Senin, 25 Juli 2011

Tanaman Pun Punya Perasaan (BAGIAN 1)

Sejumlah hasil eksperimen menunjukkan kalau tanaman membaca pikiran si pemelihara, memperlihatkan reaksi ketika daunnya dicabik-cabik. Dalam penelitian, tanaman mati karena diperdengarkan pada musik rock. Sementara musik klasik lebih digemari sehingga mereka tumbuh mendekati sumber suara itu.

Hobi ibu saya itu merawat tanaman. Kalau sudah asyik merawat tanaman piaraannya di rumah, seolah-olah kami dilupakan. Tapi satu hal yang agak aneh, sambil menyirami, memberi pupuk, merawat daun-daun layu, ibu suka berbicara dengan tanaman-tanamannya. 'Cepat berbunga, ya! atau 'Kamu kok layu, sih?' itu yang sering saya curi dengar. Tanaman piaraan ibu memang nampak segar dan subur-subur," begitu cerita seorang teman.


Barangkali tidak banyak orang yang mempunyai perhatian begitu dalam terhadap tanaman piaraannya di rumah. Biarpun begitu banyak yang percaya kalau pertumbuhan dan kesejahteraan tanaman bisa dipengaruhi lewat percakapan yang bersahabat dan penuh kasih sayang pemeliharanya.

Kopi panas dan korek api

Tetapi, apa betul tanaman bisa tanggap terhadap perasaan manusia? Betulkah tanaman punya perasaan, atau bereaksi terhadap sikap kebaikan dan kejahatan manusia? Hal-hal inilah yang pernah dicoba untuk diteliti kebenarannya oleh Cleve Backster, seorang mantan pegawai CIA dan instruktur dalam pemakaian lie detector (mesin deteksi kebohongan) pada akhir 1960-an.


Entah bagaimana mulanya, pada satu malam terpikir oleh Backster untuk mengamati bagaimana tanaman hias Dracena massangeana mengisap air dari tanah di dalam pot nya dengan menggunakan mesin pendeteksi kebohongan. (Alamat poligraf ini sebetulnya dipakai untuk mengukur tekanan darah, pernapasan, gerakan otot refleks, dan perubahan daya hantar listrik (DHL) kulit pada orang yang sedang diinterogasi, DHL, kulit itu sangat peka terhadap perubahan emosional seseorang.

Kalau untuk manusia, kedua elektroda pada mesin itu ditempelkan ke dua jari tangan yang berdekatan. Perubahan DHL, kulit akan terbaca pada perubahan garis yang digoreskan oleh pena dalam diagram pencatat. Backster berharap dengan menghubungkan tanaman ke alat itu sambil mengairinya, DHL daun akan beransur-angsur naik sewaktu air memasuki jaringan tanaman. Ternyata yang terjadi justru sebaliknya : pola DHL menurun secara berangsur-angsur. Pola ini mirip dengan reaksi orang yang sedang gembira dan rileks.

Bagi Backster temuannya itu sangat berarti untuk penelitian lebih lanjut, yakni bagaimana tanaman bereaksi terhadap suatu gangguan yang mengancam kesejahteraannya. Ia mencelupkan daun tanaman yang sudah ke elektroda ke dalam secangkir kopi panas. Ia kecewa sekali karena tidak muncul reaksi apa-apa.

Namun begitu terpikir dalam benaknya untuk membakar daun itu, pena pencatat tiba-tiba melompat tajam ke atas. Backster lalu keluar mengambil korek api. Ketika masuk kembali ke ruangan, pena itu melonjak lagi. Pada manusia itu reaksi itu menunjukkan rasa takut pada sesuatu yang bakal terjadi. Tatkala nyala korek api benar-benar ia dekatkan pada daun itu, reaksinya berkurang. Ketika kemudian ia pura-pura hendak membakar lagi, tidak ada reaksi sama sekali.

Bagi Backster hanya ada satu penjelasan yang bisa diterima tentang fenomena yang baru saja ditemukannya: tanaman itu membaca pikirannya; mampu membedakan mana maksud yang sesungguhnya dan mana yang pura-pura.

Penelitian-penelitian berikutnya memperkuat penjelasan itu. Bahkan reaksi semacam itu terjadi juga ketika daun sudah dipetik dari batangnya atau berupa cabikan. Reaksi itu ditunjukkan juga kepada orang lain, terhadap seekor anjing yang masuk secara tiba-tiba ke ruangan dan bahkan terhadap laba-laba yang bakal menyerang.

Sukses dan gagal menangkap penjahat

Semula Backster menganggap tanaman juga memiliki ESP (extra sensory perception). Namun kemungkinan anggapan itu ia buang jauh-jauh karena tanaman tidak memiliki sistem saraf. Mustahil bahwa tanaman mempunyai panca indera seperti manusia. karena itu ia lalu mengganti istilah ESP dengan yang lebih pas, yakni primary perception, semacam kesadaran pada tingkat paling dasar.

Nampaknya Backster ini sosok peneliti sejati yang tak pernah puas. Ia ingin mengetahui lebih jauh kemampuan perseptif itu pada tanaman. Untuk itu ia memanfaatkan mesin poligrafnya sebagaimana fungsi sebenarnya, yakni untuk mendeteksi kejahatan. Backster dalam hal ini dibantu 6 orang mahasiswa. Salah satu di antara mereka akan berperan sebagai "penjahat" dengan cara diundi. Yang kebetulan mencomot lintingan kertas yang sudah ditandai, dialah yang jadi "penjahat"-nya kecuali yang bersangkutan. Sesuai skenario yang dibuat, si "penjahat" lalu merusak salah satu dari dua tanaman yang diteliti setelah yang lain meninggalkan laboratorium.

Sehabis itu keenam mahasiswa itu dibariskan satu per satu didepan tanaman yang tidak diapa-apakan dan menjadi "saksi" peristiwa perusakan itu. Sampai mahasiswa yang kelima, tanaman yang dihubungkan ke mesin deteksi kejahatan itu tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Tapi ketika tiba giliran yang keenam (si "penjahat"), reaksinya begitu kuat dan menghasilkan grafik yang tidak menentu pada kertas pencatat.

Menurut Backster, tanaman dapat bereaksi secara "telepatis" terhadap perasaan bersalah pada manusia. Tapi kenyataannya mahasiswa "penjahat" itu sedikit atau sama sekali tidak punya rasa bersalah tentang peranannya dalam percobaan ini. Hal itu membuktikan, kata Backster, kalau primary perception mencakup juga semacam memori pada tanaman. Celakanya, ia gagal ketika hasil temuannya ini dia cobakan untuk mengungkap siapa pembunuh pada kasus tewasnya seorang gadis di sebuah pabrik di New Jersey.

Biarpun begitu Backster tidak kecewa. Dalam penelitian selanjutnya ia merasa senang karena philodendron (sejenis pohon anggur) - salah satu tanaman yang dirawatnya dengan penuh kasih sayang - dapat bereaksi terhadap emosinya dari jarak 24 km bahkan lebih. Tanaman tersebut di masukkan ke dalam sebuah sangkar Faraday ataupun kotak timah untuk menghindari pengaruh gelombang radio.

Satu lagi temuan Backster, tanaman bisa bereaksi terhadap rasa sakit yang tengah diderita pemeliharanya. Suatu hari jari Backster teriris sewaktu sedang merawat tanamannya. Ketika lukanya diolesi yodium, mesin poligraf mencatat reaksi yang begitu kuat. Bisa saja hal tersebut dianggap reaksi atas sakit yang dialami Backster, tapi ia justru berkesimpulan kalau tanaman itu bereaksi terhadap matinya sejumlah sel tubuh tuannya.



Udang laut dan pohon anggur

Selama lebih dari setahun Backster melakukan percobaan. Seperti lazimnya peneliti, ia ingin sekali menerbitkan hasil-hasil eksperimennya dalam sebuah jurnal ilmiah agar bisa dipelajari orang lain. Satu hal yang terbuka untuk dikritik, percobaannya masih melibatkan unsur manusia (dalam hal ini Backster) sehingga orang tidak bisa membandingkan hasil penelitiannya sendiri dengan penelitian Backster. Karena itu ia lalu berencana melakukan percobaan lain tanpa melibatkan manusia sehingga setiap proses berlangsung secara otomatis.



Sebagai gantinya Backster memanfaatkan udang laut. Lalu dibuatlah sebuah alat khusus yang dapat membunuh udang-udang itu seketika dengan memasukkan mereka ke dalam air mendidih. Alat itu dibuat begitu rupa sehingga bisa melepaskan udang-udang tersebut secara otomatis ke dalam air mendidih secara acak. Maksudnya, sekali waktu udang dijatuhkan, kali lain tidak.

Kali ini Backster menggunakan tiga pohon anggur philodendron yang belum pernah dipakai dalam percobaan. Ketiganya dipasangkan pada tiga buah mesin pencatat. Mesin pencatat satu lagi dipakai antara lain untuk memantau gangguan eletromagnetik di sekitarnya.

Hasil percobaan yang diterbitkan tahun 1968 dalam International Journal Parapsychology menunjukkan kalau tanaman-tanaman itu memperlihatkan reaksi kuat ketika udang-udang laut itu mati. Itu artinya, antara lain, kemampuan persepsi pada tanaman dapat berfungsi secara bebas tanpa keterlibatan manusia.


Bersambung - Tanaman pun Punya Perasaan (BAGIAN 2)

0 comments:

Posting Komentar

GET UPDATE VIA EMAIL
Jika Anda Menyukai Artikel di Blog Ini, Silahkan Berlangganan via RSS. Isi Alamat Email Anda di Bawah Ini:

DAFTAR ISI

MAJALAH BOBO 1980-an

Tambahkan Kami di Facebook

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...