KURANG tidur bisa berbahaya. Hasil riset terhadap 23 dokter muda di sebuah rumah sakit besar di AS menunjukkan bahwa seperempat jumlah dokter yang di wawancarai pernah tertidur ketika sedang menelepon. Empat belas persen pernah mengalami hal yang sama waktu sedang mengendarai mobil dan seorang lagi tertidur ketika sedang menelepon. Empat belas persen pernah mengalami hal yang sama waktu sedang mengendarai mobil dan seorang lagi tertidur ketika sedang mendengarkan denyut jantung pasien. Mereka adalah semua dokter yang telah berdinas 24 - 35 jam berturut-turut.
Kesulitan tidur itu sebenarnya disebabkan oleh gangguan jam biologis. Selain itu juga tidak adanya kesempatan menebus tidur yang tidak bisa dilakukan itu. Supir truk termasuk kelompok yang menanggung risiko ini. Kecelakaan truk antara pukul 05.00 - 06.00 kemungkinannya enam belas kali lebih besar dibandingkan pada pukul 12.00.
Ini belum termasuk mereka yang berdinas tidak tetap, yaitu kadang-kadang pada siang hari, kadang-kadang pada malam hari. Di sebuah pembangkit tenaga listrik bertenaga nuklir, separuh pekerjanya yang berdinas tidak tetap mengaku paling sedikit sekali seminggu mereka tertidur waktu sedang bekerja.
Menurut Charles Czeisler dari Laboratorium Neuro-endo-krinologi di Boston, kini sudah tiba waktunya orang lebih memperhatikan jam biologis. Terutama di perusahaan, dimana kekurangan tidur bisa menyebabkan kecelakaan besar. "Tidak realistis mengharapkan bahwa orang akan bisa melawan kantuk, kalau ia terlalu lelah," katanya.
Source: Majalah Intisari, no.323 - Juni 1990
Source: Majalah Intisari, no.323 - Juni 1990


Sabtu, Desember 17, 2011
Blogvision Pos






