (IBS). Kasus gangguan perut yang kebanyakan diderita perempuan berusia 20 - 40 tahun ini belakangan sering terjadi dan menjadi perhatian kalangan dokter ahli gastroenterologi (pencernaan).


Di negara Barat dilaporkan, 10 - 20% keluhan pada perut disebabkan oleh IBS. Lebih dari 50% penderitanya wanita. Di Asia pengidap IBS tertinggi adalah kaum muda Jepang. Mungkin karena tuntutan hidup yang begitu tinggi sehingga banyak mengalami stress. Di Indonesia sampai saat ini belum ada data pasti penderita sindroma ini. Namun, dr. Dharmika Djojoningrat, Sp.PD.KGEH, spesialis penyakit dalam dengan subspesialisasi penyakit pencernaan dan hati dari RS Siloam Gleneagles, Lippo Karawaci, Tangerang, menemukan banyak pasiennya - khususnya dari Jakarta - mengidap gangguan ini.


Kalangan medis membedakan IBS atas dua tipe, IBS konstipasi (selama 5 - 7 hari tidak buang air besar) dan IBS diare (IBS seperti dialami Dewi). Pada tipe IBS diare, gerakan peristaltik motilitas usus pengidap begitu cepat sehingga isi kotoran dari usus besar cepat di transfer ke luar. Konsekuensinya, air dalam kotoran belum sempat diserap, sudah harus dikeluarkan dibarengi rasa mulas. Sebaliknya, pada tipe konstipasi, karena gerakan peristaltik motilitas ususnya lambat, maka kotoran akan terlalu lama ngendon dalam usus. Penyerapan airnya pun terlalu lama dengan akibat feses menjadi keras.


IBS konstipasi kebanyakan diderita oleh penduduk di negara Barat. Sedangkan, IBS diare kebanyakan dialami oleh penduduk negara di belahan Bumi lainnya, termasuk Indonesia. Hingga kini belum ada penelitian yang bisa mengungkapkan mengapa terjadi demikian. "Mungkin karena pada malam yang berbeda," duga dr. Dharmika.


Ambang rangsang rendah


Penggunaan kata sindroma pada IBS itu karena gangguan kesehatan ini tidak menunjukkan gejala khas seperti penyakit asma, TBC, atau tifus. IBS memang suatu kumpulan gejala yang tidak diformulasikan dalam bentuk satu penyakit. Gangguan ini keluhannya beraneka macam, mulai dari rasa nyeri dan kembung, tapi begitu buang air besar keluhan hilang, sampai dengan pengeluaran lendir bening dan terasa tidak lampias.


"Gejala IBS memang tidak khas walaupun kalangan kedokteran menyatakan gangguan ini merupakan sindroma usus sensitif," tambah dr. Dharmika. Namun, tidak seperti penyakit pencernaan lain, macam diare karena infeksi kuman, disentri, dll., IBS tidak akan mempengaruhi bobot badan penderita dan tidak dijumpai kelainan organik. "Malah ada yang naik bobot badannya," ungkap dr. Dharmika. "Sebab itu tidak jarang pasien suka terheran-heran, kenapa gejala berulang padahal dikatakan tidak tampak adanya kelainan apa pun pada ususnya."


Pada penderita IBS frekuensi buang air besar jenis cair bisa lebih dari 1 - 3 kali sehari. Gangguan bisa berulang kapan saja, kebanyakan tergantung pada keadaan psikologis penderita. Menurut kriteria Bristol, buang air besar dibilang abnormal kalau frekuensinya lebih dari tiga kali sehari atau kurang dari tiga kali per minggu. Sedangkan perubahan bentuk feses dapat berupa cair, lembek, atau keras. Proses buang air besar abnormal dapat berupa mengejan, rasa tidak lampias serta diikuti mukus atau lendir.


Terkadang pengidap IBS juga merasakan gejala lain seperti agak sulit tidur, sering buang air kecil, sakit pinggul, sakit saat bersenggama, merasa malas dan lelah.


Khusus bagi mereka yang berusia 45 tahun bila mengalami gejala mirip gejala IBS, disarankan oleh dr. Dharmika agar segera memeriksakan diri ke dokter untuk diketahui apakah kelainan disebabkan oleh gangguan organik seperti tumor, polip, infeksi, atau sekedar gangguan fungsional saja. Pemeriksaan bisa dilakukan dengan endoskopi, biopsi, pemeriksaan darah, dll.


Pencetus munculnya IBS kebanyakan faktor psikologis (50%), bukan karena infeksi. Umpamanya, seseorang sedang mengalami depresi, somatisasi (gangguan psikis yang berdampak pada gangguan fisik), kecemasan, gangguan panik, hipokondria (rasa tertekan dan kehilangan semangat), dll. Hal itu bisa saja terjadi karena susunan saraf pusat memang mempunyai efek kuat terhadap saluran cerna. Pada penelitian terhadap orang sehat diketahui, stimulasi nyeri somatik dan rangsangan stress emosional dapat menimbulkan peningkatan kontraksi rektal (sekitar anus), perubahan pola motorik atau motilitas usus halus, serta pelambatan pengosongan lambung.


Pengidap IBS umumnya mempunyai konflik diri lebih tinggi dibandingkan dengan non-penderita IBS. Begitu setting pada otak tidak beres, maka pengaruhnya akan langsung ke usus. Padahal, dinding usus mempunyai ambang rangsang terhadap berbagai stimulus (rangsangan). Dalam keadaan depresi, ambang rangsang dinding usus akan cepat menurun.


"Bagi mereka yang ambang rangsangnya rendah dan peka, stimulus kecil saja sudah menimbulkan rasa nyeri atau mulas. Malah tidak jarang pula, karena demikian rendah ambang rangsangnya, stimulus yang normal bagi non pengidap IBS sudah mengakibatkan rasa nyeri pada penderita IBS," tutur dr. Dharmika. Dengan kata lain, kalau gerakan peristalik pada usus non-penderita IBS tidak akan terasa apa-apa, pada orang berpembawaan IBS sudah menimbulkan gejala.


Namun, dalam studi kedokteran tidak dikatakan bahwa faktor emosional menjadi penyebab satu-satunya. Fakta intoleransi makanan (misalnya terhadap laktosa dalam susu, kopi, MSG, dsb.) juga sedikit banyak ikut andil walaupun belum ada bukti nyata. "Makanan bukan merupakan faktor penyebab bersifat tidak langsung, melainkan lebih merupakan faktor penyebab langsung," ujar dr. Dharmika. Artinya, intoleransi seseorang terhadap makanan bisa langsung terlihat setelah makanan dikonsumsi.


Intoleransi makanan (bukan alergi makanan) ini sifatnya sangat individual. Umpamanya, kalau bagi si A susu langsung menyebabkan rasa nyeri, bagi si B mungkin kopi atau minuman cola. "Tentu saja ini perlu pencermatan individu masing-masing," katanya.


Ada pula yang mengatakan, 10 - 20% merupakan dampak dari gangguan pencernaan akut sebelumnya. Jadi, mungkin akibat organ pencernaan masih dalam keadaan belum stabil.


IBS bisa juga dikatakan sebagai pemunculan potensi yang telah ada dalam diri penderita atau merupakan suatu interaksi yang dialami penderita selama menjalani hidup. Misalnya, sewaktu anak-anak ia tidak pernah merasakan gangguan ini, tiba-tiba ketika dewasa dan menghadapi banyak tantangan, gangguan ini mulai dirasakan.


Mengatur pola hidup


IBS memang tidak berakibat fatal, tapi bisa mengganggu kualitas hidup penderita. Sebab itu gangguan ini perlu dikelola dengan baik. Penderita hendaknya berusaha mengatur pola hidupnya menjadi lebih baik. "Usahakan untuk menghilangkan konflik yang terjadi," tutur dr. Dharmika. Di negara-negara Barat, praktik konsultasi dengan psikiater atau psikolog serta melakukan latihan hipnoterapi untuk belajar mencari faktor penyebab konflik ternyata sangat membantu.


Selain terapi psikologis, juga dibutuhkan penerapan makanan seimbang. Pengidap IBS diare perlu membatasi makanan merangsang seperti pedas dan asam, dan makanan penyebab kembung perut seperti kol dan minuman bersoda. Pengidap IBS konstipasi dianjurkan menambah makanan berserat. Tetapi jangan berlebihan karena ada kalanya penambahan serat berlebihan dapat meningkatkan gas penyebab kembung.


Melakukan olahraga yang disukai juga dapat menunjang kesembuhan IBS. Apalagi kalau dilakukan secara rileks.


Menurut dr. Dharmika, hingga saat ini khasiat obat yang tersedia masih belum memuaskan. Obat-obatan itu hanya bersifat simtomatik (menghilangkan gejala) dan hanya diberikan secara insidentil. Misalnya, untuk menghilangkan rasa nyeri digunakan antispasme. Bila terjadi konstipasi (sembelit), diberikan obat agar buang air besar lebih teratur. "Obat biasanya hanya untuk memodifikasi regulasi peristaltik usus serta ambang rangsangnya saja," katanya. Obat antidepresan juga banyak dicoba untuk mengatasi keluhan nyeri perut serta gangguan kapasitas aktivitas sehari-hari.


Dr. Dharmika menyarankan, usahakan untuk selalu hidup nyaman, hilangkan stress agar perut tidak menjadi korban!


Source: Majalah Intisari, no.457 - Agustus 2001

Senin, 02 April 2012

Mati Mendadak Akibat Emboli Paru-Paru

Walaupun kasusnya termasuk langka, emboli paru-paru bisa menyebabkan kematian mendadak. Ibu hamil termasuk yang berisiko terkena kasus ini.


SEORANG wanita muda yang sedang mengandung tiga bulan mendadak meninggal setelah hanya beberapa menit mengalami sesak napas. Pihak keluarganya merasa heran karena selama ini ia tidak pernah mengeluh atau diketahui mengidap penyakit seperti kelainan jantung, tekanan darah tinggi, atau asma. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter, disimpulkan kematian ibu muda itu mungkin disebabkan oleh tersumbatnya sistem aliran darah ke paru-paru secara mendadak disebut sebagai emboli paru-paru.


Seperti diketahui, paru-paru merupakan salah satu organ tubuh yang menjadi tempat masuknya oksigen (O2) yang sangat berguna bagi tubuh, serta keluarnya karbon dioksida (CO2) yang merupakan "sampah" yang bisa membahayakan. Pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida terjadi di sana. Artinya, seluruh darah di dalam tubuh kita pasti melewati paru-paru untuk membuang CO2 yang tidak lagi berguna dan menerima O2 yang segar. Ada dua jenis pembuluh darah di paru-paru, yakni arteri atau pembuluh yang membawa O2 keluar dari paru-paru dan pembuluh vena (pembuluh balik) yang membawa CO2 dari seluruh tubuh ke paru-paru untuk kemudian dibuang.


Tidak heran kalau organ tubuh yang satu ini sangat kaya akan pembuluh darah. Di satu pihak ini menguntungkan sebagai tempat proses pertukaran gas, tetapi di sisi lain paru-paru memiliki risiko terjadinya penyumbatan aliran darah.


Emboli kecil dan besar


Terjadinya emboli paru-paru bisa hanya sebagian saja, tetapi bisa juga secara total, akibat berpindah atau bergeraknya suatu bekuan (gumpalan) dari aliran darah. Bahan yang tidak larut dan masuk ke dalam aliran darah menuju paru-paru itu dikhawatirkan bisa menyangkut di paru-paru. Emboli kecil itu sebenarnya sering terjadi namun tidak diketahui oleh pasien maupun dokter yang memeriksa karena tidak terasa.


Sebagian besar kasus emboli disebabkan oleh terlepasnya serpihan pembuluh darah baik yang letaknya di tungkai bawah, daerah rongga panggul, dan jantung kanan. Penyebab lain bisa juga terjadi akibat emboli lemak, udara, dan cairan air ketuban serta emboli lain yang tidak diketahui penyebabnya.


Orang akan lebih mudah terkena emboli paru-paru saat sedang berada dalam kondisi risiko tinggi, misalnya dalam keadaan imobilisasi (pasien di minta tidur diam atau tidak bergerak untuk jangka waktu lama) sehabis operasi dan atau patah tulang.


Namun, perlu diketahui, pasien tidak diperkenankan makan sehabis operasi sebelum mengeluarkan gas (kentut) tidak ada kaitannya langsung dengan emboli paru-paru. Puasa setelah operasi tidak lain diperlukan untuk menunggu kembalinya aktivitas usus yang ikut "tertidur" setelah tertekan oleh obat-obat anestesi. Bila usus yang belum berfungsi normal sudah diisi dengan makanan, pasien bisa sakit perut.


Yang juga memiliki risiko tinggi terkena emboli adalah mereka yang mengalami penyempitan atau penyumpatan pembuluh darah balik, penyakit jantung kogestif, syok akibat perdarahan hebat, serta dehidrasi. Keadaan ini akan semakin berat pada usia yang lebih lanjut atau pada orang yang kegemukan. 


Pada penyakit polisitemia vena (kelainan unsur sel sumsum tulang dengan akibat terjadi penambahan jumlah total sel darah merah), penyakit sikel sel (sel darah merah), penyakit sikel sel (sel darah merah abnormal berbentuk bulan sabit),penyakit keganasan, serta ada kalanya pada ibu hamil, bila terjadi peningkatan pembekuan darah dalam darah secara abnormal, juga akan mudah terjadi emboli. Selain itu emboli paru-paru bisa terjadi karena kerusakan dinding pembuluh darah akibat trauma atau peradangan, sehingga bekuan darah mudah melekat pada dinding pembuluh darah.


Jangan banyak bergerak


Gejala timbulnya emboli tergantung pada besar-kecilnya emboli serta kesehatan paru-paru dan jantung penderita sebelum terjadinya serangan. Pada emboli berukuran besar gejalanya dapat berupa sesak napas diikuti nyeri dada, demam yang tidak terlalu tinggi, batuk dahak berdarah, serta berdebar-debar, tekanan darah menurun dan terjadi pelebaran pembuluh darah balik di leher. Emboli kecil akan terlihat lebih jelas saat berlatih olahraga dengan gejala sesak napas.


Kematian mendadak pada penderita emboli paru-paru terjadi gara-gara tidak mengalirnya darah ke paru-paru akibat adanya sumbatan. Seorang pasien yang dicurigai terserang emboli paru-paru hendaknya tidak melakukan banyak gerakan, sehingga sumbatan tidak akan berjalan dan akan menyumbat pembuluh darah balik di paru-paru.


Dalam keadaan penderita mengalami gawat napas, pertolongan pertama yang bisa dilakukan tidak lain yaitu pasien ditenangkan, tidak boleh bergerak, dan langsung diantar ke Instalasi Gawat Darurat untuk segera dibantu pernapasannya dengan oksigen.


Untuk pencegahan, sedapat mungkin hindari terjadinya penyakit pembuluh darah dengan mengonsumsi makanan sehat, tidak merokok, olahraga secara teratur, serta secara rutin memeriksakan diri ke dokter dan hanya makan obat sesuai anjuran dokter.


Rawatlah dengan baik bila Anda menderita penyakit wasir, varises, dan berhati-hatilah sehabis mengalami tindakan operasi tungkai. Sebab, penyakit yang erat hubungannya dengan pembuluh darah balik ini memudahkan seseorang untuk terkena emboli paru-paru. Namun, Anda tidak perlu khawatir sebab terjadinya kasus demikian masih termasuk langka.


Source: Majalah Intisari, no.472 - November 2002

Rabu, 28 Maret 2012

Sakit Kencing

SAKIT sewaktu buang air kecil merupakan keluhan yang sesekali terjadi dalam hidup kita. Sebagian besar dari keluhan ini tidak berbahaya, karena hanya disebabkan Anda menahan kencing atau minum air terlalu sedikit, sehingga kencingnya pekat dan merangsang. Namun bila sakit terjadi karena infeksi oleh kuman harus di obati dengan antibiotik, karena ia dapat menimbulkan komplikasi seperti perdarahan, infeksi menjalar naik ke ginjal, dsb.


Manusia memerlukan minum cairan cukup untuk hidup sehat. Cairan ini dapat berbentuk bermacam-macam, dari air putih hingga berbagai jenis minuman buatan. Dalam makanan, terutama sayur dan buah juga terdapat banyak air. Orang dewasa sehat membutuhkan minum cairan sebanyak minimal 1,5 - 2,1 sehari (24 jam). Kebutuhan ini berubah bila ginjal tidak berfungsi baik atau jantung tidak mampu memompa darah semestinya; dalam keadaan ini cairan harus dikurangi jumlahnya.


Bila pemasukan air melebihi apa yang dapat dikeluarkan, cairan akan merembes keluar dari pembuluh darah balik masuk ke dalam jaringan di kaki, tungkai, dan paru-paru, atau rongga perut. Hal ini ditandai oleh pembengkakan (udema) di kaki/tungkai bawah, cairan berkumpul di perut dan di rongga dada. Pada keadaan ini minum air harus dibatasi jumlahnya hingga sekitar 0,81 (tergantung parahnya gangguan ginjal atau jantung) sehari.



Sakit kencing dapat berupa sakit bila mau kencing, sewaktu kencing, atau sesudah kencing. Bila sakitnya terasa sewaktu kencing saja, dengan minum lebih banyak, sebaiknya sekitar 2,5 liter sehari, sakit ini dapat diatasi. Bila terasa nyeri sesudah kencing, ini biasanya akibat infeksi kuman di jalan kencing bawah. Untuk dapat menentukan sebabnya urine harus diperiksa di lab. Dengan pemeriksaan sederhana dapat dibedakan apakah sakit kencing hanya disebabkan oleh iritasi atau karena terinfeksi kuman, yang disebut infeksi saluran kemih (ISK). Bila terjadi infeksi, sel darah putih di air seni bertambah banyak (normal hanya 1 - 3 per lapangan mikroskop) dan urine menjadi keruh.


Janganlah membeli antibiotik sendiri karena tidak semua antibiotik dapat dipakai untuk ini. Biarlah dokter yang menentukan. Bila berobat jalan, antibiotik untuk ISK terbatas pada trimetoprim, kotrimoksazol, nitrofurantoin, asam pipemidik, dan fluorokinolon. Antibiotik oral lainnya tidak dianjurkan. Bila infeksi itu terjadi pada orang yang semula sehat, biasanya dengan pengobatan beberapa hari dan dosis yang tepat keadaan akan menjadi baik. Bila ISK terjadi berulang-ulang atau menjadi kronis, jangan di anggap remeh. Anda harus berkonsultasi ke dokter untuk penanganan lebih baik. Urine perlu diperiksa dengan cara khusus (kultur) untuk membiakkan kumannya. Hal ini penting untuk dapat memilih antibiotiknya dengan cermat, karena kuman mudah menjadi resisten. Perlu diingat, tidak semua obat yang tercantum dalam laporan antibiogram yang ditandai sebagai "sensitif" dapat digunakan.


Pencetus lain dari sakit kencing ialah tindakan kateterisasi yang kurang steril atau dilakukan terlalu lama, komplikasi adanya batu di jalan kencing, pembesaran prostat yang menghambat keluar air seni, sakit kelamin, atau kelainan anatomis di jalan kencing. Bila bepergian, kita juga bisa kurang minum beberapa hari; terutama di daerah panas. Setiap hambatan mengalirnya urine keluar tubuh akan menimbulkan gangguan dan mungkin mencetuskan infeksi. Karena itu pembesaran prostat yang signifikan perlu dioperasi untuk melancarkan kencing. Obat-obat untuk mengecilkan prostat sangat terbatas fungsinya; akhirnya operasi harus dilakukan juga. Pendapat umum yang mengatakan bahwa ISK diperoleh karena kencing di tempat umum yang tidak bersih tentu tidak benar.


Wanita mengalami sakit kencing lebih sering, mungkin karena uretranya lebih pendek sehingga kuman lebih mudah masuk. Suatu hal yang cukup sering saya dapatkan ialah bahwa tisu yang digunakan untuk mengeringkan bagian yang basah dapat mencetuskan ISK atau gatal dan eksem setempat. Untuk membedakan, Anda dapat mendiagnosis ISK dengan memeriksa urine di lab. sel darah putih akan banyak sekali. Sebaiknya tisu yang dipakai untuk mengeringkan, jangan dibiarkan di tempat tersebut. Mungkin saja kualitas tissue kurang baik, karena tidak terjamin bersih atau dapat saja mengandung zat-zat kimia yang merangsang daerah yang sensitif itu. Tisu juga dapat diproduksi dari bahan pulp kayu yang mengandung zat kimia atau pestisida, atau bahannya berasal dari proses daur ulang kertas bekas.


Source: Majalah Intisari, no.458 - September 2001

Selasa, 27 Maret 2012

ROKOK : Risiko Janin dan Impotensi

Di satu sisi rokok dibenci. Pada lain sisi ia dicintai sampai mati. Penyakit akibat rokok bertebaran, korban juga berjatuhan. Namun, para nikotinis alias perokok tetap mengabaikan. Serangan jantung? Stroke? Kanker?
Anggaplah itu risiko. Namun kalau risiko itu juga harus ditanggung janin di dalam kandungan, juga mengancam potensi seksual kaum laki-laki, para perokok harus memikirkan kembali kesetiaannya.


BELUM ada angka pasti jumlah mutakhir perokok di Tanah Air. Namun, di lihat dari gencarnya iklan rokok di media massa, boleh jadi itu sejalan dengan (makin) banyaknya jumlah perokok. Kalau mau dilihat lagi, di masa krisis, ketika tak banyak produk beriklan, rokok adalah komoditas yang terus tumbuh bagai tak terpengaruh. Menjadi penaja banyak acara, bahkan menyokong pendanaan program sosial pemerintah.


Di kancah bisnis pun usaha rokok terbilang raksasa, sehingga selalu punya dana amat besar untuk mencari peluang beriklan ketika dicegat di banyak tempat. Mereka sanggup membayar tenaga kreatif dan pelaksana periklanan untuk membuat iklan secara tersamar dan simbolis, menyebabkan orang tak tahu itu iklan rokok seandainya tidak disertai label "Peringatan Pemerintah". Namun, kreasi itu kini berkembang lagi. Label yang wajib dicantumkan dalam kemasan maupun iklan rokok itu justru dipasang besar-besaran, sementara merek rokoknya sendiri hanya diterakan kecil di sudut bidang iklan. Label "Peringatan Pemerintah", ironisnya, justru menjadi bahan dominan buat beriklan.


Sepertiga kanker akibat rokok


Tap kita tidak ingin bicara mengenai nilai ekonomis rokok. Sebab bagaimanapun, nilai cukai yang dihasilkan oleh bisnis tembakau beraroma itu sangat besar dan masih amat diperlukan bagi keuangan negara.


Yang kita bahas, dengan tak jemu-jemunya, adalah dampak rokok bagi kesehatan. Kalau selama ini yang biasa dicuatkan adalah seruan "biasa-biasa saja" semacam "Merokok dapat membahayakan kesehatan", belakangan lebih lengkap seperti di terakan pada label "Peringatan Pemerintah" tadi: merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, gangguan kesehatan janin, dan impotensi.


Bagi para nikotinis, dua akibat terdahulu praktis di abaikan, dianggap risiko yang inheren dengan kebiasaan. Rata-rata perokok siap dengan akibat itu. Namun, dua risiko terakhir benar-benar membuat para perokok harus berpikir lagi. Bagi perempuan hamil, atau suami yang istrinya hamil, ancaman kelangsungan nasib si jabang bayi sungguh membuat mereka gentar.


Nah, soal ancaman rokok bagi kesuburan dan potensi seksual kaum pria, agaknya cukup efektif karena terbukti meresahkan laki-laki perokok. Kampanye yang diawali di Thailand sekitar 1995 itu dianggap berhasil menurunkan jumlah perokok walau tidak signifikan. Namun, sekurang-kurangnya bidikan yang langsung tertuju pada harkat dan martabat kelaki-lakian itu telah menciptakan kegundahan tersendiri.


Di dalam asap rokok terdapat tak kurang dari 4.000 molekul, sebagian besar berdampak buruk. Komponen yang paling jelek adalah CO (karbon monoksida) dan nikotin. Nikotin kalau diisap menyebabkan hilang atau berkurangnya rasa kantuk. Bahkan banyak perokok merasakan nikotin mampu meredam nafsu makan.


Berkurangnya rasa kantuk akibat nikotin yang merangsang sekresi hormon-hormon di dalam tubuh, antara lain adrenalin. Hormon ini mengganggu metabolisme lemak sehingga darah menjadi lebih kental. Pengentalan darah bisa mengakibatkan terjadinya arteriosklerosis (penyempitan pembuluh darah).


Menurut ahli kedokteran olahraga dr. Sadoso Sumosardjuno, Sp.KO., risiko rokok terhadap penyakit sedikit banyak ditentukan oleh jumlah rokok yang diisap dalam sehari. Semakin banyak tentu semakin tinggi risikonya. Walaupun hal-hal lain seperti kadar lemak darah yang tinggi (kolesterol) dan kurang aktivitas fisik, berat badan, tekanan darah tinggi, serta stress dan ketegangan ikut menunjang terjadinya arteriosklerosis penyebab utama terjadinya penyakit jantung koroner (PJK).


Hasil penelitian yang pernah dilakukan dr. Joseph Brennan dan koleganya dari Johns Hopkins University, Maryland, terhadap pasien penderita kanker menunjukkan, para perokok cenderung mengalami kerusakan gen p53 yang melindungi tubuh dari kanker. Mereka menduga bahan penyebab kanker dari asap tembakau melekat pada material sel genetik dan kemudian menonaktifkan gen p53.


Dari pengamatan terhadap 129 orang penderita kanker kepala dan leher, diketahui bahwa perokok cenderung mengalami mutasi gen p53 dua kali lebih besar ketimbang bukan perokok. Mutasi tiga kali lebih lazim pada orang yang sehari-hari merokok dan menenggak minuman beralkohol. Mutasi gen p53 terjadi pada 17% dari para penderita kanker yang tidak merokok ataupun tidak minum alkohol, 33% pada mereka yang merokok, dan 58% pada mereka yang mengonsumsi gabungan rokok dan minuman beralkohol. Para ahli yakin, sepertiga dari seluruh kanker ada hubungannya dengan asap rokok.


Menurunkan kualitas sperma


Nikotin serta asap rokok mengeluarkan racun karsinogenik yang dapat menyebabkan beraneka macam gangguan kesehatan. Saat seseorang merokok, nikotin dalam asap akan terisap masuk ke paru-paru, kemudian ikut terserap oleh darah, dan selanjutnya akan menyebar ke seluruh tubuh.


Rokok bagaikan pabrik kimia. Tar merupakan kumpulan dari ribuan macam bahan kimia, di antaranya CO, nitrogen oksida, sianida, hidrogen, amonia, asetilen, benzaldehida, benzena, metanol, dll. yang bisa mengganggu kesehatan. Sebatang rokok mengandung 3 - 6% CO yang kalau masuk ke dalam peredaran darah akan mengurangi kemampuan hemoglobin darah untuk mengikat oksigen. Kadar CO dalam darah perokok berat bisa mencapai 5%. Tentu saja ini bisa menganggu kesehatan.


Penyakit yang dapat dipicu oleh rokok antara lain penyakit kanker (paru-paru, tenggorokan, pita suara, lambung), penyakit jantung koroner, bronkitis, emfisema (melebarnya gelembung paru-paru), tekanan darah tinggi yang bisa menyebabkan stroke, katarak, sinusitis. Bahkan belakangan ditekankan pula bahwa rokok bisa mengganggu pertumbuhan janin dan gangguan kesuburan pria maupun wanita.


"Bagaimana tidak," komentar Prof. dr. H. Arjatmo Tjokronegoro, Ph.D., Sp.And., spesialis andrologi dari FKUI. "Seseorang yang terus-menerus merokok selama bertahun-tahun, tentu saja darahnya akan tercemar oleh nikotin yang melalui pembuluh darah akan dibawa kemana-mana, termasuk ke organ reproduksi. Racun nikotin akan berpengaruh terhadap spermatogenesis atau terjadinya pembelahan sperma para pria. Padahal pembelahan itu sangatlah kompleks, yang kemudian bisa menjadi gen dari si pemilik sperma."


Padahal syarat untuk dapat membuahi sel telur, sperma harus berkualitas baik. Artinya, jumlahnya cukup, kualitas yang meliputi bentuk, gerakan, dan kecepatannya harus baik. "Sperma yang teler mustahil mampu membuahi sel telur yang sarangnya cukup jauh dari vagina. Ejakulasi yang kuat saja tidak cukup, sebab kemampuan membuahi tergantung pada kuantitas dan kualitas sperma," tambah Arjatmo.


Menurut pengamatan para ahli, begitu seorang perokok berat yang spermanya kurang bagus berhenti merokok, kualitas bisa meningkat sejauh yang bersangkutan tidak mempunyai gangguan organik lain. "Namun, kecuali berhenti merokok, ia harus juga mengubah pola hidupnya. Kalau tetap kurang tidur, makan tidak teratur, atau badan terlalu capek, kualitas spermanya tidak akan membaik."


Menjadi faktor risiko DE


Kerugian secara seksual para perokok secara khusus disoroti oleh spesialis bedah urologi dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, dr. Akmal Taher, Sp.BU. "Perokok kronik umumnya memiliki sperma berkualitas jelek. Bahkan DNA para perokok pun kena pengaruhnya," kata Akmal Taher.


Menurut Akmal Taher, efek rokok tidak hanya pada kualitas dan kuantitas sperma, tetapi juga menjadi faktor risiko disfungsi seksual. Gangguan seksual pada pria terdiri atas gangguan libido, ereksi, ejakulasi, dan gangguan orgasme. Khusus pada perokok, gangguan disfungis ereksi (DE) sering terjadi. Penelitian bertahap sejak 1997 yang dilakukan Akmal Taher dkk. di RS. Cipto Mangunkusumo menunjukkan, rokok merupakan 16,8% faktor risiko pada DE. Artinya, dari sejumlah pria penderita DE yang diteliti, hampir seperlimanya disebabkan oleh kebiasaan merokok.


Bahwa zat-zat yang terkandung di dalam rokok berdampak negatif terhadap alat reproduksi pria pernah dibuktikan dalam sebuah percobaan dengan sampel manusia sekitar 10 tahun lalu di AS. Malahan, apabila si perokok juga mengidap gangguan penyakit lain seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kadar kolesterol tinggi, dan PJK, gangguan DE makin parah hingga 3 - 4 kalinya.


Percobaan juga pernah dilakukan pada binatang. Ketika terkena asap rokok yan g pekat dalam waktu singkat terjadi penyempitan pembuluh darah binatang itu. Namun, begitu asap rokok disingkirkan, pembuluh darah melebar kembali.


Kembali ke soal DE, kata Akmal, semakin berat gangguan DE, semakin sulit pula pemulihannya. Cara pengobatan yang kini lazim dipakai adalah, pertama-tama menghentikan kebiasaan merokok. Kemudian dicoba dengan arterialisasi atau semacam bedah by-pass dengan menambah pembuluh darah baru pada penis, diambilkan dari pembuluh darah pada bagian lain tubuh. "Namun, hasilnya tidak bisa seratus persen," tambah Akmal.


Cara lain, dengan obat atau suntikan yang dilakukan secara rutin. Ini pun menyaratkan dihentikannya rokok terlebih dahulu, dan kalau terdapat gangguan sampingan harus terus dipantau. Misalnya, tekanan darah, kadar gula darah, dan kadar kolesterol terus dijaga agar tetap stabil.


Sepengetahuan Arjatmo, rokok lebih besar dampaknya pada kualitas sperma ketimbang pada DE. Guru besar andrologi ini berkesimpulan, impotensi kebanyakan terjadi akibat gangguan psikis seperti stress, fisik terlalu capek, hubungan yang kurang harmonis dengan pasangan, atau punya pasangan lain di luar istri, juga penyakit degeneratif tertentu yang menyebabkan gangguan sirkulasi darah. Kalau penyebabnya faktor psikis, dengan berhenti merokok saja tidak akan terobati, harus dilakukan pendekatan secara psikologis. Namun, banyak pasien yang tidak mau mengakui kalau penyebabnya faktor psikis. "Mereka langsung mencoba segala macam obat yang ternyata hanya menolong sementara.


Meracuni janin


Dampak negatif rokok terhadap janin juga tidak diragukan lagi. Secara logis bisa dipahami, bila pembelahan sel-sel mengalami gangguan karena nikotin yang masuk ke dalam darah, dengan sendirinya terhambat pula pertumbuhan janin. Akibatnya, bisa terjadi keguguran atau bayi lahir cacat seperti bibir sumbing, hidung pipih, atau berat badan kurang.


"Jangan lupa bahwa racun bisa masuk ke dalam tubuh perokok pasif," tegas Arjatmo. Karena, meski tidak merokok, mereka ikut menghisap asap sampingannya sehingga tidak lepas dari dampak buruknya. "Karena itulah, bila istri sedang hamil, jangan sekali-kali suami merokok di dalam kamar, mobil, atau ruangan tertutup lain. Salah satu asap rokok meracuni janin." Begitu pula setelah lahir, sebaiknya bayi dihindarkan dari asap rokok.


Hasil sebuah penelitian di Jepang menunjukkan, para istri dari pria perokok punya peluang terkena kanker 20 - 55% lebih tinggi daripada istri bukan perokok. Untuk mengurangi dampak buruk, para perokok pasif dianjurkan menyantap berbagai sayuran segar dan buah-buahan setiap hari, memasang penyaring udara di tempat kerja atau di rumah, juga menghiasi rumah dengan berbagai tanaman pot untuk mengeliminasi gas polutan.


Niat, faktor utama


Rokok memiliki kekuatan adiksi yang terbilang besar. Orang yang terlanjur memiliki kebiasaan merokok, sulit untuk menghentikannya. Semakin lama seseorang kebiasaan merokok, sel-sel otak semakin terbiasa dengan paparan kadar nikotin tertentu. Sebab itu, bila suatu saat seorang perokok menghentikan kebiasaannya, pasti akan terasa tersiksa, baik fisik maupun mentalnya. Pada tahap ini, tentu keputusan tergantung pada si perokok sendiri, apakah beberapa waktu dapat menahan rasa tersiksa ataukah kembali merokok.


Banyak anjuran untuk menghentikan rokok. Banyak pula ajaran dari bekas pengidap ketergantungan pada rokok. Tak sedikit pula teori yang dipublikasikan. Ada yang menyarankan untuk berhenti secara bertahap, ada yang menyarankan untuk berhenti secara bertahap, ada yang melakukan substitusi alias mengganti keinginan mengisap rokok dengan dengan hal lain. Ada pula rangkuman aneka kiat yang dibukukan oleh organisasi kesehatan dunia WHO berjudul Leave the Pack Behind.


Tjandra Yoga Aditama, dokter spesialis paru-paru dari RS Persahabatan Jakarta pernah mengatakan, untuk menghentikan ketagihan secara psikologis, si perokok perlu mengubah kebiasaan. Misalnya, kalau biasa merokok setelah minum teh atau kopi, untuk mengurangi kebiasaan itu perlu mengganti teh atau kopi dengan air putih segar. Atau jam minumnya diganti. Kalau jam merokoknya tak menentu perlu diganti jadwal tetap, misalnya pukul 08.00, 12.00, 16.00. Sedapat mungkin diusahakan merokok hanya pada jam-jam tertentu. Atau bisa dengan cara menunda atau menahan keinginan merokok. Sebagai pengganti, bisa minum air putih atau berjalan-jalan ke luar. Mengurangi jumlah rokok secara bertahap pun menurut dr. Yoga cukup efektif. Misalnya, kalau sebelumnya 20 batang sehari, dibatasi menjadi 10 batang, dan seterusnya. Namun, ini sungguh membutuhkan kedisiplinan.


Repotnya, kebanyakan perokok bisa disiplin dalam banyak hal, tetapi tidak untuk berdisiplin dalam banyak hal, tetapi tidak untuk berdisiplin menahan keinginan merokok. Barangkali niat kuat adalah anjuran klise, namun para mantan nikotinis mendapat bukti, ya niat itulah kunci utama. Mereka menganalogikan proses penghentian kebiasaan merokok seperti mengemudikan mobil: mengerem habis tanpa melalui proses setahap demi setahap. Tapi sekali lagi, kuncinya adalah kata klise itu tadi: niat. Pertanyaannya sekarang, di manakah niat itu? Wahai para perokok, marilah kita bersama-sama mencari sang "niat". Sampai dapat.


Source: Majalah Intisari, no.458 - September 2001

GET UPDATE VIA EMAIL
Jika Anda Menyukai Artikel di Blog Ini, Silahkan Berlangganan via RSS. Isi Alamat Email Anda di Bawah Ini:

MAJALAH BOBO 1980-an

Tambahkan Kami di Facebook

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes