Tampilkan postingan dengan label Asal Usul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asal Usul. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Februari 2012

Wig Telah Dikenal Ribuan Tahun Lalu

DALAM beberapa dekade terakhir banyak orang tergila-gila pada wig dalam sekejap mampu mengubah model rambut. Tapi, konon wig telah menjadi mode sejak ribuan tahun lalu. Buktinya, mumi di makam-makam Mesir ditemukan dengan wig mereka, tanpa membedakan apakah itu mumi pria atau wanita.


Suatu suku bangsa percaya, rambut sebagai lambang dan sumber kekuatan. Semakin lebat semakin kuat pula pemiliknya. Contohnya, dalam kisah Samson dan Delilah para prajurit selalu memanjangkan rambutnya agar tidak kehilangan kekuatan dan kalah perang. Mereka pun pantang memotong rambut anak-anak sampai anak itu berusia 1 tahun. Bila dilanggar, di masa datang kekuatan dan kesehatan si anak akan berkurang.


Dengan berbagai cara orang lalu berupaya menebalkan rambutnya. Untuk itulah pertama kali wig dibuat. Pikir mereka, rambut yang lebat secara ajaib akan menambah kekuatan mereka dan membuat musuh ketakutan.


Wig juga berperan memperindah rambut, sekaligus menambah daya tarik antar pria-wanita.Warnanya, tak cuma hitam, pirang, dan putih. Teater di Yunani menggunakan wig berwarna-warni untuk mencerminkan karakter yang berbeda. Hitam mencirikan tirani, yang keriting pirang untuk pahlawan, sedangkan merah khusus bagi punakawan.


Karena mencolok dan mampu menonjolkan status sosial, wig di comot menjadi kelengkapan pakaian profesional yang sekarang masih digunakan dalam pengadilan dan parlemen Inggris.


Meski sudah dikenal di masyarakat Mesir, Asiria, Romawi, dan Yunani kuno, baru abad XVII wig mulai mantap dikenal di Eropa. Hal ini bermula karena nasib Louis XIII dari Perancis yang botak terlalu dini. Agar rambut palsu sang raja tidak terlalu mencolok, sekaligus untuk menjaga perasaannya, para bangsawan pun mengikuti model itu. Tak lama kemudian masyarakat kebanyakan ikut meniru. Perruque atau rambut palsu dalam bahasa Perancis selanjutnya menjadi periwig di lidah orang Inggris, yang akhirnya memendek menjadi wig saja.


Kebiasaan itu semakin menjadi-jadi karena Louis XIV. Ketika kanak-kanak, raja ini disanjung karena rambut ikalnya yang bagus sepanjang bahu. Para pelayan pun berusaha meniru model rambutnya dengan wig. Lucunya, setelah dewasa Louis XIV ikut-ikutan mengenakan wig yang bermula dari model rambutnya sendiri itu.


Selanjutnya wig menyebar ke seluruh Eropa, dikenal di Inggris pada paruh kedua abad XVII. Banyak variasi dengan nama-nama aneh disesuaikan dengan bentuknya seperti: tangga rumah, benih bayam, artichoke (model wig bersusun mirip kubis), komet, sayap merpati, dan punggung babi hutan liar. Sampai pertengahan abad XVIII ada kurang lebih 40 jenis wig.


Banyak orang - mungkin untuk menghemat biaya - dengan pintarnya menata rambut mereka sehingga seperti mengenakan wig. Ada wig yang sedemikian tingginya, sampai-sampai ada karikatur yang menggambarkan seorang tukang cukur yang harus berdiri di atas tangga kalau hendak menatanya.


Tepat sebelum Revolusi Perancis, riasan mahkota kepala ini ada yang tingginya mencapai 1m, sedangkan pirang merupakan warna favorit. Saking populernya wig saat itu, ada wanita yang memiliki hingga 30 wig dengan warna berbeda.


Bahkan di abad XVIII ketika masyarakat Barat memasuki era pemikiran rasional, para prianya pun terus saja mengenakan wig dan tidak peduli dengan kepalsuan itu. Bahkan penulis Inggris Samuel Pepys lebih nyentrik lagi. Ia menggunduli kepalanya lalu mengenakan wig dari rambut aslinya. Menurutnya, itu justru lebih bersih.


Ada lagi yang memilih rambut istri atau anak mereka sebagai wig. Mereka pun tak kurang harus mengawal keluarga mereka dari para pencopet rambut bersenjata gunting yang bisa dengan sigap merampas rambut keriting mereka yang tebal. Sedangkan kalangan masyarakat bawah memanfaatkan demam mode ini dengan menjual rambut mereka kepada penawar tertinggi. Sepanjang perkembangannya wig terbuat dari berbagai bahan: wol, bulu binatang, rambut kuda, jerami, kawat dan nilon.


Source: Majalah Intisari, no.384 - Juli 1995

Kamis, 26 Januari 2012

Awal Mula Di Kenalnya Kemeja Pria

SEJAK ribuan tahun lalu manusia telah mengenal pakaian. Masyarakat Timur Tengah, Eropa dan Amerika Utara tercatat paling banyak sumbangannya dalam perkembangan pakaian modern seperti yang kita kenal sekarang.


Banyak peninggalan masa lalu, seperti permata atau logam, bisa ditemukan utuh, namun tidak demikian dengan pakaian, yang diduga terbuat dari kain atau kulit. Meski ada juga pakaian yang justru diselamatkan oleh iklim, misalnya iklim kering di Mesir. Informasi pun hanya di dapat dari gambar pada vas, patung, atau lukisan dinding. Meski tampaknya berwarna putih atau pucat, boleh jadi sebenarnya warna cerah yang telah pudar. Sesungguhnya ada masyarakat yang telah mengenakan pakaian warna-warni. Seperti pada lukisan dinding di situs Kota Pompeii yang ditemukan tahun 1700-an.


Kemeja Lena telah dikenal sejak dinasti XVIII Kerajaan Mesir kuno. Kemeja itu hanya sepotong kain segi empat yang dilipat setengah panjang. Setelah dijahit tepi kiri-kanan, kemeja diberi lubang untuk leher dan lengan. Selain yang kutungan, ada juga yang berlengan.


Kecuali Mesir, pakaian mirip tunik itu juga umum dikenakan di Samaria, Babilonia, Suriah, Ibrani, Yunani, dan Persia. Bahan paling sering digunakan adalah wol bulu domba ternakan sendiri. Selain secara blong, pemakai kemeja juga sering mengikat bagian pinggangnya dengan sabuk lebar. Sedangkan masyarakat Yunani biasanya akan mengikat di pundak dengan bros.


Masyarakat Persia dikenal sebagai perintis cara memotong dan mengenakan pakaian pas badan. Dengan alasan kepraktisan, pakaian pas lebih enak dipakai saat berburu dan menunggan kuda. Pola pakaian ketat itu diperkirakan berkembang menjadi pakaian Barat.


Di Abad Pertengahan (500 - 1500), seiring dengan perkembangan kota, muncul toko-toko yang dikelola oleh penenun, penjahit, dan pengrajin pakaian. Sejak 1100, kualitas pakaian pun meningkat, karena pengrajin mulai terampil memotong, mengepas, dan menghias pakaian. Kebanyakan pakaian terbuat dari lena atau wol, tapi ada juga yang dari sutera atau bahan halus lain yang didatangkan dari Asia, Italia, dan Spanyol. Hiasan pakaian pada tahun 1300-an biasanya berupa lusinan kancing dan aksesori seperti benang emas, mutiara, batu permata, juga bulu binatang.


Menjelang akhir Abad Pertengahan, pakaian dijahit relatif ketat. Untuk itu, konsentrasi dicurahkan pada kerah, misalnya yang dilakukan orang Normandia yang demam kerah pita dan manset pada abad XIV. Juga mode di Eropa pada akhir 1500 yang terpengaruh gaya Spanyol yang kaku dan formal, misalnya kerah dihiasi kerut-kerutan. Namun, dalam seabad gaya itu digeser oleh pengaruh Perancis berupa kerah rebah dari rendah dan lena. Sepuluh dekade kemudian kerah syal menggeser kerah rebah. Meski banyak pilihan, ada juga yang memilih model sederhana. Misalnya, masyarakat puritan di Inggris dan Amerika terhadap kerah rebah putih.


Pada abad XVII kemeja mulai di bordir, berenda, dan berumbai. Aksesoris itu akan menghiasi dada pemakai saat mengenakan jaket berlubang leher sangat rendah yang lagi mode. Selain meriah, mode kemeja ini jadi lambang aristokrasi. Terbukti dengan munculnya larangan bagi orang biasa mengenakan pakaian yang rumit di Inggris.


Tahun 1700-an banyak perubahan terjadi. Di antaranya, tahun 1764 dengan penemuan penenun Inggris James Hargraves berupa mesin yang bisa memintal sejumlah benang sekaligus. Tahun 1774 - 1779, penenun lainnya, Samuel Crompton, mengembangkan mesin yang mampu memproduksi sejumlah benang setara pekerjaan tangan 200 orang. Sedangkan Pendeta Inggris Edmund Cartwright pada tahun 1780-an merancang alat tenun bertenaga uap, Hasilnya, penenun Inggris mampu memproduksi kain dengan harga murah. Meski telah ada teknologi baru, pecahnya Revolusi Perancis tahun 1789 tetap saja membuat kaum pria Perancis berubah selera dengan hanya mengenakan pakaian sederhana berwarna pucat.


Tahun 1800-an, industri pakaian berkembang pesat di Eropa dan AS. Dua warga AS - penemu Elias Howe dan ahli mesin Isaac Singer - mengembangkan mesin jahit canggih untuk ukuran saat itu. Mesin itu diakui menjadikan proses pembuatan pakaian lebih mudah. Banyak perusahaan pakaian jadi di dirikan. Kerah hias tinggi diganti dengan kerah dan dasi.


Malah sejak 1950-an pria mulai menggemari kemeja berwarna-warni untuk padanan setelan jas. Tak hanya permainan warna, tahun 1960-an para pria makin bebas dalam memilih kemeja dari bahan apapun. Tahun 1970, kemeja pria tampil dengan garis dan corak warna yang sangat bervariasi. Malah kaum wanita juga tak lagi tabu mengenakan blus dengan garis bentuk serupa kemeja pria.


Source: Majalah Intisari, no.412 - November 1997

Senin, 23 Januari 2012

Sejarah Lem Dan Kegunaannya

MASIH ingat waktu dulu orang terbiasa merekatkan amplop dengan mengoleskan beberapa butir nasi? Memang, tanaman biji-bijian, termasuk nasi, adalah salah satu penyedia bahan dasar lem. Kanji alias karbohidrat yang diekstrak dari tanaman pun bisa didapat dari jagung, beras, gandum, dan kentang.


Selain kanji, ada beberapa jenis lem lain. Salah satunya lem dari binatang. Lem ini berbahan dasar protein dan yang diekstraksi dari rebusan tulang kulit, kuku, dan tanduk.


Hasil ekstraksi yang dimasak hingga membentuk bahan gelatin itu banyak dipakai dalam industri kayu dan mebel. Lem protein lain diambil dari kulit dan tulang ikan. Sedangkan lem kasein berasal dari protein yang diisolasi dari susu. Hasilnya, lem yang tahan air. Pertama kali lem ini dipakai melekatkan kertas rokok. Selain cepat lengket, lem ini amat irit. Satu gram lem bisa untuk merekatkan 2.000 batang rokok.


Lem sellulosa dari polimer alamiah ada pada pohon dan tanaman berkayu. Lem ini biasanya untuk menempelkan plastik selofan pada bungkus rokok, dan wallpaper agar mudah dilepas.


Konon lem sudah ada sejak tahun 4000 SM. Pada situs dari zaman prasejarah ditemukan jenazah bersama makanan dalam tempat keramik pecah, yang direkatkan kembali dengan resin dari getah pohon. Di kuil Babilonia pun ditemukan sejumlah patung dengan biji mata dari gading yang ditempelkan dengan tar di rongga mata. Ini bukti, "lem" tar mampu bertahan selama 6.000 tahun.


Namun, referensi tertulis pertama tentang cara membuat dan memakai lem baru muncul tahun kurang lebih 2000 SM. Sejumlah lukisan dinding menampilkan secara mendetail proses pemakaian lem pada kayu. Berbagai benda seni dan perabot dari makam para Firaun Mesir menampilkan peran lem binatang sebagai perekat atau pelapis.


Di tahun 1 - 500, semenjak Romawi dan Yunani mengembangkan seni vernis dan pelapisan kayu, makin berkembang pembuatan lem dari binatang dan ikan. Bangsa Romawilah yang pertama kali memanfaatkan tar dan lilin lebah untuk mendempul papan di perahu dan kapal. Pada masa ini pula ditemukan lem baru, yakni "lem" putih telur. Lucunya, lem ini mengandung bahan alamiah "aneh" seperti darah, tulang, kulit, susu, keju, sayuran, dan biji-bijian. 


Selain untuk merekatkan, lem juga ampuh membuat orang jadi tersohor. Konon, Jenghis Khan bisa mengalahkan musuh-musuhnya karena kekuatan senjata pasukannya. Busur mereka dari kayu jeruk lemon yang sudah dilapisi zat tertentu, lalu dengan lem batang itu disatukan dengan tanduk kerbau. Sayangnya, ramuan lem itu tak tercatat baik.


Demikian pula formula lem untuk melapis kayu yang sudah diproses khusus untuk membuat biola ajaib Antonio Stradivari. Meski sudah dicari dengan alat paling canggih pun, formula itu belum juga tersingkap.


Perubahan fenomenal sejarah lem terjadi tahun 1700-an, saat berdiri pabrik lem komersial pertama di Belanda yang memproduksi lem binatang. Setengah abad kemudian paten pertama dikeluarkan di Inggris untuk lem dari ikan. Dengan cepat disusul terbitnya sejumlah paten untuk lem berbahan karet alam, tulang hewan, ikan, kanji, dan kasein. Sedangkan pabrik pengolahan lem  berbahan itu mulai banyak berdiri di AS tahun 1990-an.


Pengaruh Revolusi Industri tampak dengan ditemukannya bahan dasar baru lem, yakni plastik. Tahun 1920 - 1940-an plastik dan karet sintetis mulai diproduksi. Maka, lem pun menjadi lebih kuat, lentur, cepat menempel, tahan terhadap suhu dan bahan kimia.


Maka, kebutuhan apa pun, dari kuku patah hingga untuk operasi kecil, sudah ada jenis lemnya. Di jamin bakal lengket, persis "kayak perangko".


Source: Majalah Intisari, no.450 - Januari 2001

Senin, 09 Januari 2012

Metamorfosis Pena, Dari Masa ke Masa

SULIT ditentukan sejak kapan manusia mengenal alat tulis. Namun diduga tatah - yang sering dipakai menulis di atas lempengan batu atau logam - adalah generasi pertama pena. Maka ia pun dijuluki pena besi.


Baru tahun 1000 SM terjadi revolusi alat tulis, saat Cina mulai memakai kuas rambut. Kuas itu menggunakan tinta kering dari jelaga atau arang yang penggunaannya seperti cat air.


Sekitar 400 SM "lahir" pena dari batang alang-alang untuk menulis di kertas papirus. Pena itu dapat ditemukan di Mesir dan Amenia, sedangkan Kairo dan Alexandria terkenal sebagai pasar utama barang-barang tersebut.


Sekarang pun masih banyak orang di sepanjang pantai Teluk Persia mengumpulkan batang alang-alang untuk keperluan itu, sedangkan pemasarannya menyebar ke sebagian besar negara Timur. Konon pena itu paling cocok dengan tinta dan kertas yang digunakan di sana. Alang-alang yang dipilih yang biasanya berbatang sangat kecil namun kuat itu setelah dipotong diperlakukan khusus. Misalnya, disimpan di bawah timbunan pupuk kandang selama beberapa bulan. Hasilnya, selain berubah warna hitam bercampur kuning, batangnya makin keras dengan permukaan yang lebih halus.


Berkembangnya mutu kertas juga menuntut pena yang lebih halus. Bulu angsa pun jadi pilihan. Bila merujuk kiasan yang ditulis St. Isodore dari Seville, pena bulu baru muncul pada abad VII. Meski banyak yang menduga pena bulu telah ada lebih awal.


Akibat meningkatnya produksi pena bulu, perdagangan bulu pun ramai. Beberapa negara, seperti Polandia, Rusia, Jerman dan Belanda, menjadi produsen terbesar. Pernah dalam setahun Saint Petersburg mengirim 27 juta helai bulu angsa ke Inggris, padahal dari seekor angsa hanya dapat diambil sebanyak 10 - 12 bulu. Bayangkan berapa banyak angsa harus dipelihara.


Setelah di sortir sesuai panjang dan ketebalan, bulu sayap dipendam dalam pasir panas agar kulit luarnya kering. Proses ini membuat bulu mudah dibersihkan serta bagian dalamnya mengerut dan terkelupas. Lalu bulu lembutnya diperkeras dengan mencelupkannya ke larutan mendidih yang mengandung tawas atau asam nitrat. Di tahap akhir, ujung pena dibelah dan dibentuk agar enak dipakai.


Masa pena baja diperkenalkan pertama kali oleh John Mitchell dari Bingmirham, Inggris, pada 1828. Saat baru dikenalkan harganya $ 2 - 3 sebatang. Sayang, banyak pemakai merasa tidak nyaman. Karena setiap kali harus mencelupkannya ke dalam tinta. Muncullah pulpen berkantung tinta dengan prinsip kerja pipa kapiler. Salah satu modelnya dibuat oleh orang Amerika. Lewis Edson. Waterman, tahun 1884.


Model pena berikutnya adalah bolpoin. Dari berbagai model, yang paling memuaskan adalah karya Lazlo Biro. Bolpoin Biro pernah sangat populer di Inggris terutama selama PD II (1939 - 1940) sejak banyak disukai pilot karena tidak bocor saat dibawa terbang. Bolpoin mengandalkan bola logam di ujung pena yang akan terus terendam cairan tinta dari kantung tinta. Maka bolpoin dilengkapi tutup atau tombol mekanis yang mencegah tinta mengering di ujung. Karena gravitasi, bolpoin tidak bisa digunakan menulis dengan baik bila ujung pena lebih tinggi daripada pangkalnya.


Berbeda dengan pulpen yang menggunakan tinta encer, bolpoin menggunakan tinta kental dan lengket agar tak mudah bocor ke ujung sehingga bola jadi belepotan.


Tahun 1960-an mulai dikenal pada berujung lembut yang kita sebut spidol. Ini terobosan baru, karena mata penanya terbuat dari plastik berpori, kantung tintanya pun mengandung materi sintetis yang berserat, sedangkan cara kerjanya seperti spons menyimpan air. Menilik kelebihan setiap jenis pena, timbul gagasan memadukannya. Hasilnya pena rolling ball dengan bola di ujung mata pena seperti bolpoin, namun menggunakan tinta cair yang tersimpan aman di kantung seperti pada pulpen atau spidol. Saat dipakai, ujung pena akan meluncur nyaman di permukaan kertas layaknya menggunakan pulpen atau spidol.
TGRJTVBJ9KFM
Source: Majalah Intisari, no.406 - Mei 1997

Sabtu, 10 Desember 2011

PISAU CUKUR, Pisau Pengukur Kejantanan (BAGIAN 2)

Tutup botol inspirasi Gillette


Revolusi Industri rupanya berdampak pada alat cukur. Pada masa ini tercipta pisau cukur mekanis dengan motor penggerak yang berbasis pada putaran turbin. Lompatan teknologi ini diklaim mampu mencukur cambang "60 pria dalam 1 menit". Tak terbukti, memang. Namun itulah cikal bakal pisau cukur elektronik.


Sayang, lompatan dalam Revolusi Industri itu tak cepat di tanggapi. Sebaliknya, yang dilakukan hanya peningkatan mutu pisau dan peragaman jenis tangkai. Baik dari kayu, tanduk, ataupun gading gajah. Sampai tiba saatnya, seorang pria Chicago bernama Gillette (kita menyebut benda ciptaannya "silet", bukan?) muncul dan menekuni benda ini.


King Camp Gillete, Penemu SILET
King Camp Gillette, kelahiran tahun 1885, berayah pengusaha macam-macam perkakas yang mengantungi beberapa hak paten, dan beribu seorang wanita yang pernah menulis buku masak dan terjual 3 juta eksemplar. Sampai umur 40, Gillette bekerja sebagai salesman pada sebuah pabrik penutup botol. Majikannya, penemu tutup botol kombinasi logam dan gabus, suatu hari menasihati, "Kenapa kamu tak mencoba membuat sesuatu yang bernilai seperti penutup botol Crown Cork, yang sekali pakai lantas di buang? Sebab, dengan begitu, konsumen akan datang lagi buat mencari benda yang sama tapi baru. Tiap permintaan yang datang adalah landasan untuk mengeruk laba."


Pikiran Gillette tertuju pada pisau cukur berpengaman. Di satu sisi ia ingin memberi kemudahan kepada para pemakai alat ini tanpa risiko tergores ataupun terkurangi privasinya (mencukur di kamar mandi, misalnya), di lain sisi  ia ingin menciptakan pisau cukur diabolik dengan sisi tajamnya tak bisa lagi diasah ketika tumpul. Orang harus mencari yang baru untuk mengganti isinya.


Semula, para ahli metalurgi mencibir ide ini. Pertama, membuat baja tipis adalah teknologi sulit, dengan sendirinya tak mungkin mematok harga jual rendah. Kedua, menggosok lagi bagian yang sudah tipis itu hingga tajam adalah pekerjaan mustahil. Gillette beruntung, ada tokoh bernama William Nickerson yang membantunya. Nickerson menemukan metode pengasahan baja tipis, dan ini bisa diterapkan dalam produk masal. Hasilnya, pada 1903 Gillette mampu menghasilkan satu set alat cukur dengan 20 pisau cadangan, dan menjualnya AS$ 5. Sampai akhir tahun itu, alat cukur yang terjual mencapai 51 buah dan pisaunya 168 buah.


Kesuksesan tak perlu lama-lama untuk diraihnya. Dua tahun kemudian, penjualan alat cukur mencapai 250.000, dan paket pisau pengganti mencapai 100.000 buah. Hasil karya Gillette menjadi simbol throwaway society, karena pada masa itu orang tergila-gila pada barang yang sekali pakai kemudian di buang.


Terbukti, Gillette mampu menepis keraguan ahli metalurgi. Salah satu maskot pada masa itu adalah "The Razor King", diiklankan dengan gaya menyindir kedai cukur beserta para pelanggannya. "Jika waktu, uang, tenaga, dan daya pikir yang terbuang percuma di kedai cukur bisa disatukan dalam karya nyata, niscaya Terusan Panama akan tergali dalam 4 jam," bunyi iklan itu.


Ketika Gillette menangguk jutaan dolar, persaingan pun merebak ke permukaan. Kolonel Jacob Schick menerapkan teknologi injeksi sebagaimana di pakai dalam pembuatan senjata untuk menggerakkan pisau. Dengan alat ini, si pemakai tak lagi harus memegang bagian yang -- bagaimanapun tetap - tajam. Langsung saja, penemuan Schick ini disambut hangat, dinyatakan sebagai penemuan mekanis terbesar abad XX. Majalah Collier's mengomentari, "Cara mencukur seperti itu menjadi pertanda kita selangkah lebih maju dalam peradaban." Padahal sebagian orang tahu ciptaan Schick hanyalah pengembangan dari warisan Revolusi Industri.


Walhasil, alat cukur buatan Schick tak sanggup menembus pasar. anSebaliknya, alat cukur bertangkai plastik yang murah dan mudah diganti tetap berjaya, bahkan sampai jauh ke tahun 1960-an. Dasawarsa berikutnya, perusahaan Warner-Lambert memperkenalkan jenis yang lebih aman. Dua pisau dalam satu unit, mampu memotong bulu hingga berjarak seperenam puluh ribu inci dari kulit tanpa risiko tergores, pun dengan bidang yang makin sempit. "Anda tahu, makin lebar bidang yang mampu dijangkau pisau, makin besar kemungkinan tergores," kata Fred Wexler, direktur riset pada Warner-Lamberts Shaving Products Group.


Praktis tapi belum tentu memuaskan


Ketika alat cukur elektronik makin masal, ratusan merek dari berbagai negara pun menyerbu pasar. Benda ini bukan lagi bersifat manual, tetapi lebih bersifat listrik. Kekhawatiran tak lagi menyangkut risiko tergores, tetapi lebih kepada aspek setrumnya.


Artinya, alat cukur jenis ini belum tentu menjamin rasa suka pemakainya. Apalagi kalau kemudian dimasuki unsur kebiasaan dan perasaan. Selain sulit dioperasikan untuk membabat bulu berukuran panjang, lumrah terjadi, seseorang sama sekali tak bersedia memakai alat cukur elektronik, sekalipun ia mampu membelinya setiap minggu. Juga cerita para pekerja di kedai cukur elektronik, sekalipun ia mampu membelinya setiap minggu. Juga cerita para pekerja di kedai cukur yang sering mendapati pelanggan yang enggan dikerik dengan perangkat jenis itu, sekalipun alat tersebut di operasikan demi gaya modern kedai cukur tersebut.


Memang benar, ada sementara orang yang merasa, gesekan cukur pada kulit membuahkan sensasi khas yang tak bisa digantikan peralatan elektronik. Fenomena ini terbukti dengan jelas ketika kita tahu kisah Bill Sibilia, yang pensiun dari kedai cukurnya di Market Street, San Fransisco, setelah 65 tahun berpraktek. Menurut cerita para pelanggan, Sibilia mampu menghadirkan "surga" hanya dengan imbalan uang AS $ 9. Selain olesan losion, sekaan handuk hangat, dan pijatan yang sangat nyaman, caranya mencukur pun baik sekali.


"Yang mereka dapatkan tak bisa digantikan oleh alat cukur bikinan pabrik mana pun. Maka saya yakin, kedai cukur tak akan pernah mati," katanya.


Source: Majalah Intisari, no.390 - Januari 1996

Jumat, 09 Desember 2011

PISAU CUKUR, Pisau Pengukur Kejantanan (BAGIAN 1)

Telah 7.000 tahun lebih pisau cukur dikenal umat manusia. Rupanya ia tak melulu digunakan untuk memangkas bulu dan rambut yang tak dikehendaki, tetapi juga menjadi simbol kaum laki-laki, lantaran ketajamannya yang penuh risiko.


TAHUKAH Anda, dalam 24 jam rambut akan bertambah panjang 0,000375 cm? Sekali cukur kumis, janggut, dan cambang dalam takaran normal, potongan bulu berjumlah 10.000 hingga 30.000 lembar? Juga, tahukah Anda, ada sebuah penelitian yang pernah dilakukan di Amerika menghasilkan data: 90% dari pria berusia di atas 15 tahun punya kebiasaan mencukur kumis dan cambang, 6 hari dalam seminggu, 6 hari dalam seminggu? Nah, bagi produsen alat cukur, bukankah ini peluang besar?


Menurut penelitian itu, setiap pria menghabiskan waktu 3-10 menit untuk sekali cukur. Dengan frekuensi 6 kali seminggu, alokasi waktu yang dihabiskan sepanjang hidup mereka mencapai 3.000 jam alias 125 hari. Diprakirakan anggaran tahunan masyarakat Amerika untuk membeli peralatan ini mencapai AS $ 80 juta. Hampir 30% di antaranya berupa alat cukur elektronik, sisanya jenis manual permanen (10%) dan jenis yang langsung dibuang ketika sudah tumpul 60%. Jangan salah duga, nilai produksi pisau dan alat cukur pengganti ini sangat tinggi, yakni AS $ 900 juta (hampir Rp. 2 triliun) per tahun. Belum lagi kalau ditambah dengan nilai produksi sabun cukur, krim, dan macam-macam losion. Sungguh bukan pasar yang kecil.


Takluk terhormat


Antropolog David Givens pernah menjelaskan, "Bagi seorang pria, mencukur kumis atau cambang bukan semata-mata kegiatan rutin atau kebiasaan.


Ada perasaan tertentu dari si pelaku mengenai dirinya. Dengan menatap wajah di kaca, seseorang menjadi sangat dekat, bahkan bersentuhan dengan diri sendiri."


Itu argumen mutakhir. Padahal, pada 1886 Oliver Wendell Holmes Sr. pernah mengungkapkan lewat esainya.


"Cukur kumis adalah pekerjaan paling tidak enak. Sesuatu yang sangat simpel namun menjebak, karena kaum laki-laki harus melakukannya, mau tak mau, suka atau tak suka."


Ada keniscayaan, sekalipun bukan kodrat. Ada pula nada kepasrahan, kendati tak sepenuhnya. Majalah Antiques terbitan 1927 memberi tambahan nilai bagi keadaan itu, yakni "Kepasrahan atau rasa takluk secara terhormat."


Perihal ketajaman pisau cukur, banyak film dan cerita telah dibuat, kebanyakan dengan menyalahgunakan fungsinya. Pisau cukur, yang memang identik dengan laki-laki, makin memperoleh pembenaran sifat maskulin dari berbagai gambaran itu. Rasa perih, sifat sadistis, kengerian akan goresan, dan lain-lain, tak pelak lagi, hanya dunia maskulin yang punya. Kendatipun model safety razor alias pisau cukur berpengaman mulai diperkenalkan sejak seabad lalu, risiko tergores bagi pemakai ketika mengganti isinya tetap ada.


Pengingkaran identitas


Kegiatan pemangkasan bulu yang tak dikehendaki, diduga telah ada sejak 7.000 tahun lampau. Di zaman neolitik, sekitar masa-masa akhir zaman batu, kegiatan pengasahan dan pemolesan perkakas kehidupan telah ada. Dalam situs berusia 7.000 tahun, para antropolog menemukan benda pipih yang mirip pisau terbuat dari tanduk binatang, batu api, atau jenis batuan lain. Lukisan di gua-gua purba juga menunjukkan banyak pria dengan kumis pendek dan rapi atau bahkan klimis. Fungsi benda tajam untuk memangkas rambut juga ditunjukkan pada relief zaman dinasti pertama Mesir, 5000 tahun lalu. Salah satunya terdapat gambar Raja Namer mengarahkan pedang ke musuhnya, dengan bagian ujung pedang hampir memotong rambut si musuh. Dalam pertempuran tangan kosong, rambut adalah kelemahan. Dapat dimengerti jika karena alasan ini, prajurit Mesir kuno selalu memangkas rapi rambut mereka.


Sebagai bagian dari kebiasaan, kebersihan, bahkan pertahanan diri, pencukur rambut atau kumis tak pernah mengalami masa keemasan. Kumis, cambang, maupun janggut, selalu muncul dan hilang sesuai mode. Alexander Agung pada 4 abad sebelum Masehi, misalnya, sama sekali tak berkumis. Selain karena sadar dirinya tampan, ia melakukan itu karena pertimbangan kemiliteran. Maka ia pun memerintahkan semua prajuritnya untuk bercukur pendek. Namun perintah ini ditentang oleh tokoh bijak Yunani bernama Diogenes. Menurut dia, pencukuran kumis dan janggut adalah pengingkaran terhadap jenis kelamin. "Kaum pria ditakdirkan berbulu pada bagian muka. Jika ini dihilangkan, apa bedanya dengan muka kaum wanita?"


Di zaman Romawi, ketika para bangsawan dan kaum berada bercukur klimis, para budak dan masyarakat kelas bawah brewokan. Teori etimologi yang pernah diajukan menunjukkan: kata "barbarian", kaum barbar, berasal dari kata         
bearded one alias kaum brewokan. Ini terbukti dalam sejarah, ketika gerombolan liar brewokan mengacaukan kekaisaran.


Sebaliknya, di Turki para budak disuruh cukur rapi, sementara para bangsawan memelihara janggut sesuai dengan statusnya. Di beberapa negara Eropa, aturan ini juga berlaku selama beberapa abad.


Bersambung - PISAU CUKUR, Pisau Pengukur Kejantanan (BAGIAN 2)

Senin, 14 November 2011

Asal Mula Sepatu

ALAS KAKI, apapun nama, bentuk, atau modelnya, telah begitu lekat dengan kaki semua orang. Namun, keakraban kaki dengan pembungkusnya itu tidak dialami dengan mudah oleh banyak orang sebelum tahun 1882. Tepatnya, ketika Jan Ernst Matzeliger, pekerja di sebuah pabrik sepatu di Amerika, menemukan mesin pembuat sepatu. Dengan ditemukannya mesin-mesin pembuat sepatu yang lain, dimulailah produksi masal sepatu, sehingga harganya pun menjadi terjangkau. Orang tak perlu lagi membuat sendiri atau repot memesan pada tukang sepatu keliling.


Namun, untuk sampai pada tahap itu, sepatu mengalami perjalanan yang sangat panjang. Ribuan tahun yang lalu, kulit binatang mentah dipilih untuk pembungkus tubuh dan kaki manusia.


Bila didaerah dingin pembungkus itu berbentuk sepatu, masyarakat di daerah panas lebih menyukai sandal. Orang Mesir kuno di tahun 3700 SM misalnya, sudah mengenakan sandal dari serat tanaman atau kulit binatang.


Bahan dasarnya tergantung pada materi yang tersedia dan kondisi alamnya. Sepatu kayu misalnya, sangat populer di Benua Eropa yang banyak berhutan. Sedangkan klompen kayu (semacam "sepatu" bakiak) banyak ditemukan di negara-negara bercuaca hangat seperti Timur Tengah, India dan Jepang. Bila mokasin (sepatu yang dibuat dari selembar bahan sehingga tidak ada jahitan antara sol dengan bagian atas sepatu) dari kulit pohon jadi alas kaki masyarakat Skandinavia, maka sandal jerami dan sepatu kain dapat dijumpai menghiasi kaki masyarakat Korea dan Cina. Khusus masyarakat di wilayah bercuaca sangat dingin, sepatu bot banyak dipakai. Orang Tibet, Bhutan, dan Nepal di sekitar Himalaya, misalnya, sangat akrab dengan sepatu bot dari kulit yak.


Alas kaki ternyata tidak selalu dianggap penting, apalagi oleh masyarakat wilayah yang banyak disinari matahari. Pada lukisan dinding dari zaman Mesir kuno, hanya para raja dan pendeta yang mengenakan alas kaki - itu pun berupa sandal - yang terbuat dari jalinan alang-alang, atau sandal kulit seperti yang terbuat dari jalinan alang-alang, atau sandal kulit seperti yang dikenakan Tutankhamen, salah satu firaun Mesir.


Bagi serdadu Yunani kuno, sandal malah punya fungsi yang amat khusus. Mereka hanya mengenakan satu pada kaki kiri. Saat perkelahian satu lawan satu, karena perisai dibawa dengan tangan kiri, kaki kiri itu selalu siap maju, kalau perlu menendang selangkangan lawan. Nah, tendangan dengan sandal tentu lebih afdol.


Pada abad IV, sepatu yang dihias dengan indah banyak ditemukan di Bizantium. Model sepatu dengan ujung panjang muncul di akhir abad IV sampai abad XV. Maklum, mode topi dan hiasan kepala saat itu juga runcing-runcing. Ada sepatu seorang pangeran yang panjang ujungnya 60 cm. Untuk mempertahankan bentuknya tentu saja mesti disumpal serat atau jerami. Sepatu demikian disebut poulainne atau crakow, mungkin indikasi tempat asalnya: Polandia. Supaya praktis, ujung sepatu diikat dengan rantai ke pangkal sepatu di tulang kering. Oleh Edward IV, raja Inggris 1442-1483, ujung sepatu lalu di batasi maksimal 5 cm saja.


Pada abad XVII lahir model sepatu berhak tinggi dengan pita. Tahun 1660 Louis XIV, raja Prancis yang terkenal suka kemewahan dan keindahan, mendapat hadiah sepasang sepatu berhak tinggi dengan pita sepanjang 40 cm. Tetapi haknya dibuat melengkung untuk disesuaikan dengan tubuh Louis yang pendek. Meski tak praktis dan membuat pemakainya bisa tersandung, model itu sangat disukai raja dan kerabatnya.


Pada abad XVIII sepatu mencapai puncak kecentilannya. Ada yang dihiasi kain brokat, atau kulit anak kambing yang lembut, entah dibordir atau dihiasi manik-manik. Ujungnya runcing, haknya tinggi melengkung. Bahkan ada yang dihiasi gesper bertatahkan berlian.


Kini perkembangan pengetahuan yang begitu pesat menyentuh pula bidang pembuatan sepatu. Proses rancang-merancang dilakukan dengan bantuan komputer, sedangkan sinar laser digunakan untuk memotong bahan dengan cepat dan tepat.


Source: Majalah Intisari no.400 - November 1996                          

GET UPDATE VIA EMAIL
Jika Anda Menyukai Artikel di Blog Ini, Silahkan Berlangganan via RSS. Isi Alamat Email Anda di Bawah Ini:

MAJALAH BOBO 1980-an

Tambahkan Kami di Facebook

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes