Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 April 2012

Mengurangi Ozon dari Muka Bumi

GUNA ozon (03) kita sudah tahu, yaitu melindungi Bumi dari serangan jahat sinar ultraviolet (UV). Untuk melindungi planet yang sedemikian besar tentu diperlukan ozon yang banyak sekali. Secara alami ia bertengger pada ketinggian 8 - 50 km di atas permukaan bumi. Bila berada di muka Bumi, meski dalam konsentrasi yang sedikit, ozon justru berbahaya bagi umat manusia.


Ozon di permukaan (ground-level ozone) berasal dari reaksi kimia antara komponen organik yang mudah menguap (volatile organic compounds, VOC) dan oksida nitrogen. Reaksi ini berlangsung dengan adanya sinar Matahari. Sumber-sumber VOC dan oksida nitrogen ternyata ada disekitar kita. Misalnya, kendaraan bermotor, industri besar dan sumber-sumber pembakaran, industri kecil seperti fasilitas penyaluran BBB, cat dan pembersih, termasuk juga peralatan konstruksi dan mesin pemotong rumput.


Konsentrasi ozon bisa mencapai tingkat tidak menyehatkan ketika cuaca panas dengan kondisi angin semilir. Inilah yang sebenarnya tak kalah berbahaya manakala kita menghirupnya. Semua orang, tak terkecuali anak-anak, yang terbiasa di luar ruangan punya risiko sama. Apalagi mereka yang sensitif dan menyimpan penyakit pernapasan atau asma.


Ozon bisa menyebabkan infeksi dan iritasi saluran napas, meski relatif terjadi dalam level rendah. Gejala yang terjadi yakni sulit bernapas, batuk, dan iritasi tenggorokan. Menghirup ozon dapat mempengaruhi fungsi paru-paru dan memperburuk asma. Studi medis menunjukkan, ozon merusak jaringan paru-paru.


Nah, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengurangi kerugian akibat ozon tadi, sekaligus menjaga agar lapisan ozon di atas sana setia melindungi kita.


1. Menghemat energi di mana saja. Irit listrik, misalnya dengan mengefisienkan penggunaan pendingin ruangan, mematikan lampu saat tidak terpakai. Pemborosan listrik akan meningkatkan produksi pembangkit listrik, padahal pembangkit listrik banyak yang masih mengandalkan BBM.


2. Tune up mesin, mobil, kapal, dan mesin-mesin lainnya sesuai dengan spesifikasi pabriknya.


3. Gunakan bus umum, sepeda, kendaraan umum, atau jalan kaki saja jika mungkin.


4. Pakailah cat dan pembersih ramah lingkungan.


5. Mengisi bensin atau bahan bakar kendaraan setelah petang. Pada siang hari, suhu lebih tinggi sehingga ketika bensin dialirkan akan mempercepat penguapannya.


6. Beberapa produk yang biasa kita pakai dibuat secara kimia dengan bentuk smog, sehingga bisa menguap ketika kita menggunakannya. Ikuti rekomendasi produsen untuk penggunaannya dan tutup baik-baik pembersih, cat, atau bahan kimia lainnya untuk mencegah penguapan ke udara.


7. Jangan biarkan mesin menganggur (idle). Selain memboroskan BBM, sisa pembakaran mesin yang idle (kalau kendaraan bermotor berarti tidak berjalan) sangat polutif dan beracun. Tidak sulit 'kan?


Source: Majalah Intisari, no.477 - April 2003

Selasa, 27 Maret 2012

ROKOK : Risiko Janin dan Impotensi

Di satu sisi rokok dibenci. Pada lain sisi ia dicintai sampai mati. Penyakit akibat rokok bertebaran, korban juga berjatuhan. Namun, para nikotinis alias perokok tetap mengabaikan. Serangan jantung? Stroke? Kanker?
Anggaplah itu risiko. Namun kalau risiko itu juga harus ditanggung janin di dalam kandungan, juga mengancam potensi seksual kaum laki-laki, para perokok harus memikirkan kembali kesetiaannya.


BELUM ada angka pasti jumlah mutakhir perokok di Tanah Air. Namun, di lihat dari gencarnya iklan rokok di media massa, boleh jadi itu sejalan dengan (makin) banyaknya jumlah perokok. Kalau mau dilihat lagi, di masa krisis, ketika tak banyak produk beriklan, rokok adalah komoditas yang terus tumbuh bagai tak terpengaruh. Menjadi penaja banyak acara, bahkan menyokong pendanaan program sosial pemerintah.


Di kancah bisnis pun usaha rokok terbilang raksasa, sehingga selalu punya dana amat besar untuk mencari peluang beriklan ketika dicegat di banyak tempat. Mereka sanggup membayar tenaga kreatif dan pelaksana periklanan untuk membuat iklan secara tersamar dan simbolis, menyebabkan orang tak tahu itu iklan rokok seandainya tidak disertai label "Peringatan Pemerintah". Namun, kreasi itu kini berkembang lagi. Label yang wajib dicantumkan dalam kemasan maupun iklan rokok itu justru dipasang besar-besaran, sementara merek rokoknya sendiri hanya diterakan kecil di sudut bidang iklan. Label "Peringatan Pemerintah", ironisnya, justru menjadi bahan dominan buat beriklan.


Sepertiga kanker akibat rokok


Tap kita tidak ingin bicara mengenai nilai ekonomis rokok. Sebab bagaimanapun, nilai cukai yang dihasilkan oleh bisnis tembakau beraroma itu sangat besar dan masih amat diperlukan bagi keuangan negara.


Yang kita bahas, dengan tak jemu-jemunya, adalah dampak rokok bagi kesehatan. Kalau selama ini yang biasa dicuatkan adalah seruan "biasa-biasa saja" semacam "Merokok dapat membahayakan kesehatan", belakangan lebih lengkap seperti di terakan pada label "Peringatan Pemerintah" tadi: merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, gangguan kesehatan janin, dan impotensi.


Bagi para nikotinis, dua akibat terdahulu praktis di abaikan, dianggap risiko yang inheren dengan kebiasaan. Rata-rata perokok siap dengan akibat itu. Namun, dua risiko terakhir benar-benar membuat para perokok harus berpikir lagi. Bagi perempuan hamil, atau suami yang istrinya hamil, ancaman kelangsungan nasib si jabang bayi sungguh membuat mereka gentar.


Nah, soal ancaman rokok bagi kesuburan dan potensi seksual kaum pria, agaknya cukup efektif karena terbukti meresahkan laki-laki perokok. Kampanye yang diawali di Thailand sekitar 1995 itu dianggap berhasil menurunkan jumlah perokok walau tidak signifikan. Namun, sekurang-kurangnya bidikan yang langsung tertuju pada harkat dan martabat kelaki-lakian itu telah menciptakan kegundahan tersendiri.


Di dalam asap rokok terdapat tak kurang dari 4.000 molekul, sebagian besar berdampak buruk. Komponen yang paling jelek adalah CO (karbon monoksida) dan nikotin. Nikotin kalau diisap menyebabkan hilang atau berkurangnya rasa kantuk. Bahkan banyak perokok merasakan nikotin mampu meredam nafsu makan.


Berkurangnya rasa kantuk akibat nikotin yang merangsang sekresi hormon-hormon di dalam tubuh, antara lain adrenalin. Hormon ini mengganggu metabolisme lemak sehingga darah menjadi lebih kental. Pengentalan darah bisa mengakibatkan terjadinya arteriosklerosis (penyempitan pembuluh darah).


Menurut ahli kedokteran olahraga dr. Sadoso Sumosardjuno, Sp.KO., risiko rokok terhadap penyakit sedikit banyak ditentukan oleh jumlah rokok yang diisap dalam sehari. Semakin banyak tentu semakin tinggi risikonya. Walaupun hal-hal lain seperti kadar lemak darah yang tinggi (kolesterol) dan kurang aktivitas fisik, berat badan, tekanan darah tinggi, serta stress dan ketegangan ikut menunjang terjadinya arteriosklerosis penyebab utama terjadinya penyakit jantung koroner (PJK).


Hasil penelitian yang pernah dilakukan dr. Joseph Brennan dan koleganya dari Johns Hopkins University, Maryland, terhadap pasien penderita kanker menunjukkan, para perokok cenderung mengalami kerusakan gen p53 yang melindungi tubuh dari kanker. Mereka menduga bahan penyebab kanker dari asap tembakau melekat pada material sel genetik dan kemudian menonaktifkan gen p53.


Dari pengamatan terhadap 129 orang penderita kanker kepala dan leher, diketahui bahwa perokok cenderung mengalami mutasi gen p53 dua kali lebih besar ketimbang bukan perokok. Mutasi tiga kali lebih lazim pada orang yang sehari-hari merokok dan menenggak minuman beralkohol. Mutasi gen p53 terjadi pada 17% dari para penderita kanker yang tidak merokok ataupun tidak minum alkohol, 33% pada mereka yang merokok, dan 58% pada mereka yang mengonsumsi gabungan rokok dan minuman beralkohol. Para ahli yakin, sepertiga dari seluruh kanker ada hubungannya dengan asap rokok.


Menurunkan kualitas sperma


Nikotin serta asap rokok mengeluarkan racun karsinogenik yang dapat menyebabkan beraneka macam gangguan kesehatan. Saat seseorang merokok, nikotin dalam asap akan terisap masuk ke paru-paru, kemudian ikut terserap oleh darah, dan selanjutnya akan menyebar ke seluruh tubuh.


Rokok bagaikan pabrik kimia. Tar merupakan kumpulan dari ribuan macam bahan kimia, di antaranya CO, nitrogen oksida, sianida, hidrogen, amonia, asetilen, benzaldehida, benzena, metanol, dll. yang bisa mengganggu kesehatan. Sebatang rokok mengandung 3 - 6% CO yang kalau masuk ke dalam peredaran darah akan mengurangi kemampuan hemoglobin darah untuk mengikat oksigen. Kadar CO dalam darah perokok berat bisa mencapai 5%. Tentu saja ini bisa menganggu kesehatan.


Penyakit yang dapat dipicu oleh rokok antara lain penyakit kanker (paru-paru, tenggorokan, pita suara, lambung), penyakit jantung koroner, bronkitis, emfisema (melebarnya gelembung paru-paru), tekanan darah tinggi yang bisa menyebabkan stroke, katarak, sinusitis. Bahkan belakangan ditekankan pula bahwa rokok bisa mengganggu pertumbuhan janin dan gangguan kesuburan pria maupun wanita.


"Bagaimana tidak," komentar Prof. dr. H. Arjatmo Tjokronegoro, Ph.D., Sp.And., spesialis andrologi dari FKUI. "Seseorang yang terus-menerus merokok selama bertahun-tahun, tentu saja darahnya akan tercemar oleh nikotin yang melalui pembuluh darah akan dibawa kemana-mana, termasuk ke organ reproduksi. Racun nikotin akan berpengaruh terhadap spermatogenesis atau terjadinya pembelahan sperma para pria. Padahal pembelahan itu sangatlah kompleks, yang kemudian bisa menjadi gen dari si pemilik sperma."


Padahal syarat untuk dapat membuahi sel telur, sperma harus berkualitas baik. Artinya, jumlahnya cukup, kualitas yang meliputi bentuk, gerakan, dan kecepatannya harus baik. "Sperma yang teler mustahil mampu membuahi sel telur yang sarangnya cukup jauh dari vagina. Ejakulasi yang kuat saja tidak cukup, sebab kemampuan membuahi tergantung pada kuantitas dan kualitas sperma," tambah Arjatmo.


Menurut pengamatan para ahli, begitu seorang perokok berat yang spermanya kurang bagus berhenti merokok, kualitas bisa meningkat sejauh yang bersangkutan tidak mempunyai gangguan organik lain. "Namun, kecuali berhenti merokok, ia harus juga mengubah pola hidupnya. Kalau tetap kurang tidur, makan tidak teratur, atau badan terlalu capek, kualitas spermanya tidak akan membaik."


Menjadi faktor risiko DE


Kerugian secara seksual para perokok secara khusus disoroti oleh spesialis bedah urologi dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, dr. Akmal Taher, Sp.BU. "Perokok kronik umumnya memiliki sperma berkualitas jelek. Bahkan DNA para perokok pun kena pengaruhnya," kata Akmal Taher.


Menurut Akmal Taher, efek rokok tidak hanya pada kualitas dan kuantitas sperma, tetapi juga menjadi faktor risiko disfungsi seksual. Gangguan seksual pada pria terdiri atas gangguan libido, ereksi, ejakulasi, dan gangguan orgasme. Khusus pada perokok, gangguan disfungis ereksi (DE) sering terjadi. Penelitian bertahap sejak 1997 yang dilakukan Akmal Taher dkk. di RS. Cipto Mangunkusumo menunjukkan, rokok merupakan 16,8% faktor risiko pada DE. Artinya, dari sejumlah pria penderita DE yang diteliti, hampir seperlimanya disebabkan oleh kebiasaan merokok.


Bahwa zat-zat yang terkandung di dalam rokok berdampak negatif terhadap alat reproduksi pria pernah dibuktikan dalam sebuah percobaan dengan sampel manusia sekitar 10 tahun lalu di AS. Malahan, apabila si perokok juga mengidap gangguan penyakit lain seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kadar kolesterol tinggi, dan PJK, gangguan DE makin parah hingga 3 - 4 kalinya.


Percobaan juga pernah dilakukan pada binatang. Ketika terkena asap rokok yan g pekat dalam waktu singkat terjadi penyempitan pembuluh darah binatang itu. Namun, begitu asap rokok disingkirkan, pembuluh darah melebar kembali.


Kembali ke soal DE, kata Akmal, semakin berat gangguan DE, semakin sulit pula pemulihannya. Cara pengobatan yang kini lazim dipakai adalah, pertama-tama menghentikan kebiasaan merokok. Kemudian dicoba dengan arterialisasi atau semacam bedah by-pass dengan menambah pembuluh darah baru pada penis, diambilkan dari pembuluh darah pada bagian lain tubuh. "Namun, hasilnya tidak bisa seratus persen," tambah Akmal.


Cara lain, dengan obat atau suntikan yang dilakukan secara rutin. Ini pun menyaratkan dihentikannya rokok terlebih dahulu, dan kalau terdapat gangguan sampingan harus terus dipantau. Misalnya, tekanan darah, kadar gula darah, dan kadar kolesterol terus dijaga agar tetap stabil.


Sepengetahuan Arjatmo, rokok lebih besar dampaknya pada kualitas sperma ketimbang pada DE. Guru besar andrologi ini berkesimpulan, impotensi kebanyakan terjadi akibat gangguan psikis seperti stress, fisik terlalu capek, hubungan yang kurang harmonis dengan pasangan, atau punya pasangan lain di luar istri, juga penyakit degeneratif tertentu yang menyebabkan gangguan sirkulasi darah. Kalau penyebabnya faktor psikis, dengan berhenti merokok saja tidak akan terobati, harus dilakukan pendekatan secara psikologis. Namun, banyak pasien yang tidak mau mengakui kalau penyebabnya faktor psikis. "Mereka langsung mencoba segala macam obat yang ternyata hanya menolong sementara.


Meracuni janin


Dampak negatif rokok terhadap janin juga tidak diragukan lagi. Secara logis bisa dipahami, bila pembelahan sel-sel mengalami gangguan karena nikotin yang masuk ke dalam darah, dengan sendirinya terhambat pula pertumbuhan janin. Akibatnya, bisa terjadi keguguran atau bayi lahir cacat seperti bibir sumbing, hidung pipih, atau berat badan kurang.


"Jangan lupa bahwa racun bisa masuk ke dalam tubuh perokok pasif," tegas Arjatmo. Karena, meski tidak merokok, mereka ikut menghisap asap sampingannya sehingga tidak lepas dari dampak buruknya. "Karena itulah, bila istri sedang hamil, jangan sekali-kali suami merokok di dalam kamar, mobil, atau ruangan tertutup lain. Salah satu asap rokok meracuni janin." Begitu pula setelah lahir, sebaiknya bayi dihindarkan dari asap rokok.


Hasil sebuah penelitian di Jepang menunjukkan, para istri dari pria perokok punya peluang terkena kanker 20 - 55% lebih tinggi daripada istri bukan perokok. Untuk mengurangi dampak buruk, para perokok pasif dianjurkan menyantap berbagai sayuran segar dan buah-buahan setiap hari, memasang penyaring udara di tempat kerja atau di rumah, juga menghiasi rumah dengan berbagai tanaman pot untuk mengeliminasi gas polutan.


Niat, faktor utama


Rokok memiliki kekuatan adiksi yang terbilang besar. Orang yang terlanjur memiliki kebiasaan merokok, sulit untuk menghentikannya. Semakin lama seseorang kebiasaan merokok, sel-sel otak semakin terbiasa dengan paparan kadar nikotin tertentu. Sebab itu, bila suatu saat seorang perokok menghentikan kebiasaannya, pasti akan terasa tersiksa, baik fisik maupun mentalnya. Pada tahap ini, tentu keputusan tergantung pada si perokok sendiri, apakah beberapa waktu dapat menahan rasa tersiksa ataukah kembali merokok.


Banyak anjuran untuk menghentikan rokok. Banyak pula ajaran dari bekas pengidap ketergantungan pada rokok. Tak sedikit pula teori yang dipublikasikan. Ada yang menyarankan untuk berhenti secara bertahap, ada yang menyarankan untuk berhenti secara bertahap, ada yang melakukan substitusi alias mengganti keinginan mengisap rokok dengan dengan hal lain. Ada pula rangkuman aneka kiat yang dibukukan oleh organisasi kesehatan dunia WHO berjudul Leave the Pack Behind.


Tjandra Yoga Aditama, dokter spesialis paru-paru dari RS Persahabatan Jakarta pernah mengatakan, untuk menghentikan ketagihan secara psikologis, si perokok perlu mengubah kebiasaan. Misalnya, kalau biasa merokok setelah minum teh atau kopi, untuk mengurangi kebiasaan itu perlu mengganti teh atau kopi dengan air putih segar. Atau jam minumnya diganti. Kalau jam merokoknya tak menentu perlu diganti jadwal tetap, misalnya pukul 08.00, 12.00, 16.00. Sedapat mungkin diusahakan merokok hanya pada jam-jam tertentu. Atau bisa dengan cara menunda atau menahan keinginan merokok. Sebagai pengganti, bisa minum air putih atau berjalan-jalan ke luar. Mengurangi jumlah rokok secara bertahap pun menurut dr. Yoga cukup efektif. Misalnya, kalau sebelumnya 20 batang sehari, dibatasi menjadi 10 batang, dan seterusnya. Namun, ini sungguh membutuhkan kedisiplinan.


Repotnya, kebanyakan perokok bisa disiplin dalam banyak hal, tetapi tidak untuk berdisiplin dalam banyak hal, tetapi tidak untuk berdisiplin menahan keinginan merokok. Barangkali niat kuat adalah anjuran klise, namun para mantan nikotinis mendapat bukti, ya niat itulah kunci utama. Mereka menganalogikan proses penghentian kebiasaan merokok seperti mengemudikan mobil: mengerem habis tanpa melalui proses setahap demi setahap. Tapi sekali lagi, kuncinya adalah kata klise itu tadi: niat. Pertanyaannya sekarang, di manakah niat itu? Wahai para perokok, marilah kita bersama-sama mencari sang "niat". Sampai dapat.


Source: Majalah Intisari, no.458 - September 2001

Jumat, 23 Maret 2012

Agar Selamat Dari Musibah Kapal Laut

Penumpang kapal motor sering kurang mengetahui tata cara penyelamatan bila terjadi musibah. Padahal pengetahuan dan keterampilan itu penting. Berikut sekilas tata cara penyelamatan di kapal motor penumpang (KMP) yang bisa amat vital di saat kritis.


MUNGKIN masih belum lepas dari ingatan kita, betapa ngerinya petaka yang menimpa penumpang KMP (Kapal Motor Penumpang) Tampomas II. Puluhan orang terpanggang di atas geladak kapal sebelum menyelamatkan diri, meskipun akhirnya banyak juga yang harus kehilangan nyawa. Itu baru sebuah contoh kasus. Masih banyak lagi kecelakaan kapal laut yang berbuntut jatuhnya banyak korban jiwa.


Maka pengetahuan dan ketrampilan penyelamatan menjadi penting bagi penumpang KMP. Dengan bekal itu anak buah kapal (ABK) terlatih, pemadam kebakaran, pelampung, sekoci bermotor, dan peralatan penyelamatan lainnya, yang selalu ada di dalam kapal motor penumpang, bisa difungsikan secara optimal. Bila terjadi kecelakaan, korban yang jatuh pun bisa ditekan serendah mungkin.


Jangan salah sekoci


Beberapa jenis kecelakaan yang biasa menimpa sebuah kapal motor penumpang di antaranya kebakaran, kebocoran, karam, diterpa badai atau gelombang ganas. Apabila kecelakaan itu tidak dapat ditanggulangi dan berpeluang besar menjadi musibah, nakhoda akan memerintahkan ABK dan penumpang segera meninggalkan kapal. Perintah itu dalam bentuk sandi bunyi seperti peluit sebanyak tujuh kali pendek-pendek dan disusul sekali panjang.


Bila peringatan itu terdengar, manula, ibu hamil, orang sakit, dan anak-anak akan mendapatkan prioritas pertama untuk diselamatkan oleh ABK. Penumpang yang tidak termasuk dalam kelompok itu bisa melakukan tindakan penyelamatan sendiri.


Yang pertama kali dilakukan adalah mengenakan pelampung dan menuju sekoci. Pelampung ini selalu tersedia di lemari yang diberi keterangan sebagai tempat pelampung. Langkah-langkah mengenakannya adalah sebagai berikut:


1. Pegang pelampung dengan lampu pelampung menghadap keluar. Ketika kita terapung-apung di laut, lampu ini bisa dinyalakan dengan menarik tali plastik jingganya, lalu dicelupkan ke dalam air laut. Sedangkan peluitnya bisa dibunyikan siang atau malam hari, untuk mempermudah tim SAR atau tim penolong mengetahui keberadaan kita.


2. Baca nomor stasiun sekoci atau rakit otomatis, tempat kita harus berada, pada bagian atas pelampung.


3. Buka tali pengikat pelampung hingga tergantung bebas.


4. Kalungkan pelampung ke leher melalui kepala.


5. Tarik agak kencang kedua talinya lalu ikat dengan sempurna agar pelampung tidak terlepas ketika kita terjun ke laut.


6. Setelah siap, pergi ke stasiun sekoci seperti tertera pada pelampung.


Selain sekoci bermotor, pada kapal motor penumpang selalu tersedia pula sekoci otomatis. Ketika belum digunakan, bentuknya seperti kapsul raksasa. Begitu jatuh di laut, bentuknya berubah menjadi seperti rumah terapung, lengkap dengan atapnya. Di sinilah penumpang kapal tinggal hingga datang pertolongan.


Selama terapung-apung di atas sekoci atau perahu penyelamat, penumpang tak perlu takut kelaparan. Di dalam laci-lacinya terdapat bahan makanan yang bisa dikonsumsi selama menunggu pertolongan. Jumlahnya tidak banyak, tapi cukup untuk menahan rasa lapar.


Penumpang juga tak perlu khawatir tidak ditemukan tim pencari dan penyelamat (SAR). Setiap kapal motor penumpang dilengkapi dengan alat yang secara otomatis akan memberitahukan posisi terakhir. Namanya emergency position indicating radio beacon (EPRB).


Ketika musibah terjadi, alat itu dilempar ABK ke laut dan talinya diikat di lambung kapal. Selain itu, seorang markonis (petugas radio komunikasi) akan berkomunikasi dengan kapal-kapal lain, stasiun pantai, tim SAR, dan lainnya.


Dengan dukungan EPRB dan markonis, pengetahuan dan keterampilan penyelamatan yang dimiliki penumpang, serta alat-alat penyelamat lainnya, penumpang dan ABK diharapkan bisa selamat saat terjadi musibah.


Source: Majalah Intisari, no.452 - Maret 2001

Kamis, 15 Maret 2012

Takut Makan Telur Karena Kolesterolnya yang Tinggi

Telur merupakan makanan hewani yang banyak keunggulannya. Harganya relatif murah, praktis memasaknya, lezat rasanya, sempurna pula gizinya. Namun, karena kadar kolesterol yang tersimpan dalam bagian kuningnya lumayan tinggi, belakangan mulai muncul ketakutan makan telur. Jadi, patutkah kita menjauhi telur? Hasil-hasil penelitian di manca negara ini barangkali dapat dijadikan cermin.



GARA-GARA bagian kuningnya kaya kolesterol, belakangan telur makin di pojokkan dan dicurigai sebagai provokator serangan stroke dan penyakit jantung koroner (PJK). Sampai-sampai muncul istilah "koles-telur-fobia": takut makan telur.


Padahal telur itu sumber gizi hewani murah yang lengkap gizi: mengandung 13 vitamin esensial serta mineral dengan protein bermutu tinggi. Nilai energinya pun hanya 75 kalori per butirnya. Rasanya, tak ada makanan hewani lain yang bisa dimasak sepraktis telur, dengan rasa yang begitu lezat. Melihat "kebaikannya" itu, kita jadi bertanya-tanya, apa betul telur memang provokator PJK? Bagaimana sih duduk perkaranya?


Didakwa menaikkan kolesterol


Kolesterol merupakan bagian dari lipid, yang secara gampang sering disebut lemak tubuh. Di dalam tubuh, kolesterol merupakan bagian dari membran sel dan myelin (pelindung serat saraf), khususnya saraf otak. Tak kurang dari 11 persen berat otak adalah kolesterol.


Ia juga memegang peranan penting dalam pembentukan hormon seks, vitamin D, dan asam empedu yang diperlukan untuk menerima lemak makanan. Meningkatnya kekebalan tubuh antara lain karena jasanya pula, lewat kerja membentuk sel darah putih.


Jadi, secara alami kolesterol memang sudah terdapat dalam tubuh. Kadar normalnya 15 - 250 mg/dl. Belum pernah ada laporan tentang timbulnya defisiensi kolesterol. Sebaliknya, sudah mulai banyak yang menderita kelebihan kolesterol (hiperkolesterolemia) lantaran kadar kolesterol darahnya melebihi 250 mg/dl. Belum pernah ada laporan tentang timbulnya defisiensi kolesterol. Sebaliknya, sudah mulai banyak yang menderita kelebihan kolesterol (hiperkolesterolemia) lantaran kadar kolesterol darahnya melebihi 250 mg/dl.


Selama beberapa dasawarsa sejak 1960-an, telur menjadi lauk sarapan favorit di Amerika Serikat. Bersamaan dengan itu, muncul kesimpulan sejumlah penelitian yang menyebutkan adanya peningkatan drastis prevalensi (angka kejadian) penderita penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis) akibat menumpuknya kerak lemak pada dinding pembuluh. Karena makanan telur sekarang jadi tren kala itu, jadilah telur didakwa sebagai biang keroknya.


Maklumlah kalau ia di curigai sebab sebutir telur (70 g) mengandung 213 mg kolesterol. Padahal menurut American Heart Association dan US National Institute of Health, asupan kolesterol yang aman tidak lebih dari 300 mg per orang per hari. Berarti sebutir telur sudah menjejalkan dua pertiganya. Bagi penderita hiperkolesterolemia, kolesterol sebutir telur itu berlebihan. Soalnya, mereka tidak diperbolehkan mengkonsumsi kolesterol melebihi 200 mg per hari.


Jika konsentrasi kolesterol dalam darah berlebihan, maka protein tertentu, yakni apo protein B, akan pontang-panting mengangkutnya dalam ikatan lipoprotein, untuk di amankan ke dalam hati. Berjejalnya jumlah kolesterol itu membuat protein dalam ikatan lipoprotein mesti mengalah dan mengurangi kepadatannya guna memberi tempat pada lemak. Karena itu, ikatannya disebut lipoprotein kepadatan (berat jenis) rendah (low density lipoprotein, LDL).


Ibarat sebuah truk yang memuat dua kelompok berbeda, maka kelompok mayoritas biasanya akan mendominasi. Begitu pun dengan kolesterol, jumlahnya yang melimpah dan wataknya yang cenderung destruktif menutupi sifat baik dari protein. Tak heran jika ikatan LDL tadi lalu dikenal sebagai "kolesterol jahat".


Kalau jumlahnya berlebihan, LDL yang kelayapan dalam darah akan mondok di mana-mana di sepanjang dinding pembuluh darah, membentuk kerak lemak. Akibatnya, pembuluh darah menebal dan mengeras, hilang pula kelenturannya. Makin lama kerak lemak akan makin menggunung sehingga lubang pembuluh darah menjadi makin sempit.


Lantaran jalannya menyempit, debit pengiriman oksigen menuju otak dan jantung jadi terganggu. Kalau sampai pasokannya ke otak sempat terhenti, terjadilah stroke, kelumpuhan saraf otak. Lebih gawat lagi jika kemacetan sampai mengganggu pasokan oksigen menuju jantung, bisa-bisa jantung mogok. Syukurlah kalau mogoknya itu tidak untuk selama-lamanya.


Hiperkolesterolemia diyakini para ahli "dunia lama" sebagai akibat konsumsi kolesterol berlebihan. Padahal kolesterol bukanlah zat essensial yang harus dipasok dari luar karena bisa dibuat sendiri di dalam hati. Berapa pun jumlah kolesterol yang diperlukan, tubuh sanggup memenuhinya sendiri, karena hati mampu menghasilkan 2.000 - 3.000 mg kolesterol per hari.


Kalau tubuh bisa memenuhi sendiri kebutuhan kolesterolnya, mengapa kita perlu makan telur yang notabene kaya kolesterol? Apalagi asupan kolesterol justru bikin runyam kesehatan. Inilah yang menimbulkan "koles-telur-fobia", ketakutan makan telur dengan pertimbangan takut akan munculnya kemungkinan dampak buruk kandungan kolesterolnya.


Fakta tentang telur


Mengapa makan telur itu sehat?
Telur merupakan bahan makanan hewani yang harganya relatif murah, praktis dan mudah disiapkan serta lezat rasanya. Selain itu telur mengandung cukup mineral dan semua vitamin, kecuali vitamin C. Komposisi asam aminonya nyaris sempurna, begitu pun daya cerna dan daya serapnya, hanya terkalahkan oleh air susu ibu (ASI). Kalau ASI, daya cernanya 100%, telur 93%. Sementara bahan makanan hewani lainnya jauh di bawahnya, seperti susu sapi (84,5%), ikan (76%), daging sapi (74,3%).


Kolesterol pada telur hanya terdapat dalam bagian kuningnya, sama sekali tidak dalam bagian putihnya. Uniknya, hampir semua kandungan gizi telur justru tersimpan dalam bagian kuningnya yang berkolesterol itu. Hanya beberapa vitamin B-kompleks, seperti riboflavin (B2) dan niasin (B3), serta natrium yang kadarnya sedikit lebih tinggi dalam putihnya telur.


Masalahnya sekarang, mungkinkah memanfaatkan gizi telur tanpa memungut dampak buruk kolesterolnya?


Sebagian pakar menganggap, tudingan kolesterol telur dapat memicu serangan PJK terlalu dibesar-besarkan, sekalipun bukan berarti tidak ada efeknya sama sekali terhadap kenaikan kolesterol darah. Hasil penelitian Harvard School of Public Health terhadap lebih dari 100.000 penduduk AS yang sehat menyebutkan, responsivitas setiap individu terhadap asupan kolesterol telur berbeda-beda.


Hanya sepertiga responden yang kolesterol darahnya meningkat setelah makan satu butir telur per hari. Itu pun kenaikannya cuma 3 mg/dl, tidak cukup berarti dibandingkan dengan asupan 213 mg/dl kolesterol yang berasal dari sebutir telur. Bahkan sebagian kecil di antara responden makan dua butir atau lebih setiap hari.



Pertanyaannya kemudian, mengapa konsumsi telurd tidak otomatis meningkatkan kadar? Tim Harvard menemukan adanya sejumlah zat gizi dalam telur - antara lain zat antioksidan, asam folat, dan komponen vitamin B lain - yang bersifat counter balance terhadap naiknya kadar kolesterol darah (Journal of the American Medical Association, 21 April 1999).


Selain zat-zat tadi, sifat meredam kenaikan kadar kolesterol darah juga terdapat dalam lemak telur. Dari 5 g kandungan lemak totalnya, lebih dari separuhnya merupakan lemak tak jenuh dengan ikatan rangkap tunggal. Lemak tak jenuh tunggal, yang menyokong kadar "kolesterol baik" (high density lipoprotein, HDL), ini justru bersifat antiaterosklerosis - mencegah penyempitan pembuluh darah dan bersahabat dengan jantung.


Sebagai pembanding, tim Harvard juga melakukan penelitian efek lemak lain terhadap kenaikan kadar kolesterol darah. Hasilnya, dibandingkan dengan konsumsi makanan berkolesterol, makanan mengandung lemak jenuh dan lemak trans sebenarnya lebih berpotensi memicu hiperkolesterolemia, yang berujung pada meningkatnya risiko terserang stroke dan PJK.


Sementara itu tim peneliti US National Heart, Lung, and Blood Institute menyimpulkan, konsumsi makanan berkolesterol tidak memberikan efek berarti terhadap kenaikan kadar kolesterol darah. Penelitian dilakukan dengan membatasi konsumsi kuning telur para responden. Hasilnya, hanya 15% responden yang mengalami penurunan kolesterol darah, itu pun persentase penurunannya relatif sedikit.


Asam lemak jenuh lebih berperan


Dr. Wanda Howell dkk. dari University of Arizona melakukan analisis statistik terhadap 224 hasil penelitian tentang hubungan antara diet dan kolesterol darah. Seluruh penelitian melibatkan lebih dari 8.000 responden dan dilakukan sepanjang 25 tahun. Kesimpulannya, konsumsi makanan mengandung asam lemak jenuhlah yang paling berperan menaikkan kadar kolesterol darah, bukan konsumsi makanan berkolesterol (American Journal of Clinical Nutrition, 1999: 65).


Karena itu, Frank Hu, M.D., ketua tim peneliti Harvard, menasihatkan pembatasan konsumsi makanan mengandung lemak jenuh (misalnya daging,  ayam ras, susu berlemak) dan lemak trans (misalnya margarin) lebih penting daripada membatasi kolesterol telur. Dalam kesempatan berbeda Dr. Wanda Howell pun menekankan, konsumsi lemak jenuh pada orang sehat selayaknya lebih diperhatikan daripada konsumsi kolesterol. Soalnya, terbukti bahwa telur mengandung kolesterol yang aman bagi kesehatan jantung, sekaligus lezat dan bergizi.


Temuan ini setidaknya bisa membantu menjelaskan mengapa konsumsi telur per kapita yang tinggi di suatu negara tidak secara otomatis membengkakkan prevalensi PJK. Contohnya, konsumsi telur per kapita di Prancis, AS, dan Inggris masing-masing 5,1 butir; 4,5 butir, dan 3,3 butir. Sementara data kematian akibat PJK per 100.000 penduduk per tahun di negara-negara itu berturut-turut 250 orang, 400 orang, dan 516 orang.


Dalam data itu terlihat, prevalensi kematian akibat PJK berbanding terbalik dengan tingkat konsumsi telur. Di antara ketiga negara,  Perancis yang konsumsi telurnya tinggi, tingkat kematian akibat PJK justru paling rendah. Sebaliknya dengan Inggris, sekalipun konsumsi telur perkapitanya paling rendah, tingkat kematian penduduk akibat PJK justru paling tinggi.


Yang menarik, kematian akibat PJK di Jepang justru paling rendah, padahal konsumsi telur per kapita di sana paling tinggi di dunia, yakni 6,5 butir (Nutrition Close-Up, 13(3), 1996).


Tetap menikmati telur


Jika demikian hasilnya, mengapa prevalensi hiperkolesterolemia di AS meninggi bersamaan dengan membudayanya makan telur? Ternyata pada saat yang sama, tingkat konsumsi lemak mereka per kapita mencapai 37% dari kebutuhan energi. Padahal batas toleransi konsumsi lemak yang sehat maksimum 30%.


Dengan demikian, tidak layak menghubungkan telur dan risiko PJK. Atau, kalaupun ada hubungannya, telur pasti tidak bekerja sendirian sebagai pemicu PJK.


Pada orang sehat dan sedang dalam masa pertumbuhan, asupan kolesterol umumnya hanya menaikkan kolesterol darah sedikit. Sejumlah penelitian membuktikan, orang-orang yang konsumsi lemaknya rendah dapat makan 1 - 2 butir telur per hari tanpa peningkatan kolesterol darah secara berarti. Hal sebaliknya terjadi pada penderita kencing manis (diabetes mellitus), kolesterol darah mereka sangat responsif terhadap asupan kolesterol makanan.


Lalu siapa saja yang bisa leluasa makan telur? Siapa pun yang masih dalam masa pertumbuhan (terutama anak prasekolah), tidak memiliki silsilah keluarga dengan PJK, mempunyai profil lemak darah sehat, berat badan normal (ideal), tidak merokok, dan rutin berolahraga. Profil lemak darah disebut sehat jika kadar kolesterol total 200 mg/dl, kolesterol HDL 50 mg/dl, kolesterol LDL 150 mg/dl, dan trigliserida 150 mg/dl.


Baku debat soal ada tidaknya pengaruh konsumsi telur terhadap PJK yang telah dimulai sejak 1960-an agaknya masih belum akan berakhir. Namun, tentu ada cara menikmati telur tanpa perlu menerima akibat negatifnya,  yakni dengan membatasi diri hanya makan 3 - 4 butir telur per minggu. Bahkan dalam dasawarsa terakhir dinaikkan ambangnya menjadi 4 - 5 butir. Karena yang mengandung kolesterol hanya bagian kuningnya, maka bagian putihnya boleh bebas di konsumsi.


Jika jumlah itu belum memuaskan Anda, boleh saja menambahkan penggunaan telur substitusi dalam makanan sehari-hari. Untuk menggantikan setiap butir telur, kocok 2 putih telur, 1 sendok makan susu bubuk tanpa lemak (nonfat milk), dan sedikit pewarna kuning alami seperti kunyit bubuk. Sebagai penambah rasa, bubuhkan garam dan merica bubuk. Agar lebih gurih, tambahkan minyak goreng, lebih baik yang kaya lemak tak jenuh tunggal seperti minyak zaitun, minyak wijen, atau minyak kacang tanah.


Jadi, tak ada halangan untuk menikmati telur. Bagi anak-anak, yang sedang dalam masa pertumbuhan, telur tetap merupakan makanan bergizi tinggi yang harganya terjangkau. Di AS pun satu di antara empat penderita salah gizi (malnutrition) tertolong dengan paket makanan sehat ditambah telur. Karena itu, tidak selayaknya kita ikut-ikutan menderita "koles-telur-fobia", alias takut makan telur.


Source: Majalah Intisari, no.452 - Maret 2001

Selasa, 13 Maret 2012

Sehabis Makan, Jangan Langsung Gosok Gigi

Bangun tidur 'ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi, Habis mandi kutolong ibu ...


Demikianlah penggalan lagu anak-anak yang masih sering dinyanyikan sampai sekarang, bahkan mungkin sampai masa mendatang. Mungkin lagu ini sangat besar pengaruhnya pada anak-anak untuk membiasakan diri menggosok gigi ketika ketika mandi pagi atau sore. Kebiasaan tersebut tentu baik sekali untuk memelihara kesehatan gigi.


Sayangnya, upaya pemeliharaan gigi ini kadang dibingungkan oleh berbagai informasi dari media massa, guru, orang tua, bahkan dokter gigi. Sering dikatakan, untuk menjaga kesehatan gigi khususnya agar gigi tidak berlubang , kita harus selalu menyikat gigi setelah makan, minimal dua kali sehari yaitu setelah sarapan pagi dan setelah makan malam atau sebelum tidur. Mana yang benar?


Sebenarnya, gigi kita selalu di selaputi oleh semacam selaput tipis akibat rongga mulut tidak pernah kering dari liur. Selaput tersebut akan menjadi berbagai bakteri berjumlah besar. Selaput tersebut akan menjadi bakteri plak (plague), bila koloni kumannya sudah mencapai jumlah tertentu. Plak sangat tipis dan tidak terlihat dengan mata telanjang. Dibutuhkan waktu berabad-abad sampai dapat dibuktikan adanya hubungan yang jelas antara material alba dengan karies gigi.


Setelah makan, sisa makanan, khususnya makanan karbohidrat, akan mengalami fermentasi terhadap gula (glukosa) makanan. Hasilnya berupa senyawa bersifat asam dan membuat lingkungan sekitar gigi bersuasana asam. Dalam beberapa menit derajat keasaman tadi akan meningkat atau pH-nya turun. Bila berlanjut, penurunan nilai pH akan sampai ke nilai pH kritis, yaitu nilai pH yang dapat memicu dekalsifikasi (hilangnya garam kalsium) pada email gigi.

Bila zat gula pada plak habis difermentasi, sejumlah bakteri lain, diantaranya Veillonella alcalescens, akan merusak kembali senyawa asam hasil fermentasi tersebut. Dengan demikian setelah beberapa waktu, pH plak akan berangsur naik kembali mencapai pH normal. Demikianlah yang selalu terjadi setelah kita makan, terutama makan makanan yang mengandung gula.


Berbagai penelitian memperlihatkan bahwa pH akan kembali normal setelah 20 - 30 menit pasca makan. Dari kenyataan di atas, dapat dikatakan bahwa masa 20 - 30 menit setelah kita makan makanan karbohidrat (mengandung gula) merupakan saat-saat sangat rentan untuk terjadinya kerusakan gigi. Penyikatan gigi pada saat derajat keasaman dalam mulut masih pada tingkat kritis ini akan menambah kerusakan permukaan gigi. Jadi, jangan menyikat gigi segera setelah makan, tunggulah sampai lewat masa genting sesudah makan, yaitu sekitar setengah jam sesudah makan.


Tujuan menyikat gigi adalah membersihkan mulut dari sisa makanan agar fermentasi sisa makanan tidak berlangsung terlalu lama, sehingga kerusakan gigi dapat dihindari. Bila kita menyikat gigi dengan benar, permukaan gigi juga bersih dari plak. Tetapi sekali lagi, plak akan senantiasa terbentuk dari waktu ke waktu.


Memang, tak ada salahnya menyikat gigi ketika mandi pagi atau sore hari. Namun, manfaatnya lebih untuk memelihara kesegaran mulut. Manfaatnya dalam pemeliharaan gigi tidaklah besar.


Masalahnya sekarang, yakinkah kita bahwa plak pada gigi telah terbuang setelah penyikatan gigi? Nah, agar plak gigi hilang perlu cara menyikat gigi yang benar. Celakanya, banyak orang tidak tahu cara menyikat gigi secara benar.


Karena plak tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, mungkin saja plak tidak pernah hilang benar walaupun kita rajin menyikat gigi. Oleh karena itu, cobalah periksakan kepada dokter gigi kita, apakah cara kita menyikat gigi sudah benar. Bila belum, dengan bantuan disclosing agent ia dapat membimbing kita menyikat gigi secara benar.


Nah, selamat menyikat gigi dengan benar pada waktu yang tepat.


Source: Majalah Intisari, no.453 - April 2001

Rabu, 08 Februari 2012

Wig Telah Dikenal Ribuan Tahun Lalu

DALAM beberapa dekade terakhir banyak orang tergila-gila pada wig dalam sekejap mampu mengubah model rambut. Tapi, konon wig telah menjadi mode sejak ribuan tahun lalu. Buktinya, mumi di makam-makam Mesir ditemukan dengan wig mereka, tanpa membedakan apakah itu mumi pria atau wanita.


Suatu suku bangsa percaya, rambut sebagai lambang dan sumber kekuatan. Semakin lebat semakin kuat pula pemiliknya. Contohnya, dalam kisah Samson dan Delilah para prajurit selalu memanjangkan rambutnya agar tidak kehilangan kekuatan dan kalah perang. Mereka pun pantang memotong rambut anak-anak sampai anak itu berusia 1 tahun. Bila dilanggar, di masa datang kekuatan dan kesehatan si anak akan berkurang.


Dengan berbagai cara orang lalu berupaya menebalkan rambutnya. Untuk itulah pertama kali wig dibuat. Pikir mereka, rambut yang lebat secara ajaib akan menambah kekuatan mereka dan membuat musuh ketakutan.


Wig juga berperan memperindah rambut, sekaligus menambah daya tarik antar pria-wanita.Warnanya, tak cuma hitam, pirang, dan putih. Teater di Yunani menggunakan wig berwarna-warni untuk mencerminkan karakter yang berbeda. Hitam mencirikan tirani, yang keriting pirang untuk pahlawan, sedangkan merah khusus bagi punakawan.


Karena mencolok dan mampu menonjolkan status sosial, wig di comot menjadi kelengkapan pakaian profesional yang sekarang masih digunakan dalam pengadilan dan parlemen Inggris.


Meski sudah dikenal di masyarakat Mesir, Asiria, Romawi, dan Yunani kuno, baru abad XVII wig mulai mantap dikenal di Eropa. Hal ini bermula karena nasib Louis XIII dari Perancis yang botak terlalu dini. Agar rambut palsu sang raja tidak terlalu mencolok, sekaligus untuk menjaga perasaannya, para bangsawan pun mengikuti model itu. Tak lama kemudian masyarakat kebanyakan ikut meniru. Perruque atau rambut palsu dalam bahasa Perancis selanjutnya menjadi periwig di lidah orang Inggris, yang akhirnya memendek menjadi wig saja.


Kebiasaan itu semakin menjadi-jadi karena Louis XIV. Ketika kanak-kanak, raja ini disanjung karena rambut ikalnya yang bagus sepanjang bahu. Para pelayan pun berusaha meniru model rambutnya dengan wig. Lucunya, setelah dewasa Louis XIV ikut-ikutan mengenakan wig yang bermula dari model rambutnya sendiri itu.


Selanjutnya wig menyebar ke seluruh Eropa, dikenal di Inggris pada paruh kedua abad XVII. Banyak variasi dengan nama-nama aneh disesuaikan dengan bentuknya seperti: tangga rumah, benih bayam, artichoke (model wig bersusun mirip kubis), komet, sayap merpati, dan punggung babi hutan liar. Sampai pertengahan abad XVIII ada kurang lebih 40 jenis wig.


Banyak orang - mungkin untuk menghemat biaya - dengan pintarnya menata rambut mereka sehingga seperti mengenakan wig. Ada wig yang sedemikian tingginya, sampai-sampai ada karikatur yang menggambarkan seorang tukang cukur yang harus berdiri di atas tangga kalau hendak menatanya.


Tepat sebelum Revolusi Perancis, riasan mahkota kepala ini ada yang tingginya mencapai 1m, sedangkan pirang merupakan warna favorit. Saking populernya wig saat itu, ada wanita yang memiliki hingga 30 wig dengan warna berbeda.


Bahkan di abad XVIII ketika masyarakat Barat memasuki era pemikiran rasional, para prianya pun terus saja mengenakan wig dan tidak peduli dengan kepalsuan itu. Bahkan penulis Inggris Samuel Pepys lebih nyentrik lagi. Ia menggunduli kepalanya lalu mengenakan wig dari rambut aslinya. Menurutnya, itu justru lebih bersih.


Ada lagi yang memilih rambut istri atau anak mereka sebagai wig. Mereka pun tak kurang harus mengawal keluarga mereka dari para pencopet rambut bersenjata gunting yang bisa dengan sigap merampas rambut keriting mereka yang tebal. Sedangkan kalangan masyarakat bawah memanfaatkan demam mode ini dengan menjual rambut mereka kepada penawar tertinggi. Sepanjang perkembangannya wig terbuat dari berbagai bahan: wol, bulu binatang, rambut kuda, jerami, kawat dan nilon.


Source: Majalah Intisari, no.384 - Juli 1995

Rabu, 01 Februari 2012

MSG Dapat Mematikan Rasa

NAMA KERENNYA monosodium glutamate atau disingkat MSG, sedangkan nama jamaknya bisa bumbu masak, vetsin, atau moto. Tak jarang pembeli menyebut salah satu merek moto, namun tak menolak meski yang diterima moto merek lain. Dari pengalaman, benda halus serupa butir kristal itu bisa selalu ditemukan dalam masakan Cina atau India. Alhasil, lahir pemeo, ada masakan Cina ada MSG.


Tapi dari mana asal MSG? 
Konon glutamat telah digunakan pada masakan bangsa Timur sejak lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Menurut pengamatan para juru masak Jepang zaman dulu, kaldu sop terasa lebih enak bila dicampuri Laminaria japonica, sejenis rumput laut. Tentu saja enak, karena batang rumput laut itu mengandung sejumlah besar glutamat alamiah.


Hubungan antara rumput, MSG, dan rasa enak itu ditemukan oleh Profesor Kikunae Ikeda dari University of Tokyo. Tahun 1908 ia berhasil menguraikan dan memisahkan komponen khusus dalam Laminaria japonica yang meningkatkan kualitas rasa itu. Bila ilmuwan Barat percaya hanya ada 4 rasa dasar, yaitu manis, asam, asin dan pahit, maka menurut Ikeda, masyarakat Jepang memiliki satu unsur rasa lain yaitu umami atau sedap.


Melihat potensi glutamat tersebut, sebuah perusahaan Jepang segera menyambar kesempatan untuk mengembangkan MSG secara komersial. MSG yang sesungguhnya berbentuk konsentrat sodium itu, biasanya oleh bangsa timur di ekstrakkan dari rumput laut, sedangkan bangsa Barat mengambilnya selain dari rumput laut, juga bit, dan biji-bijian, seperti kacang dan kedelai.


Kini, tak kurang dari 200.000 ton MSG dikonsumsi orang di seluruh bagian belahan bumi per tahun. Karena masyarakat Jepang dan Cina tercatat paling doyan MSG di dunia, sindroma alergi serius karena zat kimia tersebut dijuluki sindroma Restoran Cina. Akibatnya, tak sedikit kelompok masyarakat, terutama masyarakat Amerika, menyebutnya berbahaya.


Sanggahan bahwa MSG aman dikonsumsi diajukan oleh Asosiasi Glutamat di sana. Menurut mereka, MSG tidak berbeda dengan glutamat yang dikeluarkan tubuh manusia saat memakan bahan yang mengandung protein. Biasanya pun, persentase MSG pada makanan sangat kecil dibandingkan dengan glutamat yang terkandung secara alamiah pada hampir semua bahan makanan. Misalnya, untuk 0,5 kg daging umumnya bisa ditaburkan setengah sendok teh MSG. Artinya, dalam satu porsi hidangan daging ayam MSG-nya hanya kurang dari 10% glutamat yang memang terkandung secara alamiah pada ayam itu.


Meski menurut FDA (Food and Drug Administration) dari AS, MSG dikategorikan" secara umum dipandang aman", masyarakat negara Paman Sam tetap saja ngeri pada MSG. Di balik pro-kontra tentang aman tidaknya MSG, mengapa MSG masih digunakan pada masakan, terutama di restoran?


Konon MSG mampu memadukan semua rasa dengan baik, terutama berbagai rasa rempah. Itulah mungkin sebabnya, koki India - yang senang menggunakan rempah - cenderung menggunakan cukup banyak MSG. MSG juga dinilai bisa melembutkan rasa yang sangat tajam pada beberapa bahan makanan, seperti mengurangi rasa asam tomat, rasa pedas bawang bombay, atau menghilangkan aroma tanah pada kentang.


Mungkin rasa percaya akan "kesaktian" MSG pula yang tertanam dalam pikiran masyarakat Indonesia. Di antaranya, untuk membuat masakan lebih "legit", para penjaja makanan dengan enteng menuangkan MSG tanpa sendok takaran. Sampai akhirnya, menurut penelitian salah saut produsen besar MSG di Indonesia, tingkat konsumsi MSG di Indonesia adalah kurang lebih 409 g/kapita per tahun. Tak heran, kalau perusahaan tersebut mengklaim tingkat penjualan mencapai 17.265 metrik ton pada tahun 1995.


Terhadap fungsi meningkatkan kualitas rasa, juru masak anti-MSG dengan lantang berteriak, MSG justru "mematikan" rasa masakan dan sering digunakan untuk menutupi produk yang kurang baik. Kritik lain menyebutkan, MSG menyeragamkan semua rasa masakan, untuk itu istilah kemampuan MSG perlu diluruskan, bukannya menyelaraskan melainkan "mencampur adukkan" rasa.


Source: Majalah Intisari, no.397 - Agustus 1996

Kurma Mencegah Serangan Stroke

Kandungan kalorinya yang tinggi dan mudah dicerna oleh tubuh memang cocok kalau dikonsumsi saat berbuka puasa. Namun, ada khasiat yang lebih istimewa: kurma bisa menurunkan risiko serangan stroke berkat tingginya kalium yang dikandungnya.


BUAH-BUAHAN dikenal sebagai sumber utama vitamin, terutama vitamin C dan mineral. Sudah begitu, kandungan energi atau kalorinya pun rendah, sebab lemak yang dikandungnya juga rendah. Namun, ada pengecualian, misalnya kurma.


Kandungan lemak pada kurma juga bisa diabaikan. Namun, karbohidratnya yang tinggi membuat buah ini bisa menyediakan energi yang tinggi pula. Malah paling tinggi di antara keluarga besar buah-buahan. Keunggulan lainnya, kurma mengandung zat gizi penting bagi fungsi tubuh, terutama jantung dan pembuluh darah, yaitu kalium. Fungsi mineral ini membuat denyut jantung makin teratur, mengaktifkan kontraksi otot, serta membantu mengatur tekanan darah.


Itulah sebabnya kurma menjadi istimewa. Apalagi beberapa penelitian membuktikan, makanan tinggi kalium bisa menurunkan risiko serangan stroke.


Cukup lima butir sehari


Dari penelitian terhadap pola makan yang dilakukan terhadap 859 orang pria dan wanita berusia di atas 50 tahun di California Utara, AS, diketahui, perbedaan kecil konsentrasi kalium pada pola makan bisa memprediksi mereka yang diperkirakan berpeluang meninggal akibat stroke 12 tahun kemudian. Tak ada seorang pun yang asupan kaliumnya paling tinggi (lebih dari 3.500 mg setiap hari) meninggal akibat stroke.


Sebaliknya, orang yang secara teratur mengonsumsi kalium paling rendah (kurang dari 1.950 mg setiap hari) mempunyai risiko stroke fatal jauh lebih tinggo dibandingkan dengan yang lain. Di antara mereka yang konsumsi kaliumnya paling rendah, harapan meninggal akibat stroke 2,6 kali pria dan 4,8 kali pada wanita.


Makin banyak makanan kaya kalium yang dikonsumsi, biasanya makin kecil kemungkinan orang menderita stroke. Para peneliti menyimpulkan, dengan hanya makan satu porsi ekstra makanan kaya kalium (minimal 400 mg setiap hari) risiko fatal, bisa diturunkan sampai 40 persen. Batas krisis 400 mg kalium itu mudah sekali Anda penuhi dengan makan kurma kering sekitar 65 g saja, atau setara dengan lima butir kurma.


Makanan tinggi kalium, menurut Dr. Louis Tobian, Jr., pakar penyakit darah tinggi dari Minnesota University AS, juga bisa membantu menurunkan tekanan darah, serta bisa memberi kekuatan tambahan dalam mencegah stroke secara langsung, bagaimanapun kondisi tekanan darah seseorang.


Untuk membuktikan hal itu, Dr. Tobian melakukan eksperimen pada dua kelompok tikus yang terserang hipertensi. Satu kelompok tikus diberi diet tinggi kalium dan kelompok lain diet kalium normal. Hasilnya luar biasa. Di antara kelompok tikus yang mendapat asupan kalium tinggi, tak satu pun mengalami perdarahan otak. Sementara 40 persen pada kelompok tikus yang mendapat kalium normal menderita stroke ringan yang dibuktikan dengan adanya perdarahan pada otak.


Dari hasil penelitian itu Dr. Tobian lalu menarik kesimpulan, konsumsi ekstra kalsium bisa menjaga dinding arteri tetap elastis dan berfungsi normal. Keadaan ini membuat pembuluh darah tidak mudah rusak akibat tekanan darah.


Jadi jelas, kurma yang secara tradisional disuguhkan sebagai salah satu hidangan untuk berbuka puasa di Bulan Ramadhan, bukan makanan pembuka puasa yang biasa. Diam-diam ia menyimpan senjata potensial anti stroke dan anti serangan jantung. Meski demikian, untuk memastikan dampak positif kurma, agaknya masih perlu dibuktikan lebih lanjut melalui penelitian.


Memiliki aktivitas seperti aspirin 


Selain kalium, yang berguna bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah, kurma juga mengandung salisilat. Zat ini dikenal sebagai bahan baku aspirin, obat pengurang atau penghilang rasa sakit dan demam.


Salisilat bersifat mencegah pembekuan darah, antiinflamasi, dan berdampak melenyapkan rasa nyeri. Kecuali itu, menurut Nurfi Afriansyah, staff peneliti KIE Gizi Puslitbang Gizi Bogor, seperti dikutip Ayahbunda, salisilat juga bisa mempengaruhi prostaglandin (kelompok asam lemak hidroksida yang merangsang kontraksi otot polos, menurunkan tekanan darah).


Sementara itu Jean Carper lewat bukunya Food, Your Miracle Medicine menyatakan, kurma mempunyai aktivitas seperti aspirin. Kurma kering, katanya, sangat tinggi kandungan salisilat alias aspirin alaminya. Buah ceri, prune, dan kismis kering yang juga kaya akan kalium ikut beruntung karena mereka juga mengandung salisilat.


Orang yang peka dengan aspirin, kalau menyantap makanan mengandung salisilat, akan bereaksi mirip dengan orang minum aspirin. Karena itu, pakar kesehatan yang mendalami alergi biasanya akan mewanti-wanti mereka yang peka terhadap aspirin supaya menjauhi makanan mengandung salisilat, termasuk kurma.


Di lain pihak, para pakar tergugah rasa ingin tahunya terhadap perkembangan bahwa salisilat pada makanan bisa memberikan prestasi yang sama dengan minum aspirin. Memang, ada studi yang membuktikan, aspirin reguler dosis rendah (kurang atau separuh dosis yang biasa diminum per hari) sanggup membantu mencegah serangan jantung dan stroke.


Berdasarkan hal itu, para pakar mengharapkan, dosis rendah salisilat dalam makanan yang dikonsumsi secara kontinyu bisa juga meredakan sakit kepala.


Komposisi gizi


Buah kurma bisa disantap langsung dalam keadaan kering atau segar. Di samping itu, juga bisa dimanfaatkan untuk berbagai hidangan seperti aneka produk roti, permen, es krim, selada dan sirup.


Di negeri Arab kurma bahkan mendapat tempat yang cukup baik di masyarakat. Buah berbentuk silinder dengan biji beralur tunggal ini biasanya dikonsumsi bersama hasil olahan susu.


Nilai gizi utama yang diandalkan memang kandungan karbohidrat sederhananya, alias gulanya, yang tinggi. Kandungan karbohidratnya berkisar dari sekitar 60% pada kurma lembek (yang dipanen sewaktu masih lembek dan mentah) hingga sekitar 70% pada kurma kering (yang mengering di pohon, terjemur matahari).


Kebanyakan varietas kurma mengandung gula glukosa (jenis gula yang ada dalam darah) atau fruktosa (jenis gula yang terdapat dalam sebagian besar buah-buahan). Namun, satu varietasnya yang bernama Deglet Noor yang tumbuh di Kalifornia hanya mengandung gula sukrosa (dikenal juga sebagai gula pasir).

Menurut dr. Anwar El Mufti dari Mesir, seperti dikutip Harian Buana Minggu, kurma mengandung zat gula 70%.


Sebagian besar zat gula yang terdapat di dalamnya sudah diolah secara alami dan tidak berbahaya bagi kesehatan. Seperti halnya gula pada buah-buahan yang dinamai fruktosa, zat ini mudah dicerna dan mudah dibakar oleh tubuh. Dengan demikian akan menghasilkan tenaga yang tinggi, tanpa mempersulit tubuh untuk mengolah, mencerna, dan menjadikannya sebagai gizi yang baik. Itu sebabnya mengapa kurma dianggap sebagai buah yang ideal untuk hidangan berbuka puasa ataupun sahur.


Segelas air yang mengandung glukosa, menurut Dr. David Conning, direktur jenderal British Nutrition Foundation, seperti dikutip Panasea, akan diserap tubuh dalam 20 - 30 menit. Tetapi gula yang terkandung dalam kurma baru habis terserap dalam tempo 45 - 60 menit. Makanya, orang yang makan cukup banyak kurma pada waktu sahur akan menjadi segar dan tahan lapar, sebab bahan pangan ini juga kaya akan serat.


Keunggulan kurma lainnya, mengandung berbagai vitamin penting, seperti vitamin A, tiamin, dan riboflavin dalam jumlah yang bisa diandalkan, serta niasin dan kalium dalam jumlah yang sangat andal. Selain itu, buah ini ternyata juga memuat berbagai zat gizi lain seperti zat besi, vitamin B1, asam nikotinat, serta serat (bukan zat gizi) dalam jumlah memadai.


Dalam setiap 100 g kurma kering terkandung vitamin A 50 IU, tiamin 0,09 mg, riboflavin 0,10 mg, niasin 2,20 mg, serta kalium 666 mg. Zat-zat gizi itu berfungsi membantu melepaskan energi, menjaga kulit dan saraf agar tetap sehat, serta penting untuk fungsi jantung.


Riboflavin dan niasin, misalnya, akan membantu melepaskan energi dari makanan, sementara tiamin membantu melepaskan energi dari karbohidrat. Vitamin A dan niasin memainkan peranan dalam bentuk dan memelihara kulit yang sehat. Tiamin penting bagi sel-sel saraf, sementara niasin menjaga fungsi normal saraf.


Kurma juga mengandung banyak mineral penting, seperti magnesium, potasium, dan kalsium. Mineral-mineral itu sangat diperlukan oleh tubuh. Serat yang terdapat dalam kurma berfungsi melunakkan usus dan mengaktifkannya, yang secara alami bisa mempermudah buang air besar. Dalam kurma juga terkandung semacam hormon (potuchsin) yang bisa menciutkan pembuluh darah dalam rahim, sehingga dengan demikian bisa mencegah terjadinya perdarahan rahim.


Source: Majalah Intisari, no.436 - November 1999

Kamis, 26 Januari 2012

Ilusi Jarak dan Bulan Berlari

SERING dikatakan mata dapat menipu kita, terutama kalau berhubungan dengan volume dan jarak benda. Bulan di cakrawala nampak lebih besar dibandingkan dengan ketika berada di langit. Padahal besarnya bulan yang sebenarnya tetap sama. Yang lebih aneh, bulan pun seperti selalu menguntit saat kita melakukan perjalanan dengan kendaraan bermotor di malam hari.


Sebaliknya dalam kecepatan tinggi, secara sepintas pepohonan dan rumah-rumah tampak "berlarian" di kiri-kanan jalan. Tak jarang kita merasa pusing bila memperhatikannya. Lain halnya bila kita melihat pohon dan rumah yang terletak di kejauhan, mereka akan bergerak lebih lambat, meski kendaraan dalam kecepatan yang sama. Perbedaan jarak inilah yang diduga mempengaruhi mata seseorang dalam menentukan besar ukuran benda-benda di sekelilingnya.


Berdekatan dengan gunung, akan menimbulkan perasaan kagum akan ukurannya yang bak raksasa sedang duduk diam. Begitu kita menjauhinya, gunung tersebut seakan mengecil.


Bila gunung yang tampak kecil saat dilihat dari jarak sekian puluh kilometer itu saja sebenarnya punya ukuran yang sangat besar, bisa dibayangkan ukuran sesungguhnya bulan. Dari jarak 384.000 km dari bumi, bulan masih tampak begitu besar. (Diameter sebenarnya kurang lebih 3.360 km!)


Dalam keadaan seperti inilah mata kita sering "menipu". Hal itu dikuatkan oleh astronom Jeff Kanipe bahwa "ilusi jarak itu berpengaruh pada ukuran sebenarnya, dan jarak antara yang dilihat dengan yang melihatlahnya yang membuat bulan seakan selalu mengikuti".


Fenomena yang disebut parallax ini sering digunakan untuk menentukan pengaruh perubahan posisi suatu benda oleh perubahan letak sang peneliti. Dengan mengukur besarnya pengaruh parallax inilah para astronom dapat menentukan jarak antara sebuah benda luar angkasa dengan penelitinya.


Source: Majalah Intisari, no.364 - November 1993

Senin, 23 Januari 2012

Sejarah Lem Dan Kegunaannya

MASIH ingat waktu dulu orang terbiasa merekatkan amplop dengan mengoleskan beberapa butir nasi? Memang, tanaman biji-bijian, termasuk nasi, adalah salah satu penyedia bahan dasar lem. Kanji alias karbohidrat yang diekstrak dari tanaman pun bisa didapat dari jagung, beras, gandum, dan kentang.


Selain kanji, ada beberapa jenis lem lain. Salah satunya lem dari binatang. Lem ini berbahan dasar protein dan yang diekstraksi dari rebusan tulang kulit, kuku, dan tanduk.


Hasil ekstraksi yang dimasak hingga membentuk bahan gelatin itu banyak dipakai dalam industri kayu dan mebel. Lem protein lain diambil dari kulit dan tulang ikan. Sedangkan lem kasein berasal dari protein yang diisolasi dari susu. Hasilnya, lem yang tahan air. Pertama kali lem ini dipakai melekatkan kertas rokok. Selain cepat lengket, lem ini amat irit. Satu gram lem bisa untuk merekatkan 2.000 batang rokok.


Lem sellulosa dari polimer alamiah ada pada pohon dan tanaman berkayu. Lem ini biasanya untuk menempelkan plastik selofan pada bungkus rokok, dan wallpaper agar mudah dilepas.


Konon lem sudah ada sejak tahun 4000 SM. Pada situs dari zaman prasejarah ditemukan jenazah bersama makanan dalam tempat keramik pecah, yang direkatkan kembali dengan resin dari getah pohon. Di kuil Babilonia pun ditemukan sejumlah patung dengan biji mata dari gading yang ditempelkan dengan tar di rongga mata. Ini bukti, "lem" tar mampu bertahan selama 6.000 tahun.


Namun, referensi tertulis pertama tentang cara membuat dan memakai lem baru muncul tahun kurang lebih 2000 SM. Sejumlah lukisan dinding menampilkan secara mendetail proses pemakaian lem pada kayu. Berbagai benda seni dan perabot dari makam para Firaun Mesir menampilkan peran lem binatang sebagai perekat atau pelapis.


Di tahun 1 - 500, semenjak Romawi dan Yunani mengembangkan seni vernis dan pelapisan kayu, makin berkembang pembuatan lem dari binatang dan ikan. Bangsa Romawilah yang pertama kali memanfaatkan tar dan lilin lebah untuk mendempul papan di perahu dan kapal. Pada masa ini pula ditemukan lem baru, yakni "lem" putih telur. Lucunya, lem ini mengandung bahan alamiah "aneh" seperti darah, tulang, kulit, susu, keju, sayuran, dan biji-bijian. 


Selain untuk merekatkan, lem juga ampuh membuat orang jadi tersohor. Konon, Jenghis Khan bisa mengalahkan musuh-musuhnya karena kekuatan senjata pasukannya. Busur mereka dari kayu jeruk lemon yang sudah dilapisi zat tertentu, lalu dengan lem batang itu disatukan dengan tanduk kerbau. Sayangnya, ramuan lem itu tak tercatat baik.


Demikian pula formula lem untuk melapis kayu yang sudah diproses khusus untuk membuat biola ajaib Antonio Stradivari. Meski sudah dicari dengan alat paling canggih pun, formula itu belum juga tersingkap.


Perubahan fenomenal sejarah lem terjadi tahun 1700-an, saat berdiri pabrik lem komersial pertama di Belanda yang memproduksi lem binatang. Setengah abad kemudian paten pertama dikeluarkan di Inggris untuk lem dari ikan. Dengan cepat disusul terbitnya sejumlah paten untuk lem berbahan karet alam, tulang hewan, ikan, kanji, dan kasein. Sedangkan pabrik pengolahan lem  berbahan itu mulai banyak berdiri di AS tahun 1990-an.


Pengaruh Revolusi Industri tampak dengan ditemukannya bahan dasar baru lem, yakni plastik. Tahun 1920 - 1940-an plastik dan karet sintetis mulai diproduksi. Maka, lem pun menjadi lebih kuat, lentur, cepat menempel, tahan terhadap suhu dan bahan kimia.


Maka, kebutuhan apa pun, dari kuku patah hingga untuk operasi kecil, sudah ada jenis lemnya. Di jamin bakal lengket, persis "kayak perangko".


Source: Majalah Intisari, no.450 - Januari 2001

Talenan Kayu Lebih Sehat

ZAMAN modern sering disebut juga sebagai zaman atom. Di beberapa daerah di Indonesia seperti di Nusa Tenggara Timur masih sering terdengar orang menyebut bahan yang terbuat dari plastik sebagai bahan atom. Ember plastik disebut ember atom, sisir plastik sebagai sisir atom, dan seterusnya. Plastik, atau atom, sering diidentifikasikan dengan makna modern.


Itulah sebabnya orang banyak beralih ke barang-barang dari plastik sampai ke papan potong alias talenan. Talenan yang dulu terbuat dari kayu, akhir-akhir ini banyak diganti bahannya dari plastik yang umumnya berwarna putih bersih. Konon, bahan itu dipilih karena membersihkannya lebih mudah, karena sisa makanan segera terbuang. Sementara talenan kayu harus dikerok dengan pisau atau parang dulu untuk melepaskan sisa-sisa makanan yang menempel di sela-sela serat kayu. Selain itu masyarakat takut serpihan kayu akan ikut terkonsumsi bersama makanan yang dicincang di atasnya dan hal itu menganggu kesehatan.


Tapi, dalam kenyataannya, justru terjadi sebaliknya. Hal ini dibuktikan dari penelitian yang dilakukan Dean Cliver dan mahasiswanya dari Universitas Wisconsin di Madison, AS. Eksperimen dilakukan terhadap empat macam talenan plastik dan tujuh macam talenan kayu. Selain itu masyarakat umum takut serpihan kayu akan ikut terkonsumsi bersama makanan yang dicincang di atasnya dan hal itu mengganggu kesehatan.


Tapi, dalam kenyataannya, justru terjadi sebaliknya. Hal ini dibuktikan dari penelitian yang dilakukan Dean Cliver dan mahasiswanya dari Universitas Wisconsin di Madison AS. Eksperimen dilakukan terhadap empat macam talenan plastik dan tujuh macam talenan kayu. Masing-masing talenan dikontaminasi dengan tiga jenis bakteri yang biasanya menyebabkan keracunan makanan, yakni Salmonella, Listeria, dan Escherichia coli. Talenan dikeram selama semalam pada suhu kamar dengan kelembapan biasa maupun tinggi. Ternyata 99,9% bakteri yang berada di talenan kayu segera mati dalam tempo tiga menit. Sebaliknya, bakteri yang ada di talenan plastik berkembang biak.


Jadi, talenan kayu jauh lebih aman dan sehat dibandingkan dengan talenan plastik. Tentu saja dengan catatan faktor kebersihan patut diberi prioritas.


Source: Majalah Intisari, No.364 - November 1993

Minuman Bersoda Merapuhkan Tulang

MINUMAN ringan memang menyegarkan. Tapi, kebanyakan minum minuman ringan ternyata merugikan tubuh. Minuman jenis ini memang tidak menimbulkan rasa tak nyaman di pagi hari seperti kalau habis menenggak minuman keras. Ia tidak menimbulkan risiko terserang penyakit paru-paru dan juga tidak mengandung lemak maupun kolesterol. Namun, dari hasil penelitian baru terungkap bahwa kecanduan minuman bersoda bisa melemahkan tulang.


Grace Wyshak dari Harvard's School of Public Health bersama satu tim peneliti mewawancarai 5.398 orang wanita. Pertanyaan yang diajukan antara lain menyangkut gaya hidup, diet, keikutsertaan mereka dalam atletik semasa di perguruan tinggi, dan keretakan tulang. Ternyata, di antara para mantan atlet perguruan tinggi itu, para peminum soda memiliki kemungkinan mengalami retak tulang pertama kali setelah usia 40 tahun dua kali lebih besar daripada yang bukan peminum soda. Pada usia itu wanita memang mulai mengalami kemungkinan retak tulang akibat kerapuhan tulang.


Menurut Rose Frisch dari Pusat Studi Kependudukan Harvard, hasil penelitian itu merupakan penemuan yang mengejutkan, "Sekaligus menyulitkan, sebab banyak atlet minum sejumlah besar minuman ringan," kata Frisch yang juga salah seorang penulis hasil penelitian itu. Buat mereka yang bukan atlet, minum minuman ringan tidak mendatangkan efek yang jelas. Barangkali, menurut Frisch, karena mereka tidak minum minuman itu sebanyak para atlet.


Menurut Frisch, efek tersebut mungkin hanya dari satu jenis minuman ringan, yaitu cola yang umumnya mengandung asam fosfor yang biasa dicampurkan untuk menimbulkan rasa asam pada minuman. Penelitian terhadap binatang, dan juga sejumlah laporan kasus terhadap manusia, menunjukkan bahwa fosfor menganggu penyerapan kalsium yang dibutuhkan tubuh untuk membangun tulang.


Source: Majalah Intisari, no.325 - Agustus 1990

Minggu, 22 Januari 2012

Bahaya Menipisnya Lapisan Ozon

KARENA peringatan akan bahaya sinar ultraviolet (UV) tidak digubris, WHO menekankan lagi untuk sekian kalinya, penyinaran UV yang berlebihan itu benar-benar mengganggu kesehatan. Itu gara-gara bolongnya lapisan ozon yang melindungi bumi kita di stratosfer sejauh 16 - 48 km. Di Indonesia, kebolongan ini sudah "bukan berita" lagi.


Anda sendiri mungkin juga tak perlu penjelasan lagi, bahwa menipisnya lapisan ozon itu karena menumpuknya bahan kimia perusak ozon didekat strastofer itu, seperti freon bekas yang dibuang dari alat AC mobil yang diservis misalnya, freon   dalam aerosol kaleng hair spray, dan obat serangga (yang juga berhamburan ke udara dan berkumpul di angkasa tinggi sana), dan freon dalam pabrik pembuatan busa styrofoam, penyekat bermacam-macam barang dagangan.


Daerah yang terkena musibah memang hanya negara industri yang masyarakatnya memakai freon banyak sekali demi hidup nyaman. Eropa Barat misalnya, Rusia, Jepang, Kanada, dan Amerika Serikat. Tapi juga Brasil, Afrika Selatan, dan Australia.


Indonesia tidak menderita radiasi UV karena pemakaian freon tidak seberapa. Hanya 1 - 5 ribu ton setahun, dibandingkan dengan negara industri yang 100 ribu ton setahun.


Namun demikian, siapa tahu besok (kapan-kapan) pemakaian freon di Indonesia meningkat (kalau bahan itu masih diimpor terus, meskipun di negeri asalnya sudah dilarang pemakaiannya). Maka, bahaya UV yang sama akan menimpa kita juga, kalau kita tidak menghiraukan peringatan WHO.


Makin banyak freon yang dibuang dari alat AC mobil (yang makin bejibun), lemari es rumah tangga penduduk (yang makin makmur), dan hair spray ibu-ibu (yang makin banyak menyasak rambut di salon), makin besar kemungkinan freon bekas itu nomplok di lapisan ozon pelindung bumi di atas kawasan Nusantara kita.


Klor dari freon ini merampas satu atom oksigen dari ozon, untuk membentuk klormonoksid. Molekul ozon yang tadinya beratom oksigen tiga itu berubah menjadi molekul oksigen biasa yang beratom dua. Ia tidak mampu menahan sinar UV, dan dengan kekuatan penuh, sinar ini menimpa orang mandi matahari yang sengaja berpakaian minim. Tanpa kacamata penolak sinar. Akibatnya, mata membentuk katarak yang membuat lensa keruh. Penglihatan jadi kabur, dan kalau tidak diobati bisa buta.


Kulit tubuhnya menderita berbagai bentuk kanker, sedangkan kekebalannya terhadap penyakit menurun.


"Omong kosong!" sergah sementara orang yang tidak apa-apa sesudah mandi matahari dengan pakaian minim.


"Kita memang tidak menghadapi sinar maut yang satu kali tembak sudah bikin mata buta atau kanker kulit!" jawab Michael Kurylo dari NASA, Amerika Serikat. "Kena sinar berulang kali dalam jangka panjanglah yang membuat begitu!"


Karena itu, di negara industri yang penduduknya suka berjemur di pantai atau tepi kolam renang hotel pegunungan, diperingatkan agar berhati-hati. Mereka seperti meremehkan bahaya itu.


Untunglah para petani Indonesia kita sejak dulu sudah menjaga dirinya jangan sampai kepanasan di tengah hari bolong. Bekerja di ladang selalu mulai pagi-pagi benar, memakai pakaian berbudaya, dan caping penutup kepala yang lebar tepiannya. Mereka berhenti sekitar pukul 10.00 untuk beristirahat, makan siang dan bekerja lagi di bawah naungan pohon yang rindang. Baru sesudah matahari condong ke Barat sekitar pukul 15.00-lah mereka turun ke ladang lagi, menyelesaikan pekerjaan.


Kesadaran petani terhadap bahaya sinar matahari ini patut diteladani. Meskipun situasi kita berbeda, tapi aturan jangan sampai berlama-lama berada di terik matahari itu patut direnungkan. Kalaupun terpaksa berada di lapangan yang panas, tidak usah malu-malu memakai payung, atau topi yang lebar tepiannya.


Source: Majalah Intisari, no.372 - Juli 1994

GET UPDATE VIA EMAIL
Jika Anda Menyukai Artikel di Blog Ini, Silahkan Berlangganan via RSS. Isi Alamat Email Anda di Bawah Ini:

MAJALAH BOBO 1980-an

Tambahkan Kami di Facebook

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes