Jumat, 03 Februari 2012

Bekerja Secara Efektif

RAJIN SAJA ternyata bukan jaminan akan membawa hasil yang memuaskan. Bekerja efektif, itulah kuncinya: menyelesaikan tugas dengan mulus, tanpa membuang energi. Kemampuan ini sejenis manajemen juga, yang berarti mengelola diri sendiri, orang lain, waktu, pekerjaan, atau peralatan.


Untuk dapat menganalisis penyebab yang memperlambat efektivitas kerja, kita amati dulu organisasinya. Apakah sudah ada kesepakatan dalam deskripsi kerja, antara perusahaan dan si individu pekerja? Juga dalam nilai, standar perilaku, cara kerja, iklim, atau politik di tempat kerja? Bila yang menjadi tanggung jawab kita belum pernah dijelaskan, tentu kita akan bekerja menurut pengertian dan selera sendiri.


Lalu, bagaimana keterampilan berorganisasi orang-orang yang terkait? Si A mungkin perlu diatur untuk bisa berfungsi baik, namun si B justru lebih suka mengatur. Jadi sesuaikan pembagian tugas dengan keterampilan berorganisasi si penerima tugas.


Penentuan prioritas dan tujuan, mengidentifikasi dan mendelegasikan pekerjaan lalu menyusun jadwal kerja harus pula didasarkan pada volumer pekerjaan dan berapa lama waktu yang dibutuhkan.


Keputusan yang kita ambil amat tergantung pada kepribadian, sikap dan cara kita menghadapi persoalan. Menutup mata terhadap masalah, terlalu perfeksionis, tak berani mengemukakan pendapat, hanya beberapa batu sandungan yang bisa disebut. Selain itu kurangnya rasa percaya diri, sehingga kita terus-menerus harus "minta petunjuk" bos atau orang lain, terlalu "tipis kulit" alias tak dapat menerima kritik, kemarahan terpendam, juga penghalang terhadap efektivitas bekerja.


Umumnya kita condong menjadi produktif bila merasa dihargai. Tuntutan bos yang terlalu tinggi terhadap stafnya, atau keengganan seorang manajer untuk mendelegasikan tugas kepada asisten barunya, menunjukkan ketidakpercayaan. Si anak buah tentu dapat merasakan hal ini sehingga semangat mereka menurun. Buruknya hubungan antara rekan sekerja atau dengan penyelia juga gangguan serius terhadap efektivitas bekerja.


Umumnya kita condong menjadi produktif bila merasa dihargai. Tuntutan bos yang terlalu tinggi terhadap stafnya, atau keengganan seorang manajer untuk mendelegasikan tugas kepada asisten barunya, menunjukkan ketidakpercayaan. Si anak buah tentu dapat merasakan hal ini sehingga semangat mereka menurun. Buruknya hubungan antara rekan sekerja atau dengan penyelia juga gangguan serius terhadap efektivitas kerja.


Bila penyakit telah didiagnosis, bagaimana mengobatinya? Bisa dengan mendiskusikannya secara singkat dengan seorang rekan atau teman yang berkompeten. Tanpa jadi emosional, terangkan APA masalahnya, KAPAN terjadinya, SIAPA pelakunya. Diskusikan MENGAPA sampai timbul masalah tersebut. Kemudian dengan pandangan positif, bertanyalah, "Pilihan apa yang ada? Tindakan apa yang paling praktis?"


Selain itu, melatih diri sendiri dapat membantu. Cari dan selidiki cara-cara apa saja yang dapat digunakan untuk mencairkan masalah Anda. Perjelas isu-isunya, lalu selesaikan satu per satu, sambil tak lupa mengenali kelemahan diri.


Source: Majalah Intisari, no.397 - Agustus 1996

2 comments:

ASAZ mengatakan...

setuju memang rajin saja tidak cukup dalam bekerja

Adang Muhammad mengatakan...

menarik sekali bahasannya.

kunjungi juga Blog saya

salam kenal

Posting Komentar

GET UPDATE VIA EMAIL
Jika Anda Menyukai Artikel di Blog Ini, Silahkan Berlangganan via RSS. Isi Alamat Email Anda di Bawah Ini:

MAJALAH BOBO 1980-an

Tambahkan Kami di Facebook

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...