Tampilkan postingan dengan label Stress. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stress. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 April 2012

Menepis Stress, Menyembuhkan Sakit Perut

Gangguan perut bukan cuma karena infeksi kuman, Perut berulah justru ketika orang sedang sibuk-sibuknya beraktivitas, atau ketika menghadapi masalah. Sebaliknya, selagi santai, perut pun ikutan tenang. Itulah irritable bowel syndrome (IBS).


SAYA sendiri merasa nyeri perut dan kembung, tapi begitu buang air besar, gangguan hilang. Frekuensi ke belakang juga meningkat dan berbentuk cair.Tetapi ketika buang air besar, rasanya tidak lampias. Kenapa Dok?" begitu keluh seorang pasien wanita muda, sebut saja Dewi, kepada dokter yang memeriksa. Lalu ia pun diberi obat penghilang kembung dan anti-diare karena diduga, gangguan pada organ pencernaannya akibat salah makan saja.


Selang beberapa minggu, saat Dewi sedang sibuk-sibuknya menghadapi ujian semester, ia kembali ke dokter dengan keluhan yang sama. Bahkan ditambah dengan gejala lain, yakni buang air besarnya diikuti lendir. Mahasiswi semester empat ini pun disarankan dokter untuk melakukan pemeriksaan endoskopi (pemeriksaan organ tubuh dengan "teropong" endoskop) plus pemeriksaan laboratorium. Hasilnya, semuanya baik, tidak ada infeksi pada organ pencernaan, tumor, maupun bakteri yang mengkhawatirkan. Ia cuma disarankan lebih banyak istirahat dan untuk sementara mengurangi makanan merangsang: pedas dan asam.


Gangguan seperti dialami Dewi di kalangan kedokteran dinamai irritable bowel syndrome (IBS). Kasus gangguan perut yang kebanyakan diderita perempuan berusia 20 - 40 tahun ini belakangan sering terjadi dan menjadi perhatian kalangan dokter ahli gastroenterologi (pencernaan).


Di negara Barat dilaporkan, 10 - 20% keluhan pada perut disebabkan oleh IBS. Lebih dari 50% penderitanya wanita. Di Asia pengidap IBS tertinggi adalah kaum muda Jepang. Mungkin karena tuntutan hidup yang begitu tinggi sehingga banyak mengalami stress. Di Indonesia sampai saat ini belum ada data pasti penderita sindroma ini. Namun, dr. Dharmika Djojoningrat, Sp.PD.KGEH, spesialis penyakit dalam dengan subspesialisasi penyakit pencernaan dan hati dari RS Siloam Gleneagles, Lippo Karawaci, Tangerang, menemukan banyak pasiennya - khususnya dari Jakarta - mengidap gangguan ini.


Kalangan medis membedakan IBS atas dua tipe, IBS konstipasi (selama 5 - 7 hari tidak buang air besar) dan IBS diare (IBS seperti dialami Dewi). Pada tipe IBS diare, gerakan peristaltik motilitas usus pengidap begitu cepat sehingga isi kotoran dari usus besar cepat di transfer ke luar. Konsekuensinya, air dalam kotoran belum sempat diserap, sudah harus dikeluarkan dibarengi rasa mulas. Sebaliknya, pada tipe konstipasi, karena gerakan peristaltik motilitas ususnya lambat, maka kotoran akan terlalu lama ngendon dalam usus. Penyerapan airnya pun terlalu lama dengan akibat feses menjadi keras.


IBS konstipasi kebanyakan diderita oleh penduduk di negara Barat. Sedangkan, IBS diare kebanyakan dialami oleh penduduk negara di belahan Bumi lainnya, termasuk Indonesia. Hingga kini belum ada penelitian yang bisa mengungkapkan mengapa terjadi demikian. "Mungkin karena pada malam yang berbeda," duga dr. Dharmika.


Ambang rangsang rendah


Penggunaan kata sindroma pada IBS itu karena gangguan kesehatan ini tidak menunjukkan gejala khas seperti penyakit asma, TBC, atau tifus. IBS memang suatu kumpulan gejala yang tidak diformulasikan dalam bentuk satu penyakit. Gangguan ini keluhannya beraneka macam, mulai dari rasa nyeri dan kembung, tapi begitu buang air besar keluhan hilang, sampai dengan pengeluaran lendir bening dan terasa tidak lampias.


"Gejala IBS memang tidak khas walaupun kalangan kedokteran menyatakan gangguan ini merupakan sindroma usus sensitif," tambah dr. Dharmika. Namun, tidak seperti penyakit pencernaan lain, macam diare karena infeksi kuman, disentri, dll., IBS tidak akan mempengaruhi bobot badan penderita dan tidak dijumpai kelainan organik. "Malah ada yang naik bobot badannya," ungkap dr. Dharmika. "Sebab itu tidak jarang pasien suka terheran-heran, kenapa gejala berulang padahal dikatakan tidak tampak adanya kelainan apa pun pada ususnya."


Pada penderita IBS frekuensi buang air besar jenis cair bisa lebih dari 1 - 3 kali sehari. Gangguan bisa berulang kapan saja, kebanyakan tergantung pada keadaan psikologis penderita. Menurut kriteria Bristol, buang air besar dibilang abnormal kalau frekuensinya lebih dari tiga kali sehari atau kurang dari tiga kali per minggu. Sedangkan perubahan bentuk feses dapat berupa cair, lembek, atau keras. Proses buang air besar abnormal dapat berupa mengejan, rasa tidak lampias serta diikuti mukus atau lendir.


Terkadang pengidap IBS juga merasakan gejala lain seperti agak sulit tidur, sering buang air kecil, sakit pinggul, sakit saat bersenggama, merasa malas dan lelah.


Khusus bagi mereka yang berusia 45 tahun bila mengalami gejala mirip gejala IBS, disarankan oleh dr. Dharmika agar segera memeriksakan diri ke dokter untuk diketahui apakah kelainan disebabkan oleh gangguan organik seperti tumor, polip, infeksi, atau sekedar gangguan fungsional saja. Pemeriksaan bisa dilakukan dengan endoskopi, biopsi, pemeriksaan darah, dll.


Pencetus munculnya IBS kebanyakan faktor psikologis (50%), bukan karena infeksi. Umpamanya, seseorang sedang mengalami depresi, somatisasi (gangguan psikis yang berdampak pada gangguan fisik), kecemasan, gangguan panik, hipokondria (rasa tertekan dan kehilangan semangat), dll. Hal itu bisa saja terjadi karena susunan saraf pusat memang mempunyai efek kuat terhadap saluran cerna. Pada penelitian terhadap orang sehat diketahui, stimulasi nyeri somatik dan rangsangan stress emosional dapat menimbulkan peningkatan kontraksi rektal (sekitar anus), perubahan pola motorik atau motilitas usus halus, serta pelambatan pengosongan lambung.


Pengidap IBS umumnya mempunyai konflik diri lebih tinggi dibandingkan dengan non-penderita IBS. Begitu setting pada otak tidak beres, maka pengaruhnya akan langsung ke usus. Padahal, dinding usus mempunyai ambang rangsang terhadap berbagai stimulus (rangsangan). Dalam keadaan depresi, ambang rangsang dinding usus akan cepat menurun.


"Bagi mereka yang ambang rangsangnya rendah dan peka, stimulus kecil saja sudah menimbulkan rasa nyeri atau mulas. Malah tidak jarang pula, karena demikian rendah ambang rangsangnya, stimulus yang normal bagi non pengidap IBS sudah mengakibatkan rasa nyeri pada penderita IBS," tutur dr. Dharmika. Dengan kata lain, kalau gerakan peristalik pada usus non-penderita IBS tidak akan terasa apa-apa, pada orang berpembawaan IBS sudah menimbulkan gejala.


Namun, dalam studi kedokteran tidak dikatakan bahwa faktor emosional menjadi penyebab satu-satunya. Fakta intoleransi makanan (misalnya terhadap laktosa dalam susu, kopi, MSG, dsb.) juga sedikit banyak ikut andil walaupun belum ada bukti nyata. "Makanan bukan merupakan faktor penyebab bersifat tidak langsung, melainkan lebih merupakan faktor penyebab langsung," ujar dr. Dharmika. Artinya, intoleransi seseorang terhadap makanan bisa langsung terlihat setelah makanan dikonsumsi.


Intoleransi makanan (bukan alergi makanan) ini sifatnya sangat individual. Umpamanya, kalau bagi si A susu langsung menyebabkan rasa nyeri, bagi si B mungkin kopi atau minuman cola. "Tentu saja ini perlu pencermatan individu masing-masing," katanya.


Ada pula yang mengatakan, 10 - 20% merupakan dampak dari gangguan pencernaan akut sebelumnya. Jadi, mungkin akibat organ pencernaan masih dalam keadaan belum stabil.


IBS bisa juga dikatakan sebagai pemunculan potensi yang telah ada dalam diri penderita atau merupakan suatu interaksi yang dialami penderita selama menjalani hidup. Misalnya, sewaktu anak-anak ia tidak pernah merasakan gangguan ini, tiba-tiba ketika dewasa dan menghadapi banyak tantangan, gangguan ini mulai dirasakan.


Mengatur pola hidup


IBS memang tidak berakibat fatal, tapi bisa mengganggu kualitas hidup penderita. Sebab itu gangguan ini perlu dikelola dengan baik. Penderita hendaknya berusaha mengatur pola hidupnya menjadi lebih baik. "Usahakan untuk menghilangkan konflik yang terjadi," tutur dr. Dharmika. Di negara-negara Barat, praktik konsultasi dengan psikiater atau psikolog serta melakukan latihan hipnoterapi untuk belajar mencari faktor penyebab konflik ternyata sangat membantu.


Selain terapi psikologis, juga dibutuhkan penerapan makanan seimbang. Pengidap IBS diare perlu membatasi makanan merangsang seperti pedas dan asam, dan makanan penyebab kembung perut seperti kol dan minuman bersoda. Pengidap IBS konstipasi dianjurkan menambah makanan berserat. Tetapi jangan berlebihan karena ada kalanya penambahan serat berlebihan dapat meningkatkan gas penyebab kembung.


Melakukan olahraga yang disukai juga dapat menunjang kesembuhan IBS. Apalagi kalau dilakukan secara rileks.


Menurut dr. Dharmika, hingga saat ini khasiat obat yang tersedia masih belum memuaskan. Obat-obatan itu hanya bersifat simtomatik (menghilangkan gejala) dan hanya diberikan secara insidentil. Misalnya, untuk menghilangkan rasa nyeri digunakan antispasme. Bila terjadi konstipasi (sembelit), diberikan obat agar buang air besar lebih teratur. "Obat biasanya hanya untuk memodifikasi regulasi peristaltik usus serta ambang rangsangnya saja," katanya. Obat antidepresan juga banyak dicoba untuk mengatasi keluhan nyeri perut serta gangguan kapasitas aktivitas sehari-hari.


Dr. Dharmika menyarankan, usahakan untuk selalu hidup nyaman, hilangkan stress agar perut tidak menjadi korban!


Source: Majalah Intisari, no.457 - Agustus 2001

Jumat, 14 Oktober 2011

Cara Mengendurkan Saraf Otak

OTAK manusia sebagai pusat pengendali segala macam aktivitas sehari-hari butuh waktu "tidur", istirahat, atau santai, agar bisa bekerja lebih baik lagi keesokan harinya.


Dibawah ini terdapat beberapa kiat mengendurkan saraf otak:


1. Tarik nafas dalam-dalam, segera simpan didalam perut. Otot bagian leher dan kepala ditegangkan, kemudian secara cepat dilemaskan kembali. Pada saat melemaskan otot, pikiran harus tenang. Usahakan pikiran dikosongkan ketika melakukannya. Cara ini dapat dikerjakan dengan posisi duduk atau berdiri.


2. Prinsipnya sama seperti di atas. Meditasi dilakukan untuk melepaskan pikiran yang kalut atau kusut. Caranya: bisa duduk dikursi, berbaring di lantai, atau sambil berdiri saja. Tarik napas melalui hidung. Bersamaan dengan dikeluarkannya napas, kendurkan otot-otot, kosongkan pikiran yang kalut, buang jauh-jauh semua problem hidup.


Bayangkan seolah-olah Anda mengambil tenaga baru waktu menghirup napas, dan ketika membuang segala problem yang berat. Lakukan hal itu berulangkali selama 20 menit atau sampai terasa pengaruh kesantaiannya.


3. Latihan atau olahraga dapat menghilangkan stress atau ketegangan pikiran. Umumnya, para olahragawan atau atlet jarang yang terkena stress berat. Jalan kaki, meski sebentar, bila dilakukan di pagi hari secara rutin, dapat menurunkan kadar gula. Hal itu berarti peredaran darah di seluruh jaringan otot, termasuk otak, berjalan baik. Jangan biasakan tubuh dimanja fasilitas modern yang membuat kita malas bergerak atau olahraga.


Source: Majalah Intisari, no.390 - Januari 1996

Jumat, 09 September 2011

Beberapa Cara Menangkal Stress

Yang namanya stres sudah menjadi bagian hidup sehari-hari. Ada yang berhasil mengatasinya, tapi tidak kurang pula yang terjebak di dalamnya. Berikut ini ada beberapa cara untuk mengatasi stres dari Dr. Andrew Slaby, direktur medis RS Jiwa Fair Oaks di Summit, New Jersey, AS.

1. Kenali gejala stres. Apakah Anda banyak minum-minuman keras, mudah jengkel atau kehilangan gairah seksual, kurang nafsu makanan atau senang menyendiri? Jika benar, bertindaklah segera!

2. Hindari kafein, karena kafein akan mempercepat debaran jantung dan menaikkan tekanan darah Anda.

3. Minumlah multivitamin untuk melawan stres.



4. Kurangi garam. Terlalu banyak garam akan menyebabkan penumpukan cairan tubuh, yang dapat membuat orang cepat marah dan menimbulkan tekanan darah tinggi.

5. Makan yang teratur. Kalau Anda tidak makan siang atau makan malam, tingkat gula darah akan menurun dan Anda akan uring-uringan atau gelisah.



6. Delegasikan wewenang. Mintalah bantuan orang lain jika pekerjaan menumpuk.

7. Jangan menahan kemarahan. Diskusikan masalah yang dihadapi dengan teman.



8. Jangan suka menunda-nunda. Hal itu akan menimbulkan stres.

9. Belajar santai. Duduk dengan tenang, pejamkan mata dan kendurkan otot-otot dari kepala sampai kaki dua kali sehari.



10. Peliharalah rasa humor. Tertawa itu amat manjur untuk menghilangkan ketegangan.

11. Lupakan masa lalu. Terus mengungkit-ungkit kesalahan hanya membuat kita bingung dan gelisah.



12. Bersikap sopan santun. Sikap ramah tamah sering dapat mengurangi konflik. 

13. Hadapi kenyataan. Ada hal yang memang tidak bisa diubah, sehingga jangan membuang-buang energi dengan marah-marah.

14. Pasang sasaran kecil yang realistis sebagai batu loncatan untuk mencapai yang besar.

15. Bersikap penuh inisiatif. Jangan hanya diam dan menunggu.

16. Ambil keputusan. Kita tidak begitu stres jika telah mencoba tetapi gagal, daripada jika tidak berbuat sesuatu sama sekali.

17. Berolahraga secara teratur. Jalan cepat merupakan penghilang stres yang sangat manjur.

18. Imajinasi. Situasi yang sangat menegangkan lebih dapat ditanggulangi bila kita sebelumnya telah mengantisipasinya dan membayangkan apa tindakan terbaik untuk menghadapi situasi itu.

19. Beristirahat dan bersantailah. Beristirahatlah beberapa kali dalam sehari.

20. Keluarkan unek-unek Anda. Kalau ditahan-tahan bisa timbul stres.

21. Hati-hatilah dalam memilih teman. Pilihlah yang memiliki sikap hidup positif.

22. Pijat akan sangat berguna terutama pada otot-otot bagian leher dan pundak.

23. Cari upaya untuk mengurangi stres. Contohnya, berbekal buku bila ada janji dengan seseorang untuk mengisi waktu bila ia terlambat, atau ajak teman menemani jika Anda sedikit gugup bertemu dengan orang-orang yang kurang Anda kenal di suatu forum atau pertemuan.

24. Bantulah orang lain. Biasanya mereka akan membalas pada saat Anda sangat membutuhkannya.

25. Sadarilah kelemahan Anda. Hanya dengan cara begitu Anda dapat mengetahui kapan Anda bakal membutuhkan pertolongan.

26. Jauhi alkohol. Alkohol membuat Anda semakin tertekan.

27. Berdandanlah, tetapi jangan slebor. Orang yang tampil rapi biasanya lebih bahagia.

28. Jangan "ngebut" terus. Jadwalkan waktu untuk membaca, menelepon kawan atau sanak saudara, dan untuk bercengkerama dengan keluarga.

29. Antisipasikan masalah. Kejutan yang mengesalkan akan menimbulkan stres.

30. Ciptakan kerutinan. Anda akan menghemat waktu dan energi.

31. Lakukan pernapasan relaksasi. Mudah kok!

32. Jauhi gosip. Mengobrol dengan kawan-kawan memang mengurangi stres, tetapi sok tahu dalam masalah orang lain justru akan menciptakan musuh.

33. Beranilah mengatakan "tidak". Tanpa kecakapan ini Anda tidak mungkin merasa punya kontrol terhadap hidup Anda.

34. Bersikaplah luwes. Ada banyak cara untuk mengerjakan sesuatu.

35. Hati-hati menggunakan obat. Ada obat yang bila salah pakai bisa bikin orang loyo dan hilang konsentrasi.


36. Carilah tempat tumpahan emosi jika perlu. Membicarakan masalah dengan seorang yang dekat dengan Anda, sering kali sangat menolong.


37. Hiduplah teratur. Kehidupan Anda akan lebih mudah diramalkan.


38. Amati gejala pada tubuh Anda. Langsung pergi ke dokter atau psikolog jika stres atau depresi berkepanjangan menghinggapi Anda.


39. Biarkan pembantu menerima telepon saat istirahat Anda di rumah.


40. Berlatihlah dulu untuk menghadapi situasi yang menegangkan. Dengan demikian Anda bisa merasa siap.


41. Hindari jalan macet dan jangan terlalu sering bepergian tanpa rencana.


42. Manjakan diri Anda dengan mandi air hangat yang cukup lama. Kalau bisa berendam lebih baik lagi.


43. Ubahlah warna-warna ruangan. Yang paling santai adalah biru muda, dadu dan warna-warna tanah.

44. Kurangi kegaduhan dengan mengisolasi sekeliling pintu dan jendela.



45. Jangan membawa pulang pekerjaan. Belajarlah untuk memisahkan dua hal dalam hidup Anda ini secara sempurna.


46. Lakukan pilihan yang realistis. Jangan bekerja melebihi kemampuan.


47. Bergabunglah dengan kelompok yang bisa memberikan dukungan. Jalan keluar dari orang lain sering kali cukup berharga untuk dicoba.


Source: Majalah Intisari no.361 - Agustus 1993

Jumat, 12 Agustus 2011

Sakit Tetapi Tidak Sakit

Kini tambah banyak orang yang merasa dirinya sakit, tetapi secara medis tidak bisa ditemukan penyakit apa-apa. Gejala itu mendapat perhatian khusus dari para ilmuwan. Penyebab rasa sakit itu sering dikarenakan faktor emosi.


SADIE sudah hampir putus asa. Entah sudah berapa dokter ia datangi dan sudah 43 macam obat ia minum, tetapi rasa nyeri di kepalanya tidak juga sembuh-sembuh. Padahal biaya pengobatan sudah mencapai 28.000 dolar.



Banyak dokter yang terheran-heran menghadapi kasus Sadie. "Anda tidak sakit," kata mereka. Namun, rasa nyeri yang diderita Sadie begitu nyata, walaupun pelbagai pemeriksaan dan tes tidak menemukan kelainan apa pun.


Setelah lima belas tahun menderita begitu, Sadie sampai ke Byodine Institute, di Hawaii, yang didirikan seorang psikolog bernama Nicholas Cummings. 



Cummings mendengarkan keluhan Sadie dengan simpatik. Dengan tulus ia menyatakan, ia tahu penderitaan Sadie.


"Mumpung Anda berada disini, coba tolong ceritakan sedikit tentang diri Anda," pinta Cummings.



Dari percakapan dengan Sadie, ada dua hal yang menarik. Katanya, lima belas tahun yang lalu Sadie minta cerai dari suaminya. Suaminya menanggapi dengan menembak kepalanya sendiri. Sejak itu Sadie sering sakit kepala. 


Tidak langka


"Apakah Sadie menderita penyakit yang dijuluki worried well?" pikir Cummings. Worried well yang dikalangan psikolog disebut somatisizer adalah masalah emosi. Penderitanya bukan harus disuntik atau dibedah, melainkan harus mendapat perawatan psikologis.


Sadie bersedia mendapat perawatan psikologis di Byodine. Setelah datang empat kali, ternyata nyeri kepalanya tidak terasa lagi.


Rupanya kasus somatisizer tidaklah langka. Menurut puluhan penelitian di AS selama tiga puluh tahun ini, dua pertiga pasien yang datang ke dokter menderitanya. Cuma saja tidak selalu dokter menyadarinya.


Berkat hasil penelitian itu kini di AS didirikan pelbagai tempat perawatan untuk penderita somatisizer. Ada yang menyediakan terapi psikologis yang sifatnya tradisional, ada pula yang mengajarkan teknik-teknik mengurangi stres dan macam-macam lagi.


Seorang peneliti dari Harvard University, Caroline Hellman, dan rekan-rekannya meneliti delapan puluh pasien yang dirawat dalam Harvard Community Health Plan (HCHP). Penderita menunjukkan gejala-gejala penderitaan fisik, tetapi organ-organnya sehat. Mereka antara lain menderita hipertensi, sesak napas, gangguan pencernaan, diare, sakit kepala, pusing, gangguan tidur, gangguan makan atau berat badan, gelisah, stres, tegang.


Dibagi tiga kelompok


Para peneliti membagi pasien-pasien itu dalam tiga kelompok mengikuti program ways to wellness yang dikembangkan oleh HCHP. Kelompok yang lain ambil bagian dalam mind-body group program, yang dikembangkan di Beth Israel Hospital di Boston. Masing-masing kelompok tersebut melakukan pertemuan selama enam minggu. Selama itu pasien diajari cara membentuk sikap. Mereka juga dilatih untuk santai dan mawas diri.


Kelompok ketiga bertemu dua kali. Dalam pertemuan itu pasien diajarkan untuk menghubungkan stres dan sakit mereka dan diajari cara mengendalikan stres yang bisa dilakukan di rumah.


Begitu studi di atas selesai, semua pasien merasa lebih baik secara fisik maupun mental. Setelah sekian waktu, hanya mereka yang ikut dua kelompok pertama tetap atau meningkatkan kemampuan mereka. Mereka juga jarang menggunakan jasa lembaga kesehatan jiwa di atas.


Salah satu alasan melakukan studi macam ini di Harvard dan Hawaii adalah untuk melihat apakah psikologis efektif atau tidak. Apakah biaya menyediakan perawatan kesehatan jiwa menghemat pelayanan medis? Ternyata semua data memperlihatkan bahwa pelayanan psikologis mendatangkan keuntungan.


Bisa mempengaruhi fisik


Mengapa bimbingan psikologis bisa mempengaruhi masalah fisik? Psikolog George Everly, Jr. mengatakan bahwa kita belum menyadari sepenuhnya hubungan antara pikiran dan jasmani. Everly tengah melakukan studi di harvard untuk mengetahui mengapa gangguan tingkah laku ada hubungannya dengan sejumlah penyakit (termasuk hipertensi, migren, radang dinding lambung, penyakit Reynaud, iritasi usus besar, kegelisahan dan masalah penyesuaian diri) adalah penyakit yang muncul dari sistem limbis otak dan itulah sebabnya perlu dibantu dengan strategi penenangan.


Rupanya beberapa perusahaan di AS kini menyadari perlunya menyediakan psikolog bagi karyawannya seperti di Campbell Soup dan Kimberly Clark. Menurut Willis Goldbeck, presiden Washington Business Group, mereka menyediakan program-program bagi karyawan untuk mengurangi risiko sakit jantung dan hipertensi, untuk menghentikan merokok dan untuk mengatur stres. Program-program tambahan juga ada seperti mendidik orang hidup teratur dan sehat. Namun yang penting program tersebut menghemat biaya perusahaan. Apakah kita sudah menerapkannya di Indonesia?


Source: Majalah Intisari, No.311 Juni 1989 

GET UPDATE VIA EMAIL
Jika Anda Menyukai Artikel di Blog Ini, Silahkan Berlangganan via RSS. Isi Alamat Email Anda di Bawah Ini:

MAJALAH BOBO 1980-an

Tambahkan Kami di Facebook

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes