Sabtu, 10 Desember 2011

PISAU CUKUR, Pisau Pengukur Kejantanan (BAGIAN 2)

Tutup botol inspirasi Gillette


Revolusi Industri rupanya berdampak pada alat cukur. Pada masa ini tercipta pisau cukur mekanis dengan motor penggerak yang berbasis pada putaran turbin. Lompatan teknologi ini diklaim mampu mencukur cambang "60 pria dalam 1 menit". Tak terbukti, memang. Namun itulah cikal bakal pisau cukur elektronik.


Sayang, lompatan dalam Revolusi Industri itu tak cepat di tanggapi. Sebaliknya, yang dilakukan hanya peningkatan mutu pisau dan peragaman jenis tangkai. Baik dari kayu, tanduk, ataupun gading gajah. Sampai tiba saatnya, seorang pria Chicago bernama Gillette (kita menyebut benda ciptaannya "silet", bukan?) muncul dan menekuni benda ini.


King Camp Gillete, Penemu SILET
King Camp Gillette, kelahiran tahun 1885, berayah pengusaha macam-macam perkakas yang mengantungi beberapa hak paten, dan beribu seorang wanita yang pernah menulis buku masak dan terjual 3 juta eksemplar. Sampai umur 40, Gillette bekerja sebagai salesman pada sebuah pabrik penutup botol. Majikannya, penemu tutup botol kombinasi logam dan gabus, suatu hari menasihati, "Kenapa kamu tak mencoba membuat sesuatu yang bernilai seperti penutup botol Crown Cork, yang sekali pakai lantas di buang? Sebab, dengan begitu, konsumen akan datang lagi buat mencari benda yang sama tapi baru. Tiap permintaan yang datang adalah landasan untuk mengeruk laba."


Pikiran Gillette tertuju pada pisau cukur berpengaman. Di satu sisi ia ingin memberi kemudahan kepada para pemakai alat ini tanpa risiko tergores ataupun terkurangi privasinya (mencukur di kamar mandi, misalnya), di lain sisi  ia ingin menciptakan pisau cukur diabolik dengan sisi tajamnya tak bisa lagi diasah ketika tumpul. Orang harus mencari yang baru untuk mengganti isinya.


Semula, para ahli metalurgi mencibir ide ini. Pertama, membuat baja tipis adalah teknologi sulit, dengan sendirinya tak mungkin mematok harga jual rendah. Kedua, menggosok lagi bagian yang sudah tipis itu hingga tajam adalah pekerjaan mustahil. Gillette beruntung, ada tokoh bernama William Nickerson yang membantunya. Nickerson menemukan metode pengasahan baja tipis, dan ini bisa diterapkan dalam produk masal. Hasilnya, pada 1903 Gillette mampu menghasilkan satu set alat cukur dengan 20 pisau cadangan, dan menjualnya AS$ 5. Sampai akhir tahun itu, alat cukur yang terjual mencapai 51 buah dan pisaunya 168 buah.


Kesuksesan tak perlu lama-lama untuk diraihnya. Dua tahun kemudian, penjualan alat cukur mencapai 250.000, dan paket pisau pengganti mencapai 100.000 buah. Hasil karya Gillette menjadi simbol throwaway society, karena pada masa itu orang tergila-gila pada barang yang sekali pakai kemudian di buang.


Terbukti, Gillette mampu menepis keraguan ahli metalurgi. Salah satu maskot pada masa itu adalah "The Razor King", diiklankan dengan gaya menyindir kedai cukur beserta para pelanggannya. "Jika waktu, uang, tenaga, dan daya pikir yang terbuang percuma di kedai cukur bisa disatukan dalam karya nyata, niscaya Terusan Panama akan tergali dalam 4 jam," bunyi iklan itu.


Ketika Gillette menangguk jutaan dolar, persaingan pun merebak ke permukaan. Kolonel Jacob Schick menerapkan teknologi injeksi sebagaimana di pakai dalam pembuatan senjata untuk menggerakkan pisau. Dengan alat ini, si pemakai tak lagi harus memegang bagian yang -- bagaimanapun tetap - tajam. Langsung saja, penemuan Schick ini disambut hangat, dinyatakan sebagai penemuan mekanis terbesar abad XX. Majalah Collier's mengomentari, "Cara mencukur seperti itu menjadi pertanda kita selangkah lebih maju dalam peradaban." Padahal sebagian orang tahu ciptaan Schick hanyalah pengembangan dari warisan Revolusi Industri.


Walhasil, alat cukur buatan Schick tak sanggup menembus pasar. anSebaliknya, alat cukur bertangkai plastik yang murah dan mudah diganti tetap berjaya, bahkan sampai jauh ke tahun 1960-an. Dasawarsa berikutnya, perusahaan Warner-Lambert memperkenalkan jenis yang lebih aman. Dua pisau dalam satu unit, mampu memotong bulu hingga berjarak seperenam puluh ribu inci dari kulit tanpa risiko tergores, pun dengan bidang yang makin sempit. "Anda tahu, makin lebar bidang yang mampu dijangkau pisau, makin besar kemungkinan tergores," kata Fred Wexler, direktur riset pada Warner-Lamberts Shaving Products Group.


Praktis tapi belum tentu memuaskan


Ketika alat cukur elektronik makin masal, ratusan merek dari berbagai negara pun menyerbu pasar. Benda ini bukan lagi bersifat manual, tetapi lebih bersifat listrik. Kekhawatiran tak lagi menyangkut risiko tergores, tetapi lebih kepada aspek setrumnya.


Artinya, alat cukur jenis ini belum tentu menjamin rasa suka pemakainya. Apalagi kalau kemudian dimasuki unsur kebiasaan dan perasaan. Selain sulit dioperasikan untuk membabat bulu berukuran panjang, lumrah terjadi, seseorang sama sekali tak bersedia memakai alat cukur elektronik, sekalipun ia mampu membelinya setiap minggu. Juga cerita para pekerja di kedai cukur elektronik, sekalipun ia mampu membelinya setiap minggu. Juga cerita para pekerja di kedai cukur yang sering mendapati pelanggan yang enggan dikerik dengan perangkat jenis itu, sekalipun alat tersebut di operasikan demi gaya modern kedai cukur tersebut.


Memang benar, ada sementara orang yang merasa, gesekan cukur pada kulit membuahkan sensasi khas yang tak bisa digantikan peralatan elektronik. Fenomena ini terbukti dengan jelas ketika kita tahu kisah Bill Sibilia, yang pensiun dari kedai cukurnya di Market Street, San Fransisco, setelah 65 tahun berpraktek. Menurut cerita para pelanggan, Sibilia mampu menghadirkan "surga" hanya dengan imbalan uang AS $ 9. Selain olesan losion, sekaan handuk hangat, dan pijatan yang sangat nyaman, caranya mencukur pun baik sekali.


"Yang mereka dapatkan tak bisa digantikan oleh alat cukur bikinan pabrik mana pun. Maka saya yakin, kedai cukur tak akan pernah mati," katanya.


Source: Majalah Intisari, no.390 - Januari 1996

0 comments:

Posting Komentar

GET UPDATE VIA EMAIL
Jika Anda Menyukai Artikel di Blog Ini, Silahkan Berlangganan via RSS. Isi Alamat Email Anda di Bawah Ini:

DAFTAR ISI

MAJALAH BOBO 1980-an

Tambahkan Kami di Facebook

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...