Tampilkan postingan dengan label Polusi Udara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Polusi Udara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Oktober 2011

Asap Knalpot, Berbahayakah ?

SETIAP orang kota pasti sudah mendengar gas buangan knalpot kendaraan bermotor tidak sehat. Gas yang terutama berupa karbon monoksida (CO) itu akan digabung oleh hemoglobin dalam tubuh kita. Akibatnya, hemoblobin ini tidak mampu mengangkut oksigen lagi. Padahal oksigen ini perlu untuk "membakar" zat makanan, agar menghasilkan energi dalam tubuh. Energi inilah yang membuat kita segar bugar.

Tapi gara-gara menghirup gas itu, tubuh kekurangan oksigen, lalu ngantuk, lesu, tak bersemangat. Kalau yang dihirup itu udara knalpot yang lebih pekat, kepala ikut pusing, perut mual, pingsan atau mati pelan-pelan.

Di luar negeri, kota besar yang "sakit knalpot" semacam itu berusaha membatasi pengeluaran gas buangan dengan bermacam-macam pengaturan lalu-lintas dan teknik otomotif. Di Kota Lubeck, dekat Hamburg, misalnya mobil pribadi tidak boleh masuk pada hari Sabtu pertama dari setiap bulan. 

Pada hari itu, orang hanya boleh datang sampai batas gerbang masuk. Disana disediakan tempat parkir mobil pribadi, taksi dan bus. Penumpang dipersilahkan berjalan kaki memasuki kota itu. Atau naik sepeda. Kalau yang dituju jauh, boleh naik taksi atau bus yang masih boleh memasuki kota.

Di kota itulah, orang mengalami sensasi baru. Mereka bisa leluasa berleha-leha menikmati udara segar yang sudah jauh berkurang gas buangan knalpotnya.

Pada kita, pengaturan semacam itu baru merupakan "berita mancanegara" saja.

Sebenarnya kita sendiri juga bisa mulai mengurangi menghirup udara knalpot ini. Kalau hanya ke toko dekat saja, ya cukup berjalan kaki. Kalau agak jauh, ya pakai sepeda. Kalau tidak perlu sekali, tidak memakai mobil pribadi, "terjun" ke jalan raya.

Kalau setiap anggota masyarakat kota mau mengurangi pemakaian mobil, niscaya udara kota sempat pulih kesegarannya, seperti pada hari Sabtu dan Minggu, ketika sebagian besar warga kota yang bermobil libur santai di rumah, atau istirahat di pegunungan.

Tapi benarkah udara knalpot itu mengganggu? Nyatanya banyak warga kota yang tenang-tenang saja bekerja, makan dan minum di tepi jalan sebagai pedagang kaki lima.

Udara knalpot memang tidak apa-apa kalau kepekatannya tidak seberapa, karena berbaur dengan oksigen dari udara segar. Apalagi di jalan yang kanan-kirinya hijau ditanami pohon-pohon peneduh. Tapi yang pada suatu waktu terkonsentrasilah, yang membuat orang pingsan. Misalnya gas yang terkumpul dalam kabin, melalui lubang bocoran pada body dan knalpot, karena mobil berlama-lama merayap, gara-gara jalan macet total. Bukan salah jalannya, tapi kita sendiri, mengapa terjun ke jalan macet.

"Pakai AC 'kan? Mobil juga ditutup rapat-rapat!" bela sementara orang. Kebanyakan dari kita memang percaya bahwa duduk tersekap rapat dalam mobil lebih aman daripada berada diluarnya. Tapi hasil penelitian Friends of the Earth dan Koran The Sunday Times di Inggris menunjukkan, bahwa kadar CO dalam kabin ternyata 3 kali lebih pekat daripada di udara luar. Penelitian itu juga menunjukkan pentingnya perawatan bodi kendaraan, jangan sampai ada bocoran dibiarkan terlalu lama memasukkan udara knalpot, lalu meracuni penumpangnya.

Gas buangan knalpot yang tersekap dalam garasi tertutup juga sama jahatnya. Padahal garasi itu bersebelahan banget dengan kamar tidur kita. Karena itu, memanaskan mesin waktu pagi sebaiknya menghadapkan lubang knalpot ke arah jalan atau udara luar. Tidak ke arah rumah, apalagi jendela kamar tidur. Lagi pula tidak usah lama-lama. Cukup sampai jalannya mesin terdengar teratur mulus saja.

Source: Majalah Intisari, no.371 - Juni 1994

Sabtu, 23 Juli 2011

Pencemaran Udara Dalam Ruangan

SEBENARNYA sudah sejak tahun 1970, beberapa ahli kesehatan mulai prihatin tentang pencemaran udara dalam ruangan. Tetapi agaknya kita belum menyadari benar, betapa berbahayanya menghitung udara tercemar setiap hari selama bertahun-tahun tanpa usaha pencegahan sama sekali. Bahaya ini memang tidak langsung tembak mati, tapi pelan-pelan kesehatan kita terganggu. Sebentar-sebentar pusing, sebentar-sebentar mual. Sesudah diobati dengan obat pusing dan obat mual, memang hilang, tapi tak lama kemudian kambuh lagi. Berapa lama lagi kita harus minum obat pusing semacam itu?


Gangguan ini akan menjadi kronis, kalau kita membiarkan pencemaran dalam ruangan itu berjalan terus, hanya karena kita tidak mau peduli terhadap kesegaran lingkungan.


Sebagian besar waktu kita habiskan dalam ruangan. Dari kamar tidur malam hari ke ruangan kantor (sekolah atau ruang kuliah) dan restoran atau kantin pengap, sampai ke ruang pertemuan dan ruang tamu rumah sendiri, untuk masuk ke kamar tidur lagi.





Asap Rokok Mencemari Ruangan
Pencemar ruangan yang paling akrab kita kenal ialah asap rokok.Menyadari bahwa kebiasaan merokok tidak mungkin ditinggalkan, di beberapa negara maju yang rakyatnya sudah peduli lingkungan, disediakan tempat khusus bagi para perokok yang berkunjung ke tempat umum, seperti restoran, ruang tunggu kantor, lobi hotel. Tindakan yang bagus ini patut diteladani, walaupun ada yang masih melihat diskriminasi tempat, seperti pada zaman politik apartheid. Para perokok seolah-olah dilarang merokok di kawasan non-smoking area.


Beberapa maskapai penerbangan pernah mengambil kebijakan, para penumpang bukan perokok disediakan tempat yang nyaman di bagian depan dan tengah pesawat, sedangkan para perokok diberi tempat di bagian ekor. Hmmm...Kedengaran apartheid ya...


Tetapi akhirnya peraturan apartheid itu dihapus. Semua penumpang tanpa kecuali dilarang merokok sama sekali selama berada dalam kabin yang ber-AC.


Di negeri kita, kadang ada restoran dan tempat umum yang menyediakan tempat pengasingan semacam itu, tapi kadang juga tidak. Untuk menghindarkan diri dari pencemar ruangan ini, sebaiknya kita membiasakan diri dari pencemar ruangan ini, sebaiknya kita membiasakan diri untuk duduk di kawasan non-smoking area, kalau kita memang bukan perokok.


Pencemar ruangan kedua ialah udara pengap dalam kamar tidur, kamar kecil, dan kabin mobil yang tidak diberi kesempatan untuk bertukar dengan udara luar yang segar, karena tidak ada waktu.


Pagi mobil dipakai segera, dan ditutup terus jendelanya karena AC nya dijalankan. Lalu ia diparkir. Juga ditutup rapat, karena kita tidak percaya pada tukang parkir yang lazimnya merasa tidak wajib menjaga keamanan mobil terhadap pencoleng isi mobil, tapi sibuk terus membagikan karcis, atau memungut karcis dan uang di pintu keluar.


Ketika mobil kita kembali ke rumah, biasanya sudah sore dan tidak sempat dibuka kabinnya untuk diangin-anginkan, karena kita sudah capek.


Ruangan mobil ber-AC memang tidak begitu merisaukan kalau mobil itu masih baru, dan karet-karet penyekatnya masih utuh. Tetapi mobil lansia yang karet penyekatnya sudah bocor, kabin ber-AC-nya bisa kemasukan udara tercemar dari luar, buangan sesama mobil yang macet oleh AC ke semua lubang hidung para penumpang.


Untuk menetralkan pengaruh pencemar ruangan ini, kita perlu setiap hari pergi ke lapangan terbuka yang udaranya bersih, atau ke sudut kebun rumah sendiri, lalu menghirup udara bersih sebanyak-banyaknya. Paling menguntungkan kalau ini dilakukan pagi hari, ketika udara belum tercemar oleh gas buangan kendaraan bermotor.


Source: Majalah Intisari, no.402 - Januari 1997

GET UPDATE VIA EMAIL
Jika Anda Menyukai Artikel di Blog Ini, Silahkan Berlangganan via RSS. Isi Alamat Email Anda di Bawah Ini:

MAJALAH BOBO 1980-an

Tambahkan Kami di Facebook

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes