Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Januari 2012

Fenomena Kehidupan di Rumah Susun

Pepatah bilang, "love thy neighbour." Bagaimana jika mereka gemar karaoke di pagi hari dan punya bayi yang tak henti menangis?


IBARAT NEGARA, rumah susun adalah sebuah republik egaliter yang kaya warna dan cerita berkat keragaman latar belakang, suku bangsa dan profesi warga yang menghuninya.


Bayangkan, satu saat Anda mendapati tetangga sebelah adalah seorang pengacara yang punya ritual berkaraoke lagu-lagu Panbers sebelum pergi ke kantor di pagi hari. Dan ketika dia pindah, unit itu ditempati pasangan muda dengan balita yang hobi menangis semalaman, bahkan ketika sang ayah sudah mati-matian mengajaknya bermain sampai pukul satu pagi.


"Untung kita cuma sementara tinggal di sini. Bisa gila kalau setiap hari bangun terpaksa karena tangisan Bonny", kata istri saya bersungut. Saya hanya menanggapi perkataannya dengan senyum kecut. Ketika pertama kali memutuskan tinggal di salah satu blok Rumah Susun Petamburan, Jakarta, saya memang berjanji kepadanya bahwa unit di lantai lima itu hanya akan menjadi tempat tinggal sementara sebelum kami membeli rumah baru.


Kenyataannya? Sudah hampir enam bulan kami tinggal disini dan bayangan punya rumah sendiri makin hari makin buram saja. Harga rumah yang merambat naik -- bahkan di pinggiran kota sekalipun - membuat kami tidak punya pilihan lain kecuali memperpanjang kontrak sewa unit berkamar satu itu setiap tiga bulan sekali.


"KALAU KAMPUNG gua nggak kena gusur, gua mungkin nggak akan punya tetangga atau teman yang bekerja sebagai wartawan, pengacara atau juga polisi. Orang-orang yang selama ini hanya gua baca dan dengar keberadaannya, sekarang tinggal di depan atau samping unit gua. Tinggal di rusun bikin gua dapat ilmu banyak," kata Phi'ay, 33 tahun, pria Betawi yang membantu saya mencari unit kosong untuk ditempati awal tahun lalu.


Bersama istri dan dua orang anaknya, Keluarga Phi'ay adalah segelintir warga "terprogram" (istilah korban gusuran yang mendapat ganti rugi berupa satu unit rumah susun yang dibangun di atas lahan gusuran) yang masih tinggal di rumah susun dengan 600 unit itu. Selebihnya memilih menjual unit mereka kepada warga pendatang yang kemudian menempatinya sendiri atau menyewakannya kepada orang lain - seperti saya dan istri.


Bisa jadi, yang dimaksud Phi'ay dengan ilmu aneka topik obrolan yang mengalir  setiap kali tetangga-tetangganya, termasuk saya, nongkrong di teras depan unitnya. Saya sendiri baru mengembangkan hobi happy hour murah meriah ini beberapa minggu terakhir. Dan ternyata, bukan hanya Phi'ay yang "menimba" ilmu lewat obrolan ngalor-ngidul itu. Saya pun jadi tahu dan mengenal beragam karakter menarik yang mendiami enam blok rumah susun kami. Anthony, 50 tahun, misalnya, adalah warga negara Belanda yang "terdampar" di rumah susun karena bercerai dengan istri pertamanya. Krisis perkawinan tersebut, sialnya, juga menjadikan Anthony terdepak dari rumah seluas 600 meter di pinggiran Jakarta yang dibelinya dari honor menjadi pengajar bahasa Inggris privat selama hampir 15 tahun.


Anthony kini tinggal di lantai lima bersama istri keduanya, hidup dari honor mengajar yang berkurang drastis -meski jumlah Rp. 8 juta per bulan masih membuat mulut kami, peserta tongkrongan, ternganga. Jika dulu kemana-mana naik mobil dengan sopir pribadi, Anthony kini tidak malu menyetop taksi atau naik busa Patas ke tempat mengajar. "Nggak takut kepanasan dan bau matahari?" tanya saya iseng. "No, no, no. Turun dari bus, saya cari gedung perkantoran terdekat dan duduk lima menit di lobi. Panas hilang, armpit saya kering lagi," kata Anthony sambil "mengepakkan" lengannya dengan jenaka.


Biasanya, acara nongkrong di hari kerja berakhir sebelum pukul dua belas malam dan diperpanjang sampai menjelang subuh jika keesokan harinya libur. "Hidup di rumah susun sebenarnya tidak beda dengan area perumahan lain. Kita punya tetangga dan ada sejumlah aturan main yang harus dipatuhi. Bedanya, disini ketika membuka pintu depan, ada sekitar 10 unit dalam jarak pandang Anda yang membuka pintu unit mereka juga," kata Mantri, 35 tahun, pegawai perusahaan farmasi yang juga tinggal di rusun sejak tahun lalu.


Awalnya Mantri tinggal satu blok dengan saya. Gara-gara sebuah "insiden", dimana anak Mantri yang baru berumur empat tahun secara tak sengaja menyaksikan adegan 17 tahun ke atas yang dilakukan oleh tetangga mereka. Mantri cabut dan pindah ke blok sebelah. "Jika saya punya cukup uang, saya ingin pindah dari rumah susun ini. Lingkungannya kurang cocok untuk membesarkan anak."


BENAR KATA PHI'AY, hampir semua profesi terwakili di rumah susun kami ini, mulai dari pekerja pagi sampai pekerja malam -- profesi yang membuat Mantri terpaksa pindah unit. Saya tak sengaja menemukan fakta ini ketika satu pagi iseng menaiki semua lantai di enam blok rusun, sebagai ganti aktivitas jogging  pagi di seputar Stadion Senayan.


Dan ungkapan "birds of the same feather flock together" ternyata berlaku juga di sini.


Blok satu sampai blok tiga sebagian besar dihuni oleh pekerja pagi, mulai dari pegawai pemda, wartawan, manajer pemasaran sampai penjaga butik bermerek. Blok empat, entah kenapa lebih variatif. Kapster salon, mahasiswa, warga asing yang berprofesi sebagai pedagang, sampai bartender. Di blok enam, sebagian besar penghuninya tidur lelap di pagi hari dan baru mulai bekerja ketika malam beranjak larut. Pukul setengah tujuh pagi, dengan napas tersengal, saya sudah sampai di blok empat dan terkejut menyaksikan sebuah salon lantai satu sudah mulai beroperasi dan pemiliknya tengah serius memotong rambut seorang langganan.


Dua tahun lalu, Devi, 35 tahun, adalah seorang pekerja seksual yang beroperasi di Taman Lawang dan bolak-balik menghuni Panti Sosial Kedoya, Jakarta Barat, jika musim pembrengsongan (razia) tiba. Kehidupan di jalan yang makin membahayakan membuat Devi memutuskan memakai uang tabungannya untuk memulai hidup baru di rumah susun. Ruang tengah berukuran 2,5m x 2m dijadikannya salon kecantikan yang siap melayani penghuni rusun selama 24 jam non-stop. Mata saya tertumbuk pada deretan foto-foto Devi dengan para mantan pacar -kebanyakan berasal dari Eropa - yang menghiasi dinding salon, berdampingan dengan ijazah kursus tata rambut.


"Di sini saya bisa cari makan dengan buka salon 24 jam, tanpa harus menghadapi cibiran masyarakat sekitar. Di pemukiman lain, siapa yang bisa jamin keamanan usaha seorang waria?" kata Devi sambil asyik merapikan potongan rambut kliennya. Awalnya, Salon Devi hanya buka sampai pukul delapan malam. "Tapi pukul dua atau lima pagi ada saja yang datang untuk potong rambut. Ya sudah, saya putuskan buka salon non-stop. Rezeki, kan nggak boleh di tolak ya, Mas?"


MESKI SADAR UNIT yang mereka tempati hanya seluas 21 m persegi, semangat wiraswasta warga rusun cukup mengagumkan, apapun alasan dibalik itu. Pagi itu saya menghitung tidak kurang dari 20 unit yang membuka usaha warung makan, 12 agen laundry, 10 wartel, 4 salon dan... sebuah spa!


Naik ke lantai lima di blok empat, saya disambut sebuah kandang kucing setinggi tubuh saya yang berisi tiga ekor kucing anggora yang tampak malas. Pemiliknya adalah lajang berusia 34 tahun yang rela merogoh kocek sebesar Rp. 35 juta untuk membeli unit yang dia tempati dari pemilik asli, sekaligus mengubahnya menjadi hunian layaknya apartemen. "Biar hanya rumah susun, kenyamanan tetap yang utama," ujar Gatur sambil mempersilahkan saya masuk melihat-lihat unitnya.


Dengan biaya renovasi sama dengan harga beli unit, Gatur merombak total ruangan dengan membobok dinding pemisah antara ruang tengah dan kamar tidur, sehingga ruang tengah menjadi lapang dan kucing-kucing anggoranya dapat lalu-lalang dengan bebas. Sedang bagian atas unit yang tingginya tak lebih dari satu setengah meter, dijadikan Aris kamar tidur lengkap dengan balkon mini berhias jejeran tanaman dalam pot.


Saya pun tidak berani membandingkan kenyamanan unit Aris dengan unit yang saya tempati. Ketika saya menuruni lantai lima, di tembok samping tertera peraturan Pemda yang melarang perombakan sebuah unit tanpa berkonsultasi dengan pengelola rumah susun.


HARI INI saya absen dari kegiatan nongkrong malam di unit Phi'ay. Mungkin karena terlalu lelah sehabis naik turun lima lantai di enam blok tadi pagi. Mungkin juga karena sibuk memikirkan jawaban untuk pertanyaan setengah bercanda dari istri saya, "Berapa lama lagi, nih, kita jadi warga negara Republik Rumah Susun?"


Di teras luar, tetangga kami yang berasal dari Timur Tengah sedang beradu mulut dengan kekasihnya. "Please, don't angry. I still love you, Mahmood. You still love me, ya?" tanya si kekasih dengan bahasa Inggris terpatah-patah. Saya kini tidak tahu, mana yang lebih mengganggu tidur malam kami; tangisan bayi rewel atau isak menghiba seorang wanita kepada kekasihnya.


Sebagai warga negara republik rusun yang cinta damai, hal terbaik yang dapat kami lakukan adalah menutup telinga rapat-rapat sambil mencoba tidur di tengah konflik antarbangsa yang kian menghebat itu.


Selamat datang di Republik Rumah Susun.


Source: Reader's Digest Indonesia - Agustus 2005

Rabu, 10 Agustus 2011

Negara Udik di Pasifik (BAGIAN 2)

Naik sepeda keliling kota

Dari manager hotel pula saya meminjam sepeda setelah mempelajari peta Kota Funafuti yang terpancang di lobi. Funafuti ternyata demikian kecilnya, sehingga tidak memerlukan sistem penamaan jalan. Setiap gedung-gedung utama tercantum di peta. Daerah pemukiman berpusat di sekitar bandara Landasan berawal dari pinggir laut menuju ke darat di Utara, dibagian pulau yang "ramping" sepanjang 1,5 km. Disisi barat landasan terletak kompleks Divisi Pekerjaan Umum yang dibangun dengan biaya 1 juta dolar Australia sebagai bantuan dari pemerintah Selandia Baru. Disebelah timur ada dua jalan sejajar landasan. Di bagian utara di sisi landasan terletak kompleks kediaman pejabat pemerintah Tuvalu: gubernur jenderal, perdagangan menteri, dan lima orang menteri.


Dengan santai saya mengayuh sepeda yang cukup ringan. Sebuah sepeda lumayan baru, dengan rem torpedo, dan ban besar. Sebenarnya saya sudah tidak pernah naik sepeda selama 30 tahun terakhir, kecuali beberapa jam ketika keliling Male, ibu kota Republik Maladewa yang kecil juga, tiga tahun yang lalu. Lalu-lintas menganut sistem sebelah kiri, sesuai aturan Inggris. Jalan-jalan semua beralaskan tanah yang cukup licin, tidak satu pun yang beraspal. 

Saya tidak melihat rambu lalu-lintas maupun polisi di jalanan. Jumlah kendaraan bermotor sangat sedikit. Konon hanya sekitar 50 buah saja, sebagian besar berupa pikup atau bus mikro, jip yang agak tua.



Mobil sedan tidak ada. Ada juga sepeda kumbang dan sepeda motor, yang semuanya tua. Ada kendaraan yang berfungsi sebagai bus yang mondar-mandir ke segala penjuru sesuai permintaan penumpang, dengan biaya 30 sen (Rp.400,00). Selebihnya semua orang, pria maupun wanita dari segala umur, banyak yang naik sepeda.

Tidak ada salon rambut

Pusat kota terletak dalam radius 200 m dari Hotel Vaiaku Lagi. Kecuali bandara dan dua buah gereja, disitu kita jumpai semua kantor pemerintah, pertokoan, sekolahan, dan rumah sakit. Semua bangunan berbentuk rumah biasa dari kayu dan batu bata yang sederhana dan agak tua. Satu-satunya gedung berlantai dua ialah The National Bank of Tuvalu. Lantai atas dipakai sebagai kediaman general manager-nya. Selanjutnya di sekitar situ terdapat kantor polisi, kantor pos, kantor filateli, Perpustakaan Nasional, Pusat Kerajinan Tangan. Di tempat yang terakhir ini dipamerkan kerajinan anyaman: tikar dan topi, kalung dari kerang, kotak ukiran kayu. Semua sangat sederhana mutunya. Sebuah pendopo yang cukup luas, bertuliskan Toaso Lima, berfungsi sebagai gedung pertemuan umum dan sekolah dasar. Ada pula University of the South Pacific, Extension Centre yang menyelenggarakan kursus di bidang keguruan dan administrasi perusahaan. Nampak pula sebuah gereja aliran Bahai.

Di kompleks pertokoan hanya ada sepuluh toko kecil dan sederhana, masing-masing menjual keperluan penduduk, seperti bahan makanan, pakaian, alat rumah tangga, peralatan mengail, dan potong rambut. Saya tidak melihat ada salon kecantikan, atau toko cuci-cetak foto. 

Tidak ada malaria

Siang itu saya menyempatkan diri mampir ke satu-satunya rumah sakit: Princess Margareth Hospital. Saya memperkenalkan diri sebagai dokter, dan dilayani seorang perawat senior yang sedang bertugas. Rumah sakit itu dilayani dua orang dokter, seorang dokter gigi, dan seorang apoteker, dengan kapasitas 31 tempat tidur. Jumlah tenaga paramedis 15 orang, 5 orang bidan. Pada saat itu ada 11 penderita yang sedang dirawat, dua orang di antaranya menderita TBC. Di Tuvalu tak ada malaria. Pelayanan kesehatan diberikan secara cuma-cuma, termasuk rawat nginap.

Kegiatan pemerintah terpusat di gedung perkantoran yang cukup luas, tetapi juga sederhana. Para pejabat pemerintah tinggal di kompleks khusus di ujung landasan. Meskipun tampak biasa, tapi lebih mewah dibandingkan rumah-rumah penduduk lainnya. Untuk ukuran Indonesia, tidak melebihi rumah golongan menengah yang sederhana.

Rumah-rumah penduduk agak terpisah, diktari halaman luas. Semua serba sederhana. Rumah selalu terbuka, dengan banyak jendela, dan ruang tamu yang luas beralaskan tikar. Perabotan rumah seperti kursi, meja, bupet, dirapatkan ke dinding. Terkadang tampak penghuni tiduran di tengah ruangan.

Halaman rumah pada umumnya ditanami pohon kelapa, pisang, sukun, pepaya, sejenis pandan yang tinggi besar, mangga, talas. Tanaman hias berupa kamboja, flamboyan, bugenvil, kembang sepatu.

Kecuali jalan yang langsung di sisi landasan, semuanya rindang sehingga nyaman juga untuk bersepeda. Suhu sebenarnya cukup panas, 31 derajat celcius, namun tidak terlalu terasa karena angin laut sangat kencang.

Setiap orang boleh dikata memperhatikan saya bersepeda keluar-masuk perkampungan. Mereka selalu membalas salam saya. Mereka tampak ramah, dan saya sempat mengobrol dengan sekelompok pemuda. Setelah dua jam saya merasa cukup melihat Funafuti dan kembali ke hotel.



Disko semalam suntuk

Hotel Vaiaku Lagi merupakan satu-satunya sarana penginapan di Tuvalu milik pemerintah. Bangunannya cukup luas, berbentuk kotak, berlantai satu. Batu pertama pembangunan hotel itu diletakkan sendiri oleh Ratu Elizabeth II dari Inggris pada tanggal 27 Oktober 1972. Sebuah prasasti di bagian depan hotel prasasti di bagian depan hotel menyatakan bahwa Ratu Elizabeth II pada kesempatan itu juga telah menanam sebuah tunas kelapa. Pohon kelapa itu sekarang sudah setinggi 4 m dan sarat berbuah. Hotel ini memiliki 7 kamar, 2 di antaranya pakai AC yang ketika saya datang sudah terisi. Negara ini rupanya memang belum memikirkan soal pariwisata.



Dalam kamar saya ada dua buah tempat tidur, kipas angin gantung besar, kamar mandi dan WC dengan pancuran air dingin/panas melalui alat listrik berupa tangki silinder besar. Semua jendela nako ditutup kawat nyamuk. Dikamar disediakan teko listrik untuk membuat air panas, susu bubuk, teh, kopi, gula dan air minum satu karaf.

Para tamu hotel hampir semua kulit putih. Selain saya hanya ada seorang tamu lain yang makan di restoran hotel. Kami merupakan tamu baru. Menu yang tersedia hanya satu macam: steak dan kentang goreng, selada telur, buah pir dari kaleng, kopi, dengan tarif Aus. $9,50 (Rp. 1300,-)

Jum'at malam itu, di bar hotel ada acara disko. Acara ini merupakan satu-satunya rekreasi penduduk Funafuti, diadakan sekali seminggu, pada akhir pekan. Pengunjungnya banyak sekali. Pria dan wanita berdatangan dengan membayar karcis  Aus $1,00. Sebagian besar memakai hiasan untaian bunga segar di kepala. Mereka yang tidak ikut berdisko duduk bergerombol di halaman sambil minum bir. Kegaduhan acara itu tak memungkinkan saya tidur.

Pada pukul 23.30 terdengar pengumuman yang saya tafsirkan sebagai penutup, karena kemudian musik tak terdengar lagi. Para tamu juga mulai beranjak pergi. Sejam kemudian keadaan dr hotel sunyi senyap, dan saya bisa tidur nyenyak akibat keletihan bersepeda dan kurang tidur dibandara pada malam sebelumnya.



Sepak bola di bandara

Sabtu, 8 Juli 1989, saya terbangun agak siang. Menurut jadwal, hari ini pukul 11.00 saya harus meninggalkan Tuvalu menuju Kiribati, lalu ke Majuro dalam rangka perjalanan pulang. Saya membuat teh susu manis sendiri dengan teko listrik. Pukul 09.00 saya menyelesaikan urusan administrasi hotel. Kepada manajer hotel saya minta dicarikan uang logam Tuvalu untuk melengkapi koleksi saya. Dia menyanggupi untuk mencarikannya, dan menyusulkannya ke bandara.

Meskipun sebenarnya masih agak terlalu dini, saya dengan santai menentang tas perjalanan ke bandara. Bandara masih sepi, belum ada petugas yang datang. Saya duduk di bangku beton sambil menonton pertandingan sepak bola yang tengah berlangsung di landasan bandara. Penonton ternyata cukup banyak. Saya heran juga, dan menanyakan kepada beberapa orang di situ, bagaimana nanti kalau ada pesawat yang akan mendarat? Mereka menjelaskan dengan tenang, bahwa nanti akan ada sirine dua kali. Sementara itu, manajer Hotel Vaiaku Lagi datang naik sepeda, menyerahkan uang logam yang saya minta!



Ketika para petugas bandara datang, saya langsung check-in untuk balik ke Majuro dengan pesawat yang saya tumpangi kemarin. Segala urusan berjalan lancar, karena mereka semua mengenali saya.


Pada pukul 10.30 terdengar sirine yang nyaring. Para pemain sepak bola dengan santai berhenti menendang. Kedua gawang diangkat, dan semua orang minggir meninggalkan landasan. Seperempat jam kemudian terdengar sirine berbunyi lagi, dan sebuah pesawat tampak bersiap mendarat.


Selama pesawat berhenti dan mengisi bahan bakar, pertandingan sepak bola dilangsungkan lagi, tidak sampai 100 m dari hidung pesawat. Hanya ada seorang penumpang yang turun di Funafuti. Yang lain di perbolehkan turun untuk melemaskan kaki, daripada terkurung dalam pesawat yang sangat panas.


Ketika semua penumpang dipanggil untuk boarding, landasan dikosongkan dari segala kegiatan. Selain para pemain sepak bola dan penonton, juga kendaraan yang ingin menyeberangi lapangan menuju kampung di seberang bandara. Pukul 11.15 pesawat AMI yang hampir penuh dengan penumpang meninggalkan Funafuti, Tuvalu, menuju Majuro, lewat Tarawa. Berakhirlah perjalanan saya ke pulau-pulau di kawasan Pasifik.


Source: Majalah Intisari, no.317 Desember 1989

Negara Udik di Pasifik (BAGIAN 1)

KETIKA berada di New York saya berusaha minta visa untuk Belize, Tuvalu dan Kiribati melalui perwakilan Inggris, agar rencana ke negara-negara itu tidak mengalami hambatan. Melalui kawan saya, Stan Maringka dari Patria International Travel di New York, saya membeli dan memesan tiket penerbangan Majuro --- Tarawa --- Funafuti untuk hari Jum'at, 7 Juli 1989, pukul 05.10; dan Funafuti --- Tarawa ---  Funafuti untuk hari Jum'at, 7 Juli 1989, pukul 05.10; dan Funafuti --- Tarawa --- Majuro untuk keesokan harinya, Sabtu, 8 Juli 1989, pukul 11.00. Tiket penerbangan pergi-pulang seharga AS $ 720. Tiket ke Majuro sudah saya beli di Jakarta. Istri saya tidak ikut dalam perjalanan ke pasifik itu. Ia langsung pulang setelah bersama-sama keliling AS.




Nginap di bandara

Peta Funafuti
Hari Kamis, 6 Juli 1989, pukul 18.30, saya tiba di Majuro, Republik Kepulauan Marshall. Visa untuk masuk Kepulauan Marshall saya peroleh secara cuma-cuma, setiba di Majuro. Saya hanya perlu menunjukkan tiket penerbangan terusan (dari Majuro). Petugas bea cukai dan karantina memeriksa satu-satunya tas perjalanan saya sepintas lalu.

Di luar ruang kedatangan, saya langsung mendaftar ulang untuk penerbangan dengan AMI (Airlines of the Marshall Islands) ke Funafuti esok hari, pukul 05.10. Petugas bandara menjelaskan bahwa check-in penumpang akan dimulai pukul 03.00! 


Saya jadi bengong. Saat itu hampir pukul 20.00. Tak sampai 6 jam kemudian saya harus berada di bandara lagi. Rasanya tiada gunanya saya mencari hotel ke kota sejauh 16 km dari bandara. Beraksi pada malam hari yang sunyi, di suatu tempat yang belum saya kenal, mestinya juga tidak mudah. Akhirnya saya memutuskan untuk menunggu di bandara saja. Petugas memberi tahu bahwa bandara akan segera tutup. Restoran bandara juga sudah tutup. Tapi saya boleh menunggu di ruang check-in yang luas dan terbuka, serta terang-benderang.
 
Di ruang check-in terdapat lima buah bangku kayu yang kokoh. Ternyata ada dua orang penumpang ke Tarawa yang mengambil keputusan sama seperti saya. Padahal mereka sebenarnya sudah memesan hotel di kota. Seorang mahasiswi Jepang berumur 21 tahun, yang akan menggabungkan diri dengan rombongan guru besarnya yang melakukan riset di bidang arkeologi di Tarawa. Yang seorang lagi, pelaut asal Kiribati berumur 30-an, yang bermaksud pulang kampung setelah enam tahun bekerja di sebuah kapal niaga Jerman.

Sejak pukul 21.00, selain kami bertiga tak tampak ada orang lain dibandara yang cukup besar itu. Sambil mengobrol, kami masing-masing menempati sebuah bangku. Saya sempat tertidur, dan terjaga sekitar pukul 02.30, ketika para calon penumpang mulai berdatangan. Rata-rata semua membawa banyak bungkusan!

Tempat duduk bebas

Pukul 04.00 para penumpang dipanggil untuk boarding. Semua orang bergegas saling mendahului, karena ternyata berlaku sistem free seat, boleh memilih tempat duduk sesuka hati. Ketika pesawat British Aerospace 748 turboprop itu mengudara, semua tempat duduk (48) terisi. Dalam keadaan cuaca yang kebetulan buruk, pesawat yang tidak besar itu berguncang-guncang hebat.

Setelah terbang dua jam, pesawat mendarat di Tarawa, ibu kota Republik Kiribati. Kebetulan negara itu sedang merayakan HUT ke-X, sekaligus menjadi tuan rumah 15 Negara Pasifik. Tanpa sengaja, kami sepesawat dengan rombongon presiden FSM (The Federated States of Micronesia) dan istri. Di Bandara Tarawa mereka disambut resmi dengan tarian nasional Kiribati yang menarik. Saya sempat membuat foto atas izin kepala polisi, seorang Inggris dengan seragam gala.

Cuaca setempat cukup panas, 30 derajat celcius. Setelah berhenti sejam, pesawat mengangkasa dengan penumpang kurang dari separuhnya. Penerbangan Tarawa --- Funafuti berlangsung 3 jam 45 menit. Dari udara Atol Funafuti tampak paling besar di antara rentetan pulau karang lain. Bentuknya seperti bumerang ramping, dengan "tungkai" utara lebih pendek. Seluruh "tungkai" selatan tampak sebagai landasan yang seluruhnya beralaskan rumput hijau!

Tepat pukul 13.00 pesawat mendarat dan berhenti disebuah "los" kecil dan sederhana berukuran 5 x 8 m. Tak ada papan nama bandara maupun kota. Didalam los tanpa dinding itu ada sebuah meja tinggi berbentuk L dari beton. Sebuah bangku sepanjang 3 m menghadap ke lapangan. Hanya dua penumpang turun di Tuvalu, saya dan seorang Australia.

Di belakang counter beton berdiri empat petugas. Yang pertama petugas imigrasi yang berpakaian biasa. Ia membaca formulir imigrasi yang saya terima di pesawat. Dia minta bukti tiket penerbangan lanjutan dari Funafuti. Langsung saya diberi visa untuk sebulan secara cuma-cuma. Kemudian saya menunjukkan visa Tuvalu yang saya peroleh dari perwakilan Inggris di New York. Dia keheranan melihatnya, dan tersenyum sinis setelah mendengar bah wa saya membayar AS $ 34 untuk itu. Kali ini saya terkecoh karena terlalu hati-hati!

Di sampingnya berdiri petugas bea cukai berseragam. Ia memeriksa tas perjalanan yang saya bawa secara sepintas. Petugas karantina di sebelahnya menerima daftar isian saya. Akhirnya petugas AMI mencatat nama saya sebagai penumpang yang akan berangkat kembali ke Majuro keesokan harinya. Maka selesailah semua urusan.
 
Jalan kaki ke hotel

Di sekitar bandara hanya tampak dua buah mobil. Sebuah jip pemadam kebakaran dan sebuah pikup. Saya menanyakan soal kendaraan untuk pergi ke hotel. Petugas imigrasi menyatakan bersedia menolong saya untuk menunjukkan tempatnya. Tak lama kemudian segala kegiatan bandara selesai. Saya dan seorang penumpang dari Australia diajak mengikutinya ke jalan di sebelah kantor tadi. Baru 30 m kami sudah di sebuah perempatan. Dari situ dia menunjukkan sebuah hotel di sebelah kiri jalan. Hotel Vaiaku Lagi, tidak sampai 100m dari landasan!

Saya mendapat salah satu di antara ke-7 buah kamar yang semua menghadap ke halaman belakang dan laguna. Saya minta berbagai keterangan tentang Tuvalu kepada manajer hotel yang simpatik. Dia menunjukkan sebuah papan di depan hotel: Tuvalu Broadcasting & Information. Gedung kantor pemerintah ini hanya rumah biasa yang tidak besar. Sebagai penulis wisata saya dilayani dengan ramah oleh petugas setempat. Saya mendapat brosur, koran, dan berbagai keterangan.

Radio Tuvalu melakukan siaran empat jam sehari dalam bahasa lokal. Setiap jam siaran merelai warta berita dari BBC. Satu-satunya koran dalam bahasa Inggris, Tuvalu Echoes, terbit setiap dua pekan. Koran ini berbentuk stensilan setebal 10 halaman, di jual dengan harga 20 sen Tuvalu/Austalia (Rp.270,00). Isinya terutama kegiatan pemerintah dalam pembangunan, berita organisasi masyarakat, keberatan kapal dari Funafuti ke pelbagai pulau sekitar (biasanya sekali sepekan), pengumuman pasang-surut permukaan laut, iklan(eksportir Selandia Baru menawarkan bahan bangunan), ruang sahabat pena. Yang cukup menarik: pengumuman hasil perlombaan kerajinan tangan. Pemenang I mendapat hadiah Aus. $25, Kedua $15, Ketiga $10.

Bersambung

Minggu, 31 Juli 2011

Domba Punya Daging, Kambing Punya Sate

Kambing sebenarnya bukan pemasok sate yang lezat itu. Dia hanya mencatut nama, gejala numpang dan mencatut nama ini ternyata hidup juga dalam masyarakat kita.

Domba
DOMBA ternyata bisa berubah menjadi kambing. Bukan melalui peristiwa yang dalam biologi dinamakan mutasi tetapi gara-gara ulah penjagal domba yang memotong-motong dagingnya, dan kemudian menusuknya dengan tusukan bambu. Begitu potongan-potongan kecil daging domba itu sudah ditusuk berjejer-jejer, berubahlah namanya menjadi sate kambing!



Jadi kalau ada domba dari Cimahpar, Bogor, dipotong di Jl.Blora, Jakarta dan dibuat menjadi sate oleh seorang nyonya dari Bogor, maka yang mendapat pujian dari manusia Jakarta yang gemar makan enak bukanlah domba, melainkan kambing.



Gejala numpang nama

Dalam berbagai segi kehidupan, kejadian seperti tidak langka. Tidak mengherankan kalau ada peribahasa Melayu yang mengatakan, Kerbau punya susu, sapi punya nama. Hal itu pun mengingatkan saya akan suatu kejadian di kaki lima di kawasan pertokoan Jembatan Merah, Bogor.

Seperti lazimnya terjadi di mana-mana, kaki lima di kawasan itu pun sudah berubah menjadi tempat menjajakan barang-barang kelontong. Seperti biasa pula, si penjaja ber-cuap-cuap dengan logat Minangkabau yang berat. Akan tetapi anehnya, saya melihat barang-barang kelontong itu diturunkan di situ dari sebuah pikup "tuyul" dengan bak terbuka. Kaca depan mobil bertuliskan Aek Godang, nama sungai di daerah Mandailing, Tapanuli Selatan. Benar saja. Sewaktu mendekat, saya mendengar percakapan yang mengalun dalam bahasa daerah Tapanuli Selatan. Suatu pertanda bahwa penuturnya berasal dari Mandailing.


Keingintahuan saya tidak dapat saya bendung, dan saya menanyakan kepada mereka apakah mereka urang awak, ataukah (h)alak (h)ita (Sesuai dengan ragam pengucapan di Mandailing, huruf "h" tidak dilafazkan). Dengan tersenyum, salah seorang menjawab bahwa mereka berasal dari Panyabungan dan Kotanopan.

"Mengapa menjajakan jualan dengan bahasa Melayu Minang?" tanya saya. "Ah, kalau tidak pakai logat Minang, dagangan kita tidak akan laku!"

Rupanya sudah ada pendapat umum, bahwa hanya orang yang berasal dari Minangkabau saja yang dapat menjadi pedagang kaki lima yang bonafide.

Begitulah, setelah pedagang kaki lima yang Minang asli itu berhasil dan mampu membeli kios di Pasar Anyar, tempatnya di kaki lima digantikan oleh orang dari daerah yang lebih ke Utara. Hanya saja, mereka belum dikenal andal sebagai pedagang kaki lima. Jadi mereka harus membangun reputasi dengan meminjam logat saudaranya yang berasal dari balik bukit.

Dua kejadian di atas menyangkut kehidupan dalam masyarakat Indonesia. Padahal andaikata di luar negeri ada sebuah restoran Indonesia menyajikan sate kambing dari daging domba, pemilik restoran itu bisa dituntut ke depan pengadilan oleh konsumen. Kenapa? Bukan hanya karena ekor domba menggantung ke bawah, dan ekor kambing mencuat ke atas, tetapi karena kambing bukan domba!

Dipaksa berusaha sendiri

Mari menyimak pola kehidupan serupa pada masyarakat bukan Indonesia. Pada suatu hari jum'at sore seperempat abad yang lalu di Amerika, saya datang ke kantor promotor saya. Sekali sebulan saya biasanya ikut pulang ke rumahnya untuk makan malam bersama keluarganya. Kebetulan keluarganya juga menjadi tuan rumah saya sebagai mahasiswa asing di kota itu. Biasanya, setelah saya datang kami segera berangkat. Akan tetapi, sekali itu ia meminta saya menunggu anak sulungnya sebentar. Benar saja, tidak lama kemudian anak itu datang berkaus oblong dan bersepatu tenis. Peluh bercucuran di wajahnya yang coreng-moreng.

Ayahnya mengomel sebentar dan memperingatkan anaknya agar selalu merapikan dirinya dulu sebelum datang ke kantornya. Kemudian ia menjelaskan kepada saya, bahwa anaknya yang masih bersekolah di SMTA itu, selama liburan musim panas bekerja mengangkut kayu gelondongan di fakultas kehutanan. Anak itu ingin sekali memiliki mobil sendiri, akan tetapi bapaknya hanya mau membayar separuh dari harga mobil bekas yang akan dibelinya. Selebihnya harus ia cari sendiri dari cucuran keringatnya, termasuk biaya operasi kendaraan itu. Dengan bangga promotor saya itu mengatakan, bahwa anaknya sudah mencukupi biaya pembelian mobil tersebut. Tinggal lagi harus mengumpulkan biaya operasi kendaraan selama satu tahun, yang harus ditabung di bank. Begitulah cara seorang guru besar ternama mengajari anaknya, betapa berharga kemampuan untuk mencukupi biaya hidup atas usaha sendiri.

Kejadian kedua saya alami di Bogor dengan seorang ilmuwan muda dari Amerika Serikat yang diperbantukan sebagai tenaga ahli. Sewaktu berbincang-bincang dengannya dalam suatu jamuan makan malam, saya mengetahui bahwa ia dilahirkan di Raleigh, tempat saya dulu menjadi mahasiswa pasca sarjana selama tiga tahun. Kemudian, setelah ia mendapatkan BS dalam agronomi, ia melanjutkan ke Ames dan meraih gelar doktor dalam ilmu tanah. Saya segera teringat bahwa nama belakangnya sama dengan nama seorang guru besar pakar ilmu tanah di Raleigh. Tanpa berpikir panjang, saya menanyakan apakah ia anak guru besar ilmu tanah yang terkenal itu. Rona wajahnya tiba-tiba berubah merah. Dengan tersendat-sendat ia berkata, "Maaf, saya mohon Anda tidak mengaitkan saya dengan ketenaran ayah saya sebagai ahli ilmu tanah. Saya sedang berusaha untuk dikenal sebagai ahli ilmu tanah atas dasar karya yang saya hasilkan sendiri!"

Saya menyadari kesalahan saya, dan meminta maaf kepadanya. Sungguh berat beban dipundaknya, karena ia ingin tampil menerobos ketenaran ayahnya. Kabarnya, ia sekarang sudah dikenal karena karya-karyanya sendiri. Yang saya pertanyakan ialah, apakah ia juga akan berhasil kalau dulu ia selalu 'berselancar di atas ombak' kemasyhuran ayahnya.



Maju sendiri dong!

Barangkali hal ini juga patut di renungkan, baik oleh para orang muda di Indonesia mau pun orang tua mereka. Terutama mereka yang orang tuanya sudah cukup dikenal masyarakat. Demi untuk kemantapan sukses di masa depan, sebaiknya setiap orang muda, berusaha memancangkan namanya sendiri, bebas dari keterkaitan dengan keberhasilan orang tuanya.

Biarlah sate kambing tetap kita sebut demikian, walaupun dagingnya berasal dari domba. Akan tetapi, marilah kita berupaya agar manusia-manusia muda Indonesia berani berusaha maju ke depan atas usaha mereka sendiri, dan bukan karena didorong dari belakang.

Source : Majalah Intisari, No.315 - Oktober 1989

Rabu, 27 Juli 2011

Di Afrika, Asal Tembak Rugi Sendiri (BAGIAN 2)

CARA merebus air panas ini unik, karena hanya menggunakan sebuah drum berisi air yang diletakkan diatas pendiangan. Airnya disalurkan ke kamar mandi dan dapur.

Awas, menembak dobel!

Sesudah menentukan farm mana yang akan dikunjungi, sebaiknya Anda pergi ke pasar swalayan Johannesburg untuk berbelanja. Bila pemilik farm yang mengajak Anda berbelanja, pengeluaran pasti akan ditanggungnya, karena biaya tinggal termasuk makan tiga kali. Jadi jangan sungkan untuk mengambil barang yang diperlukan, karena farm jauhnya kurang lebih 600 - 700 km dari Johannesburg, sedangkan toko-toko di sepanjang perjalanan biasanya tidak lengkap.


Selain beras, barangkali Anda memerlukan cabai rawit, minyak goreng, telur mentah, susu segar, gula pasir, teh celup, atau kopi. Untuk daging pilihlah yang sudah di potong ukuran steak; tak perlu terlalu banyak, karena Anda akan mencicipi daging binatang buruan Anda sendiri, dan bubuk coklat untuk menangkal cuaca dingin. Perlengkapan kebersihan pribadi: macam kertas tisu, shampoo, sabun mandi, odol, dan handuk mandi harus Anda bayar sendiri.


Begitu Anda sampai di farm, mintalah izin kepada pemiliknya untuk mencoba senapan, baik itu milik Anda sendiri maupun pinjaman. Buatlah jarak paling sedikit 120 m. Cobalah beberapa kali sampai Anda yakin dan merasa dekat dengan senapan Anda, kalau itu pinjaman.


Soalnya, kalau tembakan Anda kena tapi binatangnya kabur, Anda harus membayar meski bangkainya tak ketemu. Menunggu mencarinya hingga esok hari bisa terlambat, karena bisa jadi kondisinya sudah tak lengkap lagi.


Kalau di tanah air kita dianjurkan pemerintah untuk menembak sebanyak-banyaknya, terutama hama babi hutan yang kebanyakan selalu berombongan, di Afrika, kita tidak boleh asal tembak. Teropong dulu mana jantan mana betina. Jangan sampai binatang yang akan kita tembak itu dibayangi oleh seekor lagi dibelakangnya. Peluru kita bisa menembusnya dan melukai juga binatang yang dibelakang. Tembaklah setelah Anda tenang dan yakin. Lihat ke mana larinya. Jangan segera melepaskan tembakan lagi, meskipun menurut Anda binatang yang kabur itu belum tentu mati. Kalau Anda sampai menembak lagi, ada kemungkinan Anda menembak dua binatang dari jenis yang sama, dengan jenis kelamin yang barangkali juga sama. Bukankah itu pemborosan?


Apabila binatang yang Anda tembak itu sudah mati terkapar, jepret sebanyak-banyaknya dengan kamera. Setelah itu pemilik farm akan menangani hasil buruan Anda. Dia akan bertanya opset bagaimana yang Anda inginkan, sebatas leher, sebatas dada, atau seluruh badan. Mintalah dagingnya sedikit dan bakarlah sesudah dibumbui di pendiangan. Asyik banget!


Tak ada ampun

Perusahaan taxidermy atau opset di sana adalah perusahaan besar yang memperkerjakan banyak tenaga ahli. Mereka bekerja sama dengan pemerintah, khususnya yang berhubungan dengan hewan yang dilindungi. Sebagai contoh, untuk membuat opset zebra saja mereka akan melihat dan mencocokkan jenis kulit, berat binatang dan bentuk mata, kuping, serta corak kulitnya. Ada 5 macam zebra di sana, tapi yang boleh di tembak hanya jenis Burchill.

Kalau hal ini terjadi, dan Anda terbukti bersalah, tanpa kompromi Anda akan langsung dideportasi dan dimasukkan daftar hitam. Pemilik farm yang memberi surat pengantar bagi Anda untuk opset dan PH (professional hunter)-nya pun pasti akan mendapat masalah. Di samping itu Anda akan mendapat kesulitan juga apabila tetap ngotot membawanya ke luar Afrika dan memasukkan ke negara asal Anda, karena tidak dibekali surat-surat resmi dari Afrika atau CITES (Conventions of International Trades on Endangerous Species).


Beberapa negara sangat keras mengawasi bagian-bagian binatang ini, seperti Singapura misalnya. Tanpa surat resmi dari perusahaan opset yang diketahui oleh perwakilan CITES atau Directorate of Nature Conservation in Respect of Cites, jangan harap bisa memasukkan hasil buruan Anda. Indonesia pun sudah mengikuti segala peraturan yang ada di CITES.


Perusahaan-perusahaan opset ini sama sekali tidak menggunakan bahan-bahan yang merusak lingkungan, seperti halnya formalin yang masih dipergunakan di Indonesia. Di dalam opsetnya selalu disebutkan bahan-bahan apa saja yang dipergunakan. Selain badannya dibuat dari serat kaca, juga disebutkan seluruh tulang tengkorak di rebus dengan campuran 5% sodacuci dan seluruh opsetan direndam dengan 5% sodium fluosikilat dan 56% carbaspray. Dengan sendirinya hasil opsetan milik kita atau dikenal sebagai trofi tersebut akan disertai selembar surat sehingga bertambah autentiklah barang itu.


JANGAN SEMBARANGAN BUANG PUNTUNG ROKOK 


JIKA suatu waktu Anda sempat berburu di Afrika, sebaiknya perhatikan beberapa perlengkapan yang harus di bawa dan berbagai hal yang harus dilakukan untuk menghindari kesulitan.

1. Makan obat malaria seminggu sebelum keberangkatan, selama disana hingga 2 lamanya setelah pulang.


2. Pilih pakaian berwarna coklat muda. Usahakan yang bahannya katun dan berlengan panjang. Jaket perlu, karena suhu di siang hari kurang lebih 9 derajat celcius, malam hari kurang lebih 4 derajat celcius.

3. Bawa pisau tajam, jangan terlalu panjang, pakaian training, sepatu olah raga, teropong tahan banting,obat-obatan pribadi, obat sakit gigi, demam, sakit perut, diare, batuk.


4. Pilihlah farm yang tidak terlalu luas, supaya berburunya tidak susah.


5. Bila jaket tersangkut di duri pohon, berhenti dan lepaskan dulu. Kalau Anda paksakan juga, jaket bisa robak, kulit terluka, bisa-bisa seluruh cabang dan dahan berduri akan ikut terbawa.


6. Apabila PH minta kita menunduk, taati, karena PH yakin bahwa binatang buruan telah melihat kita.


7. Jangan segera memasukkan sebutir peluru lagi ke dalam kamarnya sesudah menembak. Pilih senapan jenis Bolt Actions, jangan otomatis atau semiotomatis. Perhatikan kalau PH menendang-nendang tanah, berarti dia melihat arah angin. Berdiri selalu di belakangnya, kecuali kalau dia suruh kita di depan. Kalau ada tawaran dari PH untuk membuntuti dan membunuh hewan hasil tembakan Anda yang belum mati, lakukanlah sendiri. Tapi kalau tidak yakin, biar dia yang lakukan untuk Anda.

8. Kalau Anda perokok, gunakan geretan gas. Kalau bisa jangan merokok dulu; kawasan dalam kondisi kering dan mudah terbakar.

9. Matikan rokok dengan menginjaknya lumat di tanah, jangan di rumput, hingga benar-benar padam.

10. Jangan tidur terlalu malam, makan yang kenyang. Sarapan dulu sebelum pergi berburu.


11. Ketika pulang, masukkan semua pakaian kotor ke dalam plastik, ikat kencang-kencang dan jangan dibuka hingga sampai ditanah air. Di rumah, pakaian itu harus langsung diseduh air panas agar semua kutu binatang yang menempel mati.

12. Lebih murah cetak foto di Indonesia, tetapi cucilah film disana. Jangan percaya pada "film save" di bandara.



13. Tukar uang rand Anda sebelum meninggalkan Afrika Selatan, karena Anda akan mengalami kesulitan untuk menukarkannya kembali.


14. Tinggalkan peluru yang tersisa, sebab akan membuat Anda kesulitan di bandara mana saja, kecuali kalau mempunyai izin mempunyai izin membawa peluru.


Source : Majalah Intisari, No.402 - Januari 1997

GET UPDATE VIA EMAIL
Jika Anda Menyukai Artikel di Blog Ini, Silahkan Berlangganan via RSS. Isi Alamat Email Anda di Bawah Ini:

MAJALAH BOBO 1980-an

Tambahkan Kami di Facebook

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes