Minggu, 22 Januari 2012

Bahaya Menipisnya Lapisan Ozon

KARENA peringatan akan bahaya sinar ultraviolet (UV) tidak digubris, WHO menekankan lagi untuk sekian kalinya, penyinaran UV yang berlebihan itu benar-benar mengganggu kesehatan. Itu gara-gara bolongnya lapisan ozon yang melindungi bumi kita di stratosfer sejauh 16 - 48 km. Di Indonesia, kebolongan ini sudah "bukan berita" lagi.


Anda sendiri mungkin juga tak perlu penjelasan lagi, bahwa menipisnya lapisan ozon itu karena menumpuknya bahan kimia perusak ozon didekat strastofer itu, seperti freon bekas yang dibuang dari alat AC mobil yang diservis misalnya, freon   dalam aerosol kaleng hair spray, dan obat serangga (yang juga berhamburan ke udara dan berkumpul di angkasa tinggi sana), dan freon dalam pabrik pembuatan busa styrofoam, penyekat bermacam-macam barang dagangan.


Daerah yang terkena musibah memang hanya negara industri yang masyarakatnya memakai freon banyak sekali demi hidup nyaman. Eropa Barat misalnya, Rusia, Jepang, Kanada, dan Amerika Serikat. Tapi juga Brasil, Afrika Selatan, dan Australia.


Indonesia tidak menderita radiasi UV karena pemakaian freon tidak seberapa. Hanya 1 - 5 ribu ton setahun, dibandingkan dengan negara industri yang 100 ribu ton setahun.


Namun demikian, siapa tahu besok (kapan-kapan) pemakaian freon di Indonesia meningkat (kalau bahan itu masih diimpor terus, meskipun di negeri asalnya sudah dilarang pemakaiannya). Maka, bahaya UV yang sama akan menimpa kita juga, kalau kita tidak menghiraukan peringatan WHO.


Makin banyak freon yang dibuang dari alat AC mobil (yang makin bejibun), lemari es rumah tangga penduduk (yang makin makmur), dan hair spray ibu-ibu (yang makin banyak menyasak rambut di salon), makin besar kemungkinan freon bekas itu nomplok di lapisan ozon pelindung bumi di atas kawasan Nusantara kita.


Klor dari freon ini merampas satu atom oksigen dari ozon, untuk membentuk klormonoksid. Molekul ozon yang tadinya beratom oksigen tiga itu berubah menjadi molekul oksigen biasa yang beratom dua. Ia tidak mampu menahan sinar UV, dan dengan kekuatan penuh, sinar ini menimpa orang mandi matahari yang sengaja berpakaian minim. Tanpa kacamata penolak sinar. Akibatnya, mata membentuk katarak yang membuat lensa keruh. Penglihatan jadi kabur, dan kalau tidak diobati bisa buta.


Kulit tubuhnya menderita berbagai bentuk kanker, sedangkan kekebalannya terhadap penyakit menurun.


"Omong kosong!" sergah sementara orang yang tidak apa-apa sesudah mandi matahari dengan pakaian minim.


"Kita memang tidak menghadapi sinar maut yang satu kali tembak sudah bikin mata buta atau kanker kulit!" jawab Michael Kurylo dari NASA, Amerika Serikat. "Kena sinar berulang kali dalam jangka panjanglah yang membuat begitu!"


Karena itu, di negara industri yang penduduknya suka berjemur di pantai atau tepi kolam renang hotel pegunungan, diperingatkan agar berhati-hati. Mereka seperti meremehkan bahaya itu.


Untunglah para petani Indonesia kita sejak dulu sudah menjaga dirinya jangan sampai kepanasan di tengah hari bolong. Bekerja di ladang selalu mulai pagi-pagi benar, memakai pakaian berbudaya, dan caping penutup kepala yang lebar tepiannya. Mereka berhenti sekitar pukul 10.00 untuk beristirahat, makan siang dan bekerja lagi di bawah naungan pohon yang rindang. Baru sesudah matahari condong ke Barat sekitar pukul 15.00-lah mereka turun ke ladang lagi, menyelesaikan pekerjaan.


Kesadaran petani terhadap bahaya sinar matahari ini patut diteladani. Meskipun situasi kita berbeda, tapi aturan jangan sampai berlama-lama berada di terik matahari itu patut direnungkan. Kalaupun terpaksa berada di lapangan yang panas, tidak usah malu-malu memakai payung, atau topi yang lebar tepiannya.


Source: Majalah Intisari, no.372 - Juli 1994

1 comments:

Blogermie mengatakan...

survey membuktikan bahwa masyarakat petani ternyata jarang sakit lho mas,jarang juga tuh mereka kena diabet, paling linu,dan encok. aktivitas berladang yang ternyata memicu ketahanan fisik mereka. Bedanya kalau orang kota mobilnya mengkilap, orang desa malah punggungnya yang mengkilap cz kebanyakan berjemur..heheh. artikelnya bagus, saya boleh nimba ilmu dari sini ya buat nyari ide :)

Posting Komentar

GET UPDATE VIA EMAIL
Jika Anda Menyukai Artikel di Blog Ini, Silahkan Berlangganan via RSS. Isi Alamat Email Anda di Bawah Ini:

MAJALAH BOBO 1980-an

Tambahkan Kami di Facebook

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...