Tampilkan postingan dengan label Recycle Paper. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Recycle Paper. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Februari 2012

Hemat Kertas, Hemat Lingkungan

KEHIDUPAN MODERN kita sehari-hari kini tidak bisa lepas dari kertas. Bahan bakunya sebagian besar kayu hasil tebangan pohon dari hutan. Makin boros masyarakat memakai kertas, makin banyak pohon yang harus ditebang untuk dijadikan pulp (bubur) calon kertas.


Suatu saat kita sadar, kalau kita bisa beramai-ramai menghemat pemakaian kertas, mestinya penebangan hutan itu juga tidak jadi memprihatinkan. Makin sedikit kita memakai kertas, permintaan akan kertas jelas makin menurun, dan penebangan hutan pun menurun pula. Pada akhirnya, hutan Indonesia kita masih bisa diharapkan bertugas lama sebagai paru-paru dunia.


Menghemat pemakaian kertas juga mengurangi risiko kerusakan lingkungan. Memang, makin putih bersih suatu kertas, makin bagus dan menarik, sehingga banyak anggota masyarakat yang menggemari dan memintanya. Tetapi Sialan! Untuk memutihkan kertas, terpaksa dipakai bahan kimia klorin yang sangat beracun. Limbahnya membahayakan manusia dan ternak karena merusak sistem hormon dan kekebalan tubuh. Kalau permintaannya meningkat, racun yang dibuang sebagai limbah pabrik kertas jelas makin membahayakan lingkungan dan kesehatan.


Mestinya kita bisa menghemat kertas, tanpa mengurangi keperluan membaca dan menulis. Beberapa tindakan praktis yang bisa kita lakukan beramai-ramai, bisa sekaligus mencegah jangan sampai hutan (paru-paru) dunia kita gundul habis pelan-pelan, dan kita pelan-pelan juga sesak napas karena udara makin kotor, dan air makin beracun oleh limbah klorin, pemutih kertas.


Pertama, sebisa mungkin kita menghemat pemakaian kertas, seperti misalnya tidak memakai kertas bersih hanya untuk membungkus barang atau membersihkan kotoran saja. Sebaiknya juga kertas koran, kertas samak bekas pembungkus kado, atau kertas bekas lainnya yang masih bisa disimpan, dipakai ulang.


Kedua, sehemat mungkin memakai kertas throw away society seperti misalnya kertas tisu, kertas WC, dan lain sejenisnya. Kalau bisa, malah sama sekali tidak usah memakai kertas sekali pakai macam ini.


Ketiga, semaksimal mungkin memanfaatkan kertas yang ada. Kertas bekas ketikan atau fotokopian, tidak langsung kita lecek-lecek dan kita buang, tetapi ditampung dalam recycle bin. Sisi balik kertas yang masih kosong dan bersih, karena tidak diketiki, masih bisa dipakai untuk menulis konsep surat, sketsa gambar, atau menyusun naskah kasar. Untuk anak-anak kita yang masih mengikuti kuliah di perguruan tinggi, kertas bekas yang masih kosong satu sisi itu bisa kita jilid untuk dipakai sebagai catatan kuliah.


Keempat, menghemat pemakaian kertas untuk fotokopi. Untuk memfotokopi sesuatu yang tidak resmi (tidak akan dipakai sebagai dokumen), sebaiknya memfotokopi secara bolak-balik pada kedua sisi kertas. Selain menghemat kertas, juga menghemat ongkos fotokopi.


Kelima, mendukung pemakaian kertas daur ulang untuk pembuatan kartu nama, kartu undangan, atau poster. Untuk sementara waktu, ini hanya dapat dilakukan di kalangan masyarakat menengah ke atas, karena harga kertas daur ulang di Indonesia kebetulan masih lebih mahal daripada kertas biasa. Pasalnya, kertas ini masih harus diimpor dari mancanegara. Tetapi memakai kertas daur ulang so pasti menghemat pemakaian kertas biasa yang terbuat dari kayu pohon hasil hutan.


Source: Majalah Intisari, no.441 - April 2000

Sabtu, 26 November 2011

Memisahkan Sampah, Menyelamatkan Lingkungan

KITA sudah telanjur terbiasa membuang sampah rumah tangga dengan campur aduk. Tidak ada waktu untuk memisahkan mana sampah organik yang mudah mengompos (berasal dari tumbuh-tumbuhan dan binatang sisa bahan makanan dari dapur kita), dan mana sampah nonorganik yang tidak mungkin menjadi kompos. Kantung plastik, botol gelas, kaleng aluminium. Bahan keras ini kalau ikut di timbun bersama bahan organik di tempat penimbunan sampah akan menghambat pembentukan kompos. Sampai lama, sampah itu mencemari lingkungan sebagai sampah terus. Tak ada tanda akan membentuk tanah baru yang tidak berbau.

Untunglah ada beberapa pabrik pendaur ulang yang meminta para pemulung untuk mengumpulkan gelas dan plastik dari timbunan campur aduk itu. Juga kertas yang setengah mampu mengompos. Bahan ini didaur ulang dalam pabrik pemrosesan mereka menjadi bahan asal masing-masing. Itu bisa dijual lagi sebagai recycled paper, gelas dan plastik daur ulang.

Sementara itu, sampah organik yang sudah bebas dari benda kerasnya itu lalu berhasil dijadikan kompos, yang dapat dijual pula sebagai "pupuk" (sebenarnya hanya pemerbaik tanah) kebun buah dan tanaman hias. Terbukalah kenyataan: ada nilai uang halal dalam sampah rumah tangga, kalau ditangani secara terpisah. Sebaliknya, ia tidak berharga (dan berbau) kalau ditangani campur-aduk seperti dulu.

Muncullah kemudian barisan pemulung yang mengaduk-aduk sampah rumah tangga dari pintu ke pintu. Tempat sampah kita yang sudah rapi ditutup, dirobek lagi dengan besi runcing dan diaduk-aduk sampahnya untuk diambil benda kerasnya. Sampah berantakan ini merepotkan petugas pengumpul yang memindahkannya ke gerobak dan dari sana ke truk Mercy sampah.


Beberapa kompleks perumahan di Jakarta mengorganisasikan para penghuninya  untuk memisahkan benda keras itu sejak awal, dan membungkusnya secara terpisah ke bak sampah. Para pemulung dilarang masuk kompleks merobek kantung sampah. Tapi ini hanya teori.


Di beberapa mancanegara yang sadar lingkungan banget, bak sampahlah yang malahan disediakan sendiri-sendiri secara terpisah. Ada bak untuk bahan organik sisa dapur, dan ada bak untuk bahan organik sisa dapur, dan ada bak untuk gelas, plastik, kertas. Pemulung (kalau ada), tinggal mengangkat kantung yang bersangkutan saja. Tidak perlu merobek kantung-kantung sampai berantakan.


Dengan dipisah dan dibungkus tersendiri ini, pengambilan sampah oleh para petugas sampah sangat dipermudah. Beberapa real estate untuk "memupuk" tanah di taman, jalur hijau, dan deretan tanah tepian dari jaringan jalan dalam  real estate itu sendiri. Daripada harus membeli kompos dari orang lain, memang lebih lihai membuat kompos sendiri. Gratis lagi!


Sementara itu, lingkungan hidup kita masing-masing tidak berantakan lagi sampahnya. Karena sampah organik terbungkus rapat dalam kantung plastik, tidak ada lagi bau menyengat yang mengganggu lingkungan. Tak ada bau sampah, berarti tak ada minat dari pihak lalat untuk bertelur dan beranak menyebar penyakit menular. Kolera, tifus, paratifus.


Tindakan pengelola real estate yang menyehatkan sampah rumah tangga di lingkungannya sendiri itu perlu diteladani. Ia mudah ditiru oleh pengurus RT dan RW di lingkungan lainnya masing-masing. Asal ada kemauan untuk menyelamatkan lingkungan.


Source: Majalah Intisari, no.375 - Oktober 1994

GET UPDATE VIA EMAIL
Jika Anda Menyukai Artikel di Blog Ini, Silahkan Berlangganan via RSS. Isi Alamat Email Anda di Bawah Ini:

MAJALAH BOBO 1980-an

Tambahkan Kami di Facebook

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes