Tampilkan postingan dengan label Melacak Mayat Dengan Bau Tiruan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Melacak Mayat Dengan Bau Tiruan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juli 2011

Melacak Mayat Dengan Bau Tiruan (BAGIAN 2)

WAKTU ITU banyak pelatih menanyakan apakah mereka mempunyai bahan-bahan untuk melatih anjing pelacak narkotik. Revell mulai dengan heroin dan kokain; keduanya merupakan senyawa yang terdiri atas satu molekul besar yang kompleks." Kami harus mencari bahan khusus lain yang melapisi molekul tunggal itu, terpisah dari molekul utama." Sesuatu yang bukan narkotik, tetapi selalu hadir di udara seputar narkotik.


Untungnya, bea cukai AS telah banyak melakukan analisis gas yang mengapung di atas heroin dan kokain. Juga telah mengisolasi beragam alkohol, alkana, ester, dan asam. Semua itu sudah dikatalogkan. Dengan demikian Revell dan Juehne tinggal mencoba-coba pelbagai kombinasi. Mereka melakukan beberapa tes untuk setiap jenis narkotik, lalu dicobakan pada anjing yang sudah terlatih mengenal narkotik. Berdasarkan temuan tersebut mereka memperbaiki bahan tiruan itu.


Labrador, si Anjing Pelacak
Sesudah siap diujicobakan pada anjing-anjing ahli tersebut, Revell mengirimkan sampel yang paling menjanjikan kepada kelompok pelatih lain, yang anjingnya belum pernah dilatih mengenali bau narkotik. Mereka di minta melatih dengan bahan tiruan itu. Ternyata anjing hasil latihan mereka dapat menemukan narkotik yang asli.

"Mengembangkan ganja tiruan jauh lebih rumit," kata Revell. "Kami tak cuma berurusan dengan satu senyawa murni tapi dengan seluruh tanaman ganja. Untuk mengisolasi molekul-molekul ganja dan menemukan kandungannya, dia menggunakan kromatografi gas. Metode ini juga dipakai untuk memisah-misahkan bahan-bahan kimia berdasarkan kecepatan penguapannya. Juga dipakai spektometri massa untuk mengidentifikasi senyawa berdasarkan massa dan dan muatan listrik atomnya.

Yang dicari Revell adalah bahan yang bisa menguap pada suhu rendah. "Sayangnya, zat yang membangkitkan kewaspadaan masing-masing anjing berbeda-beda. kendati semua anjing telah dilatih dengan bau bahan kimia yang mereka kenali untuk identifikasi berbeda-beda."

Revell akhirnya berhasil menciptakan bau tiruan ganja dengan mencampur beberapa senyawa paling populer di antara para anjing. Namun sigma masih akan menyempurnakan koktail bau ciptaannya karena kadang-kadang datang laporan ciptaannya gagal untuk melatih anjing pelacak ganja.


Dicuri buaya dan burung bangkai



Pada 1990 banyak pelatih mengeluhkan masalah mereka kepada Sigma dalam melatih anjing untuk mengendus bau mayat. Karena tugas ini tidak rutin, mereka harus melatih binatang itu paling tidak sekali seminggu. Yang dijadikan bahan untuk berlatih biasanya tanah atau debu kotoran yang diambil dari bawah tempat tergeletaknya mayat. Tanah atau debu kotoran itu biasanya sudah terimbas bau busuk mayat. Alat bantu ini mereka sebut misalnya "debu busuk" atau "Fred B Dead".


Karena baunya yang amat menyengat, Carl Makins, pelatih anjing dari Greenville, Carolina Selatan, menyimpannya dalam kantung plastik rangkap, kemudian dimasukkan dalam peti kedap gas. Begitu pun setiap kali membuka peti itu, biar sekejap, ia harus menyemprot seluruh ruangan parfum wangi. Belum lagi ancaman tular HIV, hepatitis, dan penyakit lain yang disebarkan oleh cairan mayat. Mendengar kesulitan itu, Patricia Carr, perantara Sigma dengan para pelatih itu berpesan kepada Revell dan Juehne, "Buatkan mayat dalam botol."


Itu tak berarti mereka sembarangan saja mencomot segala macam bau mayat untuk diuji di lab. Dari membuka-buka jurnal iptek Juehne menemukan, ada pelbagai tingkat pembusukan tubuh manusia.


Setiap tahap pembusukan dihasilkan berbagai macam zat kimia yang jenis dan jumlahnya berbeda-beda termasuk ptomaines. Dengan inilah para patolog menentukan waktu kematian si korban sementara ahli-ahli kimia mencoba meniru baunya.


Juehne merinci bahan-bahan yang paling mungkin ada di udara ataupun tanah di sekitar mayat. Baik yang masih baru (Pseudo Corpse I) atau yang sudah relatif lama (Pseudo Corpse II). Mereka lalu mencari bau khas mayat manusia yang membedakannya dengan bangkai hewan.

Begitu mendapatkan senyawa-senyawa potensial, Tom menyuruh Revell untuk membauinya sambil bertanya apakah bau ini sudah mirip bau mayat. Maklumlah Revell pernah 7 tahun bekerja di lab forensik. Kalau sudah mirip, maka ia melarutkannya lagi sehingga hanya bisa tercium oleh anjing. Lalu mengirimkannya ke 6 orang pelatih anjing. Botol pertama dengan baik diterima, yang kedua dipuji-puji.

"Mulanya saya tak percaya," kata Billy Smith, "tetapi segera sesudah kami menyembunyikan bahan itu di balik gunungan pasir di tepi sungai, buaya mencurinya. Lalu kami menaruh beberapa di pohon, eh dicuri juga oleh kucing, sementara yang diletakkan di bonggol pohon dicuri burung pemakan bangkai."

Aroma korban trauma

Penguji lain adalah Caroline Hebard dari New Jersey yang telah mendapat penghargaan internasional karena prestasi SAR-nya bersama anjing. "Ya, yang ini sudah bagus. Sekarang buatkan bau tiruan manusia yang masih hidup," katanya.

Sudah bertahun-tahun Hebard dan anjingnya sering bertugas di reruntuhan puing akibat gempa bumi atau ledakan. Dia merasa perlu melatih anjingnya untuk bisa membedakan bau korban masih hidup yang terkubur dengan para penolong dan pekerja. Orang yang mengalami kaget dan trauma menyebarkan bau khas campuran asam dan keringat. Mereka yang bekerja di ambulans pasti mengenal bau itu.

Untuk itu, Juehne membolak-balik jurnal lagi. Dia mendapatkan analisis detail senyawa badan yang dikeluarkan lewat kulit. "Saya membutuhkan bau manusia yang universal, yang sama, tak peduli beda jenis makanan, jenis kelamin, ataupun umur. Mulai dari bayi sampai lansia," ujarnya.

Sesudah melakukan berbagai percobaan, Juehne mengirimkan Pseudo Distressed untuk dites di lapangan. Ternyata berhasil. Anjing-anjing yang dilatih dengan bahan ini mampu menemukan korban-korban dalam operasi penyelamatan sungguhan. Bukan hanya itu, mereka juga bisa menemukan anak-anak yang hilang di hutan dan napi yang mencoba kabur lewat saluran udara di penjara.

Produk Sigma yang terakhir adalah Pseudo Drowned Victim untuk melacak korban tenggelam dengan mereformulasi bau-bauan mayat kedalam kapsul yang tenggelam dalam air. Namun yang dibutuhkan oleh para pelatih adalah bau yang dapat menempel pada selembar film tipis yang mengambang di permukaan air - persis seperti bau bangkai mayat yang sebenarnya. Permintaan ini pun dapat dipenuhi oleh para peneliti dari Sigma dengan cara membuat kapsul yang lebih lama larutnya dan mengisinya sebagian dengan garam supaya tenggelam.

Sering para pembeli mengkombinasikan dengan bahan-bahan tradisional. Misalnya Smith, yang melatih anjingnya mula-mula dengan bau mayat buatan,lalu baru meningkatkan kemampuannya dengan mayat betulan. Herbard malah mengkombinasikan bau tiruan dengan rambut manusia supaya lebih kuat baunya.

Namun banyak juga pelatih yang masih menghindari bahan-bahan itu. "Menggunakan bahan tiruan itu seperti menembak dengan peluru kosong," kata David Frost, penyelia anjing pelatih anjing dari Komisi Pelayanan Umum Tenessee. "Kami menginginkan agar anjing benar-benar mampu membedakan bahan satu dengan yang lain. Untuk apa kami melatih mereka barang palsu."

Di Arizona, Detektif Frank Shenkowitz yang kini menangani kasus green tadi tetap penasaran. Ia masih sering mendatang dataran tinggi tempat ditemukannya sisa-sisa pakaian oleh Judge, si labrador. Belum lama ini, tak jauh dari lokasi temuan Judge, Shenkowitz menemukan sepatu koboi kecil ukuran anak usia 4 tahun. "Memang ini belum membuktikan adanya pembunuhan," ujarnya. "Tetapi saya tahu Judge dapat dipercaya."

Source: Majalah Intisari - No.402, Januari 1997

Melacak Mayat Dengan Bau Tiruan (BAGIAN 1)

Di AS telah ditemukan formula bau-bauan yang menyerupai bahan aslinya, termasuk bau mayat, narkotik, heroin, dan beragam obat-obatan ilegal, untuk melatih anjing pelacak menemukan bahan aslinya di lapangan.

EMPAT tahun lalu, dibawah matahari yang terik di negara bagian Arizona, AS, Detektif Mark Green sedang merenungkan penyelidikan di depan matanya. Empat orang saksi mata telah menceritakan kisah pembunuhan anak yang bermiripan yang terjadi delapan tahun sebelumnya. Hari ini polisi Phoenix akan mulai mencari sisa-sisa jenazahnya,yang diduga di kubur dataran tinggi terpencil ini.


Green masih ingat, rekannya jauh lebih bersemangat - bulu coklatnya yang mengkilat bergetar-getar, ekornya dikibas-kibaskan ke kaki Green. Judge, anjing jenis labrador berbulu coklat ini sudah terlatih mengendus narkotik. Tetapi belakangan ini ia baru belajar mengenal bau lain, bau mayat, dengan menggunakan bahan tiruan yang menyerupai bau mayat, dengan menggunakan bahan tiruan yang menyerupai bau mayat. Green membuka ampul "parfum" itu lalu menyorongkannya ke pada Judge. "Back!" perintah Green, yang artinya. "Ini yang aku mau; bring it back!"

Labrador, Si Anjing Pelacak
Judge mengendus-endus kiri-kanan, turun-naik di tanah merah yang tandus itu. Moncongnya lincah diarahkan kesana-kemari. Moncongnya lincah diarahkan kesana-kemari. Sesudah 30 menit, geraknya melambat, moncongnya menyapu mundur-maju, lalu kedua cakarnya menggali penuh semangat, "Good boy!" kata Green sambil melemparkan mainan kunyah-kunyahan ke depan hidung rekannya. Si labrador melompat kesenangan, menyambut hadiah itu.

Green membersihkan bekas galian cakar Judge dengan sikat. Lalu dibawanya anjing itu beberapa ratus meter dari situ mengikuti arah angin, untuk mulai melacak lagi. Tapi cuma dalam beberapa menit, judge kembali ketempat tadi mencakar-cakar sambil menyalak lagi. Sekarang para petugas baru mulai menggali gumpalan-gumpalan tanah liat yang belum digali.

Seorang ahli patologi forensik Universitas Arizona di Tucson tiba. Ia menunjuk ke suatu lokasi di tanah gurun itu, yang agaknya mencurigakan. Agak cekung, seperti bekas lubang besar yang ditimbun kembali. Penggalian dilanjutkan dengan cangkul. Polisi terus menyisir tempat itu untuk mendapat bukti lebih banyak. Tapi polisi tidak menemukan apa-apa lagi. Meski demikian, dengan didapatnya potongan pakaian, Judge menjadi salah satu anjing polisi pertama yang dilatih dengan bau-bauan palsu.

Seri "parfum" bau mayat

Menyusul ledakan bom di Oklahoma, AS, dan gempa bumi di kobe, Jepang, endusan anjing menjadi sesuatu yang biasa di televisi. Padahal untuk melatihnya mengenali bau tertentu bukan sesuatu yang mudah. Paling tidak harus dilatih 1 kali seminggu. Kalau baunya bau mayat, si pelatih jadi lebih repot lagi. Siapa yang mau dekat-dekat orang yang berbau mayat?

Sedangkan melatih anjing untuk mengenali heroin saja sudah cukup problematik. Untuk mendapatkan dan menggunakan obat-obatan terlarang itu, si pelatih harus melewati birokrasi yang berbelit-belit. Sementara anjingnya sendiri mudah kelebihan dosis.

Para pelatih sebenarnya sudah mencari gantinya. "Untuk heroin dan kokain, kami mencampurkan bubuk susu, cuka dan sedikit kina," kata Texan Billy Smith, pelatih anjing sejak 1970-an. Untuk keperluan SAR pun anjing dilacak melacak segala macam, dari korban tabrak lari, potongan kuku dan rambut, percikan darah. kadang-kadang bahan tiruan bisa berhasil melatih mereka, tetapi kadang-kadang juga tidak.

Untunglah ada sekelompok ahli kimia dan biologi yang dapat membuat pelatihan anjing menjadi lebih mudah dan terpercaya. Hasil karya mereka yang paling menonjol berupa bebauan buatan, diproduksi oleh perusahaan kimia Sigma di St.Louis, AS. Dalam 5 tahun ini Sigma telah mengembangkan satu seri produk yaitu Pseudo Corpse I (bau mayat berumur kurang dari 30 hari), Pseudo Corpse II (bau mayat berumur 1 bulan), Pseudo Distress Body (bau tubuh akibat panik) dan Pseudo Burn Victim (bau mayat korban kebakaran) sedang dalam rencana. Sigma juga menjual bubuk peledak tiruan dan sejumlah tiruan obat-obatan ilegal.


Menurut Larry Myers, dokter hewan dan ahli biologi sensori asal Universitas Auburn di Alabama, "Bebauan tiruan memang pemecahannya, karena justru yang paling jadi masalah dalam melatih anjing adalah kontrol stimulusnya." Tiruan yang ideal, menurutnya, harus bersifat khusus untuk yang dituju saja. "Anda tentu tidak ingin anjing yang Anda latih untuk menemukan bahan peledak, ternyata malah keliru menemukan sekaleng krim cukur."


Meski anjing berdaya penciuman amat sensitif, hal demikian ternyata sering terjadi. Sebagai contoh, melatih anjing mengenali narkotik dengan bahan narkotik yang disimpan dalam kantung plastik di jamin membuat anjing itu akan ribut tiap kali mencium bau kantung plastik. Anjing yang dilatih menemukan obat bius, juga amat mudah dibelokkan perhatiannya oleh bau-bauan lain, sehingga akhirnya yang ia temukan malah tepung roti, sementara kokainnya sendiri terlewatkan.


Peledak, narkotik, ganja

Peran anjing pelacak kini semakin krusial; bisa menyangkut soal hidup atau mati. Salah satu lembaga yang amat tergantung pada anjing pelacak ini adalah lembaga pengawas penerbangan di AS. Lembaga ini memperkerjakan 100 ekor anjing pelacak untuk mengendus bahan peledak dalam kargo.

Penelitian Myers disponsori Federal Aviation Administration (FAA). Sebelum sampai pembuatan bom tiruan, masih banyak hal yang perlu dikerjakan. Bila anjing mengendus dalam-dalam yang mengakibatkan masuknya molekul-molekul pembawa bau ke dalam lubang hidung, maka bentuk lubang hidung berubah supaya molekul-molekul itu difokuskan ke arah selaput sensory mucosa, yang letaknya di bagian belakang moncongnya.


Sensory mucosa dapat memuat amat banyak cilia (rambut halus yang peka terhadap bau). Cilia pada anjing 10 kali lebih banyak daripada cilia pada hidung manusia.


Tetapi sampai sekarang pengetahuan para peneliti baru sampai di situ. Sampai sebatas manakah pembauan anjing? Anjing barangkali bisa melacak bau buronan bila jejaknya baru berusia beberapa hari. Namun dalam hal bau-bau tertentu seperti aseton, hidung anjing tidak lebih baik dibandingkan manusia.


Dengan latar belakang yang serba sedikit inilah ahli kimia Sigma, Thomas Juehne dan John Revell, menciptakan bau tiruan pertama pada 1989.


Bersambung - Melacak MAYAT dengan BAU TIRUAN (BAGIAN 2)

GET UPDATE VIA EMAIL
Jika Anda Menyukai Artikel di Blog Ini, Silahkan Berlangganan via RSS. Isi Alamat Email Anda di Bawah Ini:

MAJALAH BOBO 1980-an

Tambahkan Kami di Facebook

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes