Tampilkan postingan dengan label Realita Unik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Realita Unik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Februari 2012

Tidak Bodoh Tetapi Tinggal Kelas

Begitu tahu angka IQ anak di atas rata-rata, biasanya langsung diambil kesimpulan, ia pasti cerdas di kelas. Padahal menurut survei Departemen P dan K, sebagian besar anak SD yang tinggal kelas IQ-nya normal, bahkan di atas rata-rata. Ini pasti ada sebabnya.


SEORANG IBU MUDA bergegas keluar dengan mata berkaca-kaca dari ruang kelas 3 sebuah sekolah dasar, tempat anaknya bersekolah, gara-gara anak sulungnya ini tidak naik kelas. Sebetulnya bisa dimaklumi, sebab nilai rapornya banyak yang jeblok, bahkan nyaris "kebakaran" karena banyak merahnya.


Tapi si ibu tidak bisa maklum karena ia yakin anaknya bukan tergolong bodoh, mengingat angka IQ-nya di atas rata-rata. "Kenapa hal itu bisa terjadi?" si ibu terus bertanya-tanya.


Ibu dan anaknya itu rupanya tidak "menderita" sendirian. Dari laporan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1996 menyatakan, angka mengulang di kelas-kelas awal SD memang cukup tinggi; 16,7% di kelas I, 12,4% di kelas 2, dan 10,6% di kelas 3. Sedangkan kelas 4 sampai dengan kelas 6 persentasenya menurun; 8,5% di kelas 6. Sebagian besar anak yang tinggal kelas itu ternyata angka IQ-nya tidak di bawah rata-rata.


Potensi ibarat kendi


Anak yang tinggal kelas sering dicap sebagai anak bodoh. Ini tentu anggapan serampangan sebab kenyataannya tidak selalu demikian. Mestilah dilihat kasus per kasus. Setidaknya ada dua segi yang bisa dikaji dengan saksama untuk mencari penyebabnya, yaitu faktor psikologis dan fisiologis anak.


Dari sudut psikologis dapat dilihat selain IQ juga kondisi keluarga dan lingkungan tempat tinggal, serta pergaulan dan lingkungan sekolah. Dari segi fisiologis perlu ditengok faktor kesehatan si anak; umumnya faktor gizi dan gangguan penglihatan maupun pendengaran sangat mengganggu prestasi sekolah anak.


Dalam psikologi pendidikan dikatakan, anak-anak yang tinggal kelas umumnya tergolong sebagai anak yang underachiever atau tidak terpenuhi kebutuhannya. Prof. Dr. Conny Semiawan, seorang pakar pendidikan, lebih jauh menjelaskan bahwa anak yang underachiever dalam kesehariannya kurang mendapat pengarahan sesuai dengan kebutuhannya. Misalnya saja, si anak senang sekali membaca tetapi di rumah tidak atau kurang disediakan sarana bacaan yang sesuai dengan usianya. Atau si anak gemar sekali musik, namun orang tua tidak memperbolehkannya ikut les musik karena takut mengganggu pelajaran sekolahnya.


Sebagai gambaran, Conny Semiawan mengibaratkan otak atau potensi seorang anak cerdas-berbakat bagaikan sebuah kendi besar. Kalau kendi itu tidak diisi penuh, anak bisa membuat masalah. Anak yang berinteleligensi jauh lebih tinggi dari rata-rata teman sekelasnya, akan merasa hampir setiap pelajaran membosankan karena daya tangkapnya juga lebih cepat di bandingkan dengan teman-temannya.


"Kalau guru sedang menerangkan sesuatu yang mungkin bagi murid lain belum dimengerti, anak ini sudah terlebih dahulu menangkapnya. Akibatnya, ia mudah bosan, malas, dan mempunyai lebih banyak waktu untuk mengganggu teman serta mengabaikan gurunya. Anak seperti ini menjadi nakal di kelas dan tidak disenangi oleh guru maupun teman-teman sekelasnya," jelas Conny Semiawan. Barangkali anak dengan kategori semacam ini akan menjadi lebih serius kalau diberi pelajaran yang lebih banyak menuntut pemikirannya, sehingga apa yang dilakukan dia rasakan mengasyikkan.


Jadi, angka IQ di atas rata-rata tidak menjamin keberhasilan prestasi sekolah anak yang bersangkutan kalau "kendi"-nya tidak diisi penuh.


Orang tua penuntut


Faktor psikologis lain yang tidak kalah penting adalah emosi. Sikap ambisius orang tua sering kali membuat anak terkungkung dalam situasi yang menekan, bahkan terkadang menyiksa. Ambisi itu misalnya berupa sikap menuntut si anak berprestasi melebihi teman-temannya. Kalau si anak mendapat nilai 6 untuk suatu pelajaran, ia sudah dianggap gagal atau bodoh. Kemudian anak itu dimaki-maki atau tidak jarang dihukum dengan tindakan fisik, misalnya ditampar, dipukul, dikurung di kamar mandi (sampai si anak masuk angin, dan orang tuanya bingung sendiri), dll.


Situasi menekan lainnya yang juga sering dialami anak misalnya terus dijejali dengan berbagai les pelajaran sekolah. Atau, begitu pulang sekolah harus langsung belajar sampai petang hari sehingga ia tidak punya kesempatan untuk bermain. Kalau situasi yang menekan dan menyiksa ini berlangsung terus-menerus, anak yang bersangkutan bisa dihinggapi rasa takut pergi ke sekolah karena terus diliputi kekhawatiran. Sikap ambisius atau perfeksionis semacam ini sering kali justru bisa kontraproduktif, bahkan menghancurkan prestasi anak. Kalaupun prestasi sekolahnya baik, tidak jarang perkembangan psikologis maupun sosialnya terganggu.


Seperti pernah dikatakan Prof. Dr. Yaumil Agus Achir, seorang pakar psikologi, dalam sebuah seminar dengan Intisari, banyak anak rendah prestasinya belajarnya justru karena ia takut gagal. Soalnya, alam perasaannya diliputi kekecewaan, keragu-raguan, tekanan, dan anggapan bahwa dirinya kurang mampu. Ketidakberhasilan ini, menurut Yaumil, akibat terganggunya dorongan untuk meraih sukses sehingga anak lebih memusatkan perhatian pada usaha menyelamatkan diri dari kegagalan. Di sini motif menghindari kegagalan lebih besar daripada motif untuk berprestasi, sehingga si anak enggan mencoba mendapat nilai cemerlang.


Anak akan bisa belajar dengan baik kalau ia diliputi perasaan senang dan aman serta bebas dari paksaan.


Lingkungan tak mendukung


Reproduksi ingatan atau berpikir, pembentukan pengertian dan kesimpulan, persepsi maupun asosiasi merupakan faktor psikis penting lainnya. Si anak mungkin saja mengetahui dan menyadari letak gangguan yang menyebabkan kemunduran prestasinya, tetapi ia sulit atau tidak berani mengungkapkannya. Di sinilah pentingnya peran guru dan orang tua untuk menganalisis penyebab menurunnya prestasi anak.


Faktor lingkungan, baik lingkungan keluarga ataupun sekolah juga ikut menentukan baik tidaknya prestasi anak. Keluarga yang kurang harmonis, orang tua sering cek-cok, anak kurang mendapat perhatian, semua itu akan mempengaruhi jiwa anak. Pada keluarga yang berkecukupan, banyak anak terlalu di manja dan santai sehingga ia kurang tertantang untuk maju. Sedikit saja menemukan kegagalan, ia sudah putus asa.


Kebutuhan anak bukan sekedar sandang dan pangan yang memadai, tetapi juga kasih sayang, perhatian, serta rasa aman yang cukup. Kemanjaan dan perlindungan yang berlebihan justru bisa mengembangkan sikap kurang mandiri pada diri anak.


Namun keadaan sosio-ekonomi yang kurang menunjang pun acap kali berpengaruh. Misalnya, tidak adanya tempat belajar tersendiri, penerangan yang tidak memadai, banyaknya anggota keluarga yang tinggal dalam rumah yang kecil sehingga keadaan yang hiruk pikuk tidak memungkinkan anak untuk dapat memusatkan konsentrasinya dengan baik.


Lingkungan kedua setelah rumah adalah sekolah. Sikap guru yang kejam dan galak, kurang berkomunikasi dengan murid, metode pengajaran yang kurang tepat dan terlalu cepat, materi pelajaran yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan latar belakang kehidupan anak, ditambah lagi dengan permusuhan dengan teman, semua itu bisa menghambat prestasi anak.


Keadaan masyarakat atau lingkungan tempat tinggal, misalnya anak "harus" hidup dalam lingkungan masyarakat yang kurang baik - seperti di daerah yang penuh dengan mereka yang sering mabuk-mabukan, tempat perjudian, pelacuran, dll. - juga akan berpengaruh bagi perkembangan jiwa dan prestasi anak.


Segi fisiologis yang menjadi perhatian utama adalah soal kesehatan anak. Dalam keadaan sakit, penglihatan atau pendengarannya terganggu, anak tentu tidak mudah berkonsentrasi ataupun menyerap pengetahuan yang diberikan. Anak yang mengeluh sering pusing atau setiap kali menonton televisi selalu mengerutkan matanya, perlu segera diperiksakan matanya ke dokter.


Pemberian makanan bergizi sesuai dengan perkembangan serta usia anak tentu juga sangat penting. Anak yang kurang gizi sehingga pertumbuhan otaknya ikut terganggu tentu prestasinya bisa terhambat.


Beri kasih sayang


Untuk mengurangi tingginya laju angka tinggal kelas di sekolah dasar, bisa ditempuh melalui berbagai upaya asalkan sebelumnya diketahui dengan jelas apa yang melandasi anak kurang bersemangat dalam belajar.


Dalam proses belajar mengajar tidak hanya berlangsung interaksi instruksional, tetapi juga interaksi pedagogis yang mengutamakan sentuhan-sentuhan emosional sehingga anak merasa senang belajar.


Pakar psikologi dari Swiss, Jean Piaget, membagi 4 stadium berpikir pada anak,  yakni stadium sensorimotorik (0-18 bulan), stadium pra-operasional formal (11 tahun ke atas). Ia menyinggung pentingnya metode mengajar anak yang seimbang dengan usia serta perkembangan fisik serta mental anak.


Anak usia 7 - 10 tahun berada pada stadium operasional kongkret. Pada stadium ini anak sudah mampu melakukan aktivitas logis tertentu tetapi masih dalam situasi kongkret. Maksudnya, kalau anak dihadapkan pada suatu masalah secara verbal saja, tanpa bahan yang kongkret, ia akan sulit menuntaskan persoalannya secara baik. Bahan kongkret ini bisa berupa alat peraga. Mereka akan lebih mudah belajar menjumlahkan angka dengan menggunakan alat bantu sederhana seperti lidi atau batang korek api.


Memberikan suatu pengertian bahwa sifat-sifat tertentu suatu objek akan tetap sama kendati ada transformasi pada objek tersebut (konservasi), bisa diperagakan misalnya dengan segenggam tanah liat yang diubah-ubah bentuknya menjadi segi tiga, segi empat, atau bulat. Bentuknya berubah tetapi beratnya tetap sama.


Namun metode ini harus didukung pula oleh berbagai faktor penunjang seperti perhatian serta dukungan orang tua, keadaan lingkungan serta kesehatan yang baik dan gizi anak yang cukup. Langkah-langkah yang perlu untuk menjalankan siasat jangka panjang demi perkembangan prestasi anak, menurut Yaumil, antara lain ialah lebih sering mengamati anak, mendengarkan obrolannya, mau berdialog dengannya, mendampinginya membuat PR. Langkah ini ditempuh agar orang tua mendapat masukan cukup yang diperlukan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.


Kalau sekali waktu anak gagal meraih prestasi, atau pahitnya sampai tidak naik kelas, hendaknya disikapi dengan empati, bukannya dihujani dengan serentetan makian atau hukuman yang merendahkan harga diri si anak. Untuk memperbaiki prestasinya, hendaknya ditelusuri penyebabnya. Kalau perlu, minta bantuan ahli atau guru kelasnya. Sebaliknya, berikan apresiasi (penghargaan misalnya pujian yang wajar, tidak selalu harus dalam bentuk materi) setiap kali anak menunjukkan prestasi. Anak butuh kasih sayang dan perhatian dari orang-orang yang terdekat dengannya, yaitu orang tua!


Source: Majalah Intisari, no.403 - Februari 1997

Rabu, 30 November 2011

Makhluk yang Hidup Dalam Kubur Ratusan Tahun

Beberapa penelitian mengungkapkan ada makhluk yang bisa bertahan hidup dalam keadaan tanpa makan, minum, udara, bahkan sisa ruang yang cukup. Benarkah?


MUSIM dingin 1856, ratusan pekerja Perancis terlibat dalam pengeboran terowongan kereta api yang menghubungkan Saint-Dizier  - Nancy saat mereka menemukan sebongkah batu raksasa di kegelapan. Begitu mesin bor membelah batu itu, suatu makhluk berukuran besar berdiri tegak, mengembangkan sayapnya, dan terbang menerobos kerumunan pekerja di sekelilingnya. Ringkikan "burung" raksasa itu nyaring memecah kegelapan terowongan. Sayang, tak lama kemudian makhluk ini jatuh ke tanah.


Tubuhnya berbentuk seperti angsa besar, meskipun tampangnya sedikit menyeramkan dengan mulut penuh gigi tajam. Empat kakinya yang kuat berakhir di cakar yang kuat berakhir di cakar yang melengkung dan ditautkan dengan membran seperti pada cakar kelelawar. Kulitnya sendiri hitam, tidak berbulu, tebal dan berminyak.


Dalam Illustrated London News, 9 Februari 1856, seorang peneliti hewan dan tumbuh-tumbuhan yang juga ahli palaentologi menyebut mayat binatang itu sebagai Pterodactylus anas.


Penyelidikan atas lapisan batu yang memerangkap perodactil itu pun mengungkapkan umur batu kira-kira sama dengan masa perkembangan pterodactil ribuan tahun yang lalu. Rongga perangkapnya membentuk cetakan yang sama dengan binatang di dalamnya. Artinya binatang itu benar-benar terjepit lapisan batuan sehingga tidak mungkin bergerak. Lalu bagaimana ia bisa bertahan hidup ribuan tahun lamanya?


Terkubur 200 tahun


Mumi Katak
Kasus itu sebenarnya bukan satu-satunya, karena sebelumnya telah banyak ditemui kasus serupa yang kebanyakan melibatkan binatang kecil seperti reptil kecil ataupun kerang-kerangan. Kontroversi seputar hewan yang terperangkap ini menyeruak dengan terbitnya Annual Register pada tahun 1761.


Salah satu kasus yang diungkapkan di sini adalah pengamatan yang dilakukan oleh Ambroise Pare, kepala ahli bedah zaman pemerintahan Henry III (1207 - 1272). Pare menyatakan, pada akhir abad XVI, di rumahnya di Meudon, "Saya melihat seorang penggali memecah sebongkah batu yang sangat besar dan keras. Ternyata di tengahnya ada kodok besar yang masih hidup, tapi tak terlihat tanda-tanda dari mana ia masuk." Kasus ini diceritakan dari waktu ke waktu dan sempat didokumentasikan. Walau ada perbedaan di sana-sini, banyak detilnya yang persis sama. Dalam sebuah ceramah di Caius College, Cambridge, Februari 1818, Dr. Clarke menceritakan pengalamannya selaku pengawas penggalian sebuah gua kapur dengan tujuan menemukan fosil. Di kedalaman 45 depa ia menemukan selapis fosil-fosil sea urchin dan kadal air. Tiga kadal air yang ditemukan dalam keadaan utuh kemudian di pindahkan dan diletakkan di atas selembar kertas. Di bawah sinar matahari, tiba-tiba ketiganya bergerak. Namun, dua diantaranya mati tak lama kemudian, sementara yang seekor diletakkan dalam kolam, " .... langsung bergerak lincah seakan-akan tak pernah mati suri." Begitu aktifnya ia sampai akhirnya ia bisa melarikan diri. Dr. Clarke kemudian mulai mengumpulkan contoh-contoh semua jenis kadal air di daerah itu, namun tak satu pun sama dengan temuannya yang lama terkubur itu. Bahkan menurut Pendeta Richard Cobbold, salah satu peserta ceramah yang sempat melihat kadal air tersebut, "Mereka adalah dari jenis yang sudah punah, tidak pernah dikenal sebelumnya."


Tanggal 8 April 1865, Leeds Mercury melaporkan temuan secara lebih mendetil tentang ekskavasi di Hartlepool Waterwork. Di bawah pimpinan James Yeal, para penggali menemukan seekor katak hidup dalam gumpalan batu gamping di kedalaman 8 m.


Sebagaimana contoh-contoh lainnya, tubuh katak itu pas sekali terjebak dalam batu sehingga rongganya pun serupa cetakan tubuhnya.


Matanya berbinar-binar dan ia nampak penuh semangat menyambut  kebebasan. Mula-mula ia mencoba bernapas tapi rupanya mengalami kesulitan. Yang terdengar malah suara "gonggongan".


Tidak aneh, karena ternyata mulutnya terkunci dan "gonggongan" itu diduga berasal dari nostrilnya (lubang hidung). Koran-koran melaporkan, pertama kali ditemukan kulitnya sepucat batu kapur, namun beberapa saat kemudian perlahan menjadi semakin coklat. Selain semua keanehan itu dan panjang cakarnya yang tidak lumrah, semua kondisi katak itu normal-normal saja. Pendeta Robert Taylor yang juga ahli geologi menduga batu gamping dari zaman magnesium yang memerangkap katak itu paling tidak berumur 200 tahun. Toh si katak bertahan hidup sampai beberapa hari.


Ada lagi laporan dari Benua Amerika, yang dimuat dalam jurnal ilmiah. Majalah Scientific menceritakan tentang pekerja tambang perak bernama Moses Gaines. Ia sedang membongkar batuan sebesar 60 cm2 ketika tiba-tiba batu itu pecah dan di dalamnya ditemukan seekor katak sepanjang 7,5 cm, sangat gemuk dan padat ... dengan mata bulat sebesar koin.


Juga sebuah laporan dari Inggris, yang menggelikan. Sepotong batu marmer yang menutup pendiangan sebuah rumah memotong marmer tersebut, dan menemukan ... seekor katak hidup di dalamnya.


Katak binatang ajaib


Dari begitu banyak kasus, nampaknya katak paling banyak ditemukan terperangkap dalam batuan. Sebenarnya apa kehebatan binatang amfibi ini sehingga bisa bertahan sekian lama tanpa persediaan bahan pendukung kehidupan?


Katak memang telah menarik minat umat manusia sejak awal mula kehidupan. Selama berabad-abad katak banyak dihubungkan dengan sihir dan kekuatan gelap. Mereka sering dipakai sebagai salah satu bahan ramuan kekuatan para tukang sihir. Di abad XII banyak orang percaya, di kepala katak tersimpan batu permata yang sering disebut batu katak. Semakin tua katak itu semakin mahal harga batunya. Bila batu ini di pasang pada cincin akan mampu melawan bisa.


Pendapat membesar-besarkan kemampuan katak itu lahir dengan melihat contoh banyaknya anjing mati dengan mulut berbusa setelah menggigit katak. Jadi katak dianggap memiliki kekuatan magis. Suku Indian di Lembah Amazon mencelup ujung mata panah mereka dengan racun katak, malah para dokter di Cina menggunakan katak olahan dalam mengobati penyakit jantung.


Kepercayaan yang mengaitkan katak dengan kekuatan gelap sebenarnya timbul akibat proses evolusi yang dialaminya dan reaksi untuk bertahan hidup. Dulu nenek moyang katak, hewan amfibi purba, bersisik seperti ikan sebagai perlindungan. Namun entah bagaimana katak kehilangan sisik. Seluruh permukaan tubuh mereka berubah fungsi menjadi paru-paru. Jadilah katak bernapas dengan kulit mereka yang lembab. Seiring dengan proses evolusi itu pun katak perlahan-lahan mulai kehilangan ekornya.


Dengan kulit lembutnya ini katak gampang di serang bakteri, ganggang, dan jamur yang banyak hidup di habitatnya. Maka ia mengembangkan seperangkat senjata pemusnah untuk membunuh fungi dan bakteri, yang dikeluarkan melalui kelenjar kulitnya. Selanjutnya racun ini dikembangkan fungsinya sebagai senjata untuk menyerang musuh yang jauh lebih besar seperti ular, mamalia, dan burung.


Namun katak juga memiliki kekuatan lain berupa racun halusinasi yang disebut bufotenin. Zat halusinogen ini bekerja dengan meniru molekul kimia yang membawa pesan dari sel saraf ke otak, membanjiri otak dengan pesan-pesan menyimpang yang keliru dan menimbulkan halusinasi.


Halusinasi di Abad Pertengahan tidak hanya didominasi oleh para penyihir: orang biasa pun banyak yang dapat merasakan pengalaman. "terbang" atau berubah menjadi serigala. Pada masa lalu, biji-bijian yang bersih disediakan bagi kalangan bangsawan dan rohaniwan. Sedangkan yang terkontaminasi di berikan bagi kaum jelata. Padahal biji-bijian itu bisa saja sudah berjamur. Bila jamurnya Claviceps purpurea, yang dikenal sebagai Lysergic Acid Diethylamide (LSD), maka sering kali kalangan bawah yang memakannya mengalami halusinasi berubah sebagai serigala atau katak.


Bahkan pada tahun 1451 Alfonso de Torado, uskup di Avila, Spanyol, sudah bisa menyimpulkan bahwa para penyihir sebenarnya hanya mengalami halusinasi bisa terbang, bukannya terbang sungguhan selayaknya burung.


Cara masuk ke dalam batuan


Penelitian terhadap katak sebagai makhluk yang terbatas kemampuan pertahanan hidupnya pun diajukan oleh Kapten Buckland yang memaparkan percobaan Dr. Frank Buckland. 


Tahun 1825 Dr. Frank Buckland mengubur sejumlah katak. Ia mengambil dua bongkah batu. Sebongkah batu gamping, sedangkan lainnya bongkahan batu pasir. Masing-masing batu ini dikerok secukupnya untuk memasukkan beberapa kotak. Kedua bongkahan ini disegel dengan selembar kaca dan semen, lalu di tanam sedalam 1 m di kebun. Setahun kemudian batu ini dibongkar dan dipecah. Katak-katak di dalam batu pasir, sedangkan yang dalam batu gamping, sedangkan lainnya bongkahan batu pasir. Masing-masing batu ini dikerok secukupnya untuk memasukkan beberapa katak. Kedua bongkahan ini disegel dengan selembar kaca dan semen, lalu ditanam sedalam 1 m di kebun. Setahun kemudian batu ini dibongkar dan dipecah. Katak-katak di dalam batu pasir semua mati, sedangkan yang dalam batu gamping bisa bertahan hidup. Malah dua ekor di antaranya bertambah gemuk. Namun dari pengamatannya nampak ada beberapa retakan kecil dalam kaca segel. Dugaannya, beberapa serangga kecil masuk dan dimangsa. Ketika percobaan diulangi, kali ini dengan segel penutup yang jauh lebih rapat, hasilnya semua katak percobaan mati.


Bagi banyak ilmuwan, percobaan Dr. Buckman mengakhiri semua rasa penasaran yang timbul. Begitu pun masih ada yang mencoba menerangkan bagaimana katak mungkin saja dapat bertahan walau terkubur hidup-hidup. Salah satu kelompok diwakili oleh William Howitt. Menurutnya, semua pengamat hewan tahu bahwa katak terbiasa membenamkan dirinya dalam lumpur di dasar kolam selama musim dingin. Ia memaparkan kembali pengalamannya di Farnsfield. Nottinghamshire. Saat menggali parit, ia melihat selapis kumpulan katak yang begitu terekat dalam lumpur pekat seperti mentega. Begitu tergali, berpuluh-puluh katak tiba-tiba bangun dan melompat untuk mencari udara segar. Jika katak ini bisa hidup selama enam bulan dalam lumpur yang nyaris padat, tentunya ia bisa juga bertahan lebih lama lagi di tempat yang serupa.


Lambat laun lumpur itu tentu akan mengeras menjadi batu, sehingga muncul pertanyaan lagi: bagaimana katak itu mampu mengatasi tekanan selama proses pengerasan?? Belum lagi waktu amat lama yang mengiringi proses itu?


Bahwa tubuh katak dapat mengatasi tekanan pengerasan batu, dibuktikan oleh temuan pengamat dunia hewan dan tumbuhan abad XVIII yang terkenal, Gilbert White. Ia beberapa kali menemukan katak di dalam batu berupa mumi, bukan fosil. Kunci jawabannya barangkali pada fakta bahwa batuan yang semula masih elastis kemudian mengeras sesuai dengan bentuk binatang yang diperangkapnya. Sementara kegagalan Buckland diperkirakan karena bentuk ceruk batunya tidak sama dengan tubuh katak yang dimasukkannya. Contohnya  adalah percobaan yang dilakukan oleh Monsieur Seguin dari Prancis, menurut The Times edisi 23 september 1862, yang menguburkan 20 ekor katak dalam adukan semen di Paris, kemudian dibiarkan mengeras dan dikubur. Setelah 12 tahun, ternyata empat ekor di antaranya ditemukan hidup.


Teorinya berikutnya diajukan oleh A.H. Worthen di American Naturalist tahun 1871. Mengamati katak yang hidup di batu gamping dekat St. Louis, Worthen menemukan bahwa batu gamping dekat St. Louis, Worthen menemukan bahwa batu gamping induk dilapisi kalsium karbonat sampai setebal 2,5 cm. Menurut dugaannya, semula katak itu mati suri di salah satu celah pada batu induk. Ia kemudian terkubur oleh lapisan kalsium karbonat. Ketika lapisan ini mengeras, terperangkaplah ia di sana. Secara awam memang sulit dibedakan mana batuan induk dan mana yang baru. Yang penting, penelitian Worthen ini mampu sedikit menyingkap muasal penyebab kasus itu yang terjadi dalam keadaan tertentu


Source: Majalah Intisari, no.375 - Oktober 1994

Minggu, 31 Juli 2011

Domba Punya Daging, Kambing Punya Sate

Kambing sebenarnya bukan pemasok sate yang lezat itu. Dia hanya mencatut nama, gejala numpang dan mencatut nama ini ternyata hidup juga dalam masyarakat kita.

Domba
DOMBA ternyata bisa berubah menjadi kambing. Bukan melalui peristiwa yang dalam biologi dinamakan mutasi tetapi gara-gara ulah penjagal domba yang memotong-motong dagingnya, dan kemudian menusuknya dengan tusukan bambu. Begitu potongan-potongan kecil daging domba itu sudah ditusuk berjejer-jejer, berubahlah namanya menjadi sate kambing!



Jadi kalau ada domba dari Cimahpar, Bogor, dipotong di Jl.Blora, Jakarta dan dibuat menjadi sate oleh seorang nyonya dari Bogor, maka yang mendapat pujian dari manusia Jakarta yang gemar makan enak bukanlah domba, melainkan kambing.



Gejala numpang nama

Dalam berbagai segi kehidupan, kejadian seperti tidak langka. Tidak mengherankan kalau ada peribahasa Melayu yang mengatakan, Kerbau punya susu, sapi punya nama. Hal itu pun mengingatkan saya akan suatu kejadian di kaki lima di kawasan pertokoan Jembatan Merah, Bogor.

Seperti lazimnya terjadi di mana-mana, kaki lima di kawasan itu pun sudah berubah menjadi tempat menjajakan barang-barang kelontong. Seperti biasa pula, si penjaja ber-cuap-cuap dengan logat Minangkabau yang berat. Akan tetapi anehnya, saya melihat barang-barang kelontong itu diturunkan di situ dari sebuah pikup "tuyul" dengan bak terbuka. Kaca depan mobil bertuliskan Aek Godang, nama sungai di daerah Mandailing, Tapanuli Selatan. Benar saja. Sewaktu mendekat, saya mendengar percakapan yang mengalun dalam bahasa daerah Tapanuli Selatan. Suatu pertanda bahwa penuturnya berasal dari Mandailing.


Keingintahuan saya tidak dapat saya bendung, dan saya menanyakan kepada mereka apakah mereka urang awak, ataukah (h)alak (h)ita (Sesuai dengan ragam pengucapan di Mandailing, huruf "h" tidak dilafazkan). Dengan tersenyum, salah seorang menjawab bahwa mereka berasal dari Panyabungan dan Kotanopan.

"Mengapa menjajakan jualan dengan bahasa Melayu Minang?" tanya saya. "Ah, kalau tidak pakai logat Minang, dagangan kita tidak akan laku!"

Rupanya sudah ada pendapat umum, bahwa hanya orang yang berasal dari Minangkabau saja yang dapat menjadi pedagang kaki lima yang bonafide.

Begitulah, setelah pedagang kaki lima yang Minang asli itu berhasil dan mampu membeli kios di Pasar Anyar, tempatnya di kaki lima digantikan oleh orang dari daerah yang lebih ke Utara. Hanya saja, mereka belum dikenal andal sebagai pedagang kaki lima. Jadi mereka harus membangun reputasi dengan meminjam logat saudaranya yang berasal dari balik bukit.

Dua kejadian di atas menyangkut kehidupan dalam masyarakat Indonesia. Padahal andaikata di luar negeri ada sebuah restoran Indonesia menyajikan sate kambing dari daging domba, pemilik restoran itu bisa dituntut ke depan pengadilan oleh konsumen. Kenapa? Bukan hanya karena ekor domba menggantung ke bawah, dan ekor kambing mencuat ke atas, tetapi karena kambing bukan domba!

Dipaksa berusaha sendiri

Mari menyimak pola kehidupan serupa pada masyarakat bukan Indonesia. Pada suatu hari jum'at sore seperempat abad yang lalu di Amerika, saya datang ke kantor promotor saya. Sekali sebulan saya biasanya ikut pulang ke rumahnya untuk makan malam bersama keluarganya. Kebetulan keluarganya juga menjadi tuan rumah saya sebagai mahasiswa asing di kota itu. Biasanya, setelah saya datang kami segera berangkat. Akan tetapi, sekali itu ia meminta saya menunggu anak sulungnya sebentar. Benar saja, tidak lama kemudian anak itu datang berkaus oblong dan bersepatu tenis. Peluh bercucuran di wajahnya yang coreng-moreng.

Ayahnya mengomel sebentar dan memperingatkan anaknya agar selalu merapikan dirinya dulu sebelum datang ke kantornya. Kemudian ia menjelaskan kepada saya, bahwa anaknya yang masih bersekolah di SMTA itu, selama liburan musim panas bekerja mengangkut kayu gelondongan di fakultas kehutanan. Anak itu ingin sekali memiliki mobil sendiri, akan tetapi bapaknya hanya mau membayar separuh dari harga mobil bekas yang akan dibelinya. Selebihnya harus ia cari sendiri dari cucuran keringatnya, termasuk biaya operasi kendaraan itu. Dengan bangga promotor saya itu mengatakan, bahwa anaknya sudah mencukupi biaya pembelian mobil tersebut. Tinggal lagi harus mengumpulkan biaya operasi kendaraan selama satu tahun, yang harus ditabung di bank. Begitulah cara seorang guru besar ternama mengajari anaknya, betapa berharga kemampuan untuk mencukupi biaya hidup atas usaha sendiri.

Kejadian kedua saya alami di Bogor dengan seorang ilmuwan muda dari Amerika Serikat yang diperbantukan sebagai tenaga ahli. Sewaktu berbincang-bincang dengannya dalam suatu jamuan makan malam, saya mengetahui bahwa ia dilahirkan di Raleigh, tempat saya dulu menjadi mahasiswa pasca sarjana selama tiga tahun. Kemudian, setelah ia mendapatkan BS dalam agronomi, ia melanjutkan ke Ames dan meraih gelar doktor dalam ilmu tanah. Saya segera teringat bahwa nama belakangnya sama dengan nama seorang guru besar pakar ilmu tanah di Raleigh. Tanpa berpikir panjang, saya menanyakan apakah ia anak guru besar ilmu tanah yang terkenal itu. Rona wajahnya tiba-tiba berubah merah. Dengan tersendat-sendat ia berkata, "Maaf, saya mohon Anda tidak mengaitkan saya dengan ketenaran ayah saya sebagai ahli ilmu tanah. Saya sedang berusaha untuk dikenal sebagai ahli ilmu tanah atas dasar karya yang saya hasilkan sendiri!"

Saya menyadari kesalahan saya, dan meminta maaf kepadanya. Sungguh berat beban dipundaknya, karena ia ingin tampil menerobos ketenaran ayahnya. Kabarnya, ia sekarang sudah dikenal karena karya-karyanya sendiri. Yang saya pertanyakan ialah, apakah ia juga akan berhasil kalau dulu ia selalu 'berselancar di atas ombak' kemasyhuran ayahnya.



Maju sendiri dong!

Barangkali hal ini juga patut di renungkan, baik oleh para orang muda di Indonesia mau pun orang tua mereka. Terutama mereka yang orang tuanya sudah cukup dikenal masyarakat. Demi untuk kemantapan sukses di masa depan, sebaiknya setiap orang muda, berusaha memancangkan namanya sendiri, bebas dari keterkaitan dengan keberhasilan orang tuanya.

Biarlah sate kambing tetap kita sebut demikian, walaupun dagingnya berasal dari domba. Akan tetapi, marilah kita berupaya agar manusia-manusia muda Indonesia berani berusaha maju ke depan atas usaha mereka sendiri, dan bukan karena didorong dari belakang.

Source : Majalah Intisari, No.315 - Oktober 1989

GET UPDATE VIA EMAIL
Jika Anda Menyukai Artikel di Blog Ini, Silahkan Berlangganan via RSS. Isi Alamat Email Anda di Bawah Ini:

MAJALAH BOBO 1980-an

Tambahkan Kami di Facebook

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes